Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Akan Kembali
Di pagi hari, saat fajar baru menyingsing dan cahaya keemasan menyentuh puncak gunung, Lin Yue duduk bersantai di bawah Pohon Roh yang bersinar di halaman utama.
Di depannya terdapat meja batu kecil, di atasnya teko teh pencerahan yang baru diseduh, uapnya mengepul perlahan membawa aroma yang menenangkan hati siapa pun yang menghirupnya.
"Li Chen... majulah," ucap Lin Yue pelan, suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga pemuda yang berdiri tertahan di kejauhan.
Li Chen melangkah maju dengan hati-hati. Langkahnya mantap, namun jantungnya berdegup kencang. Dia tahu, dipanggil ke hadapan Guru di bawah Pohon Roh — itu bukan hal biasa. Itu adalah kehormatan yang besar.
Sesampainya di dekat pohon itu, dia berlutut dengan penuh hormat. "Murid Li Chen... menyapa Guru.
"Minumlah dulu. Teh pencerahan ini akan menenangkan hatimu," ucapnya lembut. "Kau tidak perlu gugup. Aku tidak memanggilmu untuk menghukum atau menguji. Aku memanggilmu... untuk memberikan apa yang pantas kau terima."
Li Chen menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri dengan persaan gugup. Saat teh hangat itu menyentuh bibirnya, seketika seluruh tubuhnya terasa segar dan jernih. Keraguan di hatinya perlahan-lahan lenyap.
"Kau naik sampai ke anak tangga ke-100. Bukan karena kekuatanmu yang besar, bukan karena bakatmu yang luar biasa," ucap Lin Yue menatapnya lurus. "Tapi karena hatimu yang paling tulus. Dan karena itu... teknik yang akan kuberikan padamu bukan teknik yang biasa."
Lin Yue mengangkat tangan kanannya di udara. Cahaya putih murni perlahan memancar dari telapak tangannya, membentuk selembar gulungan cahaya yang lembut namun memancarkan kekuatan yang tak terbayangkan.
Cahaya itu menyatu dengan cahaya Pohon Roh, membuat daun-daun di atas mereka bergetar pelan seolah memberi berkah.
"Dengarkan baik-baik," ucapnya pelan. "Apa yang kuberikan ini bukan sekadar teknik bertarung. Ini adalah jalan kultivasi yang sesuai dengan hatimu."
~ WARISAN TEKNIK DITERIMA
• Nama Teknik: Jalan Langit Suci
• Tingkat: Tertinggi — melampaui batas dunia fana
•. Kekhasan: Semakin tulus hatinya, semakin kuat kekuatannya. Tidak bisa dipelajari oleh orang yang berniat jahat.
• Teknik Pendamping: Tangan Penenang — mampu menenangkan energi liar, menyembuhkan luka roh, dan membalikkan serangan dengan kekuatan ketulusan.
Gulungan cahaya itu perlahan bergerak dan menyatu masuk ke dalam dahi Li Chen. Seketika, ribuan pengetahuan mengalir masuk ke dalam benaknya — seolah dia sudah mempelajarinya selama ratusan tahun.
Dia merasakan energi roh di sekelilingnya langsung menyambutnya, tunduk dan patuh seolah ia adalah tuannya sejak dulu.
Li Chen mendongak, matanya berbinar penuh kagum sekaligus haru. "Guru... teknik ini... terlalu luar biasa untuk murid baru sepertiku."
"Teknik itu tidak memilih siapa yang hebat," ucap Lin Yue pelan. "Dia memilih siapa yang pantas. Dan hatimu... paling pantas untuk menerima ini."
Lin Yue mengambil sepotong persik roh, membelahnya dengan pisau, lalu menyerahkan sepotong itu kepada muridnya.
"Aku tahu apa yang ada di hatimu," ucapnya tiba-tiba, suaranya begitu lembut namun menembus hingga ke paling dalam hati Li Chen. "Penderitaan yang kau alami, kakekmu yang tewas... dan api balas dendam yang kau simpan dalam diam."
Wajah Li Chen berubah pucat. Dia menunduk dalam, tangannya yang memegang potongan buah itu gemetar. "Guru... murid... murid tidak bermaksud menyembunyikan apa pun. Aku hanya... aku tidak ingin menjadi murid yang penuh kebencian."
