Indonesia
NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Bukan Perempuan yang Mudah Mundur

“Jadi, kamu pembantu yang sangat disayangi itu?”

Jessica berdiri beberapa langkah dari Lia dan Sebastian di portico PIK Avenue.

Sebastian hendak menjawab, tetapi Lia lebih dulu berkata, “Saya bekerja di Rumah Wijaya, Nona Jessica.”

Jawaban itu tidak mengakui hubungan, juga tidak berbohong.

Jessica memandang Sebastian. “Katanya harus ke proyek.”

“Saya sedang menunggu mobil.”

Pak Kelik memang baru keluar dari arus kendaraan setelah memutar. Sebastian tidak perlu membuat alasan.

Jessica mengangguk. “Boleh saya bicara sebentar dengan Lia?”

Sebastian menatap pacarnya. Keputusan diserahkan kepadanya.

Lia mengangguk. “Boleh.”

“Di kafe sebelah saja. Tempatnya terbuka.”

“Saya tunggu di mobil,” kata Sebastian. Tatapannya pada Lia seolah bertanya sekali lagi.

Lia mengetuk kotak teh tiga kali dengan ujung jari.

Saya baik-baik saja.

Sebastian pergi tanpa memaksakan kehadiran.

Jessica memilih meja teras yang terlihat dari portico. Ia memesan air mineral untuk keduanya dan tidak membuang waktu dengan basa-basi.

“Sebas bilang ada keputusan pribadi,” katanya. “Itu kamu?”

Lia menatap gelas yang belum disentuh. “Pertanyaan itu sebaiknya Nona tanyakan kepada Sebas.”

“Kalau saya tanya, dia akan melindungi namamu. Saya ingin mendengar apakah kamu memahami situasinya.”

“Situasi apa?”

“Keluarga kami tidak hidup hanya sebagai individu. Pernikahan Sebas akan memengaruhi perusahaan, hubungan investor, dan nama Wijaya. Om Hendra sudah lama mempertimbangkan kerja sama dengan Papa.”

“Kalau begitu, yang dibutuhkan kontrak bisnis, bukan pernikahan.”

Jessica mengangkat alis, mungkin tidak menyangka Lia menjawab setegas itu.

“Dunia tidak selalu seideal kalimat itu,” katanya. “Kepercayaan keluarga sering dibangun melalui hubungan.”

“Dan apakah Nona mau menikah hanya untuk membangun kepercayaan bisnis?”

“Saya bersedia mengenal Sebas. Kami setara, saling memahami lingkungan, dan tidak akan membuat keluarga salah satu pihak kehilangan muka.”

“Tapi Sebas sudah bilang tidak menawarkan hubungan.”

Rahang Jessica menegang sedikit.

“Dia mungkin sedang memberontak karena terlalu lama diatur.”

“Atau dia tahu apa yang dia inginkan.”

Jessica menyandarkan punggung. “Kamu percaya pilihan itu akan bertahan setelah tekanan nyata datang?”

Lia tidak langsung menjawab.

“Sekarang hubungan kalian masih bisa terasa manis karena tersembunyi,” lanjut Jessica. “Begitu keluarga tahu, kamu akan disebut merebut anak majikan. Riwayat ayahmu akan dibongkar. Orang akan bilang kamu mendekati Bryan untuk masuk rumah ini.”

Setiap kalimat mengenai ketakutan yang telah lama tinggal di dada Lia.

Jessica mengetahuinya dari Vanessa, dan mungkin dari jaringan keluarga yang mudah mencari kabar.

“Saya tidak mengatakan itu adil,” katanya. “Saya mengatakan itu akan terjadi.”

“Lalu Nona ingin saya pergi supaya orang tidak sempat bicara?”

“Saya ingin kamu memikirkan apakah cinta cukup untuk membayar harga itu.”

“Harga itu dibayar siapa?”

“Kalian berdua.”

“Tidak. Kalau saya pergi, saya yang kehilangan. Sebas kembali ke hidup yang dipilih keluarga, Nona mendapat kesempatan yang diinginkan, dan semua orang menyebut saya tahu diri.”

Jessica terdiam.

Lia mengangkat wajah. “Saya sudah terlalu sering diminta berkorban supaya orang lain nyaman.”

“Ini bukan hanya kenyamanan.”

“Bagi saya hasilnya sama. Orang lain memutuskan tempat saya.”

Pelayan meletakkan dua botol air. Jessica menunggu sampai ia pergi, lalu mengeluarkan sebuah amplop krem dari tas.

