Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Nama Perempuan Itu

Latihan pagi tidak menjadi lebih mudah.

Alya hanya menjadi lebih pintar menyembunyikan penderitaan.

Dia belajar memilih sepatu yang tidak membuat tumit lecet, makan pisang sebelum lari, dan tidak melawan Damar saat pria itu menyuruhnya mengatur napas. Bukan karena dia patuh. Karena Damar benar, dan Alya terlalu sayang pada paru-parunya untuk mempertahankan gengsi.

Kabar tentang dokter dari Jakarta yang ikut latihan prajurit menyebar ke kompleks.

Sebagian ibu memuji.

Sebagian lagi menganggapnya cari perhatian.

Alya mendengar semuanya.

Dia tidak punya tenaga untuk menanggapi.

Pagi itu, setelah latihan, dia duduk di dekat kran air belakang pos kesehatan sambil membersihkan lumpur dari sepatu. Bu Niken datang membawa termos kecil.

"Teh hangat, Dok."

"Bu Niken, nanti saya jadi manja."

"Tidak apa-apa. Orang yang jatuh bangun di lapangan boleh dimanjakan sedikit."

Alya menerima gelas plastik berisi teh.

Bu Niken duduk di sampingnya.

Awalnya mereka membicarakan Yonas yang membaik, anak Bu Niken yang sudah tidak demam, dan jadwal posyandu. Lalu Bu Niken menurunkan suara.

"Dok, jangan tersinggung kalau saya tanya."

Alya menoleh.

Kalimat pembuka seperti itu hampir selalu berarti seseorang akan membuatnya tersinggung.

"Tanya apa, Bu?"

"Dokter dan Komandan Damar... memang sudah lama menikah?"

Alya menatap teh di tangannya.

"Dua tahun."

"Oh."

Bu Niken tampak ingin bertanya lebih jauh tapi menahan diri.

Alya tersenyum tipis.

"Aneh ya, Bu? Istrinya baru muncul setelah dua tahun."

"Saya tidak bilang begitu."

"Tapi ibu-ibu lain bilang."

Bu Niken menghela napas.

"Kompleks begini memang begitu, Dok. Kalau ada hal yang tidak jelas, orang mengisi sendiri dengan cerita."

"Cerita apa yang paling laku?"

Bu Niken ragu.

Alya menatapnya.

"Lebih baik saya dengar dari Ibu daripada dari orang yang sengaja menusuk."

Bu Niken akhirnya bicara.

"Ada yang bilang pernikahan kalian cuma perjodohan keluarga. Ada yang bilang Komandan sebenarnya sudah punya calon sebelum menikah. Namanya Siska."

Teh hangat di tangan Alya tiba-tiba terasa terlalu panas.

Siska.

Istri Kapten Rendra?

Tidak. Bu Niken pasti melihat kerutan di wajahnya, karena buru-buru menjelaskan.

"Bukan Bu Siska yang istri Kapten Rendra. Namanya sama. Siska Paramitha. Anak pejabat di Jakarta. Dulu sering datang ke acara keluarga Wiratama. Katanya Eyang Wiratama tidak setuju karena ada janji lama dengan keluarga Dokter."

Alya diam.

Nama itu tidak pernah dia dengar langsung dari Damar.

Tapi malam pertama, Damar mengatakan dirinya sudah punya orang yang ia inginkan.

Ternyata orang itu punya nama.

Siska Paramitha.

"Orangnya cantik sekali," lanjut Bu Niken pelan. "Pintar juga. Pernah kerja di yayasan kesehatan militer. Banyak ibu-ibu pikir dia cocok sekali dengan Komandan."

"Lalu saya datang," kata Alya.

Bu Niken langsung menyesal. "Dok..."

"Tidak apa-apa."

Tapi tentu saja tidak benar.

Ada rasa aneh di dadanya.

Bukan cemburu.

Dia tidak berhak cemburu.

Bukankah pernikahan mereka hanya status? Bukankah Damar sudah jelas tidak pernah memberinya tempat?

Namun membayangkan ada perempuan yang mungkin disukai Damar dengan tulus membuat Alya merasa seperti seseorang membuka jendela yang selama ini dia pura-pura tidak lihat.

Angin dari sana dingin.

Sore harinya, nama itu muncul lagi.

Alya sedang menata obat ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pos komando. Dari mobil turun seorang perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Tubuhnya ramping, kulitnya bersih, rambutnya sebahu, dan caranya berjalan membuat semua mata otomatis menoleh.

Dia memakai kemeja putih, celana kain, dan senyum yang tampak terlatih.

Kapten Rendra menyambutnya.

Tidak lama kemudian, Damar keluar dari pos komando.

Alya melihat dari jendela pos kesehatan.

Perempuan itu tersenyum pada Damar.

Damar tidak tersenyum, tapi wajahnya tidak sedingin biasa.

Mereka berbicara cukup lama.

