Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cermin retak
Setelah seharian melewati jam kantor yang melelahkan dengan pikiran yang terbagi, Rama akhirnya kembali ke kamar kosnya. Ruangan petak itu masih sama seperti kemarin; dingin, sunyi, dan pengap. Di salah satu sudut dinding yang catnya mulai mengelupas, menggantung sebuah cermin persegi berukuran sedang yang permukaannya sudah agak buram. Rama berdiri di hadapannya, menatap bayangannya sendiri lekat-lekat.
Yah jujur saja, rama pun sudah lupa caranya merawat diri. Sejak tuntutan kerja yang semakin menumpuk dan usahanya yang mati-matian untuk membahagiakan Ratna dulu, ia mengabaikan penampilannya sendiri. Rambutnya saja sampai bahu. Helai-helai rambut hitam itu tampak berantakan dan tidak tertata. Memang sih jika dirawat pasti ada kesan maskulin apalagi jika dipadukan dengan tuxedo..
Jika ia mau meluangkan waktu ke pangkas rambut dan menatanya dengan rapi, struktur rahangnya yang tegas justru akan memberikan kesan pria matang yang gagah. Tapi sekarang malah kaya gembel.. Dengan kaos oblong yang sudah agak melar dan rambut acak-akan, ia terlihat tidak lebih dari seorang pemuda yang kalah telak oleh kerasnya ibu kota.
Hal inilah yg dilihat rama didepan cermin kamar kost nya... Sebuah potret diri yang mengenaskan, yang membuatnya semakin memaklumi mengapa sedan Eropa itu bisa menang begitu mudah malam minggu kemarin.
Namun ditengah lamunan nya, keheningan malam itu tiba-tiba pecah. Pintu kamar kost diketuk 3x. Ketukan yang ritmis dan cukup keras, seketika membuyarkan sisa-sisa lamunannya di depan cermin. Rama menoleh ke arah pintu kayu yang cat cokelatnya sudah memudar.
"ia masuk saja tak dikunci" kata rama..
Pintu berderit pelan saat terbuka, memunculkan sesosok wanita paruh baya dengan daster batik dan sebuah buku catatan kecil di tangannya. Itu adalah Ibu kos, sang pemilik bangunan petak ini. Langkahnya terhenti di ambang pintu, menatap Rama dengan pandangan yang sudah sangat familier bagi para penghuni kos di tempat itu.
"nak rama ... ibu hanya mengingatkan bentar lagi tanggal pembayaran sebaiknya kamu siapkan sebelum jatuh tempo..." ujar ibu kos langsung pada inti maksud kedatangannya. Suaranya tidak membentak, namun memiliki penekanan yang cukup untuk mengingatkan Rama tentang realita dunia yang tidak pernah gratis.
Rama menelan ludah, merasakan sensasi pahit yang kembali menyengat tenggorokannya. Di saat kepalanya masih dipenuhi bayangan foto wanita cantik dari Iwan dan taruhan yang tidak masuk akal, tagihan dunia nyata justru datang lebih cepat untuk mengetuk pintunya.
"baik bu... saya juga nunggu gajian bila sudah masuk pasti akan saya bayar.." jawab Rama dengan nada se-sopan mungkin, menyembunyikan rasa cemas yang mulai menggerogoti isi dompetnya yang kian menipis.
Mendengar jawaban yang sudah sering ia dengar dari para pekerja kantoran di kosnya, Ibu kos hanya mengangguk paham. Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya sebelum kembali menatap Rama. "baik nak aku pamit dulu silahkan lanjutin..."
Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan derit engsel yang lambat laun menghilang. Rama mengembuskan napas berat, lalu kembali menatap bayangannya di cermin. Kenyataan hidup baru saja menamparnya lagi; ia tidak punya waktu untuk meratapi penampilan atau nasibnya yang mirip gembel. Sebelum memikirkan peluang 0,00001% untuk menjadi menantu keluarga kaya, ia harus memastikan bahwa ia tidak diusir dari kamar kos tipis ini pada tanggal jatuh tempo nanti.