When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Tetesan Darah
Malam merayap makin gelap di atas benteng Obsidian Keep.
Badai salju di luar sana memukul-mukul jendela kaca dengan suara lolongan yang makin gila, melempar serpihan es tajam ke tiap sudut dinding.
Meskipun perapian di ruang kerja Cassian menyala merah, hawa dingin yang menusuk dari pegunungan abadi seolah tetap sanggup merembes masuk.
Dokumen perjanjian aliansi dan lisensi obat baru saja usai ditandatangani beberapa menit lalu.
Tinta emas di atas kertas kulit itu bahkan belum sepenuhnya mengering di ujung meja.
Evelyn berdiri dari kursinya secara perlahan. Jemarinya meremas tepian meja untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa begitu berat.
"Kamu harusnya menginap di kamar pemulihan sampai esok pagi," kata Cassian, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan seraya merapikan berkas di atas meja. "Udara malam ini paling mematikan dalam dua pekan terakhir."
Evelyn mencoba mengulas senyum tipisnya yang biasa. "Dokter Tristan sudah menunggu di sayap barat benteng buat proses pemurnian racun mana tahap pertama, Cassian. Kalau saya menunda-nunda—"
Kalimat Evelyn terhenti di tengah jalan.
Pandangannya mendadak berbayang hebat. Lingkaran-lingkaran hitam berputar cepat di sekeliling matanya.
Sensasi dingin yang teramat membakar mendadak meledak dari pusat dadanya, menjalar hebat ke seluruh saluran darah dan menghentikan kerja paru-parunya seketika!
Uhuk!
Evelyn terbatuk keras.
Uhuk! UHUK!
Batuk kedua meluncur begitu hebat. Sapu tangan yang coba ia tarik dari sakunya tak sempat sampai ke mulut.
Darah segar berwarna merah pekat mendadak tersembur keluar dari bibirnya, memercik deras di atas lantai persis di depan kaki Cassian!
Tetes... tetes...
Warna merah yang begitu menyala berkilat kontras di atas lantai.
"Evelyn?!"
Suara Cassian yang biasanya selalu tenang, kaku, dan penuh wibawa, mendadak melengking oleh kepanikan.
Sebelum tubuh Evelyn sempat jatuh menghempas lantai, lengan tegap Cassian sudah melesat maju, menyambar pinggang gadis itu.
"Evelyn! Buka matamu!" panggil Cassian serak, matanya membelalak lebar melihat wajah Evelyn yang seketika berubah pucat pasi. Bibir halus gadis itu kini membiru, dihiasi lelehan darah segar yang terus mengalir dari sudut bibirnya.
Kedua matanya terpejam rapat, kelopak matanya bergetar halus menahan rasa sakit luar biasa yang menghantam organ dalamnya.
"MARSHA! DOKTER TRISTAN! KE SINI SEKARANG!" teriak Cassian dengan suara bariton yang menggema.
Tanpa berpikir panjang, ia menyusupkan sebelah tangannya ke bawah lutut Evelyn dan mengangkat tubuh yang begitu ringan itu ke dalam gendongannya.
Ia berbalik cepat, menghentak lantai dengan langkah-langkah lebar yang terburu-buru menuju pintu rahasia di balik lemari buku—pintu yang menghubungkan ruang kerja langsung ke kamar pribadi Cassian.
Pintu terbanting terbuka. Cassian membaringkan tubuh Evelyn di atas tempat tidurnya.
"Evelyn... bertahanlah," bisik Cassian serak, tangannya yang gemetar menangkup kedua pipi dingin gadis itu.
Rasa dingin yang memancar dari kulit Evelyn membuat jantung Cassian makin berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pintu kamar mendadak terdorong keras. Dokter Tristan masuk bersama Marsha dengan napas terengah-engah, membawa tas medis dan wadah air hangat.
"Lord Duke! Apa yang terjadi?!" jerit Dokter Tristan panik, buru-buru berlari ke tepi ranjang begitu melihat noda darah di dada Evelyn.
"Dia mendadak batuk darah dan pingsan di depan meja saya!" bentak Cassian, dadanya naik turun oleh emosi. "Suhu tubuhnya mendadak dingin! Lakukan sesuatu, Tristan!"
Dokter Tristan dengan cepat menempelkan jemarinya pada nadi di leher Evelyn. Wajah dokter paruh baya itu seketika memucat tajam. "Serangan pembekuan alur mana!
Hawa dingin ekstrem badai malam ini memicu reaksi penolakan dari racun dalam dadanya sebelum bunga pemurni sempat diolah!"
Tristan meraih botol racikan sementara dari tasnya dengan tangan gemetar. "Lord Duke! Alur mananya hampir berhenti berdetak! Kalau kita menunggu saya memasak kelopak bunga Amaryllis ini secara lengkap, paru-parunya bakal membeku dalam sepuluh menit! Kita butuh menyalurkan energi panas murni secara langsung dari luar untuk menjaga alur darahnya tetap mengalir!"
"Gunakan mana milik saya!" potong Cassian tanpa ragu.
Pria itu naik ke atas tempat tidur, mendudukkan dirinya di samping tubuh Evelyn.
Dokter Tristan tersentak. "Lord Duke?! Mana milik Anda adalah mana elemen es dan pertempuran! Kalau disalurkan secara mentah, itu bisa merusak organ dalam Nona Evelyn!"
"Saya tahu cara mengendalikan inti mana saya, Tristan!" tegas Cassian. "Buka mantelnya! Biarkan perapian menghangatkan fisiknya dari luar, dan siapkan ramuan penstabil itu sekarang juga!"
