Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Don Takkan Melepaskanku

Sang Don Takkan Melepaskanku

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Dark Romance / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Sophia hanyalah seorang pembersih di hotel mewah milik keluarga Wisbech—perempuan imigran Brasil yang setiap hari dihancurkan oleh tunangan yang kejam dan keluarga yang menganggapnya beban. Dunianya adalah neraka sunyi, sampai suatu hari tatapannya bersinggungan dengan pria paling berbahaya di New York.

Eros Wisbech, sang Don Cosa Nostra Amerika. Dingin. Tanpa ampun. Terbiasa membuat pria berkuasa memohon nyawa. Ia memulai permainan kejam untuk mematahkan pembersih bermata kosong yang anehnya tak pernah gentar itu—tapi semakin ia mencoba, semakin ia terobsesi. Karena di balik ketegaran Sophia tersembunyi luka yang bahkan seorang Don pun ingin lindungi mati-matian.

Sebuah kontrak. Tiga tahun. Seorang pengantin palsu untuk menyelamatkan takhtanya.

Itu seharusnya hanya bisnis. Namun bagi pria yang tak pernah menyerahkan apa pun yang menjadi miliknya, Sophia perlahan berubah dari sekadar bidak menjadi satu-satunya kelemahan—dan satu-satunya hal yang tak akan pernah ia lepaskan.

Dari perempuan yang diinjak-injak menjadi ratu yang ditakuti. Dari mangsa menjadi pemburu. Sementara rahasia berdarah masa lalu mulai terkuak—tentang darah, pengkhianatan, dan identitas yang bisa meruntuhkan dua imperium sekaligus—Sophia harus memilih: tetap menjadi korban, atau bangkit dan membalas semuanya dengan tangannya sendiri.

"Kamu milikku, dan sang Don tidak pernah melepaskan apa yang menjadi miliknya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelembung Sabun, Tawa, dan Oksigen

Eros beranjak dari meja rapat tanpa suara, meninggalkan Charles, Peter, dan Orfeu yang masih larut dalam pembicaraan yang akan menata ulang masa depan kedua mafia itu. Ia harus menemui satu-satunya orang yang benar-benar berarti baginya saat itu.

Dengan langkah mantap ia menuju kamar Sophia, lalu membuka pintu perlahan. Ia lega mendapati Sophia sudah terjaga. Kateter oksigen masih terpasang di hidungnya dan cairan infus mengalir lewat lengannya, tetapi binar keras kepala di matanya telah kembali, mengusir kabut kepasrahan yang menyelimutinya beberapa hari terakhir.

Eros menutup pintu di belakangnya dan mendekati ranjang, seulas senyum tulus tersungging di bibirnya.

"Selamat pagi, putri tidur yang suka kabur...," godanya dengan suara lembut sambil duduk di tepi kasur.

Sophia memandangnya dan melepaskan tawa lemah, suaranya masih sedikit serak karena asma dan air danau yang tadi tertelan.

"Aku tidak pergi ke mana-mana, si manja. Aku berbaring di sini sepanjang waktu, sampai sebuah lemari berjas membangunkanku untuk memastikan aku baik-baik saja."

Eros menarik napas dalam-dalam dan menggenggam tangan Sophia. Nada bercandanya menghilang, berganti kesungguhan.

"Kamu diculik, Sophia. Kamu ada di dalam jet yang terbang langsung ke Italia."

Dengan tenang ia menjelaskan seluruh persoalan itu kepadanya. Ia menceritakan tentang Orfeu Bianchi, tentang kemiripan wajah yang luar biasa di antara mereka berdua, dan kenyataan mengejutkan bahwa mereka sepupu kandung. Namun puncak dari semuanya adalah saat Eros mengungkapkan alasan kekeliruan itu: keberadaan Stella, istri Orfeu.

"Kamu punya saudari kembar identik, Sophia. Kalian lahir di hari yang sama, di Espírito Santo. Dari yang kami temukan, keluarga kandungmu menjual saudarimu kepada mafia Italia saat dia masih bayi, sementara kamu mereka simpan untuk mereka hancurkan sendiri."

