Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Pesawat jet pribadi berlogo singa bermahkota itu telah membelah awan malam, melesat menjauhi wilayah udara Indonesia menuju medan perang di Eropa Timur.
Di kediaman utama Van Der Berg, keheningan malam terasa sangat menindas.
Di kamar utama, Clara tertidur pulas dengan napas teratur. Efek kelelahan akibat kehamilan dan rasa aman berada di benteng suaminya membuat wanita itu bermimpi indah. Ia tidak tahu bahwa sang naga telah pergi, dan kini istananya sedang diintai oleh ular-ular berbisa.
Di ruang bawah tanah, cahaya dari layar monitor memantul pada kacamata Ken. Balita lima tahun itu menatap peta digital mansion dengan mata menyipit tajam. Tanda kedip merah yang seharusnya tidak ada kini bergerak perlahan menyusuri koridor lantai satu.
"Key," panggil Ken, suaranya sangat pelan namun sarat akan bahaya.
"Kamera CCTV di koridor barat lantai satu mendadak mengalami looping (pengulangan rekaman) berdurasi lima detik. Seseorang menanamkan malware dari terminal internal rumah ini."
Key yang sedang merakit peluru bius mini langsung melompat ke sisi kakaknya. Jari-jarinya menari di atas layar, memunculkan data pemindai panas tubuh (sistem sonar rahasia yang ia pasang di balik dinding mansion tanpa sepengetahuan arsiteknya).
"Ada dua siluet panas tubuh. Satu dari luar yang baru saja masuk melompati pagar, dan satu lagi..." Key terkesiap pelan, matanya membelalak marah.
"Orang dalam. Siluet kedua menggunakan seragam penjaga lapis kedua kita."
"Pengkhianat," desis Ken dingin. Wajahnya mengeras, meniru persis ekspresi murka Alexio.
"Mereka menonaktifkan perimeter laser sayap barat agar si pembunuh bayaran bisa masuk. Target mereka adalah lantai tiga... kamar Mama."
"Mereka pikir karena Papa tidak ada, mereka bisa menyentuh Mama dan calon adik bayi kita?"
Key tersenyum, namun senyumannya mengerikan. Lesung pipinya muncul saat ia menekan tombol pengaktifan smart-home mode pertahanan elit.
"Mari kita beri mereka pelajaran tata krama bertamu, Kak."
Sementara itu, di lantai dua, Reno sedang berpatroli dengan senjata laras pendek berperedam suara bersiaga di balik jasnya. Insting mantan pasukan khususnya merasakan ada yang tidak beres dengan keheningan malam ini.
Tiba-tiba, earpiece komunikasi di telinga kirinya mendesis statis, sebelum sebuah suara anak kecil yang familier terdengar.
"Paman Reno, jangan menoleh, jangan berhenti berjalan, dan jangan bicara. Dengarkan saja suaraku, meretas frekuensi komunikasimu ternyata lumayan merepotkan," suara Ken mengalun tenang di telinga Reno.
Reno menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, terus berjalan menyusuri lorong seolah tidak terjadi apa-apa, namun otot-ototnya seketika menegang bersiap tempur.
"Ada pengkhianat di regu pengawal lapis kedua. Dia baru saja memasukkan seorang agen pembunuh bayaran Volkov ke dalam rumah ini," lanjut Ken, memberikan laporan intelijen dengan tingkat akurasi yang lebih mematikan daripada jenderal militer mana pun.
"Mereka sedang naik menggunakan tangga darurat sayap barat menuju lantai tiga. Paman tidak perlu memanggil bala bantuan luar, itu hanya akan memicu baku tembak dan membangunkan Mama."
Reno mengetuk earpiece-nya dua kali dengan jari telunjuk, kode morse militer yang berarti "Tunggu perintah/Mengerti".
"Aku dan Key akan menggiring tikus-tikus itu ke arah Paman," suara Ken berganti dengan suara Key yang ceria.
"Paman bersiap di persimpangan lorong menuju perpustakaan. Kami akan membuat mereka buta dan tuli. Jangan sampai ada suara tembakan ya, Paman. Nanti adik bayi di perut Mama kaget!"
Di dalam tangga darurat yang gelap, sang agen Volkov yang berpakaian serba hitam mengangguk kepada si penjaga pengkhianat. Keduanya melangkah mengendap-endap keluar dari pintu tangga menuju lorong lantai tiga.
Namun, tepat saat kaki mereka menginjak karpet lorong, keanehan mulai terjadi.
Pintu baja yang baru saja mereka lewati tiba-tiba tertutup sendiri dengan bunyi klik yang sangat pelan, terkunci mati dari dalam sistem hidrolik. Agen itu mengerutkan kening.
Mereka berbelok ke arah kiri, menuju sayap utama tempat kamar Clara berada. Tiba-tiba, lampu di ujung lorong padam. Bukan mati secara keseluruhan, melainkan padam satu per satu seolah-olah "mengejar" dan menggiring mereka ke arah sebaliknya.
"Apa yang terjadi pada sistem penerangan di sini?" bisik si agen dengan bahasa Rusia, menodongkan senjata ke arah si pengkhianat.
"A-aku tidak tahu! Tadi kodenya sudah kuretaz untuk dilumpuhkan!" jawab si pengkhianat panik, keringat dingin membanjiri lehernya.
Lampu di arah kamar Clara padam total, sementara lampu di lorong menuju perpustakaan menyala terang, seolah mengundang mereka ke sana. Karena panik tidak bisa melihat dalam gelap, insting manusia membuat kedua penyusup itu berlari ke arah satu-satunya sumber cahaya.