Lin Yue menggeleng pelan. "Kebencian itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika kau membiarkannya membutakan matamu. Dengarkan aku — balaslah dendammu. Tapi biarkan kekuatan yang kau gunakan untuk itu bukan lahir dari amarah, melainkan dari keadilan. Gunakanlah kekuatan ini untuk melindungi yang lemah, bukan untuk menindas yang lemah. Jika kau melakukannya... teknik ini akan memusnahkanmu sendiri."
Li Chen mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad yang membara. Dia menangkupkan tangan, lalu menunduk dalam-dalam.
"Murid berjanji! Aku akan menggunakan kekuatan ini untuk keadilan! Aku akan menuntut balas atas kematian Kakek — namun setelah itu, aku akan hidup untuk melindungi orang-orang yang tidak berdaya, sama seperti yang Guru lakukan!"
"Bagus," ucap Lin Yue pelan, nada suaranya terdengar sedikit lebih lembut. "Sekarang, pergilah. Mulailah berkultivasi. Waktu menunggu tidak lama. Sebelum kau kembali ke tempat asalmu... kau harus cukup kuat untuk memastikan bahwa mereka tidak akan bisa menyakitimu lagi."
***
Sementara itu, di puncak-puncak lainnya, tiga murid inti lainnya juga menerima warisan teknik masing-masing dari Tetua mereka.
Di Puncak ke-2, Tetua Bai Yuan menyerahkan teknik pedang kepada Su Yao. Cahaya pedang itu dingin dan tajam — persis seperti hatinya yang sudah membeku sejak hari itu.
Teknik Pedang Bulan Terbelah — setiap tebasan membawa dingin yang mematikan, sejuk di permukaan namun membekukan darah di dalam.
Di Puncak ke-3, Tetua Shen Wu mewariskan teknik kekuatan fisik kepada Zhang Hu. Energi yang mengalir di tubuhnya begitu dahsyat, seolah gunung berapi yang lama terpendam akhirnya meletus.
Teknik Tubuh Gunung Baja — kulitnya sekeras logam, pukulannya seberat gunung. Tidak ada yang bisa menahannya jika ia melangkah maju.
Di Puncak ke-4, Tetua Qing Yang memberikan teknik pengendalian energi roh kepada Qing Yue. Cahaya di sekelilingnya berputar seperti arus sungai yang tak pernah berhenti.
Teknik Arus Roh Tak Terlihat — ia bisa merasakan, mengendalikan, dan melepaskan energi roh di mana saja. Musuh bahkan tidak tahu dari mana serangan itu datang.
Ketiganya menerima warisan itu dalam diam. Tidak ada yang berbicara banyak. Namun di mata mereka masing-masing, nyala api yang sama terus membara — semakin terang, semakin kuat, semakin tak terpadamkan.
Tunggu saja. Kita akan kembali. Dan kali ini... tidak ada yang bisa mengusir kita.
***
Saat matahari terbenam dan langit berubah menjadi ungu keemasan, Lin Yue masih duduk di bawah Pohon Roh. Teko teh di depannya sudah kosong, namun aroma ketenangan itu masih terasa.
Suara Sistem terdengar pelan di benaknya.
Sistem:
[ MISI SELESAI — WARISAN TEKNIK KEPADA MURID INTI ]
• Li Chen → Jalan Langit Suci & Tangan Penenang.
• Su Yao → Teknik Pedang Bulan Terbelah
• Zhang Hu → Teknik Tubuh Gunung Baja
• Qing Yue → Teknik Arus Roh Tak Terlihat
~~HADIAH:
✓ Semua murid inti langsung naik ke Tahap Pengumpulan Energi tingkat akhir.
✓ Lin Yue — pemahaman mendalam tentang hati muridnya.
"Kekuatan sudah ada di tangan kalian," bisiknya pelan. "Sekarang... biarkan waktu yang menjadi saksi. Siapa yang benar, siapa yang salah. Dan biarkan keadilan yang menentukan akhir dari semuanya."
Angin malam berhembus lembut, membawa aroma teh pencerahan dan keharuman bunga surgawi. Jalan panjang telah dimulai — dan di ujung jalan itu, darah pasti akan tumpah. Namun kali ini... bukan darah orang yang tidak bersalah.
.
.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