Marsha buru-buru maju, dengan jemari gemetar membantu melepas mantel Evelyn, menyisakan gaun tipis yang menempel di tubuh kurusnya.
Cassian menarik napas, mencoba menenangkan gejolak emosi di dadanya.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Cassian merengkuh punggung Evelyn dan mendudukkan tubuh gadis itu bersandar pada dadanya.
Pria itu melingkarkan lengan kirinya di pinggang Evelyn, sementara telapak tangan kanannya ditempelkan tepat di tengah dada tempat jantung gadis itu berdetak lemah.
Cassian memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh fokus jiwanya, menyaring aura tempurnya yang ganas, dan hanya mengambil lapisan energi panas murni dari inti fisiknya.
Srrr...
Pendar cahaya keemasan tipis meluncur keluar dari telapak tangan Cassian, meresap perlahan menembus gaun tipis Evelyn, mengalir masuk menuju saluran darah gadis tersebut.
"Evelyn..." bisik Cassian tepat di samping telinga gadis itu, suaranya terdengar dipenuhi rasa cemas.
"Jangan berani-berani memejamkan matamu terlalu lama. Kamu sudah membuat perjanjian aliansi dengan saya... kamu nggak boleh pergi sebelum menyelesaikan bagianmu."
Di dalam dekapan Cassian, tubuh Evelyn yang tadinya kaku mulai bergetar halus. Rasa hangat dari energi murni yang disalurkan Cassian perlahan-lahan bertarung melawan cengkeraman es di dalam dada Evelyn.
Evelyn mengerang pelan dari tenggorokannya yang parau.
Napasnya yang tadinya terputus-putus mulai berembus keluar dalam helaan halus beruap hangat, menerpa leher Cassian yang terpaku menahannya.
Dokter Tristan yang berdiri di samping ranjang dengan cepat menyodorkan sendok berisi ekstrak kelopak bunga Amaryllis yang sudah dilarutkan dalam air sihir murni.
"Lord Duke, minumkan ekstrak ini ke mulut Nona Evelyn!" seru Tristan.
Cassian meraih sendok itu dengan tangannya yang bebas.
Namun, bibir Evelyn yang membiru terkatup rapat oleh ketegangan pingsannya, membuat cairan merah keemasan itu mengalir keluar di sudut bibirnya.
"Cairan ini tidak bisa masuk kalau dia tidak sadar!" kata Tristan panik.
Cassian menatap wajah pucat Evelyn di dekapannya.
Tanpa membuang waktu untuk keraguan konyol, sang Duke Utara meraih botol kaca berisi larutan Bunga Amaryllis tersebut, menyesap sebagian cairan herbal hangat itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu... ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di atas bibir dingin Evelyn.
Deg!
Marsha yang berdiri di dekat perapian menahan napasnya, matanya membelalak kaget.
Cassian mendesakkan cairan hangat dari mulutnya menembus sela-sela bibir Evelyn, menyalurkan ekstrak langsung ke tenggorokan sang gadis.
Tangan Evelyn yang terkulai kaku di atas selimut mendadak mencengkeram kemeja Cassian.
Ekstrak Bunga Frost-Blooded Amaryllis yang bertemu dengan energi panas murni milik Cassian mendadak bereaksi hebat di dalam tubuh Evelyn. Cahaya merah keemasan memancar samar dari balik kulit leher dan dada Evelyn!
Sensasi hangat yang luar biasa kuat mendadak menjebol sumbatan racun mana dingin di dalam paru-parunya.
"Ngh... hah!"
Evelyn tersentak bangun! Matanya terbuka lebar, menghirup udara kamar dengan satu helaan napas panjang yang memburu tajam!
Bibir mereka terlepas secara perlahan.
Evelyn terengah-engah, dadanya naik turun cepat.
Wajah tampan Cassian berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Pria itu menatapnya dengan napas yang sama-sama memburu, matanya dipenuhi oleh campuran antara rasa lega yang luar biasa dan luapan emosi.
"Cassian...?" bisik Evelyn parau, tangannya masih meremas kemeja di dada pria itu.
"Aku... di mana...?"
Cassian menghela napas panjang, Cassian secara impulsif makin merapatkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di celah leher Evelyn seraya meresapi napas hangat gadis itu yang kembali berembus normal.
"Di kamar saya, gadis nekat..." bisik Cassian rendah, suaranya bergetar halus di leher Evelyn. "Kamu baru saja membuat saya hampir kehilangan akal sehat di depan pelayan saya sendiri."
Evelyn terpaku, merasakan detak jantung Cassian yang berdebar luar biasa kencang di balik dadanya.
Dokter Tristan di tepi ranjang menyapu keringat dingin di dahinya, lalu tersenyum lega. "Proses pemurnian racun mana tahap pertama berhasil, Nona Evelyn... berkat bantuan pendar energi murni dari Lord Cassian."
Evelyn perlahan menyadari apa yang baru saja terjadi.
Bunga penyembuhnya telah bekerja, racun dingin di dadanya telah dinetralkan, dan pria dingin yang dijuluki "Monster dari Utara" ini... telah mempertaruhkan intisari mananya sendiri dan merawatnya secara langsung.
Sebuah senyuman tipis yang hangat dan sangat lembut terkembang di bibir Evelyn. Jemarinya perlahan terangkat, mengusap pelan rambut hitam Cassian yang berantakan di dekat lehernya.
"Terima kasih... Cassian," bisik Evelyn tulus.
semangat nulisnya 💪