Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Pagi itu Adrian duduk di ruang kerjanya dengan raut wajah serius. Di hadapannya, Daniel Pratama, pengacara keluarga, sedang memeriksa beberapa dokumen yang disusun rapi di atas meja. Daniel menggelengkan kepalanya perlahan sambil membaca setiap halaman dengan teliti.

"Dokumen-dokumen ini sudah difoto dan kemungkinan besar sudah dikirim ke seseorang," kata Daniel sambil meletakkan kertas-kertas itu. "Untungnya tidak ada data yang terlalu krusial. Tapi ini cukup berbahaya, Adrian. Jika foto-foto ini jatuh ke tangan yang salah, bisa merugikan perusahaan."

Adrian menghela napas panjang. Dia menatap layar monitor yang menampilkan rekaman kamera keamanan dari beberapa hari lalu. Kevin terlihat jelas memasuki ruang kerjanya, membuka laci meja, dan mengambil beberapa berkas. Pemuda itu dengan cepat memotret setiap halaman dengan ponselnya sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa-gesa.

"Anak itu," gumam Adrian dengan nada kesal. "Aku sudah memberinya kesempatan. Aku bilang padanya untuk tidak kembali ke ruang kerjaku tanpa izin. Tapi dia tetap melakukannya."

Daniel menutup map dokumen dan menatap Adrian dengan serius. "Aku sarankan kamu segera memanggil Victor dan istrinya. Kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum menjadi lebih besar. Jika mereka memiliki rencana untuk menjatuhkanmu, lebih baik kita tahu sedini mungkin."

Adrian mengangguk. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Victor. Dalam waktu satu jam, Victor dan Marissa tiba di rumah besar itu dengan wajah penuh kebingungan. Kevin datang bersama mereka, tetapi wajah pemuda itu terlihat pucat dan gelisah.

"Ada apa, Adrian?" tanya Victor dengan nada santai. "Kamu terdengar serius di telepon."

Adrian tidak menjawab. Dia menekan tombol remote di tangannya dan layar televisi besar di ruang tamu menyala. Rekaman kamera keamanan mulai diputar. Victor dan Marissa terdiam saat mereka melihat anak mereka sendiri masuk ke ruang kerja Adrian dan mencuri dokumen.

"Kevin, apa ini?" suara Marissa meninggi. "Kamu bilang kamu hanya pergi bermain dengan Adeline!"

Kevin menundukkan kepalanya. Tangannya gemetar dan suaranya bergetar saat dia mencoba menjelaskan. "Aku hanya ingin membantu, Ma. Ayah bilang kita harus mencari kelemahan Paman Adrian. Ayah bilang kita butuh bukti untuk mengambil alih perusahaan."

Victor terkejut. "Kevin, kamu berbohong! Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan ini!" Dia menoleh pada Adrian dengan ekspresi panik. "Adrian, aku tidak tahu apa-apa tentang ini. Aku tidak pernah menyuruh anakku mencuri dokumenmu."

Marissa terdiam. Wajahnya berubah dari merah menjadi pucat. Dia menatap suaminya dan anaknya dengan tatapan tajam. Untuk pertama kalinya, topeng manisnya mulai retak.

Di sudut ruangan, Adeline berdiri di belakang ibunya. Gadis kecil itu menggenggam erat tangan Elena dan menatap seluruh kejadian dengan mata lebar. Dia mendengar semua suara hati yang berbenturan di ruangan itu. Victor berbohong, dia memang menyuruh Kevin. Marissa tahu segalanya. Dan Kevin takut karena semua rencana mereka gagal.

Adeline mendekati kakeknya, William, yang duduk diam di kursi besar. Pria tua itu menatap cucunya dengan tatapan penuh pengertian. "Kakek," bisik Adeline. "Mereka semua berbohong. Paman Victor berbohong. Tante Marissa juga. Kevin takut."

William mengusap rambut cucunya dengan lembut. Dia menatap putranya, Adrian, yang sedang berhadapan dengan Victor. "Cukup," kata William dengan suara lantang. Semua orang di ruangan itu langsung diam. "Kita semua tahu apa yang terjadi. Victor, kamu menginginkan perusahaan ini sejak lama. Marissa, kamu selalu iri pada Elena. Dan Kevin, kamu hanya anak bodoh yang mengikuti perintah orang tuamu."

Victor mencoba membela diri. "Ayah, aku tidak—"

"Jangan berbohong padaku," potong William tajam. "Aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Sudah bertahun-tahun aku melihat rencanamu. Aku diam karena aku ingin memberimu kesempatan untuk berubah. Tapi kamu justru melibatkan anakmu sendiri dalam kejahatan."

Ruangan itu sunyi. Victor dan Marissa tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka tertangkap basah dan tidak ada jalan keluar.

Adeline menarik lengan kakeknya. "Kakek," katanya pelan. "Aku dengar suara Paman Victor. Dia takut. Dia menyesal. Tapi dia juga marah."

William tersenyum pada cucunya. Dia menatap semua orang di ruangan itu dan berkata dengan suara yang dalam dan penuh wibawa, "Anak ini, Adeline, sejak kecil dia sudah menunjukkan hal-hal yang tidak biasa. Aku sering mengamatinya. Dia bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Dia bisa mendengar apa yang tidak orang lain dengar."

Semua mata tertuju pada Adeline. Gadis kecil itu menunduk malu. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi ketika semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.

"Jangan panggil dia anak aneh," lanjut William. "Dia adalah anak istimewa. Kemampuannya adalah anugerah. Dan hari ini, anugerah itu telah menyelamatkan keluarga kita dari kehancuran. Jika bukan karena peringatan Adeline, mungkin kita sudah kehilangan segalanya."

Elena memeluk putrinya erat. Adrian mendekati mereka dan ikut memeluk keluarga kecilnya. "Ayah benar," kata Adrian. "Adeline telah membuktikan bahwa dia bisa mendengar kebenaran yang tidak pernah terucapkan. Mulai hari ini, kita semua harus percaya padanya."

William berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Adeline. Pria tua itu berlutut di depan cucunya dan menatap mata gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. "Cucuku," katanya dengan suara bergetar. "Kakek minta maaf karena dulu Kakek tidak segera membelamu. Tapi mulai sekarang, Kakek akan selalu ada untukmu. Kakek akan percaya apapun yang kamu katakan."

Adeline tersenyum. Senyum itu melelehkan hati semua orang di ruangan itu. Dia memeluk leher kakeknya dan berbisik, "Terima kasih, Kakek. Adeline sayang Kakek."

Victor, Marissa, dan Kevin akhirnya pergi dengan malu-malu. Adrian berjanji akan menyelesaikan urusan bisnis secara hukum dan memutuskan hubungan kerja sama dengan Victor. Keluarga besar Wijaya mulai retak, tetapi dari retakan itu muncul sesuatu yang baru. Sebuah keyakinan bersama bahwa gadis kecil bernama Adeline adalah pelindung yang tidak mereka sadari selama ini.

Malam itu, Adeline tidur nyenyak di kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidak mendengar suara-suara jahat di kepalanya. Rumah besar Wijaya terasa lebih tenang. Tetapi di dalam hatinya, Adeline tahu bahwa ini baru permulaan. Masih banyak kebohongan yang harus diungkap, dan dia, gadis kecil yang manis, akan terus mendengar setiap suara yang tidak pernah terucapkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!