Mendengar kisah tentang rencana penyiksaan keji yang dialami Stella di Italia di tangan mendiang kakek Orfeu, hati Sophia mencelos. Air mata dari kesedihan yang dalam menuruni pipinya. Menyadari bahwa di belahan dunia lain, bagian dari dirinya telah melewati neraka yang sama besar atau bahkan lebih buruk dari yang ia alami, membuatnya hancur berkeping-keping.

Meski begitu, tangis itu segera berganti tekad baja seorang pengacara. Sophia mengusap wajahnya dengan punggung tangan yang bebas, lalu menatap Eros dengan teguh.

"Kita harus menemukannya, Eros. Aku bersumpah tidak akan tenang sebelum menemukan saudariku."

Eros mengangguk, matanya menyala oleh naluri melindungi yang sama. Namun Sophia, dengan benaknya yang analitis, dengan cepat merangkai kepingan-kepingan penyelidikan Orfeu, lalu menyipitkan mata, menyadari ada retakan di dalam imperium Amerika mereka sendiri.

"Coba pikirkan baik-baik, Eros... Kalau Stella dibeli dari para begundal di Italia dan dikirim ke sini, ke Amerika Serikat, lewat penerbangan medis gelap, itu artinya ada pengkhianat di dalam organisasi kita. Seseorang dengan kuasa besar di dalam Cosa Nostra Americana yang memuluskan jalan masuknya ke negara ini. Seseorang di New York sedang menahan saudariku saat ini juga."

Pengungkapan itu jatuh bagai maklumat perang di kamar rumah sakit itu. Musuh tak lagi berada di seberang samudra; sang pengkhianat berbagi wilayah yang sama dengan mereka, dan perburuan Stella baru saja dimulai.

Eros meraih dagu Sophia, memutus pikiran gadis itu tentang para pengkhianat dan mafia.

"Kita akan menyisir setiap jengkal New York, aku berjanji," tegas Eros, nada seriusnya berubah menjadi tatapan menggoda. "Tapi lebih dulu, kita urus kesehatanmu. Kamu kena infeksi menyebalkan di paru-paru gara-gara air danau kotor itu. Bruce bilang antibiotiknya sudah mulai bekerja dan kamu akan segera pulih. Tapi sekarang, perintah dokter jelas: kamu harus habiskan semua makananmu, lalu... mandi."

Ia condong sedikit lebih dekat, menyipitkan mata dengan gaya dramatis.

"Kamu demam semalaman, Nona Sophia. Untuk orang yang biasa mandi tiga kali sehari dan nyaris menghabiskan air sedunia, aku harus menyampaikan kabar: kamu resmi bau."

Eros mulai mengendus leher Sophia seperti anjing pemburu, membuat bunyi-bunyi endusan lucu tepat di dekat telinganya.

"Hei! Sudah, hentikan, Eros!" protes Sophia, terbahak keras sambil berusaha mendorongnya dengan tangan yang bebas, meski kateter di hidung sedikit membatasi geraknya. "Aku tidak bau!"

"Bau, kok, campuran aroma rumah sakit dan keringat demam," candanya, tertawa melihat kejengkelan Sophia, tahu betul betapa gadis itu maniak soal kebersihan.

"Benarkah?" tanya Sophia, mendadak khawatir, mendekatkan bahunya sendiri ke hidung untuk mengendus baju rumah sakitnya.

"Sudah pasti, makanya aku akan menyiapkan mandimu sekarang," ujar Eros sambil bangkit dari ranjang. "Tapi ada satu syarat teknis. Bruce menegaskan kamu tidak boleh lepas dari tabung oksigen selama empat puluh dua jam ke depan. Jadi, mandi kita akan kedatangan tamu istimewa di kamar mandi."

Sophia melipat kedua lengan, mengangkat sebelah alis dengan senyum menantang.

"Tunggu dulu... Mandi 'kita'? Kamu tidak akan memandikanku hari ini, Don Eros. Aku bisa membersihkan diri sendiri!"

