Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 — Kuncinya Tinggal di Sini

Nara mengeluarkan koper setelah sarapan.

Dimas melihatnya dari pintu kamar tamu. Tatapannya turun dari pakaian ke tas berisi barang mandi di samping koper.

“Mau ke mana?”

“Studio. Aku mau tinggal di sana dulu.”

Nara terus melipat dua kaus. Ia sudah memikirkan kalimat itu sejak semalam, tetapi tetap saja tangannya dingin sesudah mengatakannya.

Dimas masuk dan menarik gagang koper sampai tegak. Pakaian di dalamnya bergeser, dan Nara buru-buru menahan agar koper tidak terguling.

“Simpan lagi. Kalau masih kesal soal pameran, bilang. Jangan pakai acara pindah-pindahan segala.”

“Alat lukis sudah di sana. Hari ini aku bawa pakaian dan barang pribadi.”

Dimas menatap tas barang mandi itu lagi.

“Oh, jadi semuanya sudah diatur. Suamimu tinggal diberi tahu pagi-pagi setelah sarapan.”

Ia menutup koper dan menarik ritsletingnya sebelum Nara selesai mengisi.

Nara menunggu sampai tangan Dimas lepas, lalu membukanya kembali. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan lagi bahwa di rumah ini, setiap penjelasan selalu berakhir dengan dirinya yang harus mengalah.

“Lihat aku kalau diajak ngomong.” Dimas menarik koper ke ujung ranjang. “Ada kamar, ada studio di rumah. Masih kurang apa sampai harus tidur di atas percetakan?”

“Aku butuh tinggal sendiri.”

“Biar bebas pulang jam berapa, ketemu siapa, nggak ada yang boleh tanya?”

Nara berdiri di sisi ranjang, melirik pintu yang terbuka di belakang suaminya. Ia khawatir Dimas akan menghalanginya keluar lagi. Ia juga mulai kesal karena setiap ketakutan itu muncul, tubuhnya ingin segera meminta maaf.

“Aku akan tetap pergi, Dim. Kita bisa bertengkar sampai siang, barang-barang itu tetap kubawa.”

Dimas tertawa pendek.

“Kamu pikir sewa tempat sekali lalu selesai? Bulan depan, bulan depannya lagi? Listrik, makan, bahan lukis. Empat lukisan laku sudah berani mengangkat koper.”

“Ada tabunganku juga. Sudah kuhitung.”

“Yang dibeli Adrian itu, kan?” Dimas mengangguk-angguk. “Pantas. Ada yang membayar, langsung merasa bisa hidup tanpa suami.”

Nara meraih dompetnya. Ia ingin membela Adrian, tetapi tahu Dimas akan memakai itu untuk memperpanjang tuduhannya.

“Itu uang pekerjaanku. Ada kontraknya.”

Ia mengeluarkan kartu tambahan untuk belanja rumah, lalu meletakkannya di meja.

“Kartu ini kutinggal. Aku nggak akan ambil uang belanja rumah.”

Dimas tidak langsung bicara. Pandangannya berpindah dari kartu ke wajah Nara, lalu ia tersenyum tipis.

“Jangan sekarang sok nggak butuh. Nanti tabungan habis, mau telepon siapa?”

Nara memasukkan dompet kembali. Ia belum membeli lemari. Ia bahkan belum tahu apakah bisa tidur nyenyak di atas percetakan, atau bagaimana menjelaskan semuanya kepada orang tuanya. Pertanyaan Dimas mengenai uang membuatnya takut karena ia pun pernah menghitung sambil khawatir.

Tetapi kalau ia menunggu sampai Dimas percaya ia sanggup, ia tidak akan pernah pergi.

“Mobil atas namaku. Aku bawa juga.”

“Sudah hafal rupanya. Siapa yang mengajari? Maya? Atau suaminya sekalian?”

Nara duduk dan menyelesaikan melipat pakaian. Dimas menunggu ia membantah. Untuk sekali ini, ia membiarkannya menunggu.

