Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Matahari bersinar terik memanggang jalanan aspal ibu kota siang itu.
Arif sedang duduk bersandar di bangku taman kampus Universitas Mahkota sambil memejamkan matanya.
Dia sedang mencoba mengatur aliran energinya setelah makan siang yang cukup berat di kantin.
"Udik, kau ini kerjanya tidur terus ya kalau sedang santai?" tegur Shinta yang baru saja duduk di sebelahnya.
Gadis itu menyodorkan sebotol minuman isotonik dingin ke arah wajah Arif.
Arif membuka matanya dan menerima minuman itu dengan senyum kecil.
"Tidur adalah cara terbaik untuk memulihkan energi, Nona cerewet," jawab Arif membuka tutup botolnya.
"Lagi pula cuaca panas begini membuat Racun Apiku sedikit bergejolak kalau aku terlalu banyak bergerak."
Mendengar hal itu, Shinta langsung mengerutkan keningnya khawatir.
Tanpa banyak bicara, dia langsung menggeser duduknya merapat ke arah Arif dan menggenggam tangan kiri pemuda itu erat-erat.
"Kalau begitu pegang tanganku terus, jangan sampai racun anehmu itu kumat di tengah kampus," omel Shinta dengan pipi yang sedikit merona merah.
Arif terkekeh pelan dan mengeratkan genggamannya pada tangan lembut gadis itu.
Energi Yin yang sejuk langsung mengalir masuk dan menetralkan sisa hawa panas di dadanya.
Semenjak kejadian lelang semalam, Shinta menjadi jauh lebih penurut dan sering mengambil inisiatif untuk menggenggam tangannya.
Meski mulutnya masih suka mengomel, tapi tindakan tubuhnya tidak bisa berbohong.
Drrt. Drrt.
Ponsel di saku celana Arif bergetar pelan.
Arif melepaskan genggamannya sebentar dan mengambil ponselnya.
Itu adalah pesan dari Nana.
"Tuan Arif, saya baru mendapat informasi kalau Hermawan Kusuma sedang bergerak menemui kelompok preman Naga Hitam," baca Arif pelan.
"Naga Hitam? Kelompok mafia jalanan yang menguasai daerah pelabuhan itu?" gumam Arif menyipitkan matanya.
Shinta yang ikut membaca pesan itu langsung pucat pasi.
"M-mafia?! Udik, apa Reyhan dan ayahnya mau membalas dendam gara-gara kejadian semalam?" tanya Shinta panik.
"Sepertinya begitu," jawab Arif santai memasukkan ponselnya kembali.
"Keluarga Kusuma itu tidak bisa disentuh oleh hukum karena mereka punya banyak bekingan pejabat."
"Kalau mereka menyewa Naga Hitam, urusannya bisa jadi sangat panjang dan berbahaya," cemas Shinta meremas ujung roknya.
Arif hanya mengangkat bahu tidak peduli dan kembali menggenggam tangan Shinta.
"Biar saja cacing-cacing tanah itu bermain lumpur, mereka tidak akan bisa menyentuh sehelai rambutmu selama ada aku di sini," janji Arif menenangkan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, suara dering telepon yang sangat nyaring memecah suasana santai mereka.
Kring! Kring!
Bukan dari ponsel Arif, melainkan dari ponsel Shinta.
Shinta melihat layar ponselnya dan keningnya berkerut bingung.
"Ini dari dosen pembimbingku, tumben sekali dia menelepon siang bolong begini," ucap Shinta mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Pak? Ada apa ya?" sapa Shinta sopan.
Suara panik seorang pria terdengar dari seberang telepon.
"Shinta! Tolong cepat ke ruang laboratorium biologi di gedung C sekarang juga!" teriak dosen itu ketakutan.
"A-ada asisten dosen yang tersengat aliran listrik tegangan tinggi dan pingsan!"
"Saya butuh bantuanmu untuk mengambil kotak P3K besar di ruang kesehatan, saya tidak bisa meninggalkannya!"
Shinta langsung terkesiap kaget mendengar berita darurat tersebut.
"B-baik Pak! Saya segera ke sana sekarang!" jawab Shinta mematikan telepon dengan tangan gemetar.
Dia menoleh ke arah Arif dengan wajah panik.
"Udik, aku harus ke gedung C sekarang membantu dosenku, kau tunggu di sini saja ya!" pamit Shinta buru-buru berdiri.
Arif mengerutkan keningnya, insting bertarungnya yang sudah terasah puluhan tahun merasakan ada sesuatu yang janggal.
"Biar aku ikut, firasatku mengatakan ada yang tidak beres," cegah Arif ikut berdiri.
"Tidak usah! Ruang kesehatannya khusus perempuan, nanti kau dituduh mengintip!" bantah Shinta keras kepala.
"Ini urusan darurat kampus, lagipula gedung C banyak orang kok, aku tidak akan lama," janji Shinta berlari kecil meninggalkan taman.
Arif menghela nafas panjang dan duduk kembali ke bangkunya.
Dia mencoba menepis firasat buruknya, mungkin itu hanya kecelakaan kampus biasa.
Namun, lima belas menit berlalu dan Shinta belum juga kembali.
Arif mencoba menghubungi nomor ponsel Shinta, tapi panggilannya langsung dialihkan ke kotak suara.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Mata Arif langsung berubah menjadi sangat tajam dan dingin bagaikan es di kutub utara.
Srek.
Dia bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju gedung C yang berjarak sekitar dua ratus meter dari taman.
Sepanjang perjalanan, auranya berubah drastis membuat beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya merinding dan menyingkir secara refleks.
Sesampainya di gedung C, Arif langsung menuju ke ruang kesehatan di lantai satu.
Pintu ruang kesehatan itu terbuka sedikit.
Arif mendorong pintunya dan melihat ruangan itu kosong melompong.
Bahkan kotak P3K besar yang menempel di dinding masih utuh di tempatnya.
"Tidak ada tanda-tanda kecelakaan di sini," gumam Arif memeriksa keadaan sekitar.
Dia keluar dari ruang kesehatan dan berjalan menyusuri lorong menuju laboratorium biologi yang disebutkan dosen tadi.
Laboratorium itu berada di ujung lorong yang cukup sepi dan gelap.
Saat Arif memutar gagang pintunya, pintu itu terkunci rapat dari dalam.
Brak!
Tanpa pikir panjang, Arif menendang pintu kayu tebal itu hingga engselnya jebol dan hancur berantakan.
Di dalam ruangan yang gelap itu, tidak ada dosen, tidak ada asisten yang pingsan.
Yang ada hanyalah secarik kertas putih yang ditancapkan menggunakan pisau lipat tepat di atas meja praktik.
Arif mencabut pisau itu dan membaca tulisan cakar ayam di kertas tersebut.
"Kalau kau ingin melihat tunangan cantikmu ini hidup, datang sendirian ke gudang kosong nomor empat di Pelabuhan Tanjung Priok."
"Jangan coba-coba membawa polisi atau pengawal Keluarga Liem, atau kami akan mengirimkan kepalanya ke rumahmu."
Di bawah tulisan itu, terdapat noda lipstik merah milik Shinta yang sepertinya dipaksa untuk dicetak.
Kertas itu langsung hancur menjadi serpihan debu di genggaman tangan Arif saking kuatnya dia meremas kertas tersebut.
Kemarahan yang teramat sangat meledak di dalam dada Arif, jauh lebih panas dari Racun Api yang menyiksanya.
"Reyhan Kusuma... Naga Hitam... kalian berani menyentuh milikku," desis Arif dengan suara yang menyerupai geraman monster buas.
Matanya yang biasa tenang kini memancarkan kilat pembunuh yang sangat pekat.
Arif merogoh saku celananya dan mengeluarkan medali perunggu berukir naga menelan matahari.
Dia menekan bagian mata naga itu selama tiga detik.
Tit.
Sebuah saluran komunikasi khusus langsung terhubung tanpa menggunakan sinyal operator biasa.
"Tuan Besar, Biro Akasa divisi intelijen siap menerima perintah," suara berat dan sangat hormat terdengar dari alat komunikasi tersembunyi itu.
"Kunci koordinat ponsel Shinta Liem sekarang juga," perintah Arif dengan nada yang sangat mematikan.
"Baik Tuan Besar, koordinat terakhir berada di gudang empat Pelabuhan Tanjung Priok, bergerak dengan kecepatan mobil."
"Kumpulkan seluruh pasukan elit divisi pembunuh Bayangan Malam."
"Kepung seluruh area pelabuhan itu dalam waktu dua puluh menit, jangan sampai ada satu tikus pun yang lolos," perintah Arif mutlak.
"Siap laksanakan Tuan Besar! Apakah kami perlu langsung menyerbu masuk?" tanya suara di seberang sana.
"Tidak. Biarkan aku yang mencabut nyawa mereka dengan tanganku sendiri," jawab Arif mematikan komunikasi tersebut.
Arif berbalik dan melesat keluar dari gedung C dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa dilihat oleh mata telanjang mahasiswa biasa.