Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Sepanjang perjalanan, bisik-bisik dari para siswa masih terdengar di sekitar mereka. Beberapa bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa penasaran saat melihat Elara lewat.
“Dia cantik banget.”
“Itu adiknya Leonard sama Lionel, ya?”
“Apa mata hijaunya itu asli?”
“Namanya Elara, ya?”
“Iya. Tapi yang aku dengar dia berasal dari desa di tengah hutan.”
Nama gadis itu terus terdengar berpindah dari kelompok satu ke kelompok lain.
Namun, Elara tetap berjalan dengan tenang. Ia sama sekali tidak terlihat terganggu dengan bisik-bisik yang terdengar di sepanjang koridor.
Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti tepat di depan ruang guru.
Elara menatap pintu di hadapannya, lalu beralih menatap Leonard.
“Kenapa berhenti?”
“Kamu harus lapor dulu sebelum masuk kelas,” jawab Leonard.
“Bukannya aku sudah datang ke sekolah?”
“Ini sudah aturannya, Elara."
“Manusia punya banyak sekali aturan.”
“Dan kamu baru melihat sebagian dari aturan itu,” sahut Lionel.
Sebelum Elara sempat menjawab, pintu ruang guru lebih dulu terbuka dari dalam.
Seorang guru wanita keluar sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Begitu melihat ketiga anak Halvar berdiri di depan pintu, wajahnya langsung berubah ramah.
“Oh, kalian sudah datang rupanya.”
“Selamat pagi, Bu,” sapa Leonard dan Lionel hampir bersamaan.
Guru itu mengangguk sebelum mengalihkan perhatiannya pada Elara. Tatapannya sedikit menunjukkan rasa terkejut.
“Kamu Elara, kan?”
Elara mengangguk sopan. “Iya.”
“Perkenalkan, saya Bu Ratih. Wali kelasmu.”
“Senang bertemu dengan anda, Bu Ratih.”
Sikap sopan Elara membuat senyum guru itu semakin lebar. Meski gadis itu tidak menunjukkan senyumnya sedikitpun.
“Kalau begitu, kamu ikut ibu. Teman-temanmu sepertinya sudah tidak sabar ingin melihat murid baru ini.”
Leonard dan Lionel saling menatap. Entah kenapa mereka berdua seketika memiliki kekhawatiran yang sama.
Hari pertama Elara di sekolah… sepertinya tidak akan berjalan setenang yang mereka harapkan.
Sementara itu di lantai dua, seorang gadis berdiri di dekat jendela kelas sambil memperhatikan sosok Elara yang berjalan mengikuti Bu Ratih.
Bianca tidak melepaskan tatapannya dari gadis berambut hitam itu.
Sejak pertama kali turun dari mobil keluarga Halvar, Elara mampu menarik perhatian hampir seluruh siswa di sekolah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bianca melihat seseorang mampu mencuri perhatian begitu mudah tanpa melakukan apa pun.
Dan hal itu membuat hatinya merasa tidak nyaman.
Rasa penasaran terhadap Elara semakin besar. Namun, bersamaan dengan itu muncul pula rasa tidak sukanya.
Seolah kehadiran Elara perlahan mengusik tempat yang selama ini menjadi miliknya seorang.
Dan entah mengapa… Bianca merasa kedatangan Elara akan membawa perubahan besar di sekolah ini.
Terutama bagi dirinya.
___
Langkah Elara mengikuti Bu Ratih menyusuri koridor sekolah yang masih cukup ramai di jam masuk.
Sejak memasuki gedung sekolah, ia bisa merasakan banyak tatap mata yang mengikuti setiap langkahnya.
“Elara.”
Gadis itu menoleh.
“Nanti kalau ada yang bertanya macam-macam, kamu tidak perlu gugup,” ujar Bu Ratih dengan senyum ramah. Namun, kalimat Elara berikutnya justru membuatnya bingung.
“Apa mereka mau mengintrogasiku?”
Bu ratih menghentikan langkahnya. “Hah?”
Elara menatap sekelilingnya. “Sejak tadi mereka terus melihatku.”
Bu Ratih mengikuti arah pandangnya dan langsung memahami maksud Elara.
Guru itu terkekeh pelan. “Mereka hanya penasaran, karena kamu murid baru.”
Langkah mereka berlanjut, hingga akhirnya Bu Ratih berhenti di depan ruang kelas.
“Ini kelasmu.”
Elara mengangkat kepala. Pintu berada tepat di hadapannya, dan dari dalam terdengar suara para siswa yang masih berbincang satu sama lain.
