Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Hari yang Mengubah Segalanya
Mobil Aksa berhenti tepat di depan pintu masuk UGD Aksara Medika. Begitu mesin dimatikan, Aksa langsung turun. Aynara menyusul dari sisi lain. Keduanya berjalan cepat menuju ruang gawat darurat.
Di depan pintu UGD, Asti sudah berdiri bersama Gunadi. Wajah wanita itu terlihat pucat dan cemas.
"Ma!" Aksa langsung menghampiri mereka. Ia menatap Gunadi, kemudian ibunya bergantian. "Bagaimana kondisi Kakek?"
Gunadi menarik napas sebelum menjawab. "Tuan besar masih ditangani dokter."
Aksa melirik pintu UGD. "Kenapa belum keluar?"
"Beliau mengalami cedera kepala cukup berat akibat benturan," jelas Gunadi.
Aksa menegang. "Seberapa parah?"
Gunadi kembali menjelaskan. "Dokter menemukan perdarahan di bagian kepala dan harus segera melakukan operasi."
Aksa terdiam. "Operasi?"
Gunadi mengangguk. "Ya, Tuan Muda. Tim dokter sedang berusaha menghentikan perdarahannya."
Asti yang sejak tadi menahan kecemasan akhirnya bersuara. "Dokter bilang kondisinya kritis."
Aksa menatap pintu UGD yang tertutup rapat. Entah mengapa, kini ia benar-benar merasa takut. "Berapa lama operasinya?"
"Kami belum tahu," jawab Gunadi.
Aksa mengepalkan tangannya. "Kakek pasti baik-baik saja."
Tidak ada yang menjawab.
Aynara berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia bisa melihat dengan jelas perubahan wajah Aksa. Pria yang sejak tadi terlihat dingin dan kesal kini tampak gelisah.
Aynara menundukkan wajah. Bagaimanapun, Wicaksono adalah kakek Aksa. Dan meskipun pernikahan mereka terjadi karena paksaan, Aynara tetap berharap pria tua itu selamat.
Tak lama kemudian, pintu UGD terbuka, seorang dokter keluar dari ruang UGD.
Semua orang langsung menoleh.
"Dokter!"
Dokter melepas maskernya. "Keluarga Pak Wicaksono?"
Aksa langsung maju. "Saya cucunya, Dok. Bagaimana kondisi Kakek?"
Dokter menarik napas singkat.."Pasien mengalami cedera kepala berat akibat benturan. Dari hasil pemeriksaan, terdapat perdarahan intrakranial yang cukup serius."
Wajah Aksa langsung menegang. "Apa yang harus dilakukan, Dok?"
Raut wajah sang dokter terlihat serius. "Kami perlu melakukan operasi sesegera mungkin untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi tekanan di dalam kepala."
Aksa menelan ludah. "Operasi sekarang?"
"Ya," jawab dokter tanpa ragu. "Kondisinya tidak memungkinkan untuk menunggu terlalu lama."
Aksa mengepalkan tangannya. "Kalau begitu lakukan, Dok. Tolong selamatkan kakek saya."
Dokter mengangguk. "Kami akan melakukan yang terbaik. Namun, karena tindakan ini memiliki risiko, kami membutuhkan persetujuan dari keluarga."
Seorang perawat yang sejak tadi berdiri di belakang dokter segera maju sambil membawa beberapa lembar dokumen. "Ini surat persetujuan tindakan operasi."
Aksa menerima dokumen tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Ia membaca sekilas beberapa bagian sebelum menandatanganinya. "Saya setuju."
Setelah memastikan tanda tangan sudah lengkap, perawat mengambil kembali dokumen tersebut.
Dokter memeriksanya sebentar. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan pasien untuk operasi."
Dokter kembali masuk ke dalam UGD diikuti perawat. Pintu pun tertutup kembali.
Aksa berdiri terpaku di depannya. Kali ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu.
Asti mendekatinya dan menggenggam lengannya. "Jangan berpikir yang macam-macam, Sa. Kakekmu kuat."
Aksa mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju pada pintu.
Asti akhirnya menoleh ke arah Aynara. Wajah gadis itu masih terlihat sembap dan kemerahan, meski rasa gatalnya sudah mulai mereda. "Kondisimu juga belum pulih. Sebaiknya kamu pulang dulu, Nara."
"Gak apa-apa, Bu. Saya sudah lebih baik," jawab Aynara pelan.
Aksa yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung menoleh.."Sebaiknya kamu pulang."
Tatapannya singkat, lalu kembali mengarah ke depan. "Lihat kamu saja bikin mood-ku makin hancur."
"Aksa!" tegur Asti.
Namun Aksa tidak mengubah ekspresinya. Ia bahkan tidak lagi menatap Aynara.
