Indonesia
NovelToon NovelToon
Rafka Dan Ragam Senja

Rafka Dan Ragam Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Nirmaya

Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.

Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?

Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saudara

“Abang!” tanpa ragu Senja melompat ke arah abang nya dan dengan cepat di tangkap oleh sang abang.

“aduh, Senja.. sakit pinggang abang, dek” keluh Wisnu, tapi meski begitu ia tidak dengan cepat menurunkan adek perempuannya dari gendongannya.

Senja cemberut “memang Senja berat ya? Berat badan Senja ngga nambah kok!” karena cukup merasa kasihan Senja turun dengan sendirinya. Segera menyalami Abang dan Kakak Iparnya.

“ya ngga berat, tapi Senja sudah gede. Ngga kuat-lah sudah abang” Wisnu menerima uluran tangan adeknya untuk di salimin.

“cihh, jangan bilang kak Hiza ngga pernah abang gendong ya?” tuduh sadis Senja yang jelas langsung mendapat tabokan pelan dari sang Abang.

“bicara yang sopan, itu beda!” Suami tak terima sedangkan sang Istri tertawa tawa. Itu lah pasangan pasutri ini.

“benar tuh, Nja. Abang kalau kakak minta gendong banyak alasan, bilang sakit pinggang lah, encok, patah tulang” nah makin di beberkan pula oleh Kakak Iparnya.

Jangan tanya wajah masam milik Wisnu, bentar lagi marah tuh “eh jangan gitu kak. Wajar faktor umur” Senja dan Hiza tertawa, dan yang lagi ditertawakan masa bodo. Meladeni dua perempuan itu bikin malas. Tak mau mengalah.

“eh, sudah berapa bulan kak?” sekedar informasi Hiza saat ini tengah hamil anak pertama mereka. Sedikit dampak nya ke mood Wisnu, karena Wisnu juga merasakan kehamilan simpatik.

Hiza tersenyum sembari mengelus pelan perutnya yang mulai membuncit “jalan tiga bulan, dek” mata Senja tampak berbinar. Masih susah masuk ke logika senja ada kehidupan lain di perut Hiza.

“kalau gender sudah bisa terlihat kak?”

“belum, kalau mau lihat gender sekitar empat sampai lima bulan usia kandungan, dek. Kalau Sekarang masih kecil” jelas Hiza. Perempuan yang lemah lembut dan mau mau saja dengan abangnya yang kadang tak jelas.

“sudah sudah, Kakak mu mau istirahat. Ngga boleh kecapean dia!” Wisnu tanpa ragu memutus pembicaraan dua perempuan itu, menarik pelan tangan sang istri lalu menuntun ke arah kamar mereka.

Meski muka Hiza sangat Nampak protesnya, tapi protes pun tidak ada gunanya. Wisnu memang tipe suami bucin istri, tapi tidak semua akan ia turuti kemauannya. Apalagi hanya untuk bergibah.

Sedangkan Senja hanya menatap kosong kepergian dua kakaknya. Akankah suatu hari ia bisa merasakan hal seperti kakak Iparnya? Senja menoleh kiri dan kanan, dia baru sadar rumah sepi. Kemana Ayah dan Bundanya? Jika sang Adek jelas masih di rumah temannya. Pemuda itu menginformasikan ketelatan pulangnya di grup keluarga.

Dari pada sendirian di ruang tamu, Gadis manis itu memilih ke Kamarnya. Membersihkan diri dan melihat kerjaannya, Mungkin lanjut dengan kerjaannya?

***

Keluarga Senja berkumpul di ruang tengah sehabis makan malam Bersama. Jarang bisa kumpul Bersama dengan lengkap formasi, di karenakan abang dan istrinya telah memiliki rumah sendiri di tambah kesibukan masing-masing membuat mereka lupa jika ruang tengah diciptakan untuk berkumpul hangat Bersama keluarga.

“Senja, putus hubungan dari Kamal ngga mau nyoba sama yang baru? Abang bisa bantu kenalkan kalau mau” Senja yang dari tadi hanya menyimak sambil selonjoran dan nyemil sontak menghentikan kegiatan nyemilnya.

“apasi bang, ngga mau Senja! Lagian Senja lagi sibuk sama kerjaan, malas ngurusin asmara-asmaraan” moodnya tertahan antara baik dan buruk sekarang, jika pembicaraan ini berlanjut ia yakin hanya berakhir di hantaman pintu dari kamarnya.

“kamu mau sampai kapan? Umurmu ngga selalu muda, Senja! Keluarlah dari tempat kerjamu sek-“

“nggak!! Abang ngga ada hak ya maksa senja buat keluar!” tanpa sadar, Senja telah berdiri dari duduk santainya. Wajah putih nya memerah karena menahan amarah. Ia benci pembicaraan ini!

“terus kamu mau jadi per awan tua? Senja, sadar! Kontrakmu sama umurmu ngga sama! Kamu mau dicap sebagai perempuan ngga laku diluar sana? Ingat, umur mu sekarang sudah berapa!” Hiza yang mulai sadar kemarahan sang suami berusaha menenangkannya, sebelum Abang adek ini semakin parah bertengkarnya.

“jadi abang lebih mentingin pendapat orang lain di banding sama pencapaian Senja sekarang? Abang sadar ngga sih? Aku begini karena abang! Ambisiku menjadi orang sukses bisa berdiri dengan kaki aku sendiri itu karena abang! Dengan pencapaian abang saat ini, secara tidak langsung aku dituntut supaya bisa mengimbangi. Dari dulu bang, tapi abang ngga sadar!!” Senja lemah dengan emosional, air matanya turun tanpa bisa di tahan. Sesak yang telah ia tahan membuncah keluar di tempat yang salah.

