Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Satu

Aroma bubur ayam perlahan memenuhi dapur. Reatha mengaduk bubur yang sudah matang sambil sesekali meniup uap panas yang mengepul dari permukaannya. Ia menambahkan sedikit daun bawang, suwiran ayam, dan bawang goreng. Tidak terlalu banyak, karena ia takut makanan itu justru membuat Azka semakin mual.

Setelah memastikan semuanya cukup lembut, Reatha mematikan kompor.

“Semoga dia mau makan,” gumamnya.

Ia mengambil mangkuk, meletakkan bubur di dalamnya, kemudian membawanya ke kamar Azka. Pintu kamar masih terbuka. Reatha masuk perlahan.

Azka masih terbaring di tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat. Matanya terpejam, sementara napasnya terdengar teratur.

Reatha meletakkan mangkuk di meja samping tempat tidur. “Azka," panggilnya. Tidak ada jawaban.

“Azka,” panggilnya lagi sambil menyentuh bahu pria itu.

Azka mengerang pelan. “Hm .…”

“Bangun. Makan dulu," ujar Reatha.

“Aku masih mau tidur," jawab Azka dengan nada malas.

Reatha menghela napas. “Tidur terus nanti malah makin lemas.”

“Aku enggak selera makan, Raisa," jawab Azka.

“Enggak boleh.”

Azka membuka sebelah matanya. “Raisa .…”

“Apa?”

“Aku sakit.”

“Aku tahu.”

“Makanya aku mau tidur.”

Reatha menggeleng. “Justru karena sakit kamu harus makan.”

Azka menatapnya dengan wajah lelah. Reatha kemudian mengambil mangkuk bubur dan duduk di tepi ranjang.

“Sakit apa pun kalau kamu mau makan, pasti sedikit berkurang. Setelah makan, kamu boleh tidur lagi," ucap Reatha. Azka masih diam.

“Bangun!" perintah Reatha.

“Aku enggak kuat.”

Reatha akhirnya berdiri dan membantu menarik tubuh Azka perlahan.

“Pelan-pelan aja," kata Reatha.

Azka menurut. Dengan bantuan Reatha, ia akhirnya duduk bersandar pada kepala ranjang. “Sudah?”

“Sudah.” Reatha mengambil mangkuk bubur. “Sekarang makan.”

Azka menatap sendok yang sudah berada di depan wajahnya. “Kamu mau menyuapi aku?” tanyanya.

“Iya.”

“Aku bisa makan sendiri," balas Azka. “Tanganku masih lengkap."

"Aku tau," ujar Reatha.

“Terus kenapa kamu tetap menyuapi?” tanya Azka.

Reatha mengangkat bahu. “Sudah. Kalau sakit itu ikuti saja apa yang orang minta.”

Azka menatapnya beberapa detik. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya kembali terasa aneh. Selama hidupnya, ia terbiasa melakukan semuanya sendiri. Bahkan ketika sakit, ia selalu merasa tidak membutuhkan siapa pun.

Namun sekarang, ada seseorang yang duduk di sampingnya. Memegang mangkuk. Meniup bubur. Lalu menyodorkan sesendok demi sesendok tanpa mengeluh.

“Buka mulut!" seru Reatha.

Azka menurut. Suapan demi suapan masuk ke mulut. Reatha meniup bubur setiap kali mengambilnya dari mangkuk agar tidak terlalu panas.

“Pelan-pelan,” katanya.

Azka mengangguk. Tanpa sadar, setengah mangkuk bubur itu akhirnya habis.

Reatha meletakkan sendok. “Sudah cukup?”

Azka mengangguk lemah. “Setengah saja dulu.”

Reatha tersenyum puas. “Nah, begitu.”

Ia hendak membawa mangkuk itu ke meja ketika Azka tiba-tiba bertanya. “Raisa.”

Reatha menoleh.

“Kamu sudah makan?”

Reatha terdiam sebentar, sebelum menjawab, “Belum.”

Kening Azka langsung berkerut. “Kenapa?”

“Enggak sempat.”

“Kamu dari tadi sibuk mengurus aku," ucap Azka seperti merasa bersalah.

Reatha tersenyum kecil. “Namanya juga kamu sakit.”

Azka menghela napas. “Sekarang makanlah.”

Reatha sedikit terkejut. “Aku?”

“Iya.”

“Kamu enggak apa-apa sendirian?”

“Aku cuma tidur.”

Reatha mengangguk. “Baiklah.”

Azka kembali membaringkan kepalanya di bantal. “Tapi setelah kamu makan .…” Ia membuka mata sebentar. “Temani aku.”

Reatha terdiam. “Temani?”

Azka mengangguk. “Katanya setelah makan aku boleh tidur lagi.”

“Iya.”

“Berarti kamu temani aku tidur," ucap Azka.

Entah kenapa, permintaan sederhana itu membuat dada Reatha berdebar. Namun ia akhirnya mengangguk. “Iya.”

Beberapa puluh menit kemudian, Reatha kembali masuk ke kamar Azka setelah selesai makan. Pria itu masih terbaring. Matanya setengah terpejam.

“Kamu sudah makan?” tanyanya.

“Sudah.”

“Sekarang sini," ajak Azka.