“Saya tidak mau mempermalukanmu,” katanya. “Ini bukan bayaran untuk cinta. Anggap sebagai modal agar kamu bisa keluar dari posisi yang membuatmu bergantung.”

Ia mendorong amplop itu ke seberang meja.

Lia tidak menyentuh.

“Berapa?”

“Cukup untuk menyewa ruko kecil, mengikuti pelatihan, dan memulai usaha. Kamu bisa membangun hidup tanpa menunggu Sebas melawan keluarganya.”

“Syaratnya?”

“Hentikan hubungan. Keluar dari Rumah Wijaya dengan alasan baik. Jangan menghubungi Sebas lagi.”

Lia hampir tertawa karena ironi.

Sebastian baru saja menunjukkan sebuah ruko dan memastikan Lia tidak menjadi perempuan simpanan. Kini Jessica menawarkan tempat serupa dengan syarat Lia menyerahkan pilihan cintanya.

Keduanya sama-sama uang. Maknanya sepenuhnya berbeda.

“Nona bilang ini bukan bayaran,” kata Lia. “Tapi ada harga dan syarat. Itu bayaran.”

“Saya menawarkan jalan aman.”

“Jalan aman yang dipilih Nona.”

“Kamu mau tetap menjadi pembantu sampai keluarga mengusirmu?”

“Tidak. Saya akan berdiri sendiri.”

“Dengan uang siapa?”

“Uang saya, sedikit demi sedikit. Dengan kerja saya. Dengan pinjaman tertulis kalau perlu, bukan uang yang meminta saya meninggalkan seseorang.”

Jessica menatap pakaian sederhana Lia. “Kamu meremehkan berapa lama waktu yang dibutuhkan.”

“Saya tidak meremehkan. Saya sudah hidup susah lebih lama daripada Nona mengenal nama saya.”

Lia akhirnya mengambil amplop. Jessica tampak sedikit lega, tetapi Lia hanya membukanya untuk melihat isi.

Sebuah cek bank dengan angka yang cukup membeli bertahun-tahun gaji terbaring di dalam.

Tangannya gemetar.

Uang itu bisa menyewa ruko Bu Ratna, membeli stok pakaian, membayar kelas, dan mengirim lebih banyak kepada Popo Hwa. Dalam satu tanda tangan, Lia bisa melompati bertahun-tahun kerja.

Godaan itu nyata. Menyangkalnya berarti berbohong.

Lia menghitung cepat dalam kepala. Dengan jumlah itu, ia tidak perlu menunggu gaji bertahun-tahun. Ia bisa memindahkan Popo Hwa dari rumah tua yang atapnya bocor, membayar pemeriksaan kesehatan, dan menutup semua utang yang sering dipakai Herman untuk menerornya. Ia bahkan bisa berhenti bekerja besok tanpa takut tempat tidur hilang.

Namun, syarat cek itu akan tinggal lebih lama daripada uangnya. Setiap rak toko akan mengingatkan bahwa modal pertama datang karena seseorang yakin Lia bisa dibeli untuk pergi.

Ia tidak ingin membangun kebebasan di atas keputusan yang justru merampas kebebasannya.

Ia menutup mata sejenak, lalu melihat nama penerima yang masih kosong.

Sekali lagi, seseorang meletakkan harga pada keputusan hidupnya.

Lia memasukkan cek kembali dan mendorong amplop ke arah Jessica.

“Saya tidak menerima.”

“Pikirkan dulu.”

“Saya sudah memikirkan sejak Papa pertama kali menerima uang untuk menikahkan saya.”

Jessica terkejut.

“Nona mungkin tidak tahu rasanya duduk di depan orang yang menghitung tubuh dan hidup kita dengan angka,” lanjut Lia. “Saya tahu. Jadi jangan bilang amplop ini untuk kebaikan saya.”

“Saya bukan ayahmu.”

“Benar. Karena itu saya masih bicara dengan sopan. Tapi caranya sama-sama menganggap uang bisa menentukan ke mana saya harus pergi.”

Wajah Jessica memucat, lalu mengeras karena tersinggung.

“Saya tidak memaksa.”

“Dan saya mengatakan tidak.”

Lia berdiri. Kakinya sedikit lemas, tetapi suaranya tidak.

“Saya tidak akan memperebutkan Sebas dengan menghina Nona. Saya juga tidak akan meminta Nona mundur. Sebas sudah memberi jawabannya sendiri. Kalau Nona tidak percaya, bicaralah kepadanya, bukan membeli saya.”

