Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Cakra

#30 

Tanpa pikir panjang, Azam memutar kemudi mobil, kembali ke rumah Dina. Tak ada salahnya dicoba, dan jika ini adalah pilihan terbaik, jika Dina adalah obat untuk putranya, maka Azam akan membawa wanita itu pada Ghazi. Urusan yang lain pikirkan nanti saja. 

Sementara di rumah, Dina bergegas mandi dan bersiap, ia menyiapkan beberapa pakaian ganti santai, namun, tetap terlihat sopan. Dina memang tidak mengenakan kerudung seperti Bunda Hilda, jadi ia berusaha membawa pakaian yang tertutup, serta nyaman bila terlihat orang. 

“Lho, Din, kamu mau kemana?” tanya Bu Rara heran, karena melihat putrinya tiba-tiba bersiap-siap. 

Dina menutup resleting tas nya, lalu berjalan menghampiri mamanya. “Ma, Dina mau ikut Azam, boleh? Ghazi— Ghazi— sakit lagi, Ma. Mana bisa aku diam disini dan hanya menunggu kabar. Mama tahu, kan, Ghazi itu seperti Ghaza bagiku, dia juga anakku, Ma.” 

Bu Rara sangat tahu apa yang dirasakan putrinya, ia juga tahu bagaimana terpuruknya Dina selepas putranya meninggal. Dan Ghazi pula yang menjadi pelipur lara bagi Dina. Seolah mereka adalah dua orang yang saling merindukan. Maka tak ada alasan bagi Bu Rara untuk melarang kepergian putrinya. 

“Pergilah, Nak. Nanti biar Mama yang bilang ke papamu,” kata Bu Rara bijak. 

Dina tak percaya bahwa Bu Rara memberinya izin dengan sangat mudah. “Beneran boleh, Ma?” 

Bu Rara kembali mengangguk, membuat Dina merasa lega. “Terima kasih, Ma.” 

“Tapi kenapa Azam lama sekali?” gumam Dina, karena waktu yang Dina perkirakan sepuluh menit, ternyata lebih dari itu. Mendadak Dina gelisah tak jelas, padahal Azam hanya mampir sejenak ke SPBU untuk mengisi full tangki BBM mobilnya. Jadi di perjalanan nanti tak perlu lagi mengisi bahan bakar hingga tiba di tujuan. 

“Bismillah … ” ucap Azam saat kembali menjalankan kendaraan roda empatnya. Sebenarnya ia sedang bahagia, tapi tak bisa tertawa karena mengkhawatirkan kondisi Ghazi. 

Beberapa saat kemudian, ia tiba kembali di kebun Pak Hermanto, ia ingin pamit dan meminta izin pada Pak Hermanto. Karena setelah bercerai dari suaminya, maka tanggung jawab Dina beralih ke ayah kandungnya lagi. Dan Pak Hermanto memberikan izin, tanpa banyak syarat yang berbelit-belit. 

Pria itu mengenal dengan baik siapa Azam, kedua orang tuanya, serta bagaimana keluarganya. Jadi, jika nanti Dina menginap beberapa hari di rumah Azam, Pak Hermanto tidak lagi merasa cemas. 

Setelah mengantongi izin, barulah Azam menjemput Dina, di rumahnya. 

Perjalanan berlangsung santai, tak banyak hal yang mereka obrolkan, hanya beberapa topik saja sebagai pengusir sepi dan canggung di antara mereka. 

Azam beristirahat sejenak di rest area, karena ia baru ingat jika keduanya sama-sama belum makan siang, sementara sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 menjelang petang. 

“Maaf, saking paniknya aku jadi lupa kalau kamu belum makan siang,” kata Azam. Saat ini mereka sedang menunggu pesanan datang. 

“Tidak apa-apa, aku juga tak fokus memikirkan rasa lapar, karena memikirkan Ghazi.” 

Azam mengangguk paham, rupanya mereka berdua sama, Azam pun nyaris tidak merasa lapar, andai ia tak mengistirahatkan kendaraan sebab mereka harus menjalankan kewajiban lima waktunya. 

Beberapa saat kemudian, dua porsi makanan yang mereka pesan pun tiba. Keduanya makan dengan lahap, namun, tidak buru-buru. Supaya bisa menikmati, meski hati dalam keadaan gelisah. 

•••

Perjalanan kembali berlanjut, hari semakin senja, langit mulai menampakkan warna jingga nan mempesona, tak lama lagi mereka akan tiba di tempat tujuan. Dina terus menggosok kedua telapak tangannya, tak sabar ingin segera berjumpa dengan Ghazi. 

