Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 32
Khadafy membiarkan Zheana bersandar di dadanya untuk beberapa saat hingga isak tangis istrinya benar-benar reda, berganti dengan helaan napas teratur yang menyapu area dada kemejanya. Keheningan di dalam ruangan privat bernuansa tatami itu kini tidak lagi mencekam, melainkan dipenuhi oleh kehangatan yang amat intim.
Khadafy merenggangkan pelukannya perlahan, namun kedua lengannya masih melingkar protektif di pinggang mungil Zheana. Pria itu menunduk, menatap wajah istrinya yang masih menyisa jejak memerah di sekitar hidung dan kelopak matanya.
"Masih terasa sesak?" bisik Khadafy lembut, suaranya terngiang halus tepat di depan wajah Zheana.
Zheana menggeleng pelan. Ia menunduk canggung, menyadarkan dirinya betapa dekat jarak di antara mereka saat ini. Kedua tangan Zheana yang semula meremas kemeja Khadafy kini bertengger canggung di atas dada tegap suaminya.
"Nggak, Mas... Udah jauh lebih lega," cicit Zheana lirih. Pipi mulusnya perlahan merona merah saat menyadari tangannya meraba lekuk dada tegap sang suami.
"Maaf ya, Mas... kemeja Mas Khadafy jadi basah dan kusut gara-gara Zhea."
Khadafy terkeh pendek, suara tawa bergelombang yang begitu renyah dan jarang terdengar. Jemari kokohnya bergerak naik, mengusap lembut sisa air mata di pipi Zheana menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu merambat perlahan hingga ke garis rahang Zheana, membuat sang istri menahan napas seketika.
"Kemeja ini bisa diganti ratusan kali, Zhea," tutur Khadafy penuh penekanan.
"Tapi air mata istri Mas ini terlalu berharga kalau cuma dibuang untuk orang-orang yang tidak bisa menghargaimu."
"Mas Khadafy..." panggil Zheana lemah, matanya bergetar menatap binar pekat di manik mata suaminya yang penuh dominasi hangat.
"Iya, Humaira?" sahut Khadafy halus.
Bulu kuduk Zheana meremang saat mendengar panggilan kesayangan itu diucapkan langsung dari jarak sejengkal. Sebelum Zheana sempat mengalihkan pandangannya, Khadafy makin memangkas jarak. Pria itu menundukkan kepala, mendaratkan sebuah kecupan lembut dan penuh perasaan di kelopak mata kanan Zheana yang sembab.
Cup.
Zheana memejamkan matanya rapat-rapt, merasakan kehangatan bibir Khadafy yang menyentuh kulit tipis matanya.
Khadafy memindahkan bibirnya ke kelopak mata kiri Zheana, mendaratkan kecupan yang sama lamanya, seolah ingin menyapu bersih seluruh jejak kesedihan yang singgah di sana.
"Mas..." bisik Zheana terengah halus.
Jemarinya cengkeramannya di kemeja Khadafy makin mengetat. Jantungnya berdegup gila-gilaan, jauh lebih kencang dibanding saat ia ketakutan di rumah Mama Irma tadi.
"Biarkan Mas menyembuhkan luka-lukamu, Zhea," bisik Khadafy di depan hidung mungil istrinya.
Pria itu mengusap lembut bibir bawah Zheana yang sedikit gemetar dengan ibu jarinya. Binar mata Khadafy meredup pekat, memancarkan pesona maskulin yang begitu menghipnotis. Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Khadafy mendaratkan kecupan hangat di puncak hidung Zheana, lalu mengecup sudut bibir kanan istrinya dengan amat lembut.
Zheana menahan napas sepenuhnya, menegang kaku namun sama sekali tidak ada niat untuk menolak. Rasa hangat yang menjalar dari setiap sentuhan Khadafy membuat seluruh persendiannya serasa meluruh bagai lilin tersiram api.
"Mas Khadafy... ini kan... di restoran..." cicit Zheana gugup, suaranya hampir tak keluar karena menahan gejolak di dadanya.
Khadafy tersenyum tipis, sebuah senyuman menawan yang sanggup melumpuhkan pertahanan Zheana seketika. Ibu jarinya merayap mengelus leher jenjang Zheana yang tertutup kain kerudung dengan sangat protektif.
"Ruangan ini terkunci privat, Zhea. Hanya ada kita berdua," bisik Khadafy dengan suara bariton yang makin dalam dan berat. Pria itu mendekatkan wajahnya lagi, menempelkan dahi mereka berdua seraya menatap lurus ke dalam iris mata Zheana.
"Dan kamu adalah istri sah Mas. Mas punya hak penuh untuk memanjakanmu seperti ini."
Zheana menggigit bibir bawahnya, merona hebat hingga ke balik jilbabnya.
"Tapi Zhea malu..."
"Malu kenapa, hm?" goda Khadafy halus. Bibirnya bersentuhan tipis dengan pipi halus Zheana setiap kali ia berbicara, menyalurkan sensasi getaran manis yang membuat napas Zheana makin tak beraturan.
"Malu karena kamu baru saja mengaku takut kehilangan suami tampanmu ini?"
"Mas Khadafy!" sergah Zheana gemas seraya menepuk pelan dada Khadafy, mencoba menutupi rasa malu luar biasa yang membakar seluruh wajahnya.
"Siapa yang bilang begitu?!"
"Tadi ada wanita cantik yang menangis di dada Mas sambil bilang... 'Zhea takut kalau Zhea udah telanjur jatuh cinta sama suami Zhea sendiri'" ulang Khadafy menirukan nada bicara Zheana dengan binar jenaka yang memikat.
"Mas! Jangan dibahas lagi!" rengek Zheana menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Khadafy, tak sanggup menatap wajah suaminya lagi.
Khadafy terkekeh hangat. Pria itu mempererat pelukannya pada tubuh mungil Zheana, menyandarkan dagunya rileks di atas kepala istrinya seraya mengelus punggung Zheana dengan ritme teratur. Aroma harum sampo manis dari jilbab Zheana bercampur dengan aroma parfum maskulinnya, menciptakan atmosfer manis yang menenangkan.
"Jatuh cintalah padaku sepuasmu, Zheana," bisik Khadafy tulus dekat di telinga istrinya.
"Karena Mas sudah lebih dulu jatuh dalam pesona ketulusanmu. Dan Mas janji, Mas tidak akan pernah membuatmu menyesal telah menyerahkan hatimu pada Mas."
Zheana mengangguk pelan dalam dekapan hangat itu, melingkarkan kedua tangannya mengelus punggung tegap Khadafy. Rasa takut akan masa lalu, ancaman Mama Irma, dan bayang-bayang Niken mendadak menguap tanpa sisa. Di dalam dekapan pria ini, Zheana akhirnya merasa benar-benar memiliki rumah untuk pulang.
'Apakah aku sudah egois karena mulai jatuh cinta pada suamiku sekaligus pria yang pernah menjadi calon suami Kakakku?" Bisik Zhafea di dalam hatinya.