Wisnu menggeleng tak percaya dengan pemikiran Senja “bicara apasih, kamu? Pernahkah aku suruh kamu buat saingin abang? Pernah? Ngelantur aja” calon Ayah itu menatap serius sang adek yang tengah mengontrol emosi yang rupanya makin membara karena omongannya.

“menurut abang aja, apa pendapat orang sana, pendapat keluarga kalau aku sebagai adeknya abang tapi tidak bisa sukses seperti abang?? Apa pendapat mereka?” Tanya Senja, nafasnya sudah sesak menahan nangis agar tak semakin tumpah di hadapan keluarganya.

“ngapain urusin orang lain? Sesuai jalannya masing-masing aja, pikiranmu sempit kalau begitu!“

“sama seperti abang, pemikiran abang juga sempit karena terlalu memikirkan tanggapan orang lain karena aku ngga nikah nikah sampai jadi per awan tua!” entah keberanian dari mana, untuk pertama kalinya Senja berani melawan abangnya dengan melempar balik kalimat yang sama ke abangnya yang terdiam sekarang.

“Wisnu, Senja. Cukup!” Ayah berdiri di tengah dua anak nya yang bertengkar hebat “jangan dilanjutkan, kalian berdua tidak ada yang salah” ujar Ayah lirih, menghadap ke Wisnu yang telah ditenangin Hiza “Wisnu, kamu sudah menjadi abang yang baik untuk Senja, kekhawatiranmu sekarang jangan dijadikan acuan untuk kemarahanmu sekarang, Nak!”

Ayah beralih ke arah Senja “Senja juga, jadilah diri Senja sendiri tanpa harus dibayang-bayangin Abang, ya? Cukup jadikan abang motivasi tapi tidak dengan keobsesian sukses, Senja. Kami bangga sama Senja apa pun yang Senja capai, jangan nyiksa diri sendiri, Nak. Ya?” pinta Ayah memohon. Benar, Ayah mana yang mau melihat anak-anaknya menderita karena jalan yang dipilih anaknya sendiri?

Disebelahnya Bunda juga turut berdiri memagang lembut lengannya “Senja cape? Lagi banyak kerjaan ya, nak? Istirahat gih. Tenangin pikiran Senja ya?” Senja mengangguk setuju. Dan mulai beranjak dari tempatnya.

“tunggu!, Senja Kembali dulu. Kalian belum baikan, ayo baikan dulu” Ayah Kembali menarik tangannya untuk mendekati abangnya yang belum bicara satu katapun.

“Maafin Senja, Abang” Senja mengalah, meminta maaf terlebih dahulu, sadar, dia deluan lah yang terpancing emosi tadi.

Uluran tangan Senja mengambang diudara tak tersambut, Wisnu menatap lekat adek perempuannya yang sudah berubah menjadi dewasa. Tidak menyambut uluran tangan, Wisnu justru menarik adek perempuannya kedalam pelukannya. Mendekapnya dengan perasaan bersalah.

“maafin abang, dek. Jika abang menjadi penyebab utama penderitaan adek selama ini” pecahlah tangis tertahan Senja sedari tadi di dekapan sang abang. Yang justru semakin di dekap abangnya erat. “Tolong berenti sakitin diri ya? Jadilah diri Senja sendiri. Jangan dengerin orang lain karena abang akan melakukan hal yang sama juga” ucapan yang sangat tulus dari Abangnya membuat Senja sedikit sadar denga apa yang dia lakukan selamaa ini. Senja hanya mengangguk sebagai jawaban, tak kuat mengeluarkan suara walau sepelan mungkin.

Ayah, Bunda, Hiza serta Gahez yang hanya diam sedari tadi ikut terharu juga, benar. Saudara itu tidak baik marahan lama-lama.

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan hangat Kembali setelah terjadinya perselisihan dan kesalahpahaman antar bersaudara. Tidak selalu saudara akur, justru karena adanya perselisihan saudara bisa saling mengerti antarsama lain, tidak ada lagi saling membandingkan, tidak ada lagi rasa iri di hati masing-masing dan tidak ada lagi rasa sayang yang ditutupi oleh gengsi dan ego.

“minggu depan sudah mulai Ramadhan, abang sama kakak di sinikan?” dengan sengaja Senja mengimut-imutkan wajah agar di turuti keinginannya. Itu adalah cara jitu Senja.

Bukan Wisnu Namanya jika langsung mengiyakan kemauan adeknya “lah, kita mah mau puasa pertama di rumah sendiri, iyakan sayang?” Wisnu mengedipkan mata ke arah Hiza meminta Kerjasama.

“ihhh… bohong! Itu mata Abang kenapa kedip kedip gitu? Kecolok?” kejam sekali fitnahan Senja ini. Reflek Wisnu melemparkan bantal sofa ke arah Senja.

Interaksi mereka lah yang bikin keluarga itu tertawa Bahagia, dengan segala lelucon dan tingkah laku mereka yang tak pernah berubah jika bertemu.

1
Senja Susanti
sama namanya seperti namaku
Aksara Nirmaya: hihii halooo kak Senjaa🤗
total 1 replies
Irma Nsyah
semangat nulisnya 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!