Indonesia
NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GANTI RUGI CANGKIR TEH

Dinding-dinding gubuk kayu di pinggir Hutan Kelam berdiri kokoh di bawah naungan cahaya pagi yang lembut. Setelah kekacauan hebat di benteng markas Shadow Vanguard kemarin sore, keheningan akhirnya kembali menyelimuti pekarangan rumah mereka.

Di dalam kamar utama, Alya duduk di tepi ranjang. Ia mengenakan gaun katun longgar yang nyaman. Meski bekas racun bius sihir sudah hilang sepenuhnya berkat pijatan dan perawatan Kayy semalam, Wajah anggun mantan Saintess itu masih memancarkan sedikit rona kelelahan—dan rasa cemas yang mendalam.

Kayy berdiri di samping pintu kamar, merapikan baju petani kusamnya. Di dalam saku bajunya, pecahan cangkir tanah liat milik Alya yang hancur kemarin tersimpan rapi.

Alya menatap suaminya dengan mata berbinar cemas. Ia beranjak dari ranjang, melangkah cepat dan langsung menggenggam erat kedua lengan baju Kayy.

"Kayy, kamu benar-benar mau pergi ke Ibukota Kerajaan?" tanya Alya, suaranya bergetar pelan. "Tolong, jangan... Kerajaan itu bukan seperti kelompok bayangan kemarin. Di sana ada benteng sihir bertingkat, ribuan ksatria elit, dan Pahlawan Kerajaan. Tempat itu sangat berbahaya!"

Kayy menghentikan tangannya. Ia menatap mata Alya, lalu menyunggingkan senyum hangat yang tipis. Tangan kasarnya terangkat, mengusap pipi Alya dengan lembut.

"Alya, kalau lalat-lalat itu tidak diberi pelajaran langsung di sarangnya, mereka akan terus datang," jawab Kayy santai. "Hari ini mereka memecahkan cangkir tehmu. Besok-besok mungkin mereka akan merusak kebun sayurku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."

"Tapi... bagaimana kalau kamu terluka? Bagaimana kalau seluruh militer Kerajaan mengepungmu?" air mata cemas mulai megenang di sudut mata Alya. Baginya, betapa pun kuatnya Kayy, berhadapan langsung dengan struktur tertinggi sebuah Kerajaan adalah hal yang terdengar gila.

Kayy tertawa kecil, memajukan wajahnya lalu mengecup kening Alya dengan penuh kehangatan. Ciuman lembut itu membuat napas Alya yang memburu perlahan menjadi tenang kembali.

"Tenang saja, Sayang. Aku ke sana bukan untuk berperang," bisik Kayy tepat di depan bibir Alya. "Aku cuma mau 'mengantar' pecahan cangkir ini dan minta ganti rugi atas ketenangan kita yang dirusak. Aku janji akan pulang sebelum jam teh sore."

Alya menggigit bibirnya pelan, merasakan kehangatan dan rasa aman yang tak tergoyahkan dari aura suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Janji ya... harus pulang sebelum teh sore."

"Janji," jawab Kayy menyeringai tipis.

Sementara itu, di dalam Aula Tahta Istana Utama Kerajaan, suasana dipenuhi oleh kepanikan massal.

Raja Kerajaan duduk di tahta emasnya dengan wajah pucat pasi. Di sekelilingnya, puluhan menteri, jenderal militer, dan Grand Archmage berkumpul dalam bisik-bisik ketakutan. Berita hancurnya benteng Shadow Vanguard hanya dalam hitungan detik oleh "seorang penyusup tunggal" telah menyebar seperti api menyambar jerami kering.

Arthur, Sang Pahlawan Kerajaan, berdiri di barisan terdepan tangga tahta. Zirah emasnya berkilau, dan tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang sucinya. Dahi Arthur dibasahi keringat dingin.

Arthur tidak tahu sama sekali siapa sosok penyusup yang berhasil meratakan benteng eksekutor Kerajaan itu. Yang ia tahu, Kerajaan sedang berada dalam ancaman bahaya tingkat tinggi, dan sebagai Pahlawan, tugasnya adalah mempertaruhkan nyawa untuk melindungi tempat ini.

