Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.

Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.

Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.

Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYONYA MUDA URAKAN.

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika mata Inayah perlahan terbuka. Hawa dingin dari pendingin udara langsung menyapu kulitnya. Namun, ada kehangatan yang tak biasa melingkupi tubuhnya.

Begitu pandangannya memfokus, jantung Inayah serasa melompat keluar. Wajah tampan Abiyan berada tepat di depan matanya, hanya berjarak beberapa sentimeter! Tubuh mungil Inayah berada sepenuhnya di dalam dekapan erat sang suami, terikat seperti guling.

Inayah refleks menarik napas dalam-dalam, hendak memekik histeris. Buset! Ini gua kenapa dipeluk Es Batu begini?!

Namun, tepat sebelum suara lengkingannya lolos dari tenggorokan, matanya menangkap raut wajah Abiyan yang sedang terpejam pulas. Deru napas pria itu terdengar begitu teratur dan tenang. Pemandangan di depannya mendadak terlihat sangat indah, sampai-sampai Inayah cepat-cepat menepuk mulutnya sendiri rapat-rapat.

Inayah membatu, lalu meneliti setiap inci wajah pria yang kini sah menjadi suaminya itu.

Jemari lentiknya perlahan terangkat, memberanikan diri menyentuh alis Abiyan yang hitam dan tebal.

"Alisnya tebal banget, buset... Nggak usah dicukur juga udah cetar," gumam Inayah pelan sekali. Ia lalu menyentuh alisnya sendiri yang lebih tipis namun tersusun rapi. "Punya gua mah tipis, tapi rapi sih Hehe."

Jemarinya kemudian berpindah, mengusap tulang hidung Abiyan yang tinggi dan tajam. "Hidungnya mancung banget... Kalau dipake main perosotan anak TK juga seru nih. Perfek banget hidungnya."

Pandangan Inayah lalu turun ke bibir tipis Abiyan yang berwarna merah alami. "Bibirnya merah... Tapi sayang banget, kalau ngomong kata-katanya selalu tajam, setajam silet. Padahal semuanya udah sempurna."

Inayah tersenyum konyol. Karena gemas, ia menyelipkan jari telunjuk dan jari tengahnya di kedua sudut bibir Abiyan, lalu menariknya perlahan ke atas.

"Tuh kan, manis kalau tersenyum begini... Nggak kayak biasanya, kayak es batu yang sulit banget dicairkan," bisik Inayah sambil terkikik geli.

"Sudah puas meraba seluruh wajah suamimu ini, hm?"

Suara berat dan serak khas bangun tidur mendadak bergema. Mata Abiyan perlahan terbuka, menatap lurus ke dalam manik mata Inayah yang langsung membelalak lebar.

Inayah meloncat bangun dan duduk bersila di atas ranjang, menjauhkan tangannya secepat kilat.

"Kamu... Kamu... Ternyata kamu pura-pura tidur?!" pekik Inayah gugup, wajahnya seketika merah padam. "Sejak kapan Mas bangun, hah?!"

Abiyan menyunggingkan senyum tipis, lalu menumpangkan kepalanya di atas salah satu tangannya yang tertekuk. "Sejak kamu mau berteriak tadi."

"Huh! Dasar pria es tukang tipu!" sungut Inayah salah tingkah. Ia buru-buru menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, hendak melompat turun.

Namun, cengkeraman tangan Abiyan di pergelangan tangannya menahan gerakan Inayah. "Mau ke mana kamu?"

"Mau sholat subuh!" bentak Inayah sambil berusaha melepaskan pegangan Abiyan. "Mau ngadu sama Allah biar dikasih jodoh yang bener, jangan kasih yang tukang tipu kayak Lu!"

Inayah menyentakkan tangannya hingga terlepas, lalu melangkah lebar-lebar menuju kamar mandi dengan wajah bersungut-sungut.

Abiyan terdiam di tempatnya, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Inayah keluar dengan wajah yang sudah basah oleh air wudhu. Tanpa mempedulikan Abiyan, gadis itu menyapu pandangan, mengambil mukena dari dalam lemari, menggelar sejadah, lalu mengikat kain mukenanya dengan sigap.

Abiyan memandangi punggung istrinya dari atas ranjang. Sebuah pertanyaan tiba-tiba mencubit batinnya. Sudah berapa lama aku tidak melakukan apa yang sedang dilakukan Inayah?

Ingatannya berputar jauh ke belakang. Terakhir kali ia bersujud dan menjalankan sholat adalah saat almarhumah ibunya masih hidup, ketika usianya baru 14 tahun. Sekarang umurnya sudah 31 tahun. Itu artinya, sudah 17 tahun ia mengabaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.

Sementara Inayah, gadis 25 tahun yang terlihat ceroboh, cerewet, dan terkadang suka berkata-kata kasar itu, sama sekali tidak pernah lupa menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta.

Abiyan tertegun. Ada rasa hangat sekaligus sentilan halus yang merayapi dadanya saat melihat kekhusyukan Inayah yang memimpin sholatnya sendiri hingga salam terakhir.

Begitu selesai berdoa dan merapikan mukenanya, Inayah menoleh. Ia mendapati Abiyan masih duduk mematung di tepi ranjang sambil menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Kok Mas cuma diam saja?" tanya Inayah. Kali ini nada bicaranya sedikit lebih lembut dari biasanya. "Emangnya Mas nggak sholat subuh?"

Abiyan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Matanya terlihat redup dan sayu. "Saya... sudah terlalu banyak dosa. Saya rasa Tuhan pasti tidak sudi menerima saya lagi."

Inayah menghentikan gerakan melipat mukenanya. Ia menatap Abiyan lurus-lurus.

"Kata siapa, hm?" tanya Inayah pelan namun tegas. "Justru Rabb saya akan senang banget kalau hambanya mau bertaubat dan datang kembali. Allah itu Maha Pengampun, Mas. Jadi jangan su'uzzon sama Allah."

Inayah berdiri, mengibas mukenanya sebentar. "Sekarang sebaiknya Anda cepat bersihkan diri deh, mumpung waktu subuhnya masih ada."

Mendengar ucapan polos yang begitu menohok dari istrinya, Abiyan perlahan bangkit dari tempat tidur. Tanpa mengeluh sedikit pun, ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Ketika Abiyan keluar dengan wajah segar dan basah oleh air wudhu, Inayah sudah tidak ada di kamar. Namun, sejadah putih itu masih dibiarkan terbentang rapi di atas lantai marmer.

Abiyan berdiri di depan sejadah tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, di usianya yang ke-31, Abiyan kembali mengangkat kedua tangannya, mengagungkan nama Sang Pencipta, dan bersujud memohon ampun atas segala kelalaiannya selama ini.

Setelah menyelesaikan sholatnya dan memanjatkan doa singkat, Abiyan merasa dadanya yang selama ini sesak mendadak menjadi jauh lebih lapang. Ia kembali duduk di atas kursi roda otomatisnya, memutar roda tersebut keluar dari kamar, lalu menaiki lift untuk turun ke lantai satu.

Begitu pintu lift terbuka di area aula bawah, Pak Darman, kepala pelayan, langsung melangkah cepat mendekatinya dengan raut wajah cemas.

"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa Pak Darman sopan. "Mohon maaf sebelumnya, Nyonya Muda saat ini sedang memasak di dapur... Padahal sudah saya larang berulang kali, tetapi Nyonya tetap memaksa."

Abiyan menghentikan kursi rodanya sejenak. "Biarkan saja. Jangan larang apa pun yang ingin dia lakukan di rumah ini."

"Baik, Tuan Muda," jawab Pak Darman terkejut, namun segera mengangguk patuh.

Abiyan menekan tombol kursi rodanya menuju area meja makan utama. Di sana, aroma gurih bumbu tumisan yang harum menyengat langsung menyambut indra penciumannya, membuat perutnya yang jarang terisi di pagi hari mendadak berbunyi.

