Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang Tak Bisa Disembunyikan

Diandra menatap Bastian dengan gugup. Suaminya itu memang selalu punya cara untuk membuatnya salah tingkah.

"Ke sini baik-baik, atau aku seret kamu."

"Aku bisa datang sendiri. Kamu diam saja."

Bastian terkekeh kecil. "Kalau begitu, tutup mata dulu."

"Kenapa harus tutup mata?"

"Aku mau berganti pakaian."

Bastian menurut. Ia menyandarkan kepala di tepi bak mandi dan memejamkan mata, sementara Diandra berusaha menenangkan detak jantungnya.

Setelah yakin Bastian tidak membuka mata, Diandra masuk ke dalam bak mandi yang dipenuhi air hangat dan busa. Ia duduk dengan hati-hati di sisi suaminya.

"Sudah."

Bastian membuka mata.

Tatapannya langsung bertemu dengan wajah Diandra yang hanya terlihat dari balik busa. Sesaat, Bastian terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat dadanya terasa sesak.

"Kamu cantik," ucapnya pelan.

Diandra langsung mengalihkan pandangan. "Apaan sih."

"Gugup?"

"Enggak."

Padahal jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

Bastian tersenyum tipis. "Aku baru sadar, ternyata selama ini aku terlalu sibuk melihat hal-hal lain sampai lupa memperhatikan istriku sendiri."

Diandra terdiam.

Kalimat sederhana itu justru membuat hatinya bergetar.

Bastian mengambil spons dan mulai membantu membersihkan punggung Diandra dengan lembut. Tidak ada paksaan, hanya sentuhan hati-hati yang membuat suasana di antara mereka menjadi semakin canggung sekaligus hangat.

Diandra menunduk.

"Mas..."

"Hm?"

"Kamu kenapa jadi begini?"

"Bisa jadi karena aku mulai sadar betapa berharganya kamu."

Diandra tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidak sedang bertengkar. Tidak ada amarah, tidak ada jarak.

Hanya ada mereka berdua, duduk berdampingan dalam keheningan yang perlahan terasa nyaman.

Bastian menatapnya lembut.

"Diandra."

"Iya?"

"Mulai sekarang, aku ingin belajar menghargai kamu."

Diandra menatapnya. Kali ini, ia tidak menghindar.

"Kalau begitu, buktikan."

Diandra menatap Bastian dengan ragu.

"Aku pernah membaca buku kalau pria bisa merasa tidak nyaman ketika sedang terangsang," ucapnya pelan.

Bastian tersenyum tipis. "Memang benar. Tapi tenang saja. Aku sudah berjanji tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuanmu."

Diandra mengangguk. "Aku belum siap."

"Oke. Aku tidak akan memaksa."

Bastian kemudian kembali memijat pundak istrinya. Sentuhannya perlahan membuat tubuh Diandra lebih rileks. Ia bahkan sempat memejamkan mata karena nyaman.

Namun, jauh di dalam hati, Diandra tetap berhati-hati.

Bukan berarti ia tidak menyayangi suaminya. Hanya saja, ia ingin semua yang terjadi di antara mereka lahir dari perasaan yang tulus. Ia tidak ingin menjadi sekadar pelarian ketika hati Bastian masih menyimpan Serly.

"Sandaran sini."

Diandra membuka mata ketika Bastian mengajaknya bersandar. Ia akhirnya menurut dan menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Kemudian Diandra menoleh.

"Mas..."

"Hm?"

Tatapan Bastian jatuh pada wajah istrinya. Ada keraguan di matanya, tetapi juga kelembutan yang selama ini jarang Diandra lihat.

"Boleh aku menciummu?"

Diandra terdiam sesaat.

"Sejak kapan kamu meminta izin?"

Bastian terkekeh pelan. "Sejak aku sadar kamu berhak menentukan batasanmu sendiri."

Kalimat itu membuat Diandra terdiam.

Akhirnya ia mengangguk kecil.