Reatha mengerutkan kening. “Sini ke mana?”

“Naik ke ranjang.”

Reatha langsung membelalakkan mata. “Buat apa?”

“Temani aku.”

“Azka .…”

“Katanya mau menemani.”

Reatha menggigit bibir. Ia sebenarnya ingin menolak. Namun melihat wajah Azka yang pucat, akhirnya ia menurut.

Perlahan Reatha naik ke ranjang dan berbaring di sisi lain. Jarak mereka masih cukup jauh. “Sudah,” katanya.

Azka hanya mengangguk. Beberapa detik berlalu. Hening. Reatha menatap langit-langit kamar. Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.

Tiba-tiba tubuh Azka bergerak mendekat. Sebelum Reatha sempat bertanya, lengan pria itu sudah melingkar di pinggangnya. Tubuh Reatha langsung menegang.

“Azka .…”

Tidak ada jawaban. Pria itu ternyata sudah memejamkan mata. Mungkin karena demam. Mungkin juga karena terlalu lelah.

Reatha tidak berani bergerak. Wajahnya terasa panas. Jantungnya berdetak semakin cepat. Selama tiga bulan mereka tinggal bersama, Azka tidak pernah melakukan hal seperti ini. Namun sekarang, pria itu justru memeluknya seolah-olah Reatha adalah tempat paling nyaman untuk beristirahat.

“Kenapa jadi begini …,” bisik Reatha.

Ia menatap wajah Azka. Ia melihat pria itu tanpa dinding dingin yang biasanya selalu mengelilinginya. Azka terlihat jauh lebih manusiawi. Jauh lebih rapuh.

Reatha akhirnya membiarkan dirinya tetap diam. Beberapa menit kemudian, napas Azka mulai teratur. Ia tertidur.

Reatha juga hampir memejamkan mata ketika suara dering telepon tiba-tiba memenuhi kamar. Ia tersentak.

Azka tidak bergerak. Telepon itu terus berdering. Reatha melirik meja samping ranjang. Layar ponsel menyala. Satu nama terpampang jelas, Vania.

Reatha terdiam. Dering itu kembali berbunyi. Ia menatap Azka yang masih tertidur.

Tidak ingin mengganggunya, Reatha membiarkan telepon itu. Namun beberapa saat kemudian, telepon kembali berdering. Azka akhirnya mengerutkan kening dan membuka mata.

“Ada telepon masuk,” bisik Reatha.

“Dari siapa?” tanya Azka.

Reatha melirik layar. “Vania.”

Azka terdiam sesaat. Kemudian ia kembali memejamkan mata. “Angkat saja," ucapnya.

Reatha menatapnya. “Hah?”

“Bilang aku tidur. Kepalaku masih pusing.”

Setelah berkata demikian, Azka kembali menutup mata. Reatha menatap wajah pria itu beberapa detik.

Azka sudah mengizinkannya. Maka ketika telepon itu kembali berdering, Reatha akhirnya mengambilnya.

Ia menekan tombol jawab. “Hallo?”

Suara di seberang sana langsung terdengar. “Dimana Azka?”

Nada Vania terdengar tegang. Reatha menjawab santai. “Dia sedang tidur.”

“Kenapa kamu yang mengangkat teleponnya?”

Reatha diam sebentar. “Karena ponselnya ada di sini.”

“Cepat berikan teleponnya kepada Azka.”

Reatha menghela napas. “Sudah aku katakan, Azka sedang tidur.”

“Aku mau bicara dengannya!” seru Vania.

“Dia sedang sakit.”

“Aku tidak peduli. Berikan teleponnya!”

Reatha belum sempat menjawab ketika tubuh di sampingnya bergerak. Azka membuka mata.

“Ada apa, Raisa?”

Seketika Reatha terdiam. Begitu pula Vania di seberang sana. Sunyi seketika. Beberapa detik terasa begitu panjang.

Vania membeku. Suara itu jelas suaranya Azka. Jelas sekali. Dan yang lebih mengejutkan, suara itu terdengar dari dekat Reatha.

“Azka ...," ucap Vania.

Suara Vania bergetar. Ia menatap layar ponselnya seolah berharap dirinya salah dengar. Tidak mungkin Azka berada sedekat itu dengan Reatha.

Namun suara pria yang dicintainya barusan terdengar begitu jelas dari sisi Reatha.

“Azka ada di sana … bersama kamu?” tanya Vania.

Reatha tidak menjawab. Sementara Azka perlahan membuka matanya lebih lebar.

Diseberang sana Vania merasakan sesuatu yang selama ini paling ia takutkan. Mungkin posisi dirinya di hati Azka mulai tergeser.

“Ini tak mungkin. Aku … tidak percaya …,” gumam Vania dalam hati. Tangannya menggenggam ponsel semakin erat.

1
Akasia Rembulan
feeling orang tua itu ngga pernah salah Azka..
Nar Sih
cerita yg bagus mama,asyik di bca nya👍🥰
Nar Sih
jls lah reata disana org istri nya
Nar Sih
untung yg kmu nikahi reatha semoga kmu ngk marah bila nanti kbnran dtg
Sri Supriatin
lanjuut Thor 🙏🙏🙏
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!