Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Suara berderit dari besi tua yang bergeser menjadi melodi terakhir yang menutup masa lalunya.

Langkah kaki itu terhenti tepat di atas garis batas antara lantai semen yang dingin dan aspal jalanan yang menyerap panas matahari siang. Sienna Breezie Sinclair menunduk, menatap sepasang sepatu kets lusuh bernoda pudar yang melekat di kakinya.

Sepatu yang sama dengan yang ia kenakan sebelas tahun lalu, saat usianya baru tiga belas tahun, saat jemarinya yang masih kecil dan gemetar dipaksa menggenggam dinginnya logam pistol berdarah di halaman belakang sebuah rumah megah.

Kini, di usianya yang ke-24, ukuran kakinya tak banyak berubah, namun jalan hidupnya telah terenggut sepenuhnya.

Sienna memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam.

Udara di luar tembok beton itu terasa begitu tebal, tajam, dan asing. Tidak ada aroma disinfektan murah yang menusuk hidung, tidak ada bau kelembapan dari dinding sel tahanan remaja yang menghimpit dada, dan tidak ada aroma ketakutan yang setiap malam mengendap di balik selimut tipis. Ini adalah udara bebas, sesuatu yang selama belasan tahun terakhir hanya hadir dalam mimpinya yang berulang.

Paru-parunya menolak untuk sesaat, seolah kaget menerima pasokan oksigen yang tak terbatasi oleh jeruji. Namun ketika ia menghembuskannya perlahan, sebuah sensasi hangat meletup pelan di dadanya.

"Aku keluar, aku benar-benar hidup kembali," bisiknya dalam hati.

"Jangan berdiri melamun di sana seperti patung, Anna. Petugas di menara pengawas bisa menyangka kau rindu tempat ini dan ingin masuk lagi."

Sebuah suara serak bernada gurau memecah keheningan. Sienna membuka matanya dan menoleh. Di sampingnya, berdiri seorang wanita dengan rambut cokelat gelombang yang terikat asal-asalan. Tubuh wanita itu sedikit lebih tinggi darinya, dengan garis rahang yang tegas dan sepasang mata tajam yang telah menyaksikan terlalu banyak pahitnya dunia.

Sofia.

Satu-satunya manusia yang tidak memandangnya dengan tatapan jijik atau belas kasihan palsu selama mereka menghuni tempat terkutuk itu. Sofia masuk dua tahun setelah Sienna, dipenjara karena membela diri dari pembawa bencana dalam hidupnya. Di dalam sana, di mana hukum rimba berlaku bagi narapidana remaja hingga dewasa muda, Sofia adalah benteng pertahanan Sienna. Dan Sienna adalah sisa-sisa kemanusiaan yang berusaha dijaga oleh Sofia.

Sienna menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum canggung yang rasanya sudah sangat lama tidak pernah ia gunakan. "Aku hanya... mencoba mengingat bagaimana caranya bernapas tanpa harus meminta izin, Fia."

Sofia tertawa pelan, suara tawa yang agak serak karena kebiasaan merokoknya sebelum masuk penjara. Ia merangkul bahu kurus Sienna, menepuknya pelan dengan telapak tangan yang kasar.

"Pelajaran pertama untuk hidup baru, bernapaslah sebanyak yang kau mau. Gratis. Tidak ada poin hukuman, tidak ada potong masa tahanan," ujar Sofia tegas. Ia menunjuk ke arah jalanan terpanggang matahari di depan mereka. "Ayo. Bus tua kita tidak akan menunggu dua mantan narapidana yang sedang puitis ini."

Sienna mengangguk. Ia menggenggam erat tas kain usang berisi beberapa lembar pakaian bekas dan selembar foto berukuran kecil yang gambarnya sudah agak mengelupas, satu-satunya kenangan milik ayahnya yang berhasil diselamatkan dari penggeledahan polisi sebelas tahun lalu.

Perjalanan menuju tempat tujuan mereka memakan waktu hampir lima jam. Mereka naik bus antarkota yang reyot, duduk di barisan paling belakang dengan jendela yang dibiarkan terbuka separuh. Hembusan angin menerpa wajah Sienna, mengibarkan rambut panjangnya yang berwarna cokelat keemasan.

Seiring berlalunya kilometer, pemandangan gedung-gedung beton dan deretan toko kota besar perlahan surut, digantikan oleh hamparan sawah hijau, bukit-bukit batu kapur, dan pepohonan rimbun yang berjejer rapi di sepanjang jalan setapak. Udara yang masuk melalui jendela bus terasa semakin sejuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus.

Kota telah ditinggalkan. Dan bersama kota itu, Sienna berharap trauma masa lalunya ikut tertinggal di belakang.