* * *

Perjalanan mengangkut barang berlangsung tiga kali dari kamar ke mobil.

Dimas tidak membantu. Ia juga tidak lagi menarik koper. Ia duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan, melihat Nara lewat di bawah kamera yang tetap menyala.

Pada perjalanan terakhir, ia berdiri.

“Bapak ibumu tahu kamu mau tinggal sendiri?”

“Aku akan bicara sama mereka.”

“Silakan. Aku juga punya nomor mereka. Biar dengar dua-duanya, jangan cuma cerita kamu diperlakukan buruk sampai terpaksa angkat kaki.”

Nara memandangi ponsel di tangan Dimas. Ia ingin merebutnya, meminta suaminya jangan membuat pagi ini lebih sulit. Tetapi ia tidak mungkin mencegah Dimas menghubungi semua orang yang mengenalnya.

Dimas mengikuti sampai pintu.

“Kalau nanti sepi, jangan baru ingat punya suami.”

Nara meletakkan kunci cadangan gerbang di meja dekat pintu. Kunci rumahnya sendiri tetap ia simpan; beberapa barang kerja masih perlu diambil sesuai kesepakatan nanti.

“Aku akan kabari kalau perlu ambil sisa barang.”

Dimas memandang kunci gerbang itu.

“Alamatnya.”

Nara mengirim lokasi studio melalui pesan. Ia tidak mau suaminya berkeliaran menanyai galeri atau Maya untuk menemukannya.

“Aku bukan menghilang.”

“Kalau memang bukan, kenapa pergi?”

Nara memegang tali tas erat-erat.

Ia sudah berkali-kali menjelaskan mengapa ingin pergi. Dimas tidak mau mendengar, dan ia sudah lelah mengulanginya.

Dimas bersandar di kusen.

“Mungkin aku perlu bicara sama Maya. Sibuk sekali bantu istri orang pindah, pasti punya saran bagus soal rumah tangga.”

Nara langsung menoleh.

“Jangan ganggu dia. Ini keputusanku. Dia cuma bantu angkut barang.”

Dimas memperhatikan betapa cepatnya ia berbalik.

“Tenang. Aku cuma mau tanya. Kenapa setiap aku mau bicara, kalian takut sekali?”

“Aku nggak mau kamu datang dan mempermalukan dia di tempat kerjanya.”

“Berarti pastikan ceritamu sama dengan ceritanya.” Dimas meraih sisi pintu. “Nanti aku tanya langsung.”

Nara merasa kemarahannya bercampur takut. Ia membayangkan Dimas datang ke tempat kerja Maya, tersenyum kepada orang-orang lalu menunggu sampai bisa mempermalukannya dengan pertanyaan pribadi.

Maya sudah punya cukup masalah. Sebagian masalah itu justru berasal dari Nara.

“Kalau mau marah, sama aku.”

Dimas tidak menjawab. Ia masuk kembali, membiarkan pintu terbuka.

Nara berdiri di halaman beberapa detik, lalu masuk ke mobil.

* * *

Malam pertamanya di studio, suara mesin percetakan baru berhenti pukul sembilan.

Nara sudah membeli tempat tidur lipat, seprai, dan satu lampu kecil. Pakaian masih di koper. Sikat gigi berdiri dalam gelas plastik di kamar mandi.

Ia menatap langit-langit tanpa lensa kamera di sudutnya.

Ponselnya berbunyi. Pesan Dimas.

Besok kita bicara lagi. Kamu masih istriku.

Nara melihat cincin di tangannya.

Ia tidak membalas, tetapi juga tidak melepasnya.

Setelah memastikan pintu terkunci, ia mematikan lampu utama dan berbaring.

Ruangan itu terasa asing. Suara motor dari jalan lebih dekat, kasurnya lebih tipis, dan tidak ada siapa pun yang akan mengambilkan botol air.

Nara menarik selimut ke dada.

Untuk malam ini, ia bisa menangis tanpa menyalakan keran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!