"Aku akan memandikanmu, tunanganku yang suka kabur. Hari ini kamu nyaris terbang ke Italia, jadi kamu pantas dapat mandi mewah lengkap dengan tabung oksigen dan segalanya," balas Eros sambil mengedipkan mata, sepenuhnya santai.

Ia membuka pintu kamar dan memanggil perawat, yang dengan sigap membawa sebuah tabung oksigen portabel yang lebih kecil, cocok untuk ruangan lembap, lalu menempatkannya di dalam kamar mandi dan menyambungkan selang yang lebih panjang ke masker Sophia.

Apa yang terjadi dalam tiga puluh menit berikutnya adalah acara mandi paling kacau dan paling ribut dalam sejarah rumah sakit itu.

Eros bersikeras mencuci rambut Sophia. Masalahnya, sang Don Cosa Nostra Americana itu punya kelembutan setara beruang yang mencoba membongkar sarang lebah. Ia menuang sampo terlalu banyak, dan dalam hitungan detik, kepala Sophia menyerupai gumpalan awan berjalan.

"Eros! Busanya masuk ke mataku! Kamu mau membutakanku supaya aku tidak bisa melihat saudariku?!" jerit Sophia, tertawa sambil meraba-raba buta mencari kepala pancuran.

"Tenang, pengacaraku! Ini sampo netral, tidak perih! Biar sang Don yang beres!" sahut Eros, tetapi saat mencoba membersihkan wajah Sophia, ia terpeleset di lantai basah.

Untuk mencegah dirinya jatuh, Eros menyambar benda pertama yang terlihat di depannya: pipa bilik pancuran. Pipa itu tetap di tempatnya, tetapi ia justru membentur pinggiran kloset dengan bokongnya, dan tanpa sengaja kepala pancuran menyembur ke wajahnya sendiri. Ia basah kuyup dari kepala sampai kaki, jaket hoodie-nya melekat di badan dan rambutnya terjuntai di dahi.

Sophia membuka mata, mengusir busa, dan begitu melihat sosok mafioso yang ditakuti dan tak kenal ampun itu basah kuyup, dengan wajah bengong dan menggenggam kepala pancuran seolah itu senjata, ia langsung roboh oleh tawa. Ia tergelak sampai suaranya menggema di antara ubin kamar mandi, harus memegangi perutnya agar bisa bernapas dengan oksigennya.

"Lihat apa yang kamu perbuat!" tunjuknya kepada Eros, tersedak-sedak karena tawa.

"Ini semua salahmu dan tabung oksigenmu, yang sedari tadi memandangku dengan tampang mengejek dari sudut sana," gerutu Eros, tetapi ia tak sanggup mempertahankan raut galaknya. Ia ikut tertawa, meraup segenggam busa sabun dan melemparkannya ke ujung hidung Sophia. "Rasakan itu, karena berani menertawakan Don-mu!"

Sementara perang busa dan gelak tawa meledak di dalam kamar mandi, pintu utama kamar rumah sakit terbuka.

Charles, Peter, dan Orfeu Bianchi memasuki ruangan untuk menyampaikan putusan dari rapat keluarga. Namun ketiga pria berhati es itu mendadak terpaku di tengah kamar begitu mendengar suara yang datang dari kamar mandi. Suara tawa yang jernih, lepas, dan tulus. Terdengar Eros menirukan suara-suara lucu, disusul tawa Sophia, bagai dua anak kecil yang bermain di kolam plastik.

Charles memandang pintu kamar mandi, dan seulas senyum yang teramat langka dan samar muncul di bibir sang patriark tua. Peter melipat kedua lengan, menggeleng-gelengkan kepala, sekali lagi membenarkan apa yang sudah ia ketahui: putranya yang keras itu telah takluk sepenuhnya. Bahkan Orfeu, dengan segala beban penderitaannya, memandang pemandangan itu dan merasakan kehangatan menjalar di hatinya.

Bagi siapa pun yang masuk ke sana, mereka tak tampak seperti seorang pengacara dan seorang mafioso yang terikat kontrak kamuflase. Mereka tampak, dengan segala keyakinan di dunia ini, bagai sepasang kekasih sungguhan, yang bahagia dan saling mencinta hingga ke relung terdalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!