Bastian mendekat dan mengecup bibir istrinya dengan lembut. Tidak terburu-buru, tidak memaksa. Hanya sebuah ciuman singkat yang membuat keduanya sama-sama terdiam setelahnya.

Diandra menunduk, pipinya terasa hangat.

Bastian tersenyum.

"Kenapa?"

"Enggak apa-apa."

Untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa begitu dekat.

Namun tiba-tiba terdengar suara dari luar.

"DADDY! MOMMY!"

Diandra langsung tersentak.

"Bastian, itu Azzura."

Suara kecil itu kembali terdengar.

"Daddy, Mommy, buka pintunya!"

Bastian menghela napas sambil tersenyum. "Sepertinya putri kita sudah tidak sabar."

"Ya sudah, cepat buka pintunya."

Bastian segera berdiri dan mengambil bathrobe. Diandra juga bersiap keluar dari bak mandi.

Begitu pintu dibuka, Azzura langsung berlari menghampiri mereka dengan mata berkaca-kaca.

"Daddy lama sekali!"

Bastian segera menggendong putrinya.

"Kenapa, Sayang? Kok sampai menangis?"

Azzura memeluk leher ayahnya erat-erat.

"Daddy nggak mau buka pintu. Azzura kira Daddy sama Mommy nggak sayang Azzura lagi."

Diandra langsung mendekat dan mengusap rambut putrinya.

"Sayang, tentu Mommy dan Daddy sayang sekali sama kamu."

Azzura mengangguk, lalu menyandarkan kepala di bahu Bastian.

Bastian menatap Diandra sejenak.

Ada senyum kecil di wajah mereka.

Momen sederhana itu membuat Bastian semakin sadar bahwa kebahagiaan yang selama ini ia cari ternyata sudah berada begitu dekat dengannya.

"Jangan sentuh aku!"

Azzura menepis tangan Diandra saat sadar wanita itu hendak mengusap rambutnya kembali.

"Sayang, jangan begitu. Mommy cuma mau menenangkan kamu," ujar Bastian lembut, tetapi tegas.

Azzura kembali terisak. "Daddy sekarang lebih membela Mommy daripada Azzura. Daddy sudah nggak sayang Azzura lagi."

"Jangan bilang begitu, Sayang."

"Daddy turunkan Azzura. Azzura mau tinggal sama Mama Serly saja."

Bastian menghela napas. Ia menggendong putrinya keluar dari kamar, sementara Diandra hanya berdiri diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Sebelum menuruni tangga, Bastian sempat menoleh kepada Diandra. Tatapan mereka bertemu, tetapi tak satu pun berbicara.

Diandra hanya bisa mengembuskan napas panjang.

Hubungannya dengan Bastian memang mulai membaik, tetapi kini ia justru merasa semakin sulit mendekati Azzura. Entah bagaimana semuanya akan berakhir. Untuk sementara, Diandra memilih memberi mereka waktu.

"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi."

Bastian duduk di sofa sambil memangku Azzura. Tangis putrinya belum juga reda. Tubuh kecil itu bahkan masih bergetar karena terlalu lama menangis.

"Kenapa sampai menangis seperti ini?"

Bastian memeluknya lebih erat.

"Daddy jangan tinggalin Azzura."

Bastian terdiam sesaat.

"Mana mungkin Daddy meninggalkan kamu. Daddy selalu ada untuk kamu."

Azzura menyembunyikan wajahnya di dada sang ayah.

"Memangnya siapa yang bilang Daddy akan pergi?"

Azzura menggeleng pelan.

"Kalau begitu, kenapa kamu berpikir Daddy akan meninggalkanmu?"

Azzura tidak menjawab.

Bastian mengusap rambutnya dan mencium kening putrinya.

"Azzura boleh cerita sama Daddy. Daddy mau dengar."

Beberapa detik kemudian, suara kecil itu terdengar lirih.

"Azzura nggak suka Daddy sibuk sama Mommy terus."

Bastian menatap putrinya dengan lembut.

"Siapa bilang Daddy melupakan Azzura?"

"Tadi Daddy sama Mommy lama banget buka pintu."

Bastian tersenyum kecil.

