Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
prolog
malam hari yang begitu tenang
Langit gelap tanpa banyak cahaya, sementara lampu-lampu jalan menerangi sebagian kecil trotoar yang mereka lewati.
Di tengah-tengah trotoar kecil terdapat sejoli sedang berjalan sangat romantis mereka saling menggandeng tangan satu sama lainnya lalu wanita tersebut menyandarkan kepalanya di sisi lain bahu sang pria seolah-olah mereka adalah pasangan yang tidak akan pernah terpisahkan. Sang wanita tersebut tiba-tiba memberitahu laki-lakinya bahwa dia menginginkan capuccino.
"sayang...."
"apa sayang?" (tanya pria)
"aku mau cappucino. Soalnya tadi aku habis lihat iklan di televisi jadi kepingin"
"cappucino? beli dimana sayang?"
tidak jauh dari mereka sang wanita itu melihat sebuah gerai minuman yang menjual minuman semacam minuman yang di jual di cafe di depan mereka.
Wanita itu menunjuk ke arah gerai tersebut.
"itu sayang di situ ada gerai minuman"
"memang di gerai itu menjual cappucino?"
"kita coba samperin dulu siapa tau jualan, sayang"
dua sejoli tersebut pergi menghampiri gerai tersebut untuk mengecek apakah gerai tersebut menjual cappucino Begitu tiba di gerai, mereka langsung menghampiri kasir.
"Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?"
Si wanita melihat daftar menu yang terpampang di hadapannya. pandangan sang wanita tersebut terpaku pada sebuah menu yaitu capucino segera wanita tersebut menarik baju prianya untuk memberitahu bahwa ada cappucino di gerai ini.
"sayang....sayang"
Menunjuk jari nya ke arah menu cappuccino
"lihat ini. Ada cappucino disini"
"Kamu mau itu? pesan saja sayang"
Wanita tersebut menoleh ke arah kasur segera memasannya
"Emmm.. aku mah cappucino satu"
"Baik, saya tambahkan ada lagi?"
Pria itu kemudian menunjuk menu lainnya.
"Kalau aku Americano satu."
"Baik. Itu saja? Kalau sudah, saya siapkan pesanannya."
"iya itu saja"
kasir segela menotal menu yang di pesan oleh sejoli
"baik totalnya 56.000 ribu. Untuk pembayaran maunya QRIS atau cash?"
"Untuk bayarnya bisa pakai QRIS saja. Saya tidak membawa uang cash."
Kasir segera mengarahkan tangannya ke sebuah papan yang menampilkan kode QR di samping papan menu
"Mas. Silakan scan di sini untuk pembayarannya."
Entah mengapa tiba-tiba wanita tersebut merasa tidak enak saat laki-lakinya mengeluarkan ponselnya untuk melakukan QRIS karena prianya sering mentraktir nya Ia segera mengambil dompet dari dalam tasnya bersamaan juga dengan laki-lakinya mengambil ponselnya dari saku di celananya.
"Loh, sayang? Ngapain kamu ambil dompet?"
"Aku nggak enak. Kamu sering banget traktir aku. Sekarang gantian aku yang bayar."
pria itu tersenyum kecil.
"tidak apa-apa, sayang. Kamu tidak usah bayar. Biar aku saja."
Tangannya kemudian mengusap lembut kepala wanita itu.
"Aku cuma mau nyenengin kamu."
Wanita itu tersenyum malu.
pria tersebut segera mengscan barcode lalu segera membayar pesanan tersebut. Saat transaksi pembayaran telah selasai laki-laki tersebut menunjukkan transaksi berada di dalam ponselnya lalu menunjukkannya ke kasir.lalu kasir tersebut segera memberikan nota kepada laki-laki tersebut.
"ini notanya" (sambil memberikan nota)
"di tunggu 15 menit untuk pesanannya tiba. Kalian bisa duduk di kursi yang kami sudah sediakan"
"iya, makasih ya" (mengambil nota dari kasir)
dua sejoli tersebut menunggu pesannya sambil duduk
Malam itu terasa sempurna.
setelah pesannya telah selesai.. mereka memutuskan untuk berjalan kaki untuk sambil meminum minuman yang mereka pesan namun, jalan yang mereka lewati berbeda dari sebelumnya.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin sedikit orang yang terlihat. Lampu penerangan pun semakin jarang.
