Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:952.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Siang itu Vivi sedang melipat pakaian. Tiba-tiba Lili datang. Membawa boneka kelinci. Lalu duduk tepat di sampingnya. Tanpa diminta. Tanpa alasan. Hanya duduk. Vivi tersenyum. "Halo."

Lili tersenyum balik. Beberapa menit kemudian anak itu mulai menyandarkan tubuh ke lengannya. Lalu memeluk kaki Vivi. Kemudian mengambil salah satu pakaian dan ikut melipat dengan hasil yang sangat berantakan.

Vivi tertawa kecil. "Terima kasih bantuannya."

Lili tertawa. Bangga. Dan di saat yang sama, Sean yang lewat di koridor langsung berhenti. Matanya membesar. Yuan yang ikut lewat juga membeku. Bahkan Saka menoleh. Mereka semua menyaksikan pemandangan yang sama. Lili. Adik bungsu mereka. Yang seharusnya ikut memusuhi Vivi. Justru sedang duduk nyaman di samping perempuan itu. Seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

"Pengkhianat." Saka berbisik.

Lili menoleh. Lalu melambaikan tangan kepada kakaknya dengan ceria. Sean memejamkan mata. Yuan menghela napas. Dan untuk pertama kalinya mereka menyadari satu kenyataan yang mengerikan. Vivi mungkin bisa dilawan. Bisa dijebak. Bisa dibuat kesal. Tetapi ada satu sekutu yang tidak bisa mereka kendalikan. Seorang balita berusia dua tahun. Dan balita itu tampaknya mulai menyukai ibu tiri mereka.

***

Sepekan setelah akad. Sore mulai berubah menjadi malam ketika Baskara akhirnya pulang. Seperti biasa, suara mobilnya langsung menarik perhatian anak-anak. Namun karena Vivi telah menetapkan jam belajar setelah makan sore, untuk pertama kalinya rumah itu tidak langsung berubah ramai. Sean sedang mengerjakan matematika. Yuan membaca buku IPA. Saka setengah belajar, setengah menggambar robot. Ella mewarnai. Lili sibuk mencoret-coret kertas dengan krayon. Ajaibnya, semuanya duduk di meja belajar. Dan itu memberi Vivi sesuatu yang belum sempat ia dapatkan sejak menikah. Waktu berdua dengan Baskara.

Pria itu baru saja meletakkan tas kerjanya ketika Vivi menghampirinya. "Bisa bicara sebentar?"

Baskara mengangguk. "Mau bicara di mana?"

"Di teras." Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan. Angin berembus pelan. Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Lalu Vivi memutuskan memulai. "Kita sudah sepekan jadi suami istri."

Baskara menatapnya. "Iya."

"Apa nggak ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"

Pertanyaan itu membuat Baskara tampak berpikir. Sampai akhirnya ia berkata, "Maaf."

Vivi berkedip. "Maaf?"

"Aku sibuk."

Jawaban itu membuat Vivi hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena tidak percaya. "Serius?"

Baskara mengangguk. "Aku memang sedang banyak pekerjaan."

Vivi memijat pelipisnya. "Ternyata itu yang kamu pikirkan."

"Lalu?"

"Lalu..." Vivi menghela napas panjang. "Aku bukan sedang menagih waktu liburan. Aku juga bukan menuntut perhatian dua puluh empat jam. Aku ingin tahu." Vivi menatapnya lurus. "Rumah tangga ini mau dibawa ke mana?"

Kalimat itu akhirnya membuat Baskara benar-benar memperhatikan. Biasanya istri mengeluh. Marah. Menangis. Tetapi Vivi justru bertanya arah. Dan itu jauh lebih sulit dijawab. "Apa maksudmu?"

"Aku masuk ke rumah ini sebagai istrimu." Vivi menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku tidur di kamar tamu. Kamu sibuk dari pagi sampai malam. Anak-anak tidak menerima aku. Kita bahkan belum pernah bicara." Kemudian Vivi melanjutkan. "Aku hanya ingin tahu apa yang kamu harapkan dariku. Kalau sebelumnya kamu mengatakan hal ini, aku masih bisa terima. Tapi setelah menikah dan tahu semuanya, aku rasa kamu harus mengatakan sesuatu kepadaku."

Baskara menyandarkan tubuh ke kursi. Ia sangat lelah. "Apa yang ingin kamu tuntut? Aku bisa memenuhi banyak hal." Baskara menatapnya. "Katakan saja. Aku sibuk, jadi lebih mudah kalau kamu bicara langsung."

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Vivi mulai panas. Namun ia masih menahan diri. "Aku nggak sedang menuntut."

"Lalu?"

"Setidaknya katakan sesuatu."

Baskara mengernyit. "Sesuatu seperti apa?"

Vivi tertawa pendek. Tawa yang terdengar frustrasi. "Aku ini istrimu."

"Iya."

"Dan itu saja responsmu?"

Baskara tampak benar-benar bingung. Seolah tidak mengerti di mana letak masalahnya. Kemudian ia berkata, "Bukannya kamu akan mendapatkan yayasan kalau kita menikah? Apa itu kurang?"

Vivi membeku. Beberapa detik. Benar-benar membeku. Dan tepat setelah kalimat itu keluar, Vivi langsung berdiri. "Hah?"

Baskara ikut terdiam. Karena baru sekarang ia melihat ekspresi Vivi berubah. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. Perempuan itu marah. Bukan marah besar. Tetapi terlihat tersinggung.