"Itu karena Daddy dan Mommy sedang mandi. Bukan karena Daddy lupa sama kamu."

Azzura terdiam sebentar, lalu mengangkat wajahnya.

"Tapi Azzura takut Mommy merebut Daddy."

Bastian menggeleng pelan.

"Mommy nggak akan merebut Daddy dari Azzura. Kamu tetap anak Daddy yang paling Daddy sayangi."

"Benarkah?"

"Benar. Tidak ada siapa pun yang bisa menggantikan posisi Azzura di hati Daddy."

Azzura akhirnya mengangguk kecil.

Bastian mengusap pipinya yang masih basah.

"Jadi jangan takut lagi, ya. Daddy tetap punya waktu untuk Azzura dan Mommy."

Azzura kemudian kembali memeluk ayahnya erat.

Di kejauhan, Diandra yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu hanya bisa tersenyum tipis. Ia sadar, untuk mendapatkan tempat di hati Azzura, ia tidak cukup hanya menjadi istri Bastian.

Ia juga harus belajar menjadi seseorang yang bisa dipercaya oleh putri kecil itu.

"Nah, begitu dong. Sekarang lihat Daddy."

Azzura perlahan mengangkat wajahnya. Matanya masih sembap, tetapi tangisnya mulai mereda.

Bastian menatap putrinya dengan penuh kasih.

"Dengar baik-baik, Sayang. Daddy dan Mommy sangat menyayangi Azzura dan Azzam. Kami juga nggak akan pernah meninggalkan kalian. Jadi, jangan berpikir macam-macam tentang Daddy ataupun Mommy, ya."

Azzura mengangguk kecil.

"Azzura tahu Daddy sayang sama Azzura," katanya lirih. "Tapi Mommy?"

Bastian tersenyum lembut.

"Mommy juga sayang sama kamu. Mommy bahkan sudah menganggap Azzura seperti anaknya sendiri."

Serly terdiam.

"Begini, Daddy mau tanya. Selama ini Mommy pernah membentak Serly?"

Serly menggeleng.

"Mommy pernah memukul Azzura?"

Serly kembali menggeleng.

"Kalau begitu, kenapa Serly merasa Mommy nggak menyayangi Serly?"

Azzura menunduk. Kali ini ia tidak langsung menjawab.

Bastian mengusap rambut putrinya perlahan.

Ia tahu, perasaan anak seusia Azzura tidak selalu mudah dipahami. Usianya masih kecil, sehingga perhatian sedikit saja bisa terasa sangat besar baginya.

Mungkin selama ini Azzura takut kehilangan kasih sayang ayahnya.

Apalagi Diandra bukan ibu kandungnya. Bisa jadi, tanpa disadari, kehadiran Diandra membuat Azzura merasa posisinya di hati Bastian akan berubah.

Padahal dulu Azzura justru sangat dekat dengan Diandra.

Bastian sendiri tidak mengerti sejak kapan sikap putrinya berubah.

Ia hanya berharap, perlahan-lahan Azzura bisa memahami bahwa kasih sayang seorang ayah tidak akan berkurang hanya karena ayahnya memiliki seseorang yang dicintai.

Bastian kembali menatap putrinya.

"Bagaimana? Azzura sudah nggak sedih lagi?"

Azzura mengusap pipinya yang basah, lalu mengangguk pelan.

"Sedikit."

Bastian tersenyum.

"Kalau begitu, sini peluk Daddy."

Tanpa ragu, Azzura langsung memeluk ayahnya erat.

Bastian membalas pelukan itu sambil mengusap punggung putrinya.

Dari kejauhan, Diandra hanya memperhatikan mereka dalam diam.

Ada satu hal yang kini ia sadari.

Mencintai Bastian ternyata bukan satu-satunya hal yang harus ia perjuangkan.

Ia juga harus memenangkan hati Azzura.

"Nggak, Daddy."

"Kalau begitu, Azzura tunggu di kamar, ya. Daddy mau ganti baju dulu. Setelah itu kita makan malam bersama."