Joko yang ikut melihat dari balik rak obat berbisik, "Itu Siska Paramitha."

Alya menutup laci obat.

"Pak Joko sepertinya punya bakat jadi admin gosip."

Joko langsung pura-pura mencari plester.

Bidan Rina mendekat dengan wajah cemas.

"Dokter tidak apa-apa?"

"Kenapa saya harus tidak apa-apa?"

Rina tidak menjawab.

Itu justru jawaban.

Menjelang magrib, Damar datang ke pos kesehatan bersama Siska Paramitha.

"Dokter Alya," kata Damar, "ini Siska. Dia dari Yayasan Cakra Sehat. Mereka membawa bantuan alat sanitasi dan obat dasar untuk desa sekitar."

Siska tersenyum hangat.

"Dokter Alya, kita bertemu lagi ya. Sejak acara Persit di kompleks, saya belum sempat ngobrol lagi sama Dokter."

Alya berdiri.

"Iya, Mbak Siska. Maaf ya, waktu itu saya keburu ada pasien darurat."

"Tidak apa-apa. Saya justru senang Dokter masih ingat."

"Tentu saja. Saya tidak mudah lupa wajah."

Senyum Siska tidak berubah, tapi matanya bergerak sedikit.

Siska melihat ruangan pos.

"Tempatnya sederhana sekali. Dokter pasti berat beradaptasi dari Jakarta."

"Tidak terlalu. Pasien di mana pun tetap pasien."

"Benar." Siska menoleh ke Damar. "Damar memang selalu ditempatkan di tempat sulit. Dulu saya sering bilang, dia ini lebih sayang perbatasan daripada dirinya sendiri."

Dia memanggil Damar tanpa pangkat.

Tanpa ragu.

Seolah nama itu pernah sangat akrab di mulutnya.

Alya mengambil daftar kebutuhan dari meja.

"Kalau yayasan membawa bantuan, ini daftar prioritas kami. Oralit, obat demam anak, kasa steril, rapid test malaria, tablet penjernih air, dan bahan edukasi sanitasi."

Siska menerima kertas itu.

"Langsung kerja ya, Dok."

"Supaya bantuan tepat guna."

Damar memperhatikan mereka berdua.

Siska tertawa pelan.

"Saya suka dokter yang tegas."

Alya tidak membalas.

Setelah Siska pergi untuk melihat gudang, Damar masih di pos.

"Kamu kenal dia?" tanya Alya.

Pertanyaan itu keluar sebelum dia bisa menahannya.

Damar menatapnya.

"Keluarga kami saling kenal."

"Oh."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Alya."

Dia merapikan map di meja.

"Saya hanya memastikan bantuan dari yayasan tidak tumpang tindih dengan logistik."

"Kamu tidak bertanya soal bantuan."

Alya menatapnya. "Lalu saya bertanya soal apa?"

Damar diam sebentar.

"Siska masa lalu."

Kalimat itu terlalu langsung.

Alya merasa pipinya panas, tapi suaranya tetap datar.

"Saya tidak meminta penjelasan."

"Tapi kamu ingin tahu."

"Anda terlalu percaya diri."

"Mungkin."

Mereka saling menatap dalam diam.

Damar akhirnya berkata, "Dia pernah dekat dengan keluargaku. Itu saja."

"Saya bilang tidak perlu menjelaskan."

"Aku menjelaskan karena kamu terlihat seperti sudah menyusun kesimpulan sendiri."

Alya tertawa kecil.

"Lucu. Biasanya itu tugas Anda."

Damar mengerutkan kening.

Kalimat itu mengenai sasaran.

Sebelum dia menjawab, Siska kembali masuk.

"Damar, gudang obatnya memang perlu tambahan. Saya akan kontak tim Kupang malam ini."

Alya mundur setengah langkah.

Siska melihat gerakan itu, lalu tersenyum.

"Dokter Alya, nanti malam kami ada makan kecil di mess perwira. Bahas distribusi bantuan. Dokter ikut ya?"

Alya hendak menolak, tapi Damar mendahului.

"Dia ikut."

Alya menatapnya.

Damar menatap balik, seolah berkata jangan mulai.

Siska tersenyum lebih lebar.

"Bagus. Akan lebih mudah kalau kita semua duduk bersama."

Malam itu, Alya datang ke mess perwira dengan kemeja sederhana. Di ruangan itu ada Damar, Kapten Rendra, beberapa perwira, Siska Paramitha, dan dua staf yayasan. Pembicaraan awal memang soal bantuan.

Lalu perlahan bergeser.

Siska bercerita tentang Jakarta, acara keluarga Wiratama, Eyang, dan masa-masa ketika Damar masih lebih muda. Semua orang tertawa ketika dia menceritakan Damar pernah tersesat saat latihan gabungan karena menolak bertanya pada warga.

Damar hanya diam, tapi tidak membantah.

Alya duduk di sisi lain meja, mendengar masa lalu yang tidak pernah menjadi miliknya.