“Masuklah!”
Bu Ratih membuka pintu. Seketika itu pula suasana kelas yang semula ramai langsung mereda.
Puluhan pasang mata serempak menoleh ke arah pintu. Beberapa siswa bahkan tampak terkejut.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Bu Ratih yang mencoba mengalihkan suasana.
“Pagi, Bu.”
“Hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk.”
Elara melangkah masuk dengan tenang. Tatapan teman sekelasnya langsung mengikuti setiap langkahnya.
“Astaga… cantik sekali.”
“Mata hijaunya benar-benar terlihat setenang danau seperti kata Leonard waktu itu.”
Bu ratih berdehem pelan yang membuat suasana kelas itu kembali tenang.
“Silahkan perkenalkan diri kamu!”
Elara berdiri di depan kelas. tatapannya menyapu seluruh ruangan. Tidak ada rasa gugup ataupun canggung di wajahnya. Justru para siswa itu yang terlihat lebih gugup dibanding dirinya.
“Namaku Elara.”
Hening. Mereka semua menunggu kelanjutan dari perkenalan itu.
Beberapa detik berlalu. Namun, Elara tidak mengatakan apapun lagi.
“Lalu?” tanya salah satu siswa.
“Sudah.”
“Tidak ada lagi?”
Elara memiringkan kepalanya sedikit. “Bukannya Ibu hanya memintaku untuk memperkenalkan nama?”
Satu kelas itu langsung terdiam.
Sedangkan Bu Ratih buru-buru menahan senyum. “Ceritakan sedikit tentang dirimu, Elara!”
Elara diam dan berfikir sejenak.
“Aku tidak punya hobi.”
Beberapa siswa mulai mengernyit dan berkedip bingung.
“Aku juga belum punya cita-cita.”
Keheningan semakin terasa. Mereka semua fokus mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan Elara dalam kebingungan.
“Kamu pindahan dari mana?” tanya salah satu siswi yang duduk di barisan depan.
“Aku belum pernah pindah sebelumnya. Selain pindah ke kediaman Halvar.” jawab Elara tenang.
“Hah?” Siswi itu berkedip bingung. “Maksudku, sebelum tinggal bersama keluarga Halvar, kamu tinggal dimana?”
“Di rumah.”
“Ya tentu saja aku tau kamu tinggal di rumah. Maksudku, rumah kamu dimana?”
Beberapa siswa mulai menahan tawa.
“Di tempat yang cukup jauh.”
“Kota mana? atau Negara mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tidak tahu tempat tinggalmu sendiri?”
Elara menggeleng pelan. “Tidak ada yang pernah menyebutkannya.”
Satu kelas hampir serempak menepuk kening mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka menemukan seseorang yang mampu menjawab banyak pertanyaan tanpa benar-benar memberikan jawaban.
“Jadi intinya, rumah kamu itu ada dimana, Elara?” sahut seorang pemuda yang tak lain adalah ketua kelas.
Elara terdiam sejenak seraya berfikir. “Di antara banyak pohon.”
Satu kelas terdiam sejenak sebelum akhirnya dari barisan belakang terdengar suara pelan penuh keterkejutan. “Jadi benar… Sebelumnya dia memang tinggal di hutan.”
Seketika suasana di kelas kembali ramai.
“Aku bilang juga apa!”
“Pantas saja dia tidak tahu nama kotanya.”
“Jangan-jangan benar-benar pedalaman.”
“Berarti dia belum pernah lihat pusat perbelanjaan?”
“Atau bioskop?”
“Atau taman hiburan?”
Elara memperhatikan mereka satu per satu. “Apa semua itu penting?”
Kalimat yang tiba-tiba terlontar dari mulut Elara itu seketika membuat kelas kembali hening.
Bu Ratih akhirnya berdehem pelan. “Baik, cukup sampai di sini. Elara, kamu bisa duduk di bangku kosong dekat jendela.”
Elara mengangguk lalu berjalan menuju tempat yang baru saja ditunjuk oleh Bu Ratih. Tapi, meskipun ia sudah berada di kursinya, bisik-bisik itu tidak berhenti.
Sebagian siswa masih diam-diam memperhatikannya. Sebagian lagi mulai membuat dugaan mereka sendiri.
Menurut mereka, gadis dengan kulit sebersih dan secerah itu tidak mungkin berasal dari hutan pedalaman seperti yang dirumorkan.
Namun setiap jawaban yang diberikan Elara justru membuat rumor tersebut terasa semakin masuk akal.
Semakin mereka memahami gadis itu, semakin membingungkan pula sosoknya.