"Iya, Daddy."

Bastian mengecup kening putrinya sebelum meninggalkan kamar.

Beberapa saat kemudian, Sean datang dan langsung menghampiri keponakannya yang masih duduk dengan wajah murung.

"Kamu kenapa menangis?"

Azzura hanya menunduk.

Ia takut menceritakan semuanya. Setiap kali ia mengatakan hal buruk tentang Diandra, Sean biasanya langsung membelanya.

Sean menghela napas, lalu duduk di samping adiknya.

"Tenang. Om nggak akan marah. Om cuma mau tahu."

Azzura akhirnya melirik.

"Tadi kamu ke kamar Daddy sama Mommy, ya?"

Azzura mengangguk.

"Kenapa? Bukannya tadi kamu sedang menelepon Mama Serly?"

Azzura kembali diam.

Sean sebenarnya sudah beberapa kali mendengar percakapan antara keponakannya dan Serly. Bahkan Serly juga pernah menghubunginya. Namun, Sean selalu mengakhiri percakapan ketika pembicaraan mulai berubah menjadi tuduhan terhadap Diandra.

Ia tidak suka ketika ada orang yang mencoba membuatnya membenci Diandra tanpa alasan yang jelas.

Sean menatap keponakannya.

"Mama Serly bilang apa sampai kamu datang ke kamar Daddy dan Mommy?"

Azzura masih ragu.

"Nggak apa-apa. Ceritakan saja. Om janji nggak akan marah."

Sean tersenyum dan mengusap rambut keponakannya.

Akhirnya Azzura mulai bercerita.

"Mama bilang ibu tiri itu jahat. Katanya ibu tiri pasti ingin merebut ayah kandung anaknya. Mama juga bilang ibu tiri bisa membuat Daddy meninggalkan anak-anaknya."

Sean mengernyit.

"Lalu?"

"Katanya... nanti Mommy Diandra akan membuat Daddy pergi dari kita. Terus kalau kita menghalangi, Mommy bisa menyakiti kita."

Sean terdiam.

Tangannya mengepal, menahan amarah yang mulai muncul.

Ia tidak habis pikir bagaimana Azzura bisa mempercayai cerita seperti itu.

Memang, tidak semua hubungan antara anak dan ibu tiri berjalan baik. Namun, Diandra tidak pernah menunjukkan sedikit pun niat untuk menyakiti mereka.

Justru selama ini Diandra selalu berusaha menjaga perasaan Azzura dan Azzam.

"Kenapa om diam?" tanya Azzura takut-takut. "Kakak marah karena Serly cerita?"

Sean menarik napas panjang.

Ia memang marah, tetapi bukan kepada Azzura.

"Nggak. Om nggak marah sama kamu."

Sean mengusap kepala keponakannya sekali lagi.

"Makasih sudah mau cerita. Tapi tadi kenapa kamu nggak bilang semuanya kepada Daddy?"

Azzura terdiam.

"Aku takut Daddy marah."

"Kalau ada sesuatu yang membuat kamu takut, kamu harus cerita. Jangan menyimpan semuanya sendiri."

Azzura mengangguk perlahan.

Sean menatap keponakannya dengan serius.

"Dan satu lagi, jangan langsung percaya semua yang orang bilang. Kamu harus melihat sendiri bagaimana seseorang memperlakukan kamu."

Azzura menunduk.

Untuk pertama kalinya, keraguan kecil mulai muncul dalam pikirannya.

Mungkin selama ini ia memang terlalu cepat mempercayai perkataan Mama Serly.

"Mama Serly bilang aku nggak boleh menceritakan semua yang dia katakan kepada Daddy atau Mommy."

Sean menghela napas pelan.

"Kalau begitu, mulai sekarang kalau Mama Serly mengatakan sesuatu yang membuat kamu bingung, ceritakan kepada Om. Jangan disimpan sendiri."

Azzura mengangguk.

"Oke."

"Bagus."

Sean tersenyum lalu mengacak rambut keponakannya dengan gemas. Azzura pun ikut tersenyum. Ia merasa lega karena kakaknya tidak memarahinya.

