"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Mereka?
Di kediaman utama Winston, Elena tampak gelisah dan mondar-mandir di luar pintu hingga Bibi Jum pusing melihatnya. Waktu sudah menjelang siang, tetapi Adrian belum juga ada kabar dan nomor teleponnya tidak aktif. Elena mengira suaminya sengaja berbuat curang dengan mengajak Luvia jalan-jalan tanpa dirinya.
Tak berselang lama, sebuah mobil memasuki pekarangan. Elena mengira itu suaminya, namun ternyata Arshy yang datang bersama sang cucu, Amoera.
“Neneeeek!” panggil Amoera riang lalu berlari memeluk Elena.
Bocah empat tahun berambut pendek itu kini tampak sangat sehat dan lincah, jauh berbeda dari kondisinya dulu yang sempat lumpuh akibat sakit. Sosoknya pun bertolak belakang dengan Luvia. Jika Luvia gempal menggemaskan, Amoera memiliki postur tubuh yang sedang.
Mendengar kabar dari sang ibu bahwa Arsen memiliki anak, Arshy sengaja datang untuk melihat keponakannya itu. “Di mana cucu Ibu itu?” tanya Arshy penasaran.
Amoera mengerjap bingung. “Cucu yang mana, Bunda? Amoela kan ada di cini, ndak kemana-mana.”
Arshy tersenyum lembut merapikan rambut putrinya. “Amoera punya adik sepupu, namanya Luvia.”
“Lupia? Olangnya pasti sultan! Namanya saja kayak uang gitu,” celoteh Amoera polos yang langsung memicu tawa Bibi Jum.
“Nenek, Kakek mana? Kok ndak kelual liat Moela?” tanya Amoera bingung. Mata bulatnya mencari-cari keberadaan sang Kakek.
Elena mendengus resah. “Nenek suruh kakekmu ke kantor Paman Arsen buat ambil Luvia, tapi sampai sekarang belum pulang juga.”
“Mungkin Ayah ketiduran di kantor Kak Arsen, Bu,” sahut Arshy menenangkan.
“Entahlah! Ayahmu itu menyebalkan, pasti sedang bersenang-senang di luar sama Luvia.”
Saat Elena masih mengomel, suara mesin mobil lain terdengar memasuki halaman. Arsen keluar dari mobil bersama Mateo yang menggendong Luvia.
Arshy terhenyak mendapati wajah Luvia yang sangat mirip dengan putrinya. Begitu pula Amoera yang melotot kebingungan.
“Paman Meteol! Itu ciapa? Kok milip Lupia? Lupia kan ndak punya adik... itu anak Daddy juga?” tanya Luvia bingung dari atas gendongan Mateo.
Mateo terperanjat dan cepat-cepat meluruskan, “Bukan, Nona Kecil. Itu Nona Amoera, sepupu Nona dari adiknya Ayah Nona.”
“Cepupu Lupia? Oh, itu yang namana Amolea? Badanna kok kulus-kulus gitu? Ndak pelnah makan?” celetuk Luvia polos.
“Bukan karena itu, Nona Kecil. Nona Moera dulu pernah sakit gizi buruk, makanya kurus tidak seperti Nona,” jawab Mateo menunjuk perut bulat Luvia. Luvia terkekeh geli lalu minta turun untuk menghampiri neneknya.
Melihat cara lari Luvia yang tergopoh-gopoh karena tubuh gempalnya, Arshy terkikik gemas. Sementara Amoera masih mengerjapkan mata, membatin heran kenapa sepupunya baru muncul sekarang padahal ia butuh teman bermain.
Elena yang tak sabar langsung mendekati Arsen. “Arsen! Mana Ayahmu?”
“Ayah diculik,” jawabnya singkat, padat dan frustrasi.
DUAAR!
“Diculik?!” pekik Elena dan Arshy bersamaan dengan wajah pucat pasi.
“Oleh siapa?!”
“Oleh ibunya Luvia,” geram Arsen.
Luvia langsung mengerutkan bibir dan memukul perut Arsen.
“Paman Ndut janan cembalangan ya! Mommy ndak culik Kakek! Mommy cuma bawa Kakek bial bicah liat Bang Lucky cama Bang Lucian."
"Ndak boleh pitnes olang, Paman Ndut!”
“Fitnah, Nona Kecil...” bisik Mateo meralat gemas.
Elena dan Arshy kembali dibuat syok berat. “Lucian dan Lucky? Siapa mereka?”
“Caudala kembal Lupia, Nenek!” seru Luvia riang.
Ehh... kembar?!
Tubuh Elena mendadak limbung, beruntung Arshy dengan sigap menahan bobot tubuh Ibunya. “Arsen! Apa itu benar? Kamu punya anak kembar tiga?!”
Arsen hanya mengangguk pelan. Elena meremas lengan putranya dengan sorot matanya berbinar campur panik. “Bawa Ibu ke sana, Arsen! Ibu mau ketemu dua cucu laki-laki Ibu!”
Arsen mendesis pelan. “Arsen belum tahu lokasi tepatnya, Bu. Tapi Ibu tenang saja, malam ini pasti kami dapatkan mereka.”
Elena cemberut iri karena suaminya sudah bertemu dua cucu laki-lakinya duluan. Melihat situasi makin rumit, Arshy memutuskan mengajak Amoera bermain dengan Luvia agar Elena bisa ditenangkan. Amoera yang bersemangat menarik tangan sepupu barunya itu untuk bermain petak umpet.
Hari berganti malam. Arshy masih bertahan di rumah utama menunggu kabar sang ayah. Di kamar Elena, Luvia dan Amoera sudah tertidur pulas akibat kelelahan bermain seharian.
Tiba-tiba, suara dering ponsel Elena di atas meja nakas memecah keheningan kamar. Deringan itu membangunkan Luvia. Dengan mata setengah terpejam, Luvia mengangkat panggilan tersebut dan langsung mengenali suara kakeknya di ujung telepon.
Seketika rasa kantuk Luvia sirna. Bocah mungil itu melompat turun dari tempat tidur, berlari kencang keluar kamar mencari neneknya.
“Neneeek! Kakek mickoool!”
Sementara Luvia menuju sang Nenek, di waktu yang sama Arsen dan anak buahnya berhasil mengepung sebuah rumah yang dipastikan tempat Adara dan kedua putranya bersembunyi.
“Mateo! Dobrak sekarang!”
“Baik, Boosss!”
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu