Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih Kebahagian dan Bayang -Bayang masa lalu

Satu bulan setelah liburan di Bali , Kehidupan di griya utama Menteng mengalir tenang seperti telaga yang tak tertiup angin. Hubungan Alina dan Devan berkembang makin matang, tidak lagi dipenuhi oleh rasa cemas atau keraguan akan status masing-masing.

Di kantor pusat PT Dirgantara Megah Karya, Divisi CSR yang dipimpin Alina menjelma menjadi salah satu pilar reputasi terkuat perusahaan.

Program beasiswa dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa yang digagas Alina mendapatkan penghargaan nasional. Papan direksi dan dewan komisaris tidak lagi memandang Alina sebagai "istri CEO yang beruntung", melainkan sebagai seorang pemimpin wanita yang cerdas, berintegritas, dan penuh empati.

Namun, pagi itu, suasana di meja makan griya Menteng terasa sedikit berbeda.

Alina duduk di kursi makan dengan wajah yang agak pucat. Di depannya, semangkuk bubur ayam hangat dan segelas teh manis tak tersentuh. Aroma kuah gurih yang biasanya menjadi favoritnya mendadak membuat perutnya mual dan bergejolak hebat.

Bu Rahmi, yang menyadari perubahan raut wajah putrinya, meletakkan cangkir kopinya dengan sigap. "Alina? Kamu kenapa, Nak? Kok buburnya cuma diacak-acak?"

Alina meringis pelan, memegang dadanya yang terasa sesak. "Tidak tahu, Bu ... Dari tadi pas bangun tidur kepala Alina pusing sekali, terus baunya bubur ini bikin mual."

Tepat saat itu, Devan melangkah turun dari lantai dua dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi. Melihat istrinya menyandarkan kepala di tepi meja dengan wajah pucat, Devan langsung mempercepat langkahnya. Rasa panik seketika menyeruak di balik wajah dingin sang CEO.

"Alina, ada apa?" Devan berlutut di samping kursi Alina, merengkuh jemari istrinya yang terasa dingin. "Kamu sakit? Mau ke rumah sakit sekarang?"

"Aku tidak apa-apa, Devan ... Cuma mual dan sedikit pusing," bisik Alina mencoba menenangkan suaminya yang tampak sangat cemas.

Bu Rahmi menatap Devan dan Alina secara bergantian, lalu sebuah senyuman bermakna perlahan mengembang di bibirnya. "Devan, jangan panik dulu. Kamu ingat tidak, bulan ini Alina sudah terlambat datang bulan belum?"

Devan terpaku. Pria yang biasanya sangat cepat memproses data rumit triliunan rupiah itu mendadak terdiam selama beberapa detik. Matanya membelalak pelan saat menyadari arah ucapan ibu mertuanya.

"Terlambat ... datang bulan?" bisik Devan terbata-bata, menatap Alina dengan pandangan tak percaya.

Alina sendiri terkejut. Pikirannya yang sibuk dengan urusan proyek CSR membuat dirinya tidak menyadari bahwa siklus bulannya memang sudah terlambat hampir dua minggu.

"Bagas!" panggil Devan dengan suara meninggi tanpa berpaling dari Alina. "Batalkan seluruh jadwal rapat pagi ini! panggil Dokter Hendra ke rumah sekarang juga!"

Satu jam kemudian, Dokter Hendra, dokter keluarga kepercayaan Devan, keluar dari kamar tidur utama dengan senyum hangat di wajahnya. Devan dan Bu Rahmi yang menunggu tegang di luar ruangan langsung melangkah mendekat.

"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Devan cepat.

Dokter Hendra terkekeh pelan melihat ketegangan di wajah sang CEO muda. "Selamat, Tuan Devan. Ibu Alina tidak sakit. Beliau hanya mengalami gejala awal kehamilan. Usia kandungannya sudah memasuki minggu keenam dan kondisinya secara umum sangat sehat."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Devan. Suara Dokter Hendra bergema indah di dalam benaknya. Kehamilan. Minggu keenam.

Bu Rahmi mengucap syukur berkali-kali sambil meneteskan air mata haru. Sementara Devan berdiri mematung, dadanya bergemuruh oleh kebahagiaan luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ada benih kehidupannya sendiri yang kini tumbuh di dalam rahim wanita yang sangat dicintainya.

Setelah Dokter Hendra pamit, Devan melangkah masuk ke dalam kamar. Alina sedang berbaring bersandar di kepala tempat tidur. Saat melihat Devan masuk, Alina tersenyum manis dengan mata yang berkaca-kaca.

Devan mendekati tempat tidur, berlutut di samping Alina, dan menggenggam kedua tangan istrinya dengan teramat erat. Pria yang biasanya dipandang bagaikan gunung es yang tak tersentuh itu menundukkan kepalanya di atas jemari Alina, menahan tangis kebahagiaan yang membuncah di dadanya.