Hingga satu jam kemudian, saat adzan maghrib mulai berkumandang, mereka pun tiba di rumah sekaligus perkebunan sayur organik milik keluarga Azam. 

Dina turun dari mobil, menghirup udara dengan aroma berbeda daripada yang biasa ia hirup di rumahnya. Lingkungan tempat tinggal Azam dan keluarganya terlihat asri, tertata dengan rapi, seolah-olah mereka siap menyambut siapapun tamu yang datang berkunjung. 

Azam menurunkan barang bawaan Dina, serta cooler bag berisi ASIP,  lalu mengajak wanita itu masuk menuju pintu penghubung halaman dan rumah utama. 

Sasana kembali terlihat berbeda, joglo khas Yogya dengan ornamen jadul, terlihat mempesona meski tetap mempertahankan gaya tempo dulu. Dina menatap sekeliling, lampu-lampu taman mulai menyala, beberapa pekerja perkebunan yang baru selesai bekerja, mengangguk hormat saat Dina dan Azam melewati mereka. 

“Assalamu'alaikum,” ucap Azam saat melangkah masuk ke dalam rumah. 

“Waalaikumsalaam,” sahut Aisha, gadis itu masih berbalut kain sholat saat keluar dari kamarnya, dan terdiam sejenak saat melihat Azam tidak datang sendirian. 

“Mana Ghazi?” Azam langsung bertanya. 

“Di kamar Ayah dan Bunda.” 

Azam meletakkan tas jinjing Dina di sofa, lalu meminta Aisha menyimpan ASIP nya Ghazi di lemari pendingin. 

Selepas Azam pergi, Aisha mempersilahkan Dina untuk duduk, “Duduk, Kak. Sebentar lagi Mas Azam dan Bunda pasti keluar.” 

Dina mengangguk pelan, “Terima kasih,” ucapnya. 

Aisha memahami kecanggungan Dina, lalu dia mendekat dan mengajak Dina bersalaman, “Aisha, adeknya Mas Azam.” 

“Oh, hai, aku Dina, Ardina.” 

“Oooooww ini yang namanya Kak Dina?” Aisha mengulum senyum menggoda. 

“I-iya, memang kenapa?” jawab Dina terbata, selain itu ia curiga dengan ekspresi wajah Aisha yang mendadak senyum-senyum tak jelas. Aisha hanya menggeleng kalem, lalu pamit untuk menyimpan ASIP. 

•••

Suasana berbeda terlihat jelas di kediaman keluarga Permana, makan malam terasa semakin dingin dan hambar, tak ada obrolan ringan penuh kehangatan seperti yang terjadi di kediaman Azam. 

Farhan duduk di salah satu ujung meja, sesekali memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya. Sementara itu, Sarah duduk di seberangnya dengan wajah yang sejak tadi menunjukkan ketidakpuasan.

Nampak juga Bu Sintia dan Pak Jatmiko, di ujung meja berlawanan dengan tempat Farhan duduk. 

Beberapa kali Sarah mencoba membuka percakapan, tetapi jawaban Farhan selalu singkat. Padahal Sarah mengharapkan perhatian hangat dari pria itu. “Mas, besok kamu pulang jam berapa?” tanyanya.

“Belum tahu. Ada urusan perusahaan,” jawab Farhan singkat. 

“Bukannya kemarin kamu juga bilang begitu?” Sarah kembali bertanya. 

Farhan meletakkan sendoknya. “Memangnya kenapa?”

Sarah menahan napas. “Aku cuma bertanya. Salah?” gumamnya pura-pura menunduk takut, padahal ia geram setengah mati melihat suaminya yang selalu sibuk sendiri. 

“Tidak. Tapi aku tidak bisa memastikan jadwalku setiap hari, karena pekerjaan tak terduga selalu datang tanpa aba-aba.” 

Sarah terdiam, lalu kembali melanjutkan makan malamnya dengan wajah masam, dan batin memaki pada sang suami. Ia mengira Farhan akan bersikap hangat seperti dahulu pria itu memperlakukan Dina, nyatanya tak pernah. 

Dahulu, ia juga berharap pernikahan dengan Farhan akan memberinya kehidupan yang lebih baik. Ia ingin mendapatkan perhatian, kenyamanan, dan posisi yang membuatnya merasa aman.