"Ayo, kita ke ruang makan. Nanti Daddy mencari kita."

"Iya."

Sean menggandeng tangan Azzura dan membawanya menuju ruang makan.

Namun, ketika melewati ruang tengah, langkah mereka berhenti.

Di sana, Sean melihat seseorang berdiri di depan sebuah foto pernikahan berukuran besar yang tergantung di dinding.

Itu Bastian.

Pria itu tampak sedang memperhatikan foto Bastian dan Diandra dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Daddy!" seru Azzura dan Azzam hampir bersamaan.

Bastian yang sedang melamun langsung menoleh.

Senyumnya seketika merekah ketika melihat kedua anaknya.

"Hai, dua kesayangan Daddy!"

Ia membuka kedua tangannya.

Azzura dan Azzam langsung berlari menghampiri lalu memeluknya.

"Azzam sayang Daddy!"

"Azzura juga sayang!"

"Daddy juga sayang kalian."

Tawa kecil mereka memenuhi ruang tengah.

Tak lama kemudian, Diandra muncul dari arah koridor. Semuanya tersenyum melihat anak-anak yang perlahan kembali pulih.

"Sean," sapa Bastian.

Sean berdiri dan menghampiri kakaknya. Mereka berjabat tangan, kemudian saling menepuk bahu dengan akrab.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Bastian.

"Baik. Kebetulan tadi aku lewat, jadi sekalian mampir."

Diandra tersenyum ramah.

"Sudah lama nggak datang."

Sean mengangguk.

"Iya. Makanya malam ini aku mau menghabiskan waktu bersama keluarga."

Bastian menepuk bahu adiknya.

"Kalau begitu, ikut makan malam."

Sean tersenyum.

"Boleh. Aku juga sudah kangen masakan rumah."

Diandra ikut tersenyum, sementara Azzura dan Azzam kembali menarik tangan Sean menuju ruang makan.

Suasana yang sempat tegang perlahan berubah hangat.

Namun, tatapan Sean sempat tertuju pada foto pernikahan Bastian dan Diandra.

Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.

Dan malam itu, tanpa seorang pun menyadarinya, kedatangan Sean akan membawa cerita baru bagi keluarga mereka.

"Bagaimana kabarmu? Kapan pulang?"

"Kemarin, Bang. Maaf baru sempat mampir."

Bastian mengangguk, lalu Sean mengalihkan pandangannya kepada Diandra.

Sean tersenyum dan membuka kedua tangannya, hendak menyambut Diandra dengan pelukan. Namun, Bastian langsung melangkah dan menahan adiknya.

Sean terkekeh.

"Bang, masih saja protektif."

"Jangan peluk istri gue di depan gue."

"Kalau di belakang Abang boleh?"

Bastian langsung menatap tajam.

"Silakan. Tapi setelah itu, jangan berharap bisa selamat."

Sean tertawa lepas.

"Siap, Bang. Cuma bercanda."

Diandra hanya bisa menggeleng melihat tingkah dua bersaudara itu.

Bastian memang selalu menunjukkan sisi posesifnya ketika berhubungan dengannya. Sikap itu terkadang membuat Diandra bingung, apalagi jika mengingat bagaimana hubungan mereka sebelumnya.

Namun setidaknya, sekarang ia bisa melihat bahwa Bastian mulai benar-benar memperlakukannya sebagai seseorang yang penting.

"Daddy."

Suara Azzura membuat mereka menoleh.

"Azzura lapar. Mau makan."

"Ayo."

Diandra tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Azzura dan Azzam.

Namun Azzura justru menghampiri Bastian dan menggenggam tangannya.

"Azzura mau sama Daddy."

Diandra sempat terdiam. Ada sedikit rasa perih yang menyentuh hatinya.

Tetapi sebelum ia sempat menarik tangannya, Azzam langsung menggenggam tangannya.

"Kalau begitu Azzam sama Mommy."

Diandra tersenyum hangat.

"Iya, Sayang."

Mereka berjalan bersama menuju ruang makan.