"Arthur!" panggil Raja dengan suara gemetar. "Apakah sihir pertahanan benteng istana kita sudah aktif sepenuhnya?!"

"Sudah, Baginda!" tegas Arthur sambil merapatkan posisinya. "Sihir perlindungan tingkat Divine telah menyelimuti seluruh area aula. Siapa pun penyusup itu, dia tidak akan bisa menembus—"

BOOOOOOOOOOM!

Sebelum Arthur menyelesaikan kalimatnya, dinding gerbang utama Aula Tahta yang terbuat dari besi murni setebal tiga meter mendadak meledak retak! Gelombang dorongan yang teramat dahsyat menerjang masuk, meremukkan pintu besi tersebut hingga menjadi kepingan debu tanah.

WUSH!

Udara di dalam Aula Tahta mendadak berubah menjadi sangat pekat dan berat. Ratusan prajurit berlapis zirah berat langsung berlutut terjerembap ke lantai marmer, tidak mampu menahan tekanan fisik tak terlihat yang menghantam dada mereka. Para penyihir istana menjerit pelan sebelum akhirnya pingsan satu per satu karena wadah mana mereka retak menahan tekanan udara.

Asap tebal bertiup pelan dari balik reruntuhan gerbang. Dari dalam kabut tersebut, melangkah seorang pria berambut hitam dengan baju katun kusam khas petani desa.

"TAHAN PENYUSUP ITU!" teriak Arthur sambil melompat maju, mencabut pedang sucinya yang menyala terang oleh Holy Light.

Arthur menerjang secepat kilat menuju sosok di balik asap. Namun, saat jarak mereka tersisa lima meter dan kabut menyingkap wajah sang penyusup... langkah Arthur mendadak terhenti secara brutal.

Clang!

Pedang suci yang menjadi simbol harapan seluruh Kerajaan terlepas dari genggaman Arthur, jatuh membentur lantai marmer dengan suara nyaring.

Mata Arthur terbelalak lebar hingga pupils matanya mengecil. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak kaku bagaikan dibekukan oleh es abadi.

"K-Kau... Petani Wortel?!" gagap Arthur dengan suara yang hampir tak terdengar. Suaranya gemetar hebat, dipenuhi rasa syok yang luar biasa.

Pria yang tiga hari lalu ia anggap sebagai warga sipil biasa di gubuk terpencil—pria yang menyuruhnya makan wortel kebun—kini berdiri di Aula Tahta Kerajaan, memancarkan aura keberadaan yang begitu menakutkan hingga sanggup menundukkan seluruh isi istana tanpa mengangkat sebilah senjata pun.

Kayy bahkan tidak melirik Arthur. Ia terus melangkah santai melintasi barisan ksatria yang tergeletak lemas di lantai, hingga ia berhenti tepat di tangga bawah tahta Raja.

Raja Kerajaan menyusut di atas kursi emasnya, gemetaran hebat hingga mahkotanya hampir merosot. "S-Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dari Kerajaan ini?!"

Kayy merogoh saku bajunya. Dengan gerakan santai, ia melempar pecahan cangkir tanah liat milik Alya ke atas meja emas di depan Raja.

Tuk.

Pecahan cangkir yang hancur dan kusam itu kini tergeletak anggun di atas meja kekuasaan tertinggi Kerajaan.

"Orang-orang bertopeng dari Kerajaanmu mendatangi rumahku," ucap Kayy. Suaranya tidak keras, tetapi bergema dingin menembus jiwa setiap orang di ruangan itu. "Mereka menculik istriku, dan memecahkan cangkir teh kesayangannya."

Kayy mengangkat pandangannya, menatap lurus mata sang Raja.

"Aku datang ke sini cuma mau minta ganti rugi."

Raja menelan ludah dengan susah payah, peluh dingin mengalir deras di pelipisnya. Ia melirik Arthur yang masih berlutut kaku di lantai dengan wajah pucat pasi. Raja paham betul: jika Pahlawan terkuatnya saja sampai menjatuhkan pedang tanpa bertarung, sosok di depannya ini adalah bencana berjalan.

