Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 14 - Bukan Tanggung Jawabku
Nadine berdiri beberapa langkah di hadapan Ethan dengan senyum yang terlihat anggun, meskipun sebenarnya hati Nadine dipenuhi kegembiraan karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan pria yang selama ini begitu sulit ditemuinya.
Sejak dulu Ethan tidak pernah berubah, bahkan rasanya semakin hari Ethan jadi semakin tampan. Wanita mana yang tak akan tergoda oleh pria tersebut? tidak ada. Nadine bahkan bersedia melakukan apapun untuk bisa mendapat pria tersebut.
"Jenderal Ethan," panggil Nadine sekali lagi, panggilan yang baginya terdengar begitu manis. Seperti panggilan kesayangannya.
Ethan menghentikan langkah, tatapannya jatuh pada Nadine selama beberapa detik sebelum akhirnya ia bertanya singkat, "Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Ethan, tempat ini bukanlah tempat yang bisa didatangi oleh sembarangan orang.
Salah satu kerabat Nadine memang bekerja di pemerintahan, tapi tak seharusnya Nadine memanfaatkan hal tersebut untuk bersikap semaunya.
Namun Nadine justru tersenyum, bahkan wajah Ethan yang dingin seperti itu tetap terlihat mempesona di matanya.
"Aku mendengar kamu ada di sini," jawab Nadine.
Tentu saja Nadine tidak datang tanpa alasan. Pagi tadi Tante Aluna telah menghubunginya. Wanita itu menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa memaksa Ethan untuk menerima perjodohan mereka.
Semua keputusan tetap berada di tangan Ethan. Tante Aluna bahkan meminta Nadine untuk tidak terlalu berharap. Namun Nadine tidak bisa menyerah begitu saja.
Seluruh Kota Servo sudah mengetahui bahwa dirinya adalah wanita yang selama ini dipersiapkan untuk menjadi istri Jenderal Ethan Harold. Kabar mengenai perjodohan mereka bahkan sudah tersebar luas di berbagai kalangan dan keluarga-keluarga terpandang.
Jika Ethan tiba-tiba membatalkan perjodohan ini, bukan hanya hubungan kedua keluarga yang akan menjadi bahan pembicaraan. Nadine sendiri yang akan menanggung rasa malu.
Terlebih Ethan hampir tidak pernah berada di Kota Servo. Sebagian besar waktunya dihabiskan di wilayah perbatasan. Karena itu, ketika mengetahui Ethan sedang berada di Servo, Nadine tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Aku sebenarnya ada urusan di dekat sini," kilah Nadine dengan senyum kecil. "Lalu aku mendengar kedatanganmu, jadi aku mampir."
"Aku sangat sibuk," jawab Ethan.
Setelah mengatakan itu, Ethan kembali melangkahkan kakinya.
Nadine sempat terdiam beberapa detik, namun ia segera mengejar langkah Ethan. "Tunggu, Ethan."
Ethan tidak berhenti, hingga akhirnya Nadine berjalan di sampingnya. "Sampai kapan kamu berada di Servo?"
Tidak ada jawaban.
"Ethan."
Pria itu tetap berjalan.
"Aku ingin bertemu denganmu."
Ethan masih diam.
Nadine akhirnya tersenyum tipis meski sedikit canggung. "Aku bisa menyesuaikan waktuku. Kalau kamu sibuk hari ini, mungkin besok."
Tetap tidak ada jawaban.
Mereka sebenarnya sudah saling mengenal sejak lama. Nadine tahu betul bagaimana sifat Ethan. Pria ini memang selalu seperti ini. Dingin, sedikit bicara, dan tidak pernah menunjukkan sesuatu yang tidak ingin ditunjukkannya.
Namun justru karena itulah Nadine semakin ingin mendapatkan perhatian Ethan.
"Aku akan menyempatkan waktu untuk bertemu," ujar Nadine lagi.
Ethan akhirnya melirik Nadine. "Aku tidak tahu kapan akan selesai."
Jawaban itu begitu singkat hingga Nadine tidak tahu harus membalas apa. "Tapi kamu masih akan berada di Servo kan?"
Ethan kembali diam.
"Kalau begitu beri tahu aku," pinta Nadine.
Ethan tidak menjawab lagi. Tak lama kemudian mereka tiba di depan ruangan yang disediakan khusus untuk Ethan selama berada di sini.
Seorang ajudan yang berjaga segera membuka pintu dan mempersilahkan sang jenderal untuk masuk.
Ketika Ethan memasuki ruangan tersebut, Nadine ikut masuk tanpa ragu. Semua orang di sini juga tahu bahwa Nadine adalah satu-satunya wanita yang selama ini berada di samping sang jenderal.
Sander yang berada beberapa langkah di belakang mereka hanya melirik sekilas, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Begitu berada di dalam ruangan, Ethan langsung menuju meja dan Sander meletakkan beberapa dokumen yang dibawanya.
Nadine berdiri tepat di depan meja kerja Ethan. "Aku sebenarnya sempat membeli makanan untukmu."
Ethan menoleh dan Nadine kemudian mengangkat sebuah kantong makanan yang sejak tadi dibawanya. "Aku pikir kamu pasti belum makan sejak pagi. Rapatmu berlangsung berjam-jam."
Ethan melirik kantong tersebut. Namun bukannya merasa lapar, pikirannya justru tiba-tiba teringat sesuatu.
Seorang gadis dengan mata bening yang sejak pagi terus mengekorinya.
'Jangan lupa es krimnya!'
Ethan terdiam, Ia bahkan hampir lupa bahwa pagi tadi telah membuat sebuah janji kepada Ashlyn.
Nadine memperhatikan perubahan ekspresi Ethan tersebut.
"Kamu kenapa?"
Ethan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada kantong makanan di tangan Nadine, tetapi pikirannya sudah berada jauh di mansion.
Ia berjanji akan pulang sebelum malam. Dan ia juga berjanji membawa es krim. Tapi hingga sekarang pekerjaannya belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai.
Harusnya malam ini Ethan lembur seperti biasa ketika kembali ke Servo, tapi entah kenapa kini rasanya begitu berat.
Seseorang mungkin sekarang sedang menghitung waktu sampai sang suami kembali.
"Ethan, kamu baik-baik saja kan?" tanya Nadine, kekhawatirannya begitu tulus.
Ethan akhirnya membalas tatapan Nadine dengan begitu lekat. "Nad, aku tidak ingin ada perjodohan diantara kita. Selama ini aku hanya menganggap mu sebagai teman biasa," ucap Ethan tanpa ada keraguan sedikitpun.
Nadine merasa dunianya hancur seketika, jantungnya sesak dan rasanya tubuh ini pun ingin limbung. Tapi sebisa mungkin Nadine tetap berdiri dengan tegar, ia hanya mampu menggenggam erat kantong makanan di tangan kanannya.
"Aku tahu kamu akan bicara seperti ini, Than," jawab Nadine akhirnya, Nadine masih berusaha untuk tersenyum kecil. "Tapi kamu juga harus tahu, aku tidak pernah menganggapmu sebagai teman. Aku sangat mencintaimu."
Sander yang ada di sana rasanya ingin menghilang saat ini juga, berada di Medan perang terasa lebih aman daripada diantara kedua manusia tersebut. Tapi sayangnya Sander tak bisa menghilang, yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri seperti patung.
"Apapun yang kamu rasakan itu bukan tanggung jawabku," balas Ethan.