Diandra merasa sedikit lega.

Setidaknya, di rumah ini masih ada Azzam yang selalu membuatnya merasa diterima.

Sean yang melihat mereka berjalan lebih dulu hanya tersenyum.

"Kebetulan gue belum makan. Ikut makan, ya, Bang."

"Nggak."

"Terima kasih, Bang."

Sean langsung berjalan santai menuju ruang makan tanpa menunggu izin.

Bastian menggeleng-gelengkan kepala.

Adiknya memang tidak pernah berubah. Semakin dilarang, semakin senang mengabaikan larangan.

Sejak kecil, Sean memang sudah dekat dengan Bastian. Begitu juga dengan Serly. Keluarga mereka sudah saling mengenal sejak lama, sehingga Sean tumbuh seperti bagian dari keluarga sendiri.

Sesampainya di ruang makan, Sean langsung mengambil tempat duduk.

Begitu mencicipi hidangan yang tersaji, matanya langsung membesar.

"Serius, Bang? Setiap hari makan seperti ini?"

Bastian mengangkat alis.

"Kenapa?"

Sean kembali mencicipi makanan di depannya.

"Enak banget. Mbak, ternyata kamu jago masak."

Diandra tersenyum kecil.

"Ah, biasa saja."

"Biasa dari mana? Kalau begini terus, gue bisa betah tinggal di sini."

Bastian langsung melirik tajam.

Sean tertawa.

"Oke, oke. Gue cuma bercanda."

Suasana meja makan pun berubah hangat.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang melelahkan, Diandra merasa rumah itu tidak lagi sepenuhnya terasa asing.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu masih ada satu hati yang harus ia menangkan.

"Diandra, boleh tambah nasi?"

Sean mengangkat piringnya sambil tersenyum.

Diandra mengangguk. "Boleh. Sini, biar aku ambilkan."

Baru saja Diandra hendak mengambil piring itu, Bastian langsung menariknya.

"Lo punya tangan sendiri, kan? Ambil sendiri."

Sean terkekeh. "Bang, cuma minta tolong sebentar."

Diandra tersenyum melihat keduanya.

"Sudah, nggak usah ribut. Sini."

Ia mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Sean.

Sean menerima piringnya dengan senyum lebar.

"Terima kasih, Diandra."

"Sama-sama."

Sean sempat memperhatikan Diandra beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Perempuan itu memang terlihat anggun, bahkan ketika hanya sedang mengambilkan makanan.

Namun lamunannya langsung buyar ketika Bastian berdeham keras.

"Ehem."

Sean buru-buru mengalihkan pandangan.

"Iya, Bang?"

"Bukan apa-apa."

Sean hanya nyengir lalu kembali menikmati makanannya.

Setelah selesai makan, Serly dan Azzam pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi. Sementara itu, Bastian, Diandra, dan Sean masih berada di ruang makan.

Sean menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap perut.

"Kenyan banget."

Diandra tertawa kecil.

"Makanya jangan makan terlalu banyak."

"Kalau masakan kamu seenak ini, susah berhenti."

Bastian langsung menatap adiknya.

Sean mengangkat kedua tangan.

"Santai, Bang. Gue cuma memuji masakannya."

"Mulut lo itu memang nggak pernah bisa diam."

Sean terkekeh.

Setelah beberapa saat, ia hendak menyusul Serly dan Azzam ke ruang tengah.

Namun, Bastian langsung menghentikannya.

"Mau ke mana?"

"Mau main sama Serly dan Azzam."

Bastian menyipitkan mata.

"Yakin?"

Sean mengernyit. "Yakin apanya?"

"Jangan-jangan bukan mau main sama mereka. Dari tadi mata lo ke mana-mana."

Sean tertawa kecil.

"Wah, ketahuan, ya?"

Ekspresi Bastian langsung berubah serius.

"Sean."

Sean masih tersenyum.

"Kenapa, Bang?"

"Lo punya perasaan sama Diandra?"

Sean terdiam sebentar, kemudian mengangkat bahu.