Suasana berubah menjadi sunyi hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di sepanjang jalan.
srupp....
Minuman milik pria tersebut telah habis Wanita itu terkejut karena minuman yang di pesan laki-lakinya telah habis duluan sedangkan minumannya masih tersisa banyak.
"sayang cepet banget habisnya"
"hehehehe... Haus banget soalnya"
Tiba-tiba wanita tersebut menyodorkan minumannya di depan wajah pria nya. tersebut pria tersebut terkejut mengapa tiba-tiba pasangannya menyodorkan minuman di depan mukanya
"sayang kenapa?"
"kok tiba-tiba...."
"habisin ini sayang. Sepertinya aku tau aku tidak menyukai minuman cappucino"
"kalo kamu tidak suka kenapa kamu pesan minuman ini sayang?"
"se-sebenarnya aku cuman penasaran saja sama rasa cappucino itu"
Pria tersebut mengambil minuman milik pasangannya dan segera meminumnya dalam sekali sedot. kemudian pria tersebut berjalan menuju tempat sampah di samping mereka untuk membuang gelas kemasan Saat pria tersebut membuang sampah ia terdiam sejenak lalu kembali menuju wanita tersebut entah mengapa setiap langkahnya menuju pasangannya tersebut dedak jantungnya berdebar-debar kencang, pria tersebut pun tiba-tiba di depan hadapan pasangannya ia ingin melamar pasangannya.
"Sayang..."
"Emmm... a-aku..."
"Iya? Ada apa, sayang?"
Pria itu menundukkan wajahnya.
"Sebenarnya aku... aduh, malu bilangnya."
"malu kenapa?"
pria tersebut menarik nafasnya
"A-aku ingin menjadi suamimu."
"Maukah kamu menerima lamaranku, sayang?"
Wajah wanita itu seketika memerah.
"Iya... iya. Aku mau."
Wanita itu menatap kekasihnya dengan tatapan tak percaya Segera pria tersebut merogoh saku ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, perlahan kotak kecil itu di buka olehnya Sebuah cincin tampak di dalamnya. Wanita itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, wanita merasa benar-benar tidak menyangka malam itu akan berakhir seperti ini.
"Sayang..."
Wanita itu kemudian memeluknya erat.
Namun...
Sesuatu yang hangat tiba-tiba menetes dari bahunya
setetes
Dua tetes
pria tersebut segera melepaskan pelukanku pasangannya
TING...
Pria itu menatap bahunya.
Darah?
Wajahnya langsung berubah pucat Ia kemudian melihat kekasihnya Wanita itu masih menundukkan wajah Namun ketika perlahan mengangkat kepalanya...
Pria tersebut membeku.
Mulut wanita itu dipenuhi darah Kedua bola matanya telah berubah menjadi merah menyala. Pria itu mundur dengan wajah penuh ketakutan Kotak cincin yang berada di tangannya terjatuh ke aspal.
"Tidak mungkin..."
Suaranya bergetar.
"Kamu... anomali?"
Ia menatap wanita yang selama ini ia cintai dengan rasa tidak percaya senyum aneh yang perlahan muncul di wajah wanita itu. pria tersebut langsung berbalik dan kemudian berlari untuk menyelamatkan dirinya sambil berteriak-teriak meminta tolong
"TOLONG!!!"
sayangnya jalan yang terlalu sepi sia-sia saja untuk berteriak meminta tolong namun baru beberapa langkah lari....
JLEPP!!!
Sebuah cakar raksasa menembus tubuhnya dari belakang membuat langkahnya terhenti Tubuhnya menegang cakar itu perlahan menariknya kembali.
Brukk...
pria itu pun terjatuh lemas dengan darah yang terus keluar dari perutnya. wanita tersebut telah berubah sepenuhnya Tubuhnya kini menjelma menjadi sosok raksasa yang membungkuk, dengan cakar besar menyerupai reptil purba dan moncong panjang seperti raptor Wanita itu tertawa serta suaranya berubah menjadi mengerikan.
"Hahahhaha makasih, sayang... Sudah membawaku sampai ke jenjang yang serius."
Wanita itu mendekatkan moncongnya ke pasangannya yang terbaring sekarat
"Tapi mengingat aku ini anomali... Aku tidak akan menikahi makananku."
pria tersebut hanya terbaring lemas tak berdaya bahkan untuk berbicara saja tidak bisa Anomali itu kemudian mengangkat tubuh pria tersebut kemudian membantingnya ke aspal.