Inayah baru saja meletakkan satu piring besar berisi nasi goreng telur yang masih beruap di atas meja.

"Nah! Pas banget turun!" seru Inayah girang begitu melihat Abiyan. "Ayo Mas, sarapan dulu sebelum kita berangkat ke rumah orang tua saya. Soalnya rumah saya lumayan jauh, nanti Mas kelaparan lagi di jalan."

Abiyan mengarahkan kursi rodanya mendekati meja makan. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sendok dan mulai menyantap nasi goreng buatan Inayah.

Baru satu suapan mendarat di lidahnya, Abiyan kembali terkesima. Nasi goreng itu terlihat sangat sederhana, hanya menggunakan telur dan bumbu dasar masakan rumah. Namun entah mengapa, rasanya jauh lebih nikmat dan terasa 'hidup' dibandingkan masakan mewah buatan koki pribadi yang saban hari disajikan untuknya.

Inayah yang memperhatikan Abiyan makan dengan lahab langsung tersenyum puas. "Gimana? Enak kan? Nasi goreng buatan Inayah gitu loh!"

Setelah piring mereka bersih, Inayah menopang dagunya di atas meja, menatap Abiyan dengan mata bulatnya. "Jadi kan Mas ikut ke kampung saya?"

Abiyan menyapu bibirnya dengan tisu. "Pergilah bersiap. Bara sudah menunggu kita di depan."

"Yeyyy! Asyikkk!"

Mendengar jawaban Abiyan, Inayah bersorak penuh semangat. Tanpa mempedulikan gaun mewahnya atau etika rumah tangga kaya, gadis itu langsung berbalik dan berlari kencang menuju lantai dua dengan menaiki anak tangga tiga-tiga sekaligus!

Para pelayan dan pengawal yang berdiri di sepanjang koridor langsung terpelongo dengan mulut sedikit terbuka. Biasanya, seorang Nyonya Besar di kediaman mewah akan berjalan dengan sangat anggun, pelan, dan sedikit jaga image.

Tapi Nyonya Muda mereka yang baru ini? Benar-benar terlihat seperti anak urakan yang lepas dari kandang!

Abiyan yang melihat kelakuan istrinya dari bawah hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.

1
Sribundanya Gifran
thor dmn drimu thor lanjut double up thor💪💪💪💪💪
Baek chanhun
nenek sm kakek tempat inayah sj,.agar awet muda
Sribundanya Gifran
lanjut
falea sezi
lanjuttt🤭 q kirim hadiah
Naftali Hanania
keren nayah...🤩 biarpun tetep aja ada kejadian lucu nya 🤭✌️
Baek chanhun
next thourt💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
mama
top mar kotop abiyan gk ad duany pokok ny,sat set gk bakal ngasih celah buat musuh 😄
Teh Fufah
keren nayah nih... udah punya pengawal
Sribundanya Gifran
thor up yg bnyak thor💪💪💪💪💪
Mutiara Nisak
mimpi apa dirimu nay semalam,dpt cincin seharga milyaran,klo hilang belinya kyk beli kerupuk pasir....😄😄😄
Naftali Hanania
wadaw...ini sultan di atas sultan ya...10m klk ilqng tinggal beli lg.....mantabbbb👍👍👍👍
Naftali Hanania
gak dpt mangsa baru..mangsa lama diudak - udak 😎
Naftali Hanania
begitu kalok jodoh kali ya....saling ngelengkapin 😍👍
Naftali Hanania
🤣🤣🤣 kaget kali sm.interaksinya nayah sm nrnek nya....gak pernah gitu ya byan sm nenek nya 😁✌️
Naftali Hanania
kasihtau gak ya....😁✌️🤭
Naftali Hanania
👍👍👍👍
Naftali Hanania
no jaim2 ya inna 🤭
Naftali Hanania
🤣🤣🤣 inna tidurnya sorah...parah 🤣🤣🤣🤣
Naftali Hanania
mendadak jd orang ssuper duper have ya In 🤭👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!