"Kalau gue bilang iya?"

Bastian menatapnya tajam.

"Jangan bercanda."

"Gue serius."

Sean menghela napas.

"Sebelum lo menikah dengan Diandra, gue memang sudah mengenalnya dan pernah menyukainya. Cuma waktu itu gue nggak pernah bilang apa-apa."

Rahang Bastian mengeras.

"Dan sekarang?"

"Kalau hubungan kalian benar-benar berakhir, mungkin gue akan mencoba mendekatinya."

Belum sempat Sean melanjutkan, Bastian sudah mencengkeram kerah bajunya.

"Jaga ucapan lo."

Sean justru tersenyum tipis, seolah tidak gentar.

"Gue cuma jujur, Bang."

Bastian mendekatkan wajahnya.

"Diandra bukan permainan. Dan selama dia masih menjadi istriku, jangan pernah berpikir untuk melewati batas."

Sean menatap kakaknya beberapa detik, kemudian melepaskan tangan Bastian dari kerahnya.

"Oke. Gue ngerti."

Ia tersenyum tipis.

"Tapi perasaan nggak bisa diperintah, Bang."

Bastian menatap Sean dengan dingin.

Ia tidak menyukai arah pembicaraan itu.

Untuk pertama kalinya, Bastian menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang mulai melihat Diandra sebagai perempuan yang berharga.

Ada orang lain yang ternyata sudah lama menyimpan perasaan untuk istrinya.

"Gue sudah dewasa, Bang. Kalau lo terus menyia-nyiakan Diandra, jangan salahkan gue kalau suatu hari gue benar-benar mencoba merebut hatinya."

Bastian yang sejak tadi menahan emosi akhirnya kehilangan kesabaran.

Bug!

Pukulannya mendarat di wajah Sean.

Sean terhuyung dan menyentuh sudut bibirnya yang terluka. Namun, bukannya marah, ia justru terkekeh kecil.

"Kalau dulu kita nggak sedekat ini, mungkin gue sudah membalas."

Bastian menatapnya dingin.

"Pergi. Dan jangan pernah datang ke rumah ini lagi kalau niat lo masih seperti itu."

Sean mengusap sudut bibirnya.

"Oke."

Ia berbalik menuju mobil, tetapi sebelum masuk, Sean sempat menoleh.

"Gue serius, Bang. Kalau lo terus membuat Diandra merasa tidak dihargai, jangan kaget kalau suatu hari ada orang lain yang membuat dia merasa berharga."

Setelah mengatakan itu, Sean masuk ke mobil dan pergi.

"Jangan terlalu dekat dengan Sean."

Diandra yang sedang menyisir rambutnya menoleh ketika Bastian masuk ke kamar.

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan."

Diandra meletakkan sisirnya.

"Aku sudah menganggap Sean seperti adikku sendiri."

Bastian mengernyit.

"Nggak ada hubungan seperti kakak-adik antara laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki hubungan darah."

"Ada."

"Siapa?"

Diandra menatap suaminya.

"Kamu dan Serly."

Bastian langsung terdiam.

"Kamu sendiri yang pernah bilang Serly sudah seperti adik yang sangat kamu sayangi. Jadi kenapa aku nggak boleh menganggap Sean sebagai adikku sendiri?"

"Itu berbeda."

Diandra mengernyit.

"Apa bedanya?"

Bastian tidak langsung menjawab.

Diandra menatapnya penuh tanda tanya.

"Kalau kamu boleh dekat dengan Serly tanpa ada perasaan lain, kenapa kamu langsung curiga ketika aku dekat dengan Sean?"

Bastian menghela napas.

"Karena aku tahu cara Sean memandangmu."

Diandra terdiam.

"Dan aku nggak suka itu."

Nada suara Bastian terdengar tegas, tetapi ada sesuatu yang berbeda di baliknya.

Cemburu.

Untuk pertama kalinya, Diandra menyadari bahwa mungkin rasa takut Bastian bukan semata-mata karena Sean.

Bisa jadi, Bastian takut kehilangan dirinya.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!