Namun, belakangan ini Farhan justru semakin sulit diajak bicara, pria itu lebih sering sibuk dengan pekerjaan dan persoalan perusahaan, sementara kehangatan yang dahulu masih berusaha ia tunjukkan perlahan menghilang.

Sarah tidak tahu apakah perubahan itu terjadi karena tekanan pekerjaan atau karena Farhan masih beradaptasi dengan kehidupan barunya tanpa kehadiran Dina. Mungkin saja, yang jelas, Sarah tidak menyukai keadaan ini. 

“Mas, akhir pekan ini kita pergi berdua, yuk,” ajaknya. “Atau kita ajak Malika liburan tipis, ke puncak misalnya. Aku rasa sabtu minggu cukup.” 

“Sarah benar, Farhan, sekali-kali, kamu ajak dia dan Malika quality time ke puncak,” usul Bu Sintia. “Sekalian bulan madu tipis.” 

Sarah tersenyum cerah mendengar usulan sang mertua, namun, ucapan Farhan selanjutnya membuat senyumnya hilang seketika. 

“Perusahaan sedang sangat sibuk merealisasikan perjanjian kerjasama dengan AreeV, mana sempat memikirkan bulan madu, Bu.” 

“Tapi, kan, nggak papa kalau weekend, kasihan Sarah kar—”

“Bu, Farhan benar.” Pak Jatmiko ikut menimpali, seharusnya pria itu sudah pensiun, tapi ia tak bisa meninggalkan Farhan karena kerja sama dengan AreeV menghasilkan keuntungan yang tak main-main jumlahnya. 

Akhirnya, tak hanya Bu Sintia yang terdiam, Sarah pun tak berkutik lagi. Namun, hal itu justru membuat Sarah semakin kesal. Karena ia merasa Farhan tak lagi berusaha menyenangkan hatinya. Bahkan untuk sekedar meluangkan waktu berdua berbagi kehangatan seperti suami istri pada umumnya, pria itu selalu memiliki alasan untuk menolak. 

Saat kembali ke kamar dan membuka ponselnya, Sarah kembali mendapat kejutan pesan dari Cakra. 

📥 Besok, temui aku. Ada yang harus aku bicarakan. 

Jangan berpikir untuk menolak, karena aku memegang kartu AS mu. 

1
Sh
mau dibuat 50 episode langsung tamat ya😂😂
Shee_👚
nikmati saat2 masa baikmu sebelum bom meletus🤣
Shee_👚
ampun otak si sarah di dengkul kali ya anak lagi nyusu eh malah di copot habis itu digeletakin😏
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
Shee_👚
oke siap² Sarah kena murka Farhan😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣
vania larasati
lanjut
Shee_👚
mati lah sarah, kena kau🤣🤣
Shee_👚
sepemikiran aku di awal baca, dah berhari-hari dina di rumah azzam sementara statusnya bukan siapa².
Shee_👚
nah disini tas nya bakalan ketahuan🤭
Shee_👚
Alhamdulillah mayra mau di up lagi, semangat kak aku tunggu
🌷Vnyjkb🌷
lunakkkk????? tunggu aja farhan mode singa laparrr!!😜😜
🌷Vnyjkb🌷
wkwkkkkkk cakra tdk sebodoh kamu, padahal kamu sutradara looooo😜😜 masakkk sih kalahh sama costrada🤭
🌷Vnyjkb🌷
otw farhan bercula!!!😜😜
🌷Vnyjkb🌷
otw sarah step!!! 😜😜
Esther
Tas yang kamu curi dan jual itu, akan membuka rahasiamu Sarah
Nar Sih
jdi gak sabar nunggu sarah si pencuri tas mahal dina ketahuan belang nya
Ma Em
Kalau Dina takut jadi bahan omongan orang tinggal dirumah Azam lbh baik Dina dan Azam menikah saja agar Ghazi benar2 bahagia mempunyai mama dan papa walaupun Ghazi bkn anak kandung Dina tapi Dina sdh terlanjur sayang pada Ghazi .
Nar Sih
sebaik nya emang pulang dulu dina ,walau berat semoga nanti kmu berjodoh dgn papa nya ghazi yaa
Nar Sih
kak moon ..ditunggu mayra nya yaa🙏🥰
Setyowati Setyowati
pencuri mulai ketar ketir
Agus Tina: Bagus semoga Sarah kali ini ketahuan ...
total 1 replies
🌷Vnyjkb🌷
hohohohooooo masakk d kuali si sarah 😜😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!