Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 29

Draven menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang sekaligus kebanggaan yang tak terhingga, berbicara lembut sambil terus memandu gerakan putranya agar tetap aman dan nyaman .

"Lihatlah... kau memang diciptakan untuk terbang, putraku. Terbanglah sebebas hatimu... di sini tak ada yang akan menyakitimu. Nikmatilah kebebasan itu... karena kekuatan itu adalah bagian dari dirimu sendiri. Ayah selalu di sini... menjagamu..."

Leon tertawa riang, melayang perlahan mendekat ke arah wajah ayahnya, lalu dengan senyum lebar yang tak pernah hilang, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seakan ingin memeluk seluruh langit di hadapannya.

Di bawah lindungan sihir ayahnya, Leon terbang dengan penuh kebahagiaan, merasa dicintai, dilindungi, dan dipenuhi segala keinginannya. Ruangan itu pun seakan ikut bersinar terang, menyaksikan kebahagiaan murni seorang anak yang akhirnya merasakan kehangatan kasih sayang ayahnya.

Leon menatap ayahnya dengan mata berbinar penuh harap, kepala kecilnya mengangguk mantap.

“Ya, memasak! Apakah Ayah bisa masuk ke dapur dan memasak?” tanyanya lagi, suaranya jernih dan penuh keyakinan.

Draven tertegun sejenak, alisnya sedikit terangkat. “Memasak?” ulangnya pelan, seakan kata itu asing di telinganya sang Raja Vampir yang selama berabad-abad hanya terbiasa memerintah dan berperang.

Leon mengangguk kuat, rambut hitamnya berantakan karena semangat. “Iya! Ibu bilang, pria yang tidak bisa memasak itu bukan pahlawan sejati. Ibu selalu bilang begitu. Kalau Ayah mau jadi pahlawan seperti yang Ibu ceritakan… Ayah harus bisa memasak!”

Draven terdiam, menatap putranya yang menatapnya dengan penuh pengharapan. Di dalam hatinya, ia merasa tersentuh sekaligus sedikit canggung.

Selama ribuan tahun hidupnya, ia tak pernah sekalipun menyentuh sendok di dapur, apalagi menyiapkan makanan. Namun melihat wajah mungil itu yang begitu percaya padanya, ia tak sanggup menolak.

Ia menarik napas panjang, lalu menghela napas pelan sambil tersenyum tipis—senyum yang jarang pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selain mereka berdua.

“Baik,” jawab Draven lembut namun tegas. “Ayah akan belajar. Untukmu… dan untuk Ibumu.”

Di dalam benaknya, ia mulai memikirkan segala hal yang mungkin terjadi. Apa yang harus dimasak? Bagaimana caranya? Apakah api akan membakar segalanya? Namun tak ada satu pun keraguan yang terucap. Demi Leon, demi Elizabeth, ia akan mencoba hal yang sama sekali baru baginya.

Leon bersorak gembira, melompat turun dari tempat tidur dan memeluk kaki ayahnya erat. “Hore! Ayah pasti bisa! Nanti kita masak bersama, lalu kita berikan ke Ibu sebagai kejutan!”

Draven mengusap kepala putranya dengan lembut, tatapannya penuh kasih sayang yang dalam. “Ya… kita berikan kejutan untuk Ibu. Ayah janji akan berusaha sebaik mungkin.”

Malam itu, di kedalaman sayap timur istana yang biasanya sunyi senyap, kini terdengar suara gaduh pelan dari arah dapur. Cahaya lampu minyak yang remang-remang menerangi ruangan yang biasanya bersih dan rapi itu, namun kini tampak sedikit berantakan.

Di sana, di hadapan meja kayu yang luas, berdiri sosok yang memancarkan wibawa tak tertandingi . Raja Draven sendiri—sedang berdiri kaku di depan talenan besar, seolah-olah benda itu adalah musuh terberat yang pernah ia hadapi di medan perang.

Dengan hati-hati dan kaku yang luar biasa, ia memegang pisau tajam di satu tangan, sementara tangan lainnya menahan sayuran di atas talenan. Keningnya berkerut kuat, matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah wortel dan kentang seolah-olah benda itu akan meledak sewaktu-waktu.

Setiap kali ia mengayunkan pisau, gerakannya berat dan kaku, jauh berbeda dari kecepatan dan ketepatan yang biasa ia tunjukkan saat memegang pedang. Beberapa potongan sayur terpotong terlalu besar, yang lain terlalu kecil, dan beberapa bahkan terlempar ke lantai karena ketidaktahuannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!