Saat membuka matanya, Clarissa Wilson tidak mengingat, kapan dia telah menikah dengan Stephen Sylvester, lelaki yang sudah lama ia suka.
Clarissa ingat, kalau ia baru saja menyatakan rasa sukanya pada Stephen, di acara kelulusan Sekolah mereka, tapi.. kenapa tiba-tiba saat membuka mata, ia sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun bersama Stephen?
Apa yang sebenarnya terjadi? Clarissa merasa ada yang ia lewatkan, begitu ia terjatuh saat ingin memeluk Stephen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11.
Dua jam kemudian.
Stephen duduk sendiri di ruang santai melihat kembali video pernikahannya dengan Clarissa.
Kalau ia sedang sedih memikirkan sikap Clarissa yang telah berubah, ia akan melihat kembali kebahagiaan yang pernah ia rasakan bersama Clarissa.
Perubahan sikap Clarissa yang tiba-tiba seperti saat Clarissa berusia delapan belas tahun, membuat Stephen merasa ada yang aneh pada Clarissa.
"Tolong periksa apa yang dilakukan istriku beberapa hari ini!" Stephen bicara pada seseorang di dalam ponselnya
Setelah selesai bicara ia memutuskan panggilan ponselnya, lalu meletakkan ponsel ke samping.
Kemudian ia kembali melihat ke layar TV Led.
Melihat momen kebahagiannya bersama Clarissa, dan janji Clarissa yang manis padanya, membuatnya rindu ingin kembali ke masa kebahagiaan mereka.
Pada rekaman dalam video, ia tampak berjongkok dengan menumpukan satu lututnya ke tanah, membuka kotak cincin pernikahan pada Clarissa.
"Stephen, seumur hidupku hanya kamu satu-satunya pria yang kucintai!" ucap Clarissa padanya dengan senyuman yang lembut, dan tatapan penuh cinta.
Ia ingat saat ia mendengar Clarissa mengucapkan kata-kata itu, ia sangat bahagia sekali, dan tanpa ragu menyematkan cincin pernikahan itu jemari manis Clarissa.
Dan terdengarlah sorak riuh dari tamu, dan teman-teman mereka sebagai saksi di momen yang membahagiakan itu.
"Seumur hidup, walau sedetik pun kamu hanya mencintai aku!" Stephen menegaskan janji Clarissa pada waktu itu, setelah ia menyematkan cincin pernikahan ke jemari manis Clarissa.
Tangan Stephen menekan remote TV menjeda rekaman video.
Ia tidak ingin melihat momen selanjutnya, saat ia akan mencium Clarissa, tanda mereka sah menikah sebagai suami istri.
Air matanya diam-diam mengalir melihat layar TV, janji yang tidak ditepati Clarissa menghancurkan ketulusannya mempercayai apa yang diucapkan Clarissa.
Setelah putri mereka lahir, badai yang kuat menerpa rumah tangga mereka.
Clarissa tidak menepati janji yang sudah ia ucapkan sendiri.
"Bagaimana caranya agar kamu melepaskan ku?!!" teriak Clarissa waktu itu sembari mengancamnya akan memotong urat nadinya.
Clarissa memegang pisau dapur didepannya, dan putri mereka, kalau Clarissa ingin segera bercerai darinya dengan mengancam akan bunuh diri.
"Aku sudah bilang berkali-kali, kalau aku sudah tidak cinta lagi padamu!! aku sekarang mencintai pria lain!!!" teriak Clarissa, dan membuat putri mereka ketakutan sembari menangis dengan kencang.
"Papaaa... !!" Aurora memeluk kakinya dengan erat ketakutan melihat Clarissa yang memegang pisau.
"Clarissa! kenapa kamu bisa berubah pikiran? bukankah kamu janji, kalau kamu hanya mencintaiku saja?!"
"Dengar, ya! hati seseorang bisa berubah! asal kau setuju cerai dariku, aku rela meninggalkan semuanya, termasuk Aurora!!"
"Huaaa.... !!!" Aurora semakin erat memeluknya kala itu sembari menangis semakin kencang.
Air mata Stephen semakin deras mengalir, hatinya begitu sakit mengingat semua rasa pahit, yang ia rasakan sejak Clarissa mengenal lelaki lain.
"Dasar pembohong" gumamnya sembari menundukkan kepalanya.
Pagi hari esok harinya.
Clarissa bangun lebih pagi dari biasanya, ia dengan perasaan senang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
Sembari tersenyum puas melihat hasil sarapan buatannya, Clarissa meletakkan sarapan ke atas meja makan.
Senyumnya semakin lebar melihat Stephen menggendong Aurora, dan wajahnya terlihat begitu gembira melihat Stephen dan putrinya.
"Pagi Stephen, pagi putriku!" sahut Clarissa menyapa mereka berdua sembari memperlihatkan senyum cerianya, "Aku sudah menyiapkan sarapan!"
Clarissa menunjuk ke arah atas meja makan, agar Stephen dan Aurora datang untuk sarapan terlebih dahulu, sebelum Stephen berangkat ke kantor.
Stephen memandang sekilas Clarissa, ia semakin merasakan perubahan pada diri Clarissa.
"Kita sarapan dulu, ya?" ucapnya pada putrinya.
Dan Aurora menganggukkan kepalanya.
Stephen melangkah ke meja makan membawa Aurora dalam gendongannya.
Wajah Clarissa terlihat semakin senang melihat Stephen, dan Aurora mendengarkannya, untuk sarapan terlebih dahulu sebelum Stephen berangkat kerja.
Bersambung.........
ihhh gemesss deh kenapa gk saling jujur gtu. atau komunikasi kek bir gk salah paham... 😭
memang benar sekertaris nya ettan berbohong.baru aj mulai baikan udah mau salah paham lagi...