Gunadi hanya bisa menghela napas panjang. Ada rasa iba di dalam hatinya melihat Aynara yang tertunduk dengan kedua tangan sibuk memainkan jemari sendiri.
Asti kemudian mendekati Aynara dan mengusap lengannya dengan lembut. "Kamu pulang dulu, ya. Istirahat supaya cepat pulih. Biar Pak Gunadi yang mengantarmu."
Aynara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.
"Iya, Bu."
Gunadi segera memberi isyarat dengan tangannya. "Silakan, Nyonya Muda."
"Terima kasih, Pak." Aynara kemudian menatap Asti. "Saya pulang dulu, Bu." Ia menundukkan kepala dengan sopan.
Asti membalasnya dengan usapan lembut di lengan Aynara. "Hati-hati."
Sebelum berbalik, Aynara sempat melirik Aksa, hanya sebentar. Namun pria itu bahkan tidak menoleh kepadanya.
Aynara akhirnya mengembuskan napas pelan, lalu berjalan meninggalkan ruang tunggu bersama Gunadi.
Asti menatap kepergian menantunya hingga sosoknya menghilang di ujung lorong. Setelah itu, ia menoleh kepada putranya.
"Aksa."
"Kenapa?" sahut Aksa.
"Kamu keterlaluan." Nada suara Asti terdengar kesal.
Aksa menghela napas. "Aku cuma mengatakan apa yang aku rasakan, Ma."
Asti menatap putranya dengan kecewa. "Dia istrimu. Setidaknya perlakukan dia sebagai manusia, bukan sebagai orang yang paling kamu benci."
Aksa tidak menjawab. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang operasi tempat kakeknya sedang berjuang mempertahankan hidup.
Beberapa jam kemudian, operasi Wicaksono akhirnya selesai. Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah serius.
Asti dan Aksa yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.
"Bagaimana kondisi Kakek?" tanya Aksa.
"Operasinya berjalan sesuai prosedur. Namun, cedera kepala yang dialami Pak Wicaksono cukup berat. Untuk saat ini, beliau masih belum sadarkan diri." papar dokter.
Asti menahan napas. "Maksud Dokter?"
Dokter terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Pak Wicaksono mengalami koma."
Aksa sempat terdiam. "Berapa lama?"
Dokter menggeleng pelan. "Kami belum bisa memastikan. Bisa beberapa hari, beberapa minggu, bahkan lebih lama. Kami harus terus memantau kondisinya."
Aksa menatap pintu ruang operasi dengan rahang mengeras. "Yang penting Kakek selamat."
"Benar," sahut dokter. "Untuk saat ini, itu yang paling penting."
Setelah memastikan kondisi Wicaksono cukup stabil untuk dipindahkan ke ruang perawatan intensif, Aksa akhirnya memutuskan pulang.
Asti memilih tetap tinggal di rumah sakit.
Langit telah gelap ketika Aksa tiba di rumah. Ia berjalan menuju kamar dengan langkah berat. Seharian ini terlalu banyak hal terjadi. Pernikahan yang tidak diinginkannya, kecelakaan Kakeknya dan operasi yang membuat pikirannya kacau.
Ia hanya ingin beristirahat. Namun, begitu pintu kamar dibuka, langkahnya mendadak terhenti. Seseorang sudah berada di dalam. Duduk di tepi ranjang.
Aksa menyipitkan mata. “Kamu?”
...🔸🔸🔸...
...“Kadang hidup tidak memberi kita waktu untuk menerima sebuah perubahan. Ia hanya memaksa kita menjalaninya, lalu mengajarkan arti kehilangan setelah semuanya terlambat.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Perawat terus berlari, bayi dalam gendongannya menangis kencang.
Perawat gila ngga ada takut-takutnya lari menuju jalan raya.
Tahu yang pada mengejar semakin dekat, perawat nekat menyeberang jalan raya yang padat kendaraan.
Duuuuh gila benar si perawat melempar bayi ke arah jalan raya.
Dokter yang menunggu di depan lift, begitu pintu lift terbuka mendengar tangisan bayi dari dalam.
Perawat membawa salah satu bayi melompat keluar dari lift. Dia berlari tak peduli ada dokter yang bertanya dia mau ke mana.
Dokter mengambil bayi yang satunya terbaring di lantai.
Gila tuh perawat.
Ternyata itu awal dari hilangnya Arsa.
Wicaksono dan Gunadi saat itu baru mengunjungi Asti yang baru melahirkan.
Asti memaksa ingin melihat bayi kembar yang baru dilahirkan di ruang bayi, walaupun sudah dilarang oleh Gunadi.
Mereka bertiga menuju ruang bayi. Langkah Asti mendadak berhenti ketika melihat seorang perawat keluar dari ruang bayi sambil menggendong dua bayi.
Perawat membawa kedua bayi dengan langkah cepat dan masuk ke dalam lift, tidak peduli dengan teriakan mereka.
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?