Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:404.5k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Lamaran tak terduga

Malam bergeser lambat di kediaman Bayu, meninggalkan keheningan yang terasa berat di dalam kamar tidur bernuansa biru langit milik Elang.

Di luar, angin malam berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di taman belakang. Ketegangan sesungguhnya malam itu justru berpusat di atas ranjang kecil tempat Elang terbaring lemah.

Sejak pukul sepuluh malam, suhu tubuh bocah empat tahun itu melonjak drastis hingga menyentuh angka tiga puluh sembilan derajat Celsius akibat gejala radang tenggorokan.

Larissa tidak beranjak satu inci pun dari sisi ranjang, dengan setia dia terjaga semalaman suntuk. Jemari lentiknya dengan telaten mengganti handuk kompres hangat di dahi Elang setiap tiga puluh menit sekali.

Ketika Elang terbangun sambil merintih lirih dan menangis karena sekujur tubuhnya terasa ngilu, Larissa dengan penuh kesabaran merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dia membisikkan kata-kata penenang yang lembut, menepuk-nepuk punggung Elang, dan menyuapinya obat penurun panas hingga menjelma menjadi penawar rasa sakit bagi sang bocah.

Bayu berdiri bersandar di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit, menyaksikan seluruh pemandangan itu dengan sepasang mata yang meremang halus.

Pria itu menolak untuk kembali ke kamarnya sendiri, memilih untuk menemani dari kejauhan. Di bawah pendar temaram lampu tidur, Bayu melihat betapa tulusnya sorot mata Larissa.

Wajah cantik wanita itu tampak begitu lelah, lingkaran hitam samar mulai menghiasi sudut matanya akibat kurang tidur, namun tidak ada satu pun gurat kekesalan atau keterpaksaan yang terpancar dari ekspresinya.

Larissa merawat Elang dengan seluruh jiwa dan naluri keibuannya, sesuatu yang selama tiga tahun ini tidak pernah lagi didapatkan oleh Elang sejak kepergian mendiang ibu kandungnya.

Menjelang fajar, tepat pukul lima pagi, mukjizat kecil itu datang. Napas Elang perlahan mulai teratur dan tenang.

Ketika Larissa menempelkan kembali punggung tangannya ke leher Elang, suhu tubuh bocah itu akhirnya turun drastis kembali ke angka normal.

Elang akhirnya bisa tertidur lelap dengan gurat wajah yang sangat damai, masih mencengkeram ujung baju Larissa dengan erat seolah tidak mau ditinggalkan.

Larissa mengembuskan napas lega yang panjang. Dia membetulkan selimut Elang, lalu perlahan bangkit berdiri dari kursi kayu di samping ranjang, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun agar tidak membangunkan sang bocah.

Begitu Larissa memutar tubuhnya ke arah pintu, dia tersentak samar saat mendapati Bayu masih berdiri di sana, menatapnya dengan intensitas yang sangat dalam dan pekat.

"Dia sudah membaik, Pak," bisik Larissa, suaranya terdengar agak serak karena kelelahan semalaman.

"Demamnya sudah turun. Dokter Bian bilang tadi malam kalau panasnya turun menjelang pagi, Elang hanya perlu beristirahat total hari ini."

Bayu mengangguk perlahan. "Terima kasih, Ris. Sekarang ikut saya ke taman belakang, kamu butuh udara segar setelah semalaman berada di ruangan tertutup ini."

Kabut tipis sisa fajar masih menyelimuti rerumputan hijau di taman belakang saat mereka berdua melangkah menyusuri jalan setapak.

Udara pagi yang dingin berembus menyegarkan wajah Larissa yang letih. Bayu melangkah di sampingnya dengan pembawaan yang begitu tenang.

Mereka berhenti di dekat gazebo kecil yang dikelilingi oleh rumpun bunga lili putih. Bayu membalikkan tubuhnya, berdiri tegak tepat di hadapan Larissa.

Pria itu menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata gelap Larissa dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius, tanpa ada lagi jarak profesionalitas seorang atasan.

"Larissa, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan secara pribadi denganmu," ujar Bayu, suara baritonnya yang berat mengalun tegas membelah kesunyian pagi.

Larissa merapikan helai rambutnya yang tertiup angin pagi, lalu menatap Bayu dengan saksama. "Mengenai urusan kantor, Pak?"

"Bukan. Ini mengenai masa depanmu, Elang, dan saya," sahut Bayu tanpa ragu sedikit pun, membuat Larissa terpaku diam di tempatnya berdiri.

Bayu memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya, sementara sepasang mata elangnya mengunci fokus pandangan Larissa.

"Insiden di gala dinner malam itu memang berhasil membalikkan keadaan untuk menjatuhkan harga diri Bram Baskoro dan istrinya. Tapi kamu harus realistis, Ris. Di luar sana, rumor tentangmu masih akan terus berembus liar di kalangan sosialita karena statusmu saat ini 'hanya' dianggap sebagai asisten pribadi saya. Selama kamu berada di posisi itu, pria seperti Bram dan istrinya yang licik akan terus mencari celah untuk mengganggu dan merendahkan hidupmu kembali."

Larissa terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir sang pria es. Apa yang dikatakan Bayu adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

Tanpa perlindungan hukum dan status sosial yang tinggi, jaring-jaring fitnah dari masa lalu masih bisa mengintainya kapan saja.

"Saya adalah seorang pria yang terbiasa mengambil keputusan besar secara cepat di dalam hidup saya," lanjut Bayu, langkah kakinya maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Larissa bisa merasakan kehangatan yang menguar dari postur tubuh tinggi besarnya.

"Saat ini Elang membutuhkan seorang figur ibu yang nyata untuk mendampingi tumbuh kembangnya, dan saya... saya membutuhkan seorang wanita yang tulus untuk berdiri di samping saya, mengelola lingkaran kehidupan saya, dan menjadi ibu legal bagi putra saya. Setelah kematian ibu kandung Elang, saya belum pernah melihat wanita lain yang memiliki ketahanan mental dan ketulusan batin yang lebih layak untuk memegang posisi itu selain kamu, Larissa."

Bayu menarik tangan kanannya dari saku celana, lalu dengan gerakan yang lembut, dia meraih jemari tangan kiri Larissa yang dingin, menggenggamnya erat di dalam telapak tangannya yang hangat dan kokoh.

"Larissa, saya melamarmu hari ini secara resmi," ucap Bayu, suaranya bergetar sedikit, tapi keraguan sedikit pun.

"Menikahlah dengan saya. Masuklah ke dalam perlindungan penuh nama besar Megah Corp. Saya berjanji akan memberikan seluruh keamanan, kehormatan, dan kebahagiaan yang tidak pernah kamu dapatkan di masa lalu. Bersama saya, tidak akan ada satu pun manusia di kota ini yang akan diizinkan untuk menyentuh atau menyakiti seujung kuku dari hidupmu lagi."

Penawaran besar yang keluar dari bibir Bayu terasa seperti hantaman gelombang pasang yang memporak-porandakan seluruh sistem pertahanan mental Larissa dalam sekejap.

Seluruh tubuh Larissa seketika terpaku di atas rumput taman. Sepasang mata gelapnya membelalak lebar karena terkejut. Dia menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Bayu, mencoba mencari tanda-tanda kepalsuan atau motif bisnis di sana, namun yang dia temukan hanyalah kejujuran dan intensitas perlindungan yang begitu pekat.

Dada Larissa bergemuruh hebat, dan tanpa bisa ditahan, benteng ketegangan yang dia bangun runtuh. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca, tergenang oleh lapisan air mata bening yang berkilau di bawah siraman mentari pagi.

Rasa sakit, trauma pengkhianatan masa lalu dari Bram, dan caci maki sebagai wanita tidak berguna kembali berkelebat di benaknya, membuat hatinya mendadak diselimuti rasa ragu yang besar.

Larissa menarik napas pendek yang gemetar, suaranya tercekat di tenggorokan saat dia mendongak menatap Bayu.

"Pak Bayu... Anda tahu apa yang dikatakan semua orang tentang saya di luar sana," rintihnya, air mata setetes demi setetes mulai mengalir membasahi pipinya yang pucat.

Dia mencoba menarik jemarinya dari genggaman Bayu, namun pria itu justru mempererat cengkeramannya dengan kelembutan yang mengunci. "Anda tahu alasan kenapa saya diusir dengan keji dari rumah keluarga Baskoro... mereka membuang saya karena saya divonis cacat biologis. Saya... saya tidak bisa memberikan keturunan atau melahirkan seorang anak untuk Anda."

Mendengar kalimat rapuh yang sarat akan sisa luka masa lalu itu keluar dari bibir Larissa, sorot mata Bayu tidak sedikit pun berubah.

Bayu melangkah maju lagi, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka. Tangan kirinya terangkat perlahan, dengan sangat lembut jemari kasarnya menyapu air mata yang membasahi pipi Larissa, menangkup wajah cantik wanita itu dengan gestur kepemilikan yang begitu protektif.

"Dengarkan aku baik-baik, Larissa," ujar Bayu, suaranya mengalun sangat rendah, menanggalkan semua formalitas di antara mereka. Sepasang mata elangnya menatap lurus, mengunci fokus pandangan mata Larissa yang bergetar.

"Aku tidak sedang mencari atau menikahi sebuah rahim. Aku menikahi jiwamu. Aku menikahi ketangguhan dan ketulusan yang ada di dalam hatimu. Kehadiran Elang sudah lebih dari cukup bagi masa depanku, dan kamu... kamu adalah pelengkap serta jawaban dari seluruh ruang kosong di dalam hidup kami berdua mulai hari ini."

Kata-kata penuh pengakuan yang luar biasa agung dari sang penguasa tertinggi Megah Corp itu mendarat bagai runtuhnya seluruh beban trauma yang mengikat kaki Larissa.

Bersambung

1
Yulia
Dari sekian banyak novel yg sy baca baru novel ini yg balas dendam nya sangat luar biasa kejam.
walaupun ini hanya novel tp yg setidaknya tokoh Larisa memaafkan kesalahan Bram dan Bu Maya,bukan kah tuhan saja maha pengampun.
Lai Lai
cinta boleh tapi bodoh sangat jangan
Thewie
nata kau itu bram. enak kali kau bilang kembali padamu. makan kau penyesalanmu
Thewie
cemanalah gak di remehkan. dr awal cerita dia jadi wanita bodoh. sampe 5 tahunpun bodoh terussssss .
Thewie
janji manis pula kau percaya bodoh
Thewie
🤣🤣🤣🤣mampuskan kau wanita bodoh. geram kali aku lihat kau jank. bodoh bodh
Thewie
hahahah matilah kau Larisa bodoh