Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bisikan dari Samudra Barat
Enam bulan setelah runtuhnya konspirasi Grandmaster Gu Feng dan berdirinya Institut Roda Bintang di Luoyang, benua Murim menikmati era kedamaian dan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jalur perdagangan di Central Plains terhubung rapi. Pasokan pil pemurni saraf serta peralatan tambang berbasis energi Reaktor buatan Jin-Bao membuat kehidupan rakyat biasa jauh lebih sejahtera. Sementara itu, faksi-faksi besar dari Ortodoks maupun Kultus Iblis kini secara rutin mengirimkan murid-murid berbakat mereka ke Institut Roda Bintang untuk mempelajari ilmu biomekanika dan prinsip dasar sains dari Ryeon.
Namun, bagi Cheon Ryeon, kedamaian hanyalah jeda untuk mempersiapkan variabel yang belum terhitung.
Di laboratorium rahasia lantai paling bawah Institut, Ryeon berdiri di depan meja peta holografis yang ditenagai oleh Inti Reaktor CORE SOVEREIGN. Di sisinya, Jaegal So-yeon sedang mengamati sinyal getaran berfrekuensi aneh yang muncul di layar kristal.
"Frekuensi ini tidak berasal dari benua Murim," bisik So-yeon sambil mengetuk-ngetuk kipas sutranya di dagu. "Sinyalnya melintasi Samudra Barat, datang dari jarak lebih dari tiga ribu mil laut."
Ryeon mengamati grafik gelombang mikro yang berdenyut di layar.
"Pola gelombangnya menggunakan enkripsi kode biner standar Konsorsium Bumi," analisis Ryeon dengan mata hitamnya yang dingin. "Ada kapal atau fasilitas sains lain milik Project Core Sovereign yang aktif di Benua Barat."
Tok, tok, tok.
Pintu baja laboratorium terbuka. Tang Jin-Bao dan Baek Hyun melangkah masuk dengan raut wajah yang cukup tegang.
"Bos," panggil Baek Hyun, menyerahkan sebuah tabung logam keperakan yang terlihat agak berkarat akibat air laut. "Tim patroli maritim kita di Pelabuhan Selatan baru saja memungut tabung ini dari sebuah bangkai kapal asing yang terdampar di pantai."
Ryeon menerima tabung logam tersebut. Menggunakan sentuhan impuls energi kinetik dari jarinya, ia membuka segel hidrolik tabung itu dengan suara PSSSH yang jernih.
Di dalam tabung itu, terdapat sebuah rekaman kristal audio dan selembar peta navigasi yang terbuat dari bahan sintetis tahan air.
Ryeon menekan kristal audio tersebut. Seketika itu juga, suara pesan darurat berbahasa asing—yang langsung diterjemahkan oleh analisis otak Ryeon—bergema halus di dalam ruangan:
"Peringatan kepada seluruh personel Konsorsium... Fasilitas Induk Core Sovereign di Benua Barat telah diambil alih secara paksa oleh Faksi Ksatria Murni (Pure Knights)... Mereka memanen reaktor fusi untuk menciptakan pasukan mekanis... Tolong, siapa pun yang menerima pesan ini..."
Pesan itu terputus oleh suara ledakan dan desisan arus pendek.
Suasana di dalam laboratorium mendadak hening mencekam.
Jin-Bao menelan ludahnya dengan raut muka agak pucat. "F-Fasilitas Induk?! Pasukan mekanis?! Maksudnya di luar benua kita masih ada musuh yang punya teknologi selevel Reaktor ini, Bos?!"
Gong Son-mi, yang baru masuk membawa laporan armada kapal perdagangan, menghentakkan tangkai palunya ke lantai batu. "Mau di benua mana pun mereka berada, kalau mereka berniat mengacaukan tatanan Roda Bintang, kita ratakan mereka!"
So-yeon menoleh menatap Ryeon, menyunggingkan senyum khasnya yang penuh ketajaman taktik. "Nampaknya papan catur kita di benua ini sudah terlalu kecil, Ryeon. Dunia di luar sana jauh lebih luas dari yang dibayangkan para pendekar Murim."
Ryeon menyunggingkan senyum tipis. Otak jenderalnya membara melihat tantangan baru di hadapannya.
"Jin-Bao," komando Ryeon tenang namun tegas. "Mulai besok, alokasikan tiga puluh persen anggaran Serikat Dagang untuk membangun Armada Kapal Baja Komposit pertama kita."
"Son-mi, siapkan Pasukan Garda Depan untuk latihan pertempuran maritim dan medan terbuka. Baek Hyun, perluas jaringan intelijen bayanganmu ke kota-kota pelabuhan selatan."
Seluruh komandan Ordo Roda Bintang mengepalkan tangan di dada dengan binar mata penuh semangat membara.
"SIAP, BOS CHEON RYEON!" seru mereka bergemuruh.
Ryeon berjalan menuju jendela tebal laboratorium, memandangi arah barat daya di mana langit samudra membentang tanpa batas.
Eksplorasi benua lokal telah tuntas. Dan kini, Sang Jenderal Sains bersama Ordo Roda Bintang siap melayari Samudra Barat untuk menundukkan Benua Baru dan membongkar asal-usul sejati keberadaan mereka di dunia ini!