Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Rumah besar Wijaya berubah menjadi benteng setelah ancaman yang dirasakan Adeline. Adrian meningkatkan keamanan dengan sangat ketat. Setiap orang yang masuk dan keluar diperiksa, setiap telepon diawasi, dan setiap sudut rumah dipantau oleh kamera keamanan. Namun meskipun semua tindakan pencegahan telah diambil, bayangan ancaman tetap menghantui mereka.

Daniel bekerja tanpa henti di ruang kerjanya, mencoba melacak jejak transfer dana yang mengarah ke perusahaan cangkang di luar negeri. Tetapi setiap kali dia hampir menemukan petunjuk, jalurnya selalu buntu. Seperti ada tangan tak terlihat yang terus membersihkan jejak di belakang mereka.

"Aku tidak mengerti," kata Daniel frustasi pada Adrian suatu sore. "Setiap kali aku mendekati sumbernya, semuanya lenyap. Seperti ada yang selalu selangkah lebih maju dari kita."

Adrian menghela napas panjang. "Mungkin memang ada. Seseorang yang sangat berpengalaman dalam menyembunyikan jejak."

Adeline yang duduk di sudut ruangan, mendengarkan percakapan mereka dengan saksama. Gadis kecil itu terus mencoba menangkap suara hati yang bisa memberi petunjuk, tetapi akhir-akhir ini semua suara hati di sekitarnya terasa berbeda. Seperti ada yang sengaja disembunyikan, ditutupi oleh lapisan-lapisan ketakutan yang membuatnya sulit untuk didengar.

"Ayah," kata Adeline pelan, "ada yang aneh. Suara hati orang-orang di sekitar kita terasa ... kabur. Seperti mereka takut untuk berpikir jernih. Seperti ada yang membuat mereka takut."

Adrian menatap putrinya dengan cemas. "Apa maksudmu, Sayang?"

"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik," jawab Adeline bingung. "Biasanya aku bisa mendengar suara hati dengan jelas. Tapi sekarang, seolah-olah ada kabut yang menutupi pikiran mereka. Mereka takut, tetapi mereka tidak tahu mengapa mereka takut."

Daniel mengerutkan kening. "Itu sangat aneh. Seolah-olah seseorang sedang mengendalikan rasa takut mereka dari jauh."

Malam itu, ketika Adeline berbaring di tempat tidurnya, dia mendengar sesuatu. Suara bisikan yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, tetapi sangat berbeda dari suara hati biasa. Suara itu seperti gema dari kejauhan, berasal dari seseorang yang sangat pandai menyembunyikan pikirannya.

Mereka tidak akan pernah menemukanku. Aku sudah terlalu pandai menyembunyikan jejak. Victor hanyalah pion. Daniel tidak akan pernah bisa melacak siapa yang sebenarnya mengendalikan semuanya. Dan anak kecil itu ... dia mungkin bisa mendengar, tetapi aku sudah belajar menutup pikiranku. Tidak ada yang bisa menghentikanku.

Adeline membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang. Suara itu datang dan pergi begitu cepat, seperti kilatan cahaya yang muncul lalu menghilang. Tetapi dia yakin bahwa itu adalah suara dalang sebenarnya, sosok di balik bayangan yang selama ini mereka cari.

Keesokan paginya, Adeline menceritakan semua yang dia dengar pada ayahnya dan Daniel. "Ada seseorang yang bisa menutup pikirannya," katanya dengan serius. "Aku hanya mendengarnya sebentar, tetapi dia sangat percaya diri. Dia mengatakan bahwa Victor hanyalah pion dan dia terlalu pandai menyembunyikan jejak."

Adrian dan Daniel saling pandang. Ini adalah petunjuk pertama yang benar-benar konkret tentang siapa dalang sebenarnya.

"Kita harus mencari tahu siapa orang itu," kata Adrian tegas. "Dia pasti seseorang yang sangat dekat dengan keluarga kita. Seseorang yang memiliki akses ke semua informasi kita."

Daniel mengangguk. "Aku akan memeriksa kembali semua orang yang memiliki akses ke dokumen-dokumen rahasia. Termasuk mereka yang sudah tidak aktif di perusahaan."

Sementara itu, di sebuah ruangan mewah di pusat kota, seorang pria tua duduk di balik meja kayu mahoni. Dia menatap layar monitor yang menampilkan gambar rumah besar Wijaya dari kamera pengintai yang dipasang secara diam-diam. Di tangannya, dia memegang sebuah foto lama, foto yang memperlihatkan William Wijaya yang masih muda bersama dengan seorang pria lain.

"Kau pikir kau bisa menyembunyikan masa lalu selamanya, William?" bisik pria itu dengan suara dingin. "Tapi aku masih di sini. Dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang kau lakukan padaku."

Dia meletakkan foto itu dan menekan tombol di meja. Seorang pria muda masuk dengan hormat.

"Apakah semuanya sudah siap?" tanya pria tua itu.

"Sudah, Tuan. Semua dokumen sudah kami siapkan. Kami hanya menunggu perintah Tuan."

Pria tua itu tersenyum tipis. "Bagus. Kita akan mulai bergerak minggu depan. Sudah waktunya keluarga Wijaya membayar semua hutang mereka."

Di rumah besar Wijaya, Adeline tiba-tiba merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Dia menatap ke luar jendela, ke arah kota yang jauh, dan merasakan bahwa bahaya besar sedang mendekat. Sosok di balik bayangan itu mulai bergerak, dan dia tidak tahu apakah mereka akan cukup kuat untuk menghadapinya.

"Ayah," bisik Adeline pelan. "Dia akan datang. Sosok di balik bayangan itu. Dia sangat marah pada keluarga kita. Dia sudah merencanakan ini selama bertahun-tahun."

Adrian memeluk putrinya erat. "Kita akan menghadapinya bersama-sama, Sayang. Apa pun yang terjadi, kita tidak akan pernah menyerah."

Malam itu, keluarga Wijaya berkumpul dalam ruang keluarga yang hangat. Mereka tahu bahwa badai besar akan segera datang. Tetapi mereka juga tahu bahwa selama mereka bersatu dan saling percaya, tidak ada yang bisa benar-benar menghancurkan mereka. Dan dengan Adeline di sisi mereka, mereka memiliki senjata paling kuat melawan kegelapan—kebenaran yang tidak pernah bisa disembunyikan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!