Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Wilayah Terlarang

Suasana di dalam ruang tamu itu mendadak menjadi begitu mencekam. Nasya bisa merasakan hembusan nafas Eksan yang hangat menerpa kulit wajahnya, berbanding terbalik dengan tatapan mata pemuda itu yang sedingin es. Pergelangan tangannya yang kuat mulai terasa sedikit dingin, namun rasa takut membuat Nasya tidak berani berfikir macam macam.

"kau... lepaskan dulu. Tanganmu bisa berdarah lagi kalau bergerak seperti ini,"

Nasya mencoba mengalihkan perhatian sang berandal dengan suara yang gemetar.

Eksan tidak langsung melepaskannya, dengan pandangan ke arah wajah gadis itu. Dengan Kulit yang bersih, sepasang mata jernih yang memancarkan kedamaian, dan bibir merah dengan menahan tangis. Gadis ini terlalu rapuh untuk ukuran seseorang yang berani menyeret tubuh sekarat seorang ketua geng jalanan ke dalam rumahnya.

"Siapa namamu tadi? Nasya?" suara Eksan beralih menjadi suara rendah yang serak.

Nasya mengangguk pelan sekali. "Iya. Nama saya Nasya."

Secara perlahan, Eksan melonggarkan genggamannya lalu melepaskan tangan Nasya.

Ia bersandar kembali ke sandaran sofa,saat rasa nyeri di perutnya kembali menusuk akibat gerakan tiba-tiba tadi. Kaos putih seragamnya yang kotor dan lusuh kini mengingatkan kejadian saat luka ini bisa ada dengan berbalutan perban yang melingkari perutnya, dengan sedikit noda merah yang kembali merembes.

Nasya segera mundur tiga langkah, menjaga jarak aman dari pemuda berbahaya itu. "Luka tusuk di perutmu cukup dalam. Aku hanya membersihkannya dengan obat merah seadanya. Kau harus ke rumah sakit kalau jahitannya dibutuhkan."

Eksan terdiam, dan sebuah tawa yang terdengar mengerikan di telinga Nasya. "Rumah sakit? Tempat itu sama saja dengan menyerahkan nyawaku secara sukarela pada musuh. Aku tidak butuh dokter."

Eksan merubah pandangannya ke sekeliling ruangan dengan teliti.

Rumah ini sangat sederhana, cenderung sunyi dan sepi. Hanya ada satu foto kecil di atas meja sudut yang memperlihatkan Nasya bersama seorang wanita paruh baya yang tersenyum hangat ke arah kamera.

"Kau tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Eksan menyelidiki.

"Iya. Ibu sudah meninggal dua tahun lalu," jawab Nasya dengan tatapan sedih, dia membersihkan lantai yang bersih demi menghindari pandangan orang asing di hadapannya.

Mendengar hal itu, ada ingatan yang melintas di fikiran Eksan. Ia tahu betul rasanya kesendirian, namun kesendirian di dunia jalanan miliknya selalu diisi dengan kepulan asap rokok, suara mesin motor, dan hantaman balok kayu. Sementara gadis ini, dia hidup dalam kesunyian yang damai. Sebuah kedamaian yang mendadak terasa sangat mewah bagi Eksan di tangannya sudah terlalu sering berlumuran darah.

"Baguslah kalau begitu," ucap Eksan tiba tiba sambil meraih jaket hitam berlambang mawar berdarah miliknya yang tergeletak di ujung sofa.

"Maksudmu?" Nasya merasakan bingung, perasaannya mendadak tidak enak.

"Artinya, tidak akan ada orang tua yang berisik atau melaporkanku ke polisi karena aku menumpang bersembunyi di sini untuk sementara waktu," kata Eksan santai, seolah mengklaim bahwa rumah Nasya adalah markas pribadinya sekarang.

"Tapi kau tidak bisa tinggal di sini!" protes Nasya, keberaniannya mendadak muncul karena panik. "Bagaimana kalau tetangga melihat? Bagaimana kalau orang-orang yang melukaimu semalam mencari mu sampai ke sini? Aku bisa ikut dalam bahaya besar!"