Tepat saat mereka tiba di persimpangan lorong perpustakaan, speaker tersembunyi di langit-langit mendadak menyala dengan volume maksimal, memutar lagu Baby Shark dalam versi remix bass yang sangat keras dan memekakkan telinga.
"BABY SHARK, DOO-DOO-DOO-DOO-DOO!"
Kedua penyusup itu terlonjak kaget. Konsentrasi mereka hancur berkeping-keping. Sebelum mereka sempat bereaksi terhadap lagu balita yang menggema di lorong mematikan tersebut, dua buah micro-drone berbentuk kumbang melesat dari ventilasi udara, menabrak tepat di depan wajah mereka dan meledakkan bubuk merica sintetis berkonsentrasi tinggi.
"ARRGGHH!"
Penyusup dan pengkhianat itu berteriak tertahan, menutup mata mereka yang terasa seperti dibakar api, senjata mereka terlepas dari genggaman.
Di detik yang sama saat mereka kehilangan penglihatan dan fokus akibat lagu Baby Shark, sesosok bayangan besar melesat dari balik pilar perpustakaan.
Reno asisten berdarah dingin itu tidak membuang waktu satu milidetik pun. Dengan gerakan bela diri Krav Maga tingkat mematikan, Reno menendang lutut si pengkhianat hingga patah tanpa suara, menangkap kepalanya, lalu memukul tengkuk pria itu hingga pingsan seketika.
Agen Volkov yang masih mencoba mengucek matanya yang buta sementara mengayunkan pisau belati secara membabi buta.
Reno menepis ayunan itu, memelintir pergelangan tangan si agen hingga terdengar bunyi retakan tulang, lalu mendaratkan pukulan telak ke rahang bawahnya.
Agen elit Rusia itu tumbang ke lantai pualam, tak sadarkan diri sebelum ia bahkan menyadari siapa yang memukulnya. Seluruh eksekusi itu berlangsung dalam waktu kurang dari delapan detik.
Pertarungan sunyi, cepat, dan sangat brutal.
Lagu Baby Shark tiba-tiba berhenti diputar. Lampu kembali menyala normal.
Reno berdiri di tengah lorong, membetulkan letak jasnya sambil mengatur napas. Ia menatap kedua tubuh yang tergeletak di lantai bak karung beras, lalu menyentuh earpiece-nya.
"Target dilumpuhkan, Tuan Muda. Tidak ada suara tembakan," lapor Reno santai, sambil memungut senjata milik penyusup tersebut.
"Saya akan membawa mereka ke ruang interogasi."
"Kerja bagus, Paman Reno! Bintang lima untuk aksi bela dirinya!" sorak Key riang dari seberang komunikasi.
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian, suara Ken menyela dengan nada yang jauh lebih berat dan tegang. Sesuatu yang sangat jarang terjadi pada balita jenius itu.
"Paman Reno... ikat mereka dengan kuat, tapi kita punya masalah yang jauh lebih besar," ucap Ken cepat, suara ketikannya terdengar memburu di latar belakang.
"Aku baru saja meretas ponsel enkripsi milik agen pembunuh ini. Eksekusi Mama di rumah ini ternyata hanya taktik cadangan dari Volkov. Umpan lapis kedua."
Reno mengerutkan kening, firasat buruk kembali mencengkeram dadanya.
"Apa maksudmu, Tuan Muda Ken?"
"Mereka memancing Papa ke Eropa bukan untuk berperang darat," jelas Ken, matanya melebar menatap layar utama laboratoriumnya yang kini menampilkan rute penerbangan pesawat jet pribadi Alexio.
"Bratva Volkov telah menyusup ke menara kontrol lalu lintas udara di bandara Jenewa. Mereka menanamkan virus pada sistem pendaratan (ILS) yang akan membuat radar pesawat Papa membaca elevasi palsu."
Key menahan napasnya, wajah manisnya memucat.
"Kalau sistem itu dikacaukan, saat jet Papa mendarat menembus kabut malam Swiss..."
"Pesawat Papa akan menabrak lereng gunung sebelum mencapai landasan pacu," sambung Ken, suaranya bergetar menahan amarah dan ketakutan.
Reno membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir.
"Berapa lama lagi pesawat Tuan Alexio mendarat?!"
Ken mengetik dengan gila-gilaan, mencoba menembus satelit komunikasi jet pribadi tersebut.
"Tiga puluh menit, Paman. Tapi Volkov mengaktifkan jammer (pengacak sinyal) militer di radius bandara. Komunikasi ke kokpit Papa terputus total. Kita tidak bisa menelepon mereka untuk membatalkan pendaratan!"
Di kamar utama, Clara masih tertidur pulas dalam balutan selimutnya, tak sadarkan diri bahwa pria yang paling dicintainya saat ini sedang melaju ke dalam perangkap maut di atas awan Eropa.
Di laboratoriumnya, Ken berdiri, melepas kacamatanya, dan menatap layar yang berkedip merah. Balita yang belum genap lima tahun itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Key, sambungkan aku ke satelit cuaca internasional milik pemerintah. Kalau kita tidak bisa menelepon kokpit Papa..." mata Ken berkilat penuh tekad absolut.
"...kita akan meretas satelit luar angkasa dan membuat badai buatan di bandara Jenewa agar pesawat Papa terpaksa dialihkan pendaratannya!"
Bersambung...
asli part ini bacanya seru