BRUKK!!!
Namun ia belum merasa puas.
Sekali lagi.
BRUKKK!!
Tubuh pria itu kembali dibanting hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya Anomali tersebut mengetahui bahwa laki-laki tersebut telah tiada segera membuka mulutnya lebar-lebar ingin memakannya Namun tepat sebelum ia melakukan apa pun—
WUSH
Sebuah pedang katana melesat dari kejauhan.
JLEPP!!!
Katana tersebut menacap mulut hingga menembus bagian belakang kepalanya
"GRAAAHHH!!!"
Dari kejauhan, dua orang muncul. Seorang pria bernama Arya bersama asistennya, Rey yang membawa tas jinjing raksasa berisi senjata.
Arya menatap anomali tersebut.
"Sesuai dugaanku. Tempat sesepi ini pasti ada sesuatu yang aneh."
"Untung aja kita patroli di sini, Arya."
Arya mengulurkan tangannya.
"Rey. Dua kunai."
Rey segera membuka tas besar dan mengambil dua buah kunai Ia menyerahkannya kepada Arya. Arya setelah mengambil dua kunai yang di berikan oleh Rey segera berlari kencang menuju anomali tersebut.
Anomali melihat Arya berlari sangat kencang menujunya, anomali menjatuhkan kekasihnya tersebut kemudian mengangkat kakinya yang besar saat Arya mendekat segara anomali menginjaknya
BRUKK!!
Tetapi Arya yang begitu cepat langsung meluncur menghindari pijakan anomali. Arya terus meluncur kembali namun kini melewati bawah perut anomali lalu menancapkan dua kunainya di bawah perut anomali.
"GRAHHHH!!!"
Anomali yang kesakitan segera menangkap Arya dengan satu tangannya kemudian membuka mulutnya besar-besar akan memakan Arya namun...
DUARR!!
Sebuah bom peledak berisih serbuk-serbuk debu yang mampu menghalangi pengelihatan anomali di lemparkan oleh Rey saat anomali yang tak mampu melihat segera Rey melompat tinggi menembus debu yang berterbangan mengarahkan dua pedangnya ke leher anomali tersebut seketika Rey langsung memutuskan leher dengan anomali tersebut dalam hitungan sekejap.
BRUAK!!!
anomali itu segera jatuh dengan kepalanya yang terpisah dari tubuhnya Arya segera melepaskan dirinya dari genggaman anomali dan melihat Rey untuk memujinya.
"wow Rey assitenku. kamu benar-benar hebat"
"hehehe makasih"
Seketika pandangan Rey tertuju pada sebuah mayat pasangan dari anomali tersebut.
Rey berjalan menuju mayat tersebut dan tak jauh dari mayat laki-laki tersebut terdapat sebuah kotak cincin serta cicin yang terpisah.
Rey mengambil kotak serta cicin tersebut
entah mengapa Rey saat melihat cicin tersebut ia teringat pada almarhum mamanya yang sering memakai cicin ini.
*cicin ini sama persis seperti cicin milik mama*
Arya melihat Rey sedang menatap cincin itu dengan terlalu fokus segera memanggilnya
"REY!!!"
Tidak ada jawaban
Segara Arya berjalan menghampiri Rey
"WOII REY!!!"
Rey tersentak kaget
"Kamu di panggil kok tidak jawab. Dari tadi liatin cincin itu terus... emangnya kenapa sama cincin itu?"
Rey langsung memberikan cicin itu ke Arya agar rahasia mengenai almarhum mamanya semakin ketahuan
"bukan apa-apa"
Arya meras curiga dengan sifat Rey yang tiba-tiba menjadi seperti ini tak seperti biasanya
"Rey. Kamu menyembunyikan tentang memori almarhum mamamu sebelumnya bukan?"
"hah? Almarhum mamaku? Jangan ngawur mamaku masih hidup"
"tidak. yang sekarang itu bukanlah mamamu kan Rey"
Rey terkejut mengapa Arya bisa mengetahui bahwa mamanya yang sesungguhnya telah tiada.
Rey menatap Arya dengan pandangan yang cukup serius
"iya benar itu bukan mamaku namun aku menganggap seperti mama kandungku"