"Rumah itu peninggalan nenekku," cerita Sofia seraya menyandarkan kepalanya ke dinding bus yang bergetar. Matanya menerawang menatap pepohonan yang melintas cepat. "Sudah kosong lima tahun. Atapnya mungkin ada yang bocor, dan sumurnya mungkin perlu dikuras. Tapi tempat itu ada di ujung desa, jauh dari pasar, jauh dari orang-orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Tempat yang sempurna untuk dua orang terlupakan seperti kita."

Sienna menoleh pada teman baiknya itu. "Apakah warga lokal tahu... tentang kita?"

Sofia terkekeh pelan. "Mereka tahu aku cucu Nenek Maria yang hilang. Mereka tidak perlu tahu dari mana kita datang. Bagi mereka, kita cuma dua perempuan muda yang kehabisan uang di kota dan memilih pulang untuk bertani atau beternak. Kau tidak perlu takut, Anna. Di sana, tidak ada yang kenal nama Sinclair. Tidak ada yang tahu cerita tentang pistol, darah, atau pesta ulang tahun konglomerat."

Nama Sinclair dan kata pistol membuat dada Sienna berdenyut nyeri. Senyumnya pudar seketika.

Bayangan malam kelam itu selalu mengintip di balik pikirannya, menunggu saat ia lengah. Malam saat ia berusia 13 tahun. Ayahnya, seorang kurir pengantar makanan yang jujur dan pekerja keras, pamit masuk ke halaman belakang sebuah mansion megah tempat pesta ulang tahun sedang berlangsung. Ayahnya hanya ingin menyerahkan kotak makanan dan menerima tanda terima. Namun sepuluh menit berlalu, lalu dua puluh menit.

Sienna kecil yang cemas menyusul masuk melalui pintu samping yang terbuka sedikit. Dan apa yang dilihatnya malam itu telah memotong jalan hidupnya menjadi dua, masa lalu yang indah, dan neraka yang berkepanjangan.

Ayahnya tergeletak di atas rumput hijau yang terawat, darah segar mengalir dari dadanya. Hanya beberapa meter dari sana, seorang wanita bergaun malam yang mewah juga terkapar tak bernyawa dalam genangan darah. Sienna yang syok dan polos berlari mendekati tubuh ayahnya yang sudah tak bernapas. Matanya melihat sebuah pistol hitam yang tergeletak tepat di antara kedua mayat itu. Dalam kepolosannya yang naif, pikiran anak 13 tahun itu hanya satu, benda busuk ini yang melukai Ayah, aku harus menjauhkannya.

Jemarinya menyentuh besi dingin itu. Dan tepat pada detik saat ia mengangkat pistol berdarah tersebut, sebuah teriakan melengking memecah malam.

"PEMBUNUH! KAU MEMBUNUH IBUKU!"

Seorang anak laki-laki seusianya berdiri di ambang pintu kaca. Matanya merah, melotot penuh dendam dan rasa sakit yang tak terukur. Tatapan mata anak laki-laki itu tajam dan dipenuhi oleh kebencian menjadi hal terakhir yang dicetak mati dalam ingatan Sienna sebelum polisi datang dan memborgol tangannya yang mungil.

Sienna tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan. Ayahnya dituduh hendak merampok dan menembak pemilik rumah, lalu Sienna dianggap membantu atau ikut memegang senjata. Tidak ada yang mendengarkan jeritan tangis anak kurir miskin di hadapan hukum yang dibeli oleh keluarga kaya raya.

"Anna."

Tangan Sofia menggenggam jemari Sienna yang mendadak dingin dan gemetar. Sienna tersentak dari lamunannya dan menatap Sofia yang kini memandangnya dengan raut khawatir.

"Maaf," bisik Sienna lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin bus. "Aku hanya... teringat lagi."

"Dengarkan aku," kata Sofia dengan suara rendah namun sangat tegas. Ia menggenggam tangan Sienna lebih erat.

"Masa lalu itu sudah selesai. Kau sudah membayar harga untuk kejahatan yang tidak pernah kau lakukan. Sebelas tahun, Sienna. Kau memberikan seluruh masa mudamu di dalam penjara penjara. Utang yang tak pernah kau miliki itu sudah lunas. Sekarang saatnya kau mengambil kembali hidupmu."

Sienna menatap mata Sofia, mencari kekuatan di sana. Perlahan, ia mengangguk. "Ya. Kau benar, Fia."

Bus menurunkan mereka di sebuah perhentian jalan tanah di tepi desa saat matahari mulai tenggelam di balik perbukitan. Warna jingga keemasan melapisi langit, memberi kilau hangat pada pepohonan tua dan jalanan desa yang sepi.

Mereka harus berjalan kaki sekitar dua puluh menit menyusuri jalan setapak yang menanjak, melewati kebun-kebun tebu dan deretan pohon bambu yang berderit ditiup angin sore. Bau tanah basah dan udara pegunungan yang segar memenuhi indra penciuman Sienna. Setiap langkah yang diayunkannya terasa lebih ringan daripada langkah sebelumnya.

Di ujung jalan setapak, berdiri sebuah rumah panggung kecil berdinding kayu yang sudah agak lapuk. Atap sengnya tertutup sebagian oleh daun-daun kering, dan halaman depannya ditumbuhi rumput liar yang cukup tinggi. Namun di mata Sienna, rumah itu tampak seperti sebuah istana megah, sebuah tempat di mana tidak ada pintu besi berslot, tidak ada seragam narapidana, dan tidak ada jadwal ketat yang mengekang.

"Selamat datang di istana kita," ujar Sofia seraya merentangkan tangannya, tersenyum lebar. "Agak berantakan, tapi ini milik kita."

"Ini sempurna, Fia," kata Sienna tulus. Matanya sedikit berkaca-kaca saat melihat teras kayu kecil di depan rumah itu.

Mereka menghabiskan sisa sore itu untuk membersihkan rumah. Sofia menyapu sarang laba-laba dan membuka jendela-jendela kayu agar udara segar masuk, sementara Sienna membersihkan debu tebal yang menutupi meja dan kursi tua. Air sumur yang ditarik menggunakan timba terasa begitu dingin dan menyegarkan saat Sienna membasuh wajahnya.

Ketika malam benar-benar jatuh, rumah kecil itu telah terang oleh pendar hangat dari dua buah lampu minyak tempel. Suara jangkrik dan serangga malam saling bersahut-sahutan dari luar jendela, menciptakan simfoni alam yang menenangkan hati.

Mereka duduk bersila di lantai kayu yang bersih, berbagi sepotong roti tawar dan teh hangat yang diseduh dari kompor minyak tua.

"Besok kita harus ke pasar desa," kata Sofia sambil mengunyah rotinya. "Aku punya sedikit tabungan dari hasil pekerjaan pertukangan di dalam penjara. Kita bisa beli beberapa bibit sayuran, sabun, dan mungkin beberapa ayam untuk diternakkan. Kau pandai memasak, kan?"

"Ayah dulu mengajariku membuat sup sayur sederhana," jawab Sienna, tersenyum tipis membayangkan kenangan kecil bersama ayahnya sebelum tragedi itu terjadi.

"Aku bisa menanam sayuran di halaman samping. Kita bisa hidup mandiri di sini," lanjut Sienna.

"Itu rencana yang bagus," sahut Sofia. Ia menatap Sienna dengan tatapan lembut. "Aku ingin melihatmu tersenyum lagi, Anna. Tersenyum yang sungguhan, bukan cuma tarikan bibir karena kau takut dipukul sipir."

Sienna mengangguk perlahan. Ia memegang cangkir tehnya yang hangat, merasakan uapnya membelai wajahnya. "Aku akan berusaha, Fia. Aku ingin menata hidupku kembali. Aku ingin melupakan semuanya."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Sienna tidur di atas kasur kapok tipis tanpa mendengar suara teriakan penjaga, tanpa ketakutan akan gesekan kunci sel, dan tanpa bayang-bayang dinginnya lantai semen. Ia tertidur lelap ditimang oleh kesunyian desa yang damai.

Ia percaya bahwa nerakanya telah berakhir.

Namun, beberapa ratus kilometer dari desa pelosok yang tenang itu, di tingkat teratas sebuah pencakar langit yang menjulang di pusat ibu kota, kegelapan yang sama sekali berbeda sedang bernapas.

Sebuah ruangan kantor yang luas dan mewah didominasi oleh warna hitam, kaca, dan marmer kelabu. Di balik meja kerja kayu mahoni yang besar, seorang pria berdiri menghadap jendela kaca seukuran dinding, menatap kerlip lampu kota di bawahnya.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sempurna, membingkai tubuhnya yang tinggi, tegap, dan atletis. Wajahnya memiliki garis pahatan yang tampan namun dingin luar biasa, seolah-olah dipahat dari batu es yang tak tersentuh matahari. Seperangkat jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, dan jemarinya yang panjang mengapit sebuah gelas kristal berisi wiski berwarna amber.

Frederick Nicolas Vance.

Pewaris Vance Group, salah satu perusahaan besar berpengaruh milik konglomerat terpandang. Pria yang dihormati, ditakuti, dan dikenal tak memiliki belas kasihan dalam dunia bisnis.

Di belakangnya, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam berdiri dengan sikap tubuh patuh. Itu adalah sekretaris pribadi sekaligus kepala pengawalnya.

"Apakah laporan itu sudah dipastikan?" Suara Nicolas terdengar berat, rendah, dan dingin. Tidak ada emosi di sana, hanya menyisakan otoritas yang menekan.

"Sudah tuan," jawab pengawal itu cepat. "Wanita itu, Sienna Breezie Sinclair telah resmi dibebaskan pagi ini dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan setelah menjalani masa tahanan sebelas tahun."

Tangan Nicolas yang memegang gelas kristal mengetat sejenak. Es batu di dalam gelas itu berdenting pelan.

Sebelas tahun.

Bagi dunia, sebelas tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakan sebuah tragedi pembunuhan tragis di sebuah mansion mewah. Namun bagi Nicolas sebelas tahun hanyalah jeda waktu yang ia habiskan untuk memupuk dendam yang membakar habis seluruh rasa kemanusiaannya.

Ia masih ingat setiap detik dari malam terkutuk itu. Darah ibunya yang menggenang di atas rumput. Senyum hangat ibunya yang terenggut dalam sekejap. Dan yang paling membakar jiwanya, wajah pembunuh muda itu. Gadis berumur tiga belas tahun yang memegang pistol dengan tangan berdarah, menatapnya tanpa penyesalan sebelum polisi datang.

Bagi Nicolas fakta bahwa gadis itu dipenjara di tahanan remaja adalah sebuah ketidakadilan. Penjara adalah tempat perlindungan yang terlalu aman bagi seorang wanita yang telah merenggut nyawa ibunya dan menghancurkan masa kecilnya.

"Di mana dia sekarang?" tanya Nicolas balik. Matanya yang berwarna kelabu gelap berkilat penuh ancaman.

"Dia meninggalkan kota bersama seorang mantan narapidana bernama Sofia. Berdasarkan pelacakan kami, mereka naik bus menuju wilayah pinggiran di bagian selatan. Mereka menuju sebuah rumah tua di desa terpencil di kaki gunung."

Sebuah sunggingan tipis yang sangat dingin dan beracun muncul di sudut bibir Nicolas. Bukannya marah karena targetnya melarikan diri ke tempat terpencil, ia justru merasa terhibur.

"Desa terpencil?" gumam Nicolas pelan, suara tawanya yang hampa bergaung rapuh di ruangan luas itu. "Dia pikir dia bisa bersembunyi di balik pepohonan dan memulai hidup baru seolah-olah dia tidak pernah menumpahkan darah?"

Nicolas berjalan mendekati mejanya, meletakkan gelas wiski itu dengan ketukan pelan yang tegas. Ia mengambil sebuah dokumen tebal berlabel merah yang berisi seluruh informasi tentang Sienna, foto-fotonya semasa di penjara, catatannya, hingga rute perjalanannya hari ini.

Ia menatap foto Sienna di lembaran depan dokumen itu. Gadis kecil berdosa itu kini telah tumbuh menjadi seorang wanita muda dengan mata cokelat yang tampak rapuh namun menyimpan daya tahan yang aneh.

"Dia membayar utangnya pada negara, Tuan," ujar pengawalnya hati-hati. "Apakah Tuan ingin saya menyuruh orang untuk..."

"Tidak," potong Nicolas cepat. Suaranya menyiratkan dominasi mutlak yang tak boleh dibantah. "Membunuhnya terlalu mudah. Menjebloskannya kembali ke penjara juga terlalu membosankan."

Nicolas melangkah mendekati jendela kembali, menatap bayangannya sendiri di kaca yang gelap.

"Dia menghabiskan sebelas tahun di dalam sana dengan membayangkan hari bebasnya. Dia pikir hari ini adalah awal dari kedamaian hidupnya," bisik Nicolas, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku akan membiarkannya merasakan sedikit rasa manis dari kebebasan itu... sebelum aku menyapu bersih semuanya dan membawanya ke neraka yang sesungguhnya."

Kebencian yang dipelihara selama belasan tahun tidak pernah padam, ia hanya menunggu momen untuk meledak dan melahap korbannya secara utuh.

"Siapkan kendaraan untuk lusa," perintah Nicolas tanpa menoleh. "Kita akan menyambut kebebasan Sienna Breezie Sinclair secara langsung."

"Baik, Tuan Vance."

Di dalam rumah kayu kecil di kaki gunung yang jauh, Sienna terbangun sebentar dari tidurnya karena embusan angin malam yang menerpa jendela. Ia memperbaiki posisi selimutnya, lalu kembali memejamkan mata dengan perasaan tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kegelapan malam, bayangan masa lalunya yang paling mengerikan tengah bergerak mendekat.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!