"Apa maksudmu?"

Baskara mengernyit. "Aku hanya bilang,"

"Kamu pikir aku menikahimu karena yayasan?" Suara Vivi mulai bergetar.

"Bukan begitu."

"Tapi itu yang kamu katakan." Vivi menatapnya lurus. Tatapan yang membuat pria itu akhirnya merasa ada sesuatu yang salah. "Aku sudah delapan tahun bekerja di yayasan itu. Kalau aku ingin jabatan, aku sudah mencarinya sejak lama. Kalau aku ingin uang, aku bisa menerima semua hadiah ibumu dengan senyum paling lebar. Tapi aku bahkan berkali-kali bilang aku tidak membutuhkan itu dan terbukti dengan aku belum menyentuh bahkan belum terbersit memikirkan semua hadiah itu!" Angin kembali berembus. Namun kali ini terasa dingin. Karena untuk pertama kalinya Vivi merasa dihina. Bukan oleh anak-anak. Melainkan oleh suaminya sendiri. "Aku tak sematre itu." Kalimat itu keluar pelan. Namun justru karena itulah terasa menyakitkan. "Aku menikah karena semua orang meyakinkan aku bahwa ini adalah jalan terbaik." Mata Vivi mulai memerah.

"Aku meninggalkan rumah orang tuaku."

"Aku masuk ke rumah yang bahkan tidak menginginkan aku."

"Aku berusaha menghadapi lima anakmu yang setiap hari mencari cara untuk menolakku." Dan untuk pertama kalinya suara Vivi pecah. "Bukan karena yayasan."

Baskara tidak bisa menjawab. Karena baru saat itulah ia menyadari sesuatu. Selama ini ia mengira dirinya yang paling terbebani oleh pernikahan ini. Padahal di hadapannya ada seorang perempuan yang meninggalkan seluruh kehidupannya demi masuk ke dalam kekacauan miliknya. Dan yang lebih buruk lagi Ia bahkan belum pernah mengucapkan terima kasih. Atau sekadar mengatakan, "Aku senang kamu ada di sini."

Sementara Vivi berdiri beberapa detik lagi. Menunggu. Menunggu apa pun. Satu kalimat. Satu tanda bahwa pernikahan ini berarti bagi Baskara. Namun yang muncul hanyalah wajah pria yang tampak kehilangan kata-kata. Dan entah kenapa Itu justru membuat Vivi semakin sedih.

Teras kembali sunyi. Setelah sekian lama, Baskara akhirnya membuka mulut. Namun kalimat yang keluar justru membuat Vivi semakin tidak percaya. "Lalu aku harus bagaimana?"

Vivi menatapnya. Agak lama, Seolah sedang memastikan bahwa pria di depannya benar-benar serius. Karena setelah semua yang baru saja ia katakan Setelah semua perasaan yang akhirnya ia ungkapkan Jawaban Baskara adalah pertanyaan itu. Lalu aku harus bagaimana? Vivi menghembuskan napas perlahan. Bukan marah. Bukan berteriak. Justru terlalu lelah untuk melakukan itu. "Kamu pikirkan sendiri."

Baskara terdiam. "Apa?"

"Kamu dengar." Vivi berdiri. Merapikan ujung bajunya. Lalu menatap lelaki itu sekali lagi. Tatapan yang tenang. Tetapi jauh lebih berbahaya daripada kemarahan. "Oh ya. Malam ini kamu yang mengurus anak-anak."

1
milk shake🍓🥤
semogaa cepat terbongkar dan dokter Sinta dipenjara karna bikin laporan palsu dan kliniknya ditutup
milk shake🍓🥤
jgn cuman keklinik tantemu itu berobat, sesekali perlu kerumah sakit,
Isna
keren...keren..seru bgt ceritanya..
rahmah
ceritanya bagus Vivi wanita luar biasa yg baik hati gak pernah marah tapi banyak ujian mulai ditipu puluhan tahun sama tante yg sudah menganggapnya anak sendiri sampai dia menangis setiap hari karena vonis tidak bisa punya anak dan itu juga dia tinggal kekasihnya karena vonis itu sampai dia diminta menikah dg anak pemilik yayasan tempat dia mengajar duda 5 anak bernama Baskara yg sibuk dg pekerjaannya(sepertinya Baskara cuma taunya menambah anak saja 🤭) anak²nya yg sudah menolak 32 calon ibu berbagai cara dilakukan anak²nya pada Vivi juga begitu tapi Vivi masih bisa mengatasinya sampai anak² menerima Vivi sebagai ibu mereka tapi cobaan Vivi tidak berhenti disitu hingga dia akhirnya hamil dan melahirkan bayi laki² yg bernama Hanan dan dia bahagia bersama suami dan 6 anak²nya..🥰
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
Hesty Mamiena Hg
Naahhh...😌
Hesty Mamiena Hg
Kenapa Vivinya pulang sendiri aja?
Harusnya Baskara dan anak2 ikut, silaturahmi kermh ortu Vivi utk pertama kalinya 🙄
Inooy
bab termewek,,siapa pun anak nya pasti akan merasa tersisihkan jika ayah nya menikah kembali...karena banyak kenyataan nya yg seperti ini, apalagi anak2 nya masih d bawah 12 tahun yg pola pikir nya belum dewasa utk mencermati setiap masalah orang dewasa,,khusus nya masalah orangtua...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!