"Terima kasih, Alina ... Terima kasih banyak," bisik Devan parau, suaranya bergetar hebat.

Alina mengusap rambut hitam Devan dengan lembut. "Ini hadiah terbaik untuk kita berdua, Devan."

Devan mendaratkan ciuman yang sangat lembut dan lama di dahi Alina, lalu merosotkan tubuhnya untuk mengecup perut datar Alina dengan penuh kasih sayang dan perlindungan. "Aku janji akan menjaga kalian berdua dengan seluruh jiwa dan ragaku."

Kabar kehamilan Nyonya Dirgantara menyebar menjadi kebahagiaan besar di lingkungan internal perusahaan. Devan, yang kini makin posesif dan protektif, membatasi jam kerja Alina di kantor. Pria itu bahkan tak segan-segan turun langsung ke lantai 18 hanya untuk memastikan istrinya makan siang tepat waktu atau menyuruhnya pulang lebih awal jika Alina terlihat lelah.

Namun, di tengah kebahagiaan yang membumbung tinggi itu, sebuah riak kegelapan baru mulai merayap dari luar lingkaran kehidupan mereka.

Siang itu, di sebuah kafe privat berdinding temaram di area dermaga Jakarta Utara, seorang pria berjas kusam duduk berhadapan dengan wanita paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan kacamata hitam tebal.

Di atas meja kayu yang berdebu, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berisi foto-foto kegiatan Alina sehari-hari, mulai dari saat Alina keluar dari griya Menteng hingga momen ketika Alina mengunjungi panti asuhan.

Pria berjas kusam itu adalah seorang penyelidik swasta lepas, sedangkan wanita di depannya adalah Maya Sastro, mantan Direktur Keuangan salah satu anak perusahaan Dirgantara Group yang dahulu dipecat secara tidak hormat oleh Devan akibat kasus korupsi internal lima tahun lalu.

"Jadi, gadis ini yang membuat Devan Dirgantara bertekuk lutut?" tanya Maya dengan suara parau yang dingin, membalik-balik foto Alina dengan jemarinya yang dihiasi cincin batu akik.

"Benar, Bu Maya," jawab sang penyelidik.

"Gadis ini bernama Alina Dania. Dulu cuma staf biasa di divisi Pemasaran. Sekarang dia menjabat Kepala Divisi CSR dan ... yang paling krusial, saat ini dia sedang mengandung anak pertama Devan Dirgantara."

Mata Maya Sastro menyempit tajam di balik kacamata hitamnya. Sebuah senyum miring yang sangat beracun terukir di bibirnya yang tebal.

"Mengandung anak pertama?" kekeh Maya dingin—sebuah tawa yang sarat akan dendam membara. "Lima tahun lalu, Devan menghancurkan seluruh karir, keluarga, dan menjebloskan suamiku ke penjara cuma karena masalah pembukuan modal. Dia merasa dirinya seperti dewa yang tidak bisa tersentuh di atas takhtanya."

Maya menyambar salah satu foto yang memperlihatkan Alina sedang tersenyum memegangi perutnya di pelataran kantor.

"Devan pikir dia sudah memenangkan segalanya," gumam Maya dengan nada suara merendah yang sangat berbahaya.

"Dia tidak tahu bahwa benteng terkuatnya kini punya celah yang sangat lunak. Jika aku tidak bisa menjatuhkan Dirgantara Group dari dalam bursa saham ... aku akan menghancurkan Devan melalui hal yang paling dia sayangi di dunia ini."

Penyelidik itu menelan ludah cemas melihat kegilaan di mata kliennya. "Bu Maya ... Anda tahu risiko berurusan dengan pengawal pribadi Devan? Keamanannya sangat ketat."

Maya melempar seikat uang kertas pecahan seratus ribu ke atas meja. "Urus saja tugasmu untuk memantau rute perjalanan rutin mobil CSR minggu depan. Soal eksekusinya ... aku punya rekanan lama dari kelompok perantara jalanan yang sangat membutuhkan uang tunai."

Sementara itu, sore harinya di griya Menteng, angin berhembus lembut menggoyangkan dedaunan di taman belakang. Alina duduk di kursi ayunan kayu, menikmati udara sore sambil membaca buku panduan perawatan bayi.

Devan melangkah mendekat dari arah teras, membawa selembar kain rajut hangat yang langsung disampirkannya di bahu Alina.

"Jangan terlalu lama di luar, Angin malam mulai dingin," ujar Devan lembut, mengambil tempat duduk di samping Alina.

Alina tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan. "Kamu terlalu khawatir, Devan. Aku dan bayi kita baik-baik saja."

Devan melingkarkan tangannya di bahu Alina, mengusap pelan perut istrinya yang mulai menunjukkan tonjolan sangat tipis. Namun, di balik senyumannya, mata Devan menatap lurus ke arah gerbang utama griya yang dijaga ketat oleh empat pengawal tegap.

Insting bisnis dan keamanannya yang terlatih merasakan ada firasat yang tidak tenang dalam beberapa hari terakhir. Pak Bagas baru saja melaporkan adanya aktivitas mencurigakan dari beberapa rekening lama milik mantan pejabat perusahaan yang pernah dieksekusi oleh Devan.

"Alina," panggil Devan pelan, suaranya kembali serius.

"Iya, Devan?"

"Mulai minggu depan, jadwal kunjungan lapangan CSR ke daerah perbatasan Bogor diserahkan ke tim pelaksana saja, ya? Kamu cukup memantau dari kantor," pinta Devan.

Alina mendongak, menatap mata suaminya. "Kenapa, Devan? Aku sudah janji pada anak-anak panti di sana untuk datang langsung membawa bantuan buku."

Devan menatap mata bening istrinya, tidak ingin membuat Alina yang sedang hamil merasa cemas atau panik oleh ancaman yang belum pasti. Devan mengecup kening Alina lembut.

"Aku cuma ingin memastikan kamu tidak terlalu lelah, Sayang," bisik Devan beralasan. "Perjalanan darat ke sana terlalu berguncang untuk usiamu yang sekarang."

Alina menghela napas pelan, lalu mengangguk mengalah. Ia tahu Devan melakukan semua ini semata-mata karena rasa cinta dan perlindungan yang teramat besar. "Baiklah, Suamiku. Aku menurut padamu."

Devan memeluk Alina lebih erat di bawah remang cahaya sore. Namun di dalam hatinya, Devan bersumpah: siapa pun yang berani mencoba mengusik kedamaian keluarga kecilnya atau membahayakan nyawa anak dan istrinya, ia tidak akan segan-segan menghancurkan mereka tanpa sisa.

Masa-masa rahasia di balik dinding kaca memang telah usai, namun perjuangan untuk melindungi benih cinta mereka di atas puncak dunia baru saja memasuki babak yang paling menguji keteguhan jiwa.

1
sunaryati jarum
Segera buat adonan baby
MayAyunda: ha ..ha ..itu yang di tunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Syukurlah Arimbi menerima keputusan Devan yang mencintai Alina
sunaryati jarum
Katanya pergi kok ada undangan
sunaryati jarum
Mantaaap,tanpa drama.Akhirnya cinta terungkap
MayAyunda: he he 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar - benar tindakan kesatria , melindungi istri dengan pengakuan ke publik.Sekaligus membungkam kesombongan Arimbi dan menghentikan langkah Hendra yang ingin merebut perusahaan alm ayahmu
MayAyunda: baca ceritaku yang lain kak judulnya ke grep preman tengil . sama" suami Dadakanku ternyata bos baruku "
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah kan, Devan sudah mencintaimu Alrna/Drool//Drool//Drool/
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Tenang Alina,suami kilatmu ada dipihakmu jangan berpikir kau sendirian
sunaryati jarum
Alina untuk melindungi hatimu dari kecewa, ingatkan dirimu jika Devan menikahimu secara kontrak jangan banyak berharap tapi berdoa jika jodohmu lancarkan Segala urusan Devan
sunaryati jarum
Diam- diam memberi pengawasan dan perlindungan
sunaryati jarum
Mampus ,Clara
sunaryati jarum
Devan sepertinya.mulai ada rasa padamu Alina, bentengi diri dulu.Agar kamu tidak kecewa , jangan mudah terlena ,lihat kesungguhan Pak Devan dulu.
sunaryati jarum
Devan memilihnya bukan kebetulan, sebelumnya pasti sudah menyelidiki, mungkin Rumah Sakit tempat ibumu dirawat itu miliknya
sunaryati jarum
Itu seharusnya bukan kesalahan besar ,Alina.Sepertinya Clara menjatuhkan kamu,hati- hati.
sunaryati jarum
Itu juga Bos Devan Alina, tidak usah cemas
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Devan sebelumnya sudah tahu padamu Alina.Itu dugaan emak.Mungkin dia juga jatuh cinta padamu,sakit ibumu sebagai pengikat kau dekat dengannya.Semoga kedepannya kalian menjadi suami istri sesungguhnya
sunaryati jarum
Memangnya file Alina langsung dihapus, katanya berkualitas mau menjebak cuma laporan offline , yang pasti ketahuan lah.
Maseni Maseni: licik tapi ga pakai otak ya kak, alina kan masih ada soffile yg benar

ayo qta buktikan
total 2 replies
Siti Zaenab
next lanjut
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!