SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: BAYANG-BAYANG DI BALIK MEJA
Setelah kejadian mencekam di kamar mandi sore itu, atmosfer di rumah berlantai dua tersebut terasa kian kontras. Di satu sisi, Aluna merasa lega karena Devan kembali berhasil membalikkan situasi kritis secara luar biasa. Namun di sisi lain, kesadaran bahwa mereka berdua bertaruh dengan risiko yang sangat besar mulai menggerogoti ketenangan batin Aluna.
Malam harinya, aroma masakan semur daging dan sup sayur yang dibuat Ibu memenuhi area dapur dan ruang makan. Ibu memanggil seluruh anggota keluarga untuk duduk sarapan malam bersama.
Di meja makan kayu berukir itu, posisi duduk mereka tertata rapi. Ayah Danu duduk di kepala meja, Ibu di sisi kanan, sementara Devan dan Aluna duduk berhadapan di sisi kiri. Lampu gantung kristal di atas meja memancarkan pendar hangat, menciptakan suasana keluarga yang sekilas tampak sangat harmonis.
"Aluna, makanannya dimakan. Dari tadi cuma diaduk-aduk saja," tegur Ayah Danu lembut, menyadari putri tunggalnya lebih banyak melamun menatap piringnya.
Aluna tersentak kecil dari lamunannya. "Eh... iya, Yah. Ini Aluna makan kok."
Ibu melirik Aluna, lalu pandangannya beralih menatap Devan yang sedang memotong daging di piringnya dengan tenang dan rapi.
"Devan," panggil Ibu tiba-tiba dengan nada suara yang perlahan dan datar.
Devan menghentikan pisau makannya sejenak, mendongak menatap Ibu dengan raut wajah santun yang biasa. "Iya, Bu?"
"Ibu perhatikan... akhir-akhir ini kamu perhatian sekali ya sama adikmu," ujar Ibu seraya menyipitkan mata sedikit, meneliti reaksi ekspresi di wajah Devan. "Waktu Aluna sakit minggu lalu kamu yang paling sibuk belikan obat, kemarin waktu lehernya gatal kamu juga yang langsung ambilkan salep. Bahkan tadi sore kamu sampai kepikiran pakaikan kamar mandi atas buat adikmu."
Pertanyaan Ibu menggantung di udara dengan tensi dingin yang perlahan merayap naik. Aluna di seberang meja seketika menahan napasnya rapat-rapat, jemarinya di bawah meja meremas kain roknya dengan sangat kuat.
Namun, Devan tidak membiarkan keraguan Ibu berkembang menjadi ancaman. Pria itu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman alami seorang kakak sulung yang dewasa dan bertanggung jawab.
"Bukannya Ayah dan Ibu yang selalu pesan ke Devan buat jaga Aluna dengan baik?" balas Devan dengan suara mantap dan nada yang sangat wajar. Devan menatap Ayah Danu sejenak sebelum kembali menatap Ibu. "Sebagai kakak, Devan cuma menjalankan tugas Devan di rumah ini. Apalagi Aluna satu-satunya adik Devan sekarang."
Ayah Danu terkekeh pelan menyetujui, mengangguk bangga pada putra sulungnya. "Nah, benar kata Devan itu, Ma. Kamu ini kok malah aneh, punya anak sulung yang perhatian dan dewasa sama adiknya malah dicurigai terus. Justru kita harus bersyukur anak-anak kita bisa saling menyayangi dan akrab begini."
Ibu menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan meski sisa tatapan selidik di matanya belum sepenuhnya sirna. "Ya... Ibu cuma mau memastikan saja. Soalnya kalian berdua kan sudah sama-sama dewasa. Ibu cuma tidak mau ada hal-hal aneh di rumah ini."
"Pasti tidak ada, Bu," jawab Devan singkat namun tegas.
Malam makin larut, sekitar pukul sebelas malam. Seluruh lampu di lantai bawah sudah dimatikan, menyisakan keheningan pekat yang menyelimuti seluruh sudut rumah.
Aluna berdiri di dekat jendela kamarnya di lantai atas, menatap rintik hujan gerimis yang mulai membasahi kaca luar. Pikiran Aluna berkecamuk. Kata-kata Ibu di meja makan tadi terus berputar di kepalanya.
Tok... tok...
Pintu kamar Aluna terdorong terbuka sedikit tanpa suara. Sosok tegap Devan menyusup masuk ke dalam kamar yang remang-remang, langsung mengunci pintu secara rapat.
"Kak Devan..." bisik Aluna panik saat Devan mendekat. "Kamu ngapain ke sini lagi? Ibu baru saja—"
Sebelum Aluna menyelesaikan kalimatnya, Devan menarik pinggang mungil adiknya dan merengkuhnya rapat-rapat ke dalam dadanya. Devan menunduk, menyandarkan dahinya di bahu Aluna, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang selalu membuatnya tenang.
"Biar Ibu curiga sesuka hatinya," bisik Devan serak di leher Aluna. Suaranya terdengar begitu posesif dan penuh tekad yang bulat. "Tidak akan ada satu pun kata atau kecurigaan dari mereka yang bisa bikin aku mundur untuk memiliki kamu, Aluna."
Aluna memejamkan mata, membalas pelukan hangat Devan di tengah keremangan malam. Di balik dinding rumah yang dipenuhi mata-mata kecurigaan, mereka sadar bahwa ikatan terlarang ini sudah terlalu dalam untuk bisa dilepaskan kembali.