Ketika makan selesai, Siska menoleh padanya.

"Dokter Alya beruntung. Damar orang yang sulit didekati, tapi kalau sudah menjaga seseorang, dia akan habis-habisan."

Ruangan mendadak sedikit hening.

Alya menatap Siska.

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Saya belum punya cukup data."

Kapten Rendra tersedak air.

Damar menatap Alya tajam.

Siska tersenyum tipis.

"Dokter lucu juga."

"Kadang. Kalau kurang tidur."

Setelah acara selesai, Alya keluar lebih dulu. Udara malam terasa lembap. Dia berjalan menuju rumah dinas tanpa menunggu siapa pun.

Langkah Damar menyusul dari belakang.

"Kamu marah?"

Alya tidak berhenti.

"Tidak."

"Kamu berjalan seperti mau menyerang tanah."

"Tanahnya salah."

"Alya."

Dia akhirnya berhenti.

"Mayor, saya lelah. Kalau Anda ingin membicarakan Mbak Siska, tidak perlu. Saya paham posisi saya sejak malam pertama."

Wajah Damar mengeras.

"Apa maksudmu?"

"Pernikahan ini status. Anda punya masa lalu. Saya punya pekerjaan. Kita tidak perlu saling menjelaskan."

Dia melanjutkan langkah.

Damar tidak mengejarnya.

Alya sampai di rumah dengan dada sesak, lalu menutup pintu pelan.

Dia tidak menangis.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, dia berharap dirinya benar-benar tidak peduli.

1
Ryani
di awal cerita masih baguss seruuu kenapa setelah 5 tahun jadi rada rada miring otak untuk mencerna🤣
Ryani
tunggu tunggu tunggu... lohhh kok pada ganti sih jln ceritanya🤣 yg paling membengongkann pas mamanya Alya ketemu Damar🤭 sebelumnya kan udah pda kenal karena perjodohan
Asni JM
suka dengan ceritanya,dn susunan kalimatnya sangat enak di baca
Azkiya Arsyila
bukannya laras itu kakaknya iya,tapi kok tiba2 jadi Alya yg jadi kakaknya
Ryani
iklannya banyak sekali, padahal pengen cepat baca jln ceritanya
Yuliati
penulisan kalimatnya terputus2 jadi capek bacanya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
membingungkan diepisode seblmya udh dipanggil.ayah dsn msh 9m dan msh mt ijin manggil ayah, yg nulis apa lg mabuk lem ya in. hahaha maaf thor bingung dgn critamu thor
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
bingung baca in, dihapus aja
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
aneh cerita ini awalnya damar dr keluarga wiratama kok ini berubah jd pradipta, trs kpn tdr bersama bikin sikembar, aneh, apa jangan2 ini cerita bkn ditulis asli tp nyomot 🤣🤣🤣maaf thor habisnya membagongkan lo, tiba2 hamil, tiba2 brubah marga, tiba2 penugasan dan pencarian pdhl slm in tgl dijkt juga, hhhmmm aneh
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
kok bisa hamil pdhl mrk blm prnh tdr bareng deh, anak siapa itu, slm tugas jg rmh mrk sndr2 kok hamil????
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
jg mau pindah alya harga drmu, tdk dianggap istri dikasih rmh dinas rusak, sekarang disuruh pulang ke rmh dinas enak bgt, harga diri alya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kurang sip, harusnya dokter tdk pdl dl dgn komandan, krn komandan tdk menghargai dan memperlakukanya spt istri, tinggal juga sndr, sedangkan yg lain suami istri tgl bersama2
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
harusnya dokter cuek dan gaksah pdl dulu sm damar, biarin sj damar mrs kok dokter tdk pdl, biar dia mrs seperti itu rsnya tdk dipedulikan orang
Khoirun Nisa
Agak kecewa sih sma jalan ceritanya, awalnya ceritanya bagus seru dan buat penasaran. tapi setelah sampai dibab alya pergi jadi agak aneh ceritanya. aku berhenti baca sampai bab ini saja biar gak emosi. tetap semangat ya thor💪
This Is Me
Wow! 5 tahun naik 2 level dari mayor ke letkol ke kolonel.
eec
nadia itu bukannya yg di telp sama Alya untuk minta tolong ya. kenapa jadi ketemu di pengungsian pas kondisi hamil besar. padahal di awal dah oke banget ceritanya. masuk bab ini jd ilang feel nya
Nung_che
kehidupan di pelosok kenapa ada percakapan seperti ini? setahu aku pelosok identik dg bahan bakar kayu.
bibuk Hannan & Afnan
suka banget sama karakter nya Alya kalem tegas tdk menghakimi 👍keren lah
bibuk Hannan & Afnan
wkwkwkwk barang bukti 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
makanya kenali lah Dan buka sedikit hatimu berikan ruang untuk Alya berteman lah dulu, tak kenal maka tak sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!