Eksan menghentikan gerakannya yang hendak memakai jaket hitamnya. Ia menatap Nasya dengan pandangan lurus yang membuat nyali gadis itu menciut kembali dalam sekejap. Eksan bangkit berdiri secara perlahan. Meskipun tubuhnya masih agak sempoyongan dan menahan perih, tinggi badannya yang menjulang membuat ruang tamu kecil itu seolah kehilangan ruang gerak nya.

Eksan melangkah mendekat, membuat Nasya otomatis berjalan mundur ketakutan hingga punggungnya membentur pintu kayu rumah. Eksan menghalangi tubuh Nasya dengan meletakkan satu tangan di dinding, tepat di samping kepala Nasya.

"Kau benar, Gadis Kecil. Tempat ini memang berbahaya jika mereka tahu aku berada di sini," bisik Eksan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Nasya yang memucat. "Geng Red Wolf tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja.

Dan sialnya bagi mereka... aku adalah predator sesungguhnya di jalanan ini."

Eksan menurunkan pandangannya ke arah leher Nasya, lalu tangan nya memegang seuntai kalung perak tipis yang melingkar di leher dengan gerakan perlahan.

"Maka dari itu, patuhi kataku jika kau ingin selamat. Jangan keluar rumah hari ini. Mengerti?" perintah Eksan dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun.

Sebelum Nasya sempat menjawab, tiba-tiba dari arah luar pagar rumah terdengar suara mesin motor gila yang sangat bising. Suara knalpot yang memekakkan telinga itu perlahan merayap masuk ke dalam gang sempit depan rumah Nasya, lalu berhenti tepat di depan pagar kayu rumahnya.

*Vroom! Vroom!*

Jantung Nasya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Wajahnya langsung memucat pasrah, menyadari ketakutannya benar-benar terjadi dalam waktu cepat.

Eksan bergerak cepat. Ia menarik tubuh Nasya menjauh dari area pintu, membekap mulut gadis itu dengan telapak tangan nya yang lebar, dan menekan tubuh mereka berdua ke sudut dinding yang gelap di balik lemari pajangan kayu yang tua.

Melalui celah gorden yang sedikit terbuka, Eksan melihat tiga motor sport besar berwarna merah menyala terparkir liar di depan pagar rumah. Pengendaranya adalah pria-pria berbadan tegap dengan jaket kulit merah berlambang serigala anggota inti dari geng Red Wolf yang mengeroyoknya semalam.

Salah satu dari mereka turun dari motor, memegang sebatang pipa besi tebal yang sengaja diseret di atas aspal jalanan, memicu suara gesekan logam yang memilukan indra pendengaran. Pria beringas itu berjalan mendekati pagar rumah Nasya, matanya yang tajam menatap ke arah pintu rumah yang tertutup rapat.

"Hei! Periksa gang sebelah sini! Ada jejak tetesan darah segar yang mengarah ke area rumah-rumah ini!" teriak pria berjaket serigala itu kepada teman-temannya yang masih berada di atas motor.

Di dalam rumah, Nasya bisa merasakan detak jantung Eksan yang berdegup kencang berkejaran dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Napasnya tertahan sepenuhnya di balik bekapan tangan erat Eksan. Jika orang-orang di luar sana nekat mendobrak masuk, malam berdarah semalam pasti akan terulang kembali di dalam rumah kecilnya yang damai.

Tangan kanan Eksan yang bebas perlahan bergerak ke balik pinggang celananya, menarik sebilah pisau lipat taktis hitam yang berkilau sangat tajam di bawah kegelapan sudut ruangan. Tatapan mata Eksan berubah total dalam sekejap menjadi tatapan haus darah seorang berandal sejati yang siap mencabut nyawa siapa saja yang berani mengusik wilayah perlindungannya.

"Kalau mereka sampai mendobrak masuk..." Eksan berbisik sangat pelan di dekat telinga Nasya, suaranya terdengar begitu mengerikan namun penuh kepastian di tengah kepungan bahaya. "...tutup matamu rapat-rapat, Nasya. Jangan pernah melihat apa yang akan aku lakukan pada mereka."

1
ARDICK
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
ARDICK: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!