"G-Ganti... ganti rugi apa yang kau minta, Tuan Pertapa?" tanya Raja dengan suara tercekat.

Kayy mengacungkan dua jarinya.

"Pertama, tarik semua mata-mata dan prajuritmu dari kawasan Hutan Kelam. Jika ada satu orang pun dari Kerajaan ini yang melangkah dalam radius sepuluh mil dari gubukku... aku akan kembali dan meratakan tempat ini menjadi padang rumput."

"D-Diterima! Kami bersumpah tidak akan pernah mendekati kawasan itu lagi!" sahut Raja cepat, tidak berani membantah sepatah kata pun.

"Kedua," lanjut Kayy santai, "kirimkan set perangkat teh tembikar emas murni kualitas terbaik dan pupuk tanah hitam kualitas tinggi ke gubukku sebelum matahari terbenam. Sebagai ganti cangkir milik istriku yang rusak."

"Akan kami kirimkan sekarang juga! Detik ini juga!" jawab Raja panik sambil mengangguk-angguk histeris.

Kayy mengangguk puas. Ia memutar tubuhnya, membelakangi sang Raja dan seluruh menteri yang masih gemetaran.

"Bagus," ucap Kayy pelan sambil melangkah pergi menembus gerbang istana yang hancur. "Jangan biarkan aku harus datang untuk kedua kalinya."

Sore harinya, pemandangan keemasan kembali menyelimuti Hutan Kelam.

Sebuah kereta kuda mewah milik istana berhenti canggung di luar pagar kayu gubuk Kayy. Beberapa pengawal Kerajaan yang gemetaran menurunkan dua kotak kayu berukir indah berisi perangkat teh tembikar emas murni dan karung-karung pupuk kualitas tinggi, lalu kabur secepat kilat seperti dikejar setan.

Kayy mengangkat kotak-kotak itu masuk ke dalam pekarangan rumahnya dengan santai.

Di teras gubuk, Alya berdiri menyambutnya. Begitu melihat Kayy berjalan masuk tanpa luka sedikit pun di tubuhnya, rasa lega yang amat sangat menyapu seluruh dada Alya.

"Kayy!" Alya berlari kecil dan langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya.

Kayy tertawa pelan, menyambut tubuh hangat Alya dan memeluknya erat-erat. Ia menghirup aroma harum rambut pirang keemasan istrinya yang menenangkan.

"Lihat, aku pulang tepat waktu sebelum teh sore, kan?" bisik Kayy di telinga Alya.

Alya melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Kayy dengan senyum bahagia yang memancar indah. "Bagaimana dengan... Kerajaan?"

"Mereka sangat kooperatif," jawab Kayy menyeringai tipis sambil membuka kotak kayu di meja teras. "Mereka bahkan memberimu set cangkir teh baru dari tembikar emas."

Alya terbelalak kagum saat melihat kilauan cangkir tembikar halus berukir indah di dalam kotak. Ia lalu menatap Kayy dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Pria di depannya ini baru saja menundukkan seluruh Kerajaan hanya demi mengganti sebuah cangkir teh yang pecah.

Alya melingkarkan kedua tangannya di leher Kayy, menatap lembut bibir suaminya. "Kalau begitu... biarkan aku menyeduh teh pertama dengan cangkir baru ini untukmu."

"Nanti saja tehnya," jawab Kayy pelan.

Sebelum Alya sempat bertanya, Kayy memangkas jarak di antara mereka dan mendaratkan ciuman hangat penuh kelembutan di bibir Alya. Alya memejamkan matanya, membalas ciuman suaminya dengan penuh rasa syukur dan cinta yang mendalam. Cahaya senja menerobos celah dedaunan, membiaskan bayangan romantis mereka di teras gubuk kayu yang kini kembali damai sepenuhnya.

Di bawah perlindungan kokoh sang suami dan kehangatan Sanctuary Domain, kedamaian hidup mereka tidak akan pernah ada yang berani mengganggunya lagi.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!