“Kamu yakin dia akan memilihmu saat harus kehilangan keluarga?”

“Itu pertanyaan untuk dia.”

“Kalau dia tidak?”

Lia menelan sakit yang muncul. “Saya akan sedih. Mungkin hancur. Tapi saya tetap tidak akan menjual keputusan saya hari ini.”

Angin dari jalan menggerakkan ujung rambutnya.

“Saya bukan perempuan yang mudah mundur hanya karena jalan di depan sulit,” katanya. “Saya sudah pernah mundur karena takut. Kali ini, kalau hubungan kami berakhir, itu karena kami memutuskan, bukan karena Nona mengisi angka pada cek.”

“Kamu terdengar yakin cinta selalu menang.”

“Tidak. Saya yakin cinta bisa gagal.” Lia menatapnya lurus. “Yang saya bela bukan akhir bahagia yang belum pasti. Saya membela hak saya menentukan risiko mana yang mau saya jalani.”

Jessica tidak segera menjawab. Argumen itu tidak bisa dipatahkan dengan menyebut Lia naif, karena Lia justru mengakui kemungkinan kalah.

Jessica menatap amplop yang kembali di depannya.

“Vanessa bilang kamu pintar memainkan belas kasihan,” katanya.

“Vanessa juga pernah menyembunyikan kalung lalu menuduh saya.”

“Apa?”

Lia menjelaskan singkat bahwa rekaman membuktikan fitnah itu dan Vanessa telah dipaksa meminta maaf. Ia tidak menambah atau mengurangi.

Jessica tampak mulai memahami bahwa sumber informasinya tidak netral.

“Kenapa kamu menceritakan ini?”

“Supaya Nona memeriksa fakta sebelum percaya potongan cerita. Sebas menghormati Nona. Saya juga ingin begitu.”

Untuk pertama kalinya, ketegangan di wajah Jessica berubah menjadi sesuatu yang menyerupai malu.

Ia memasukkan amplop kembali ke tas. “Saya tetap merasa hubungan kalian akan melukai banyak orang.”

“Mungkin. Tapi orang dewasa yang terlibat harus bicara, bukan menyuruh satu perempuan menghilang.”

Jessica berdiri. “Kamu lebih berani daripada yang saya kira.”

“Saya masih takut.”

“Tidak terlihat.”

“Itu karena saya belajar bicara sambil gemetar.”

Mereka keluar dari kafe bersama. Jessica tidak meminta maaf, tetapi ia juga tidak mengulang tawaran.

Di dekat pilar portico, Sebastian berdiri dengan ponsel di tangan. Pak Kelik dan mobil menunggu beberapa meter di belakang. Rupanya ia belum berangkat ke proyek.

Jessica berhenti. “Kamu mendengar?”

“Bagian akhir.”

“Kenapa tidak masuk?”

“Karena Lia tidak meminta saya menyelamatkannya.”

Tatapan Jessica berpindah kepada Lia. Ada rasa kalah, tetapi juga pengakuan.

“Kalau begitu, urus sendiri keputusanmu,” katanya kepada Sebastian. “Jangan jadikan perempuan ini perisai pemberontakanmu.”

“Tidak akan.”

Jessica pergi menuju mobilnya.

Lia baru mengembuskan napas setelah kendaraan itu hilang dari pandangan. Lututnya hampir kehilangan tenaga.

Sebastian mendekat, berhenti satu langkah di depannya.

“Boleh saya pegang?” tanyanya.

Lia mengangguk.

Ia tidak memeluk di tempat terbuka. Sebastian hanya menggenggam tangan Lia, menutup jari-jari yang masih dingin dan gemetar.

“Kamu menolak berapa banyak?” tanyanya.

Lia menyebut angka cek.

Sebastian mengangkat alis. “Saya tersinggung harganya serendah itu.”

Lia memukul lengannya. “Jangan bercanda.”

“Kalau tidak bercanda, saya mungkin akan kembali dan marah.”

“Saya sudah menyelesaikannya.”

“Saya tahu.” Tatapannya penuh bangga. “Dan saya dengar kamu memanggil saya Sebas di depan dia.”

Lia membeku.

“Rahasia kita sudah tidak terlalu rahasia,” lanjutnya.

Sebelum Lia sempat panik, Sebastian mengangkat ponsel. Pesan baru dari Cornelia muncul di layar.

Pulang sekarang. Kita perlu bicara soal Lia.

1
Rian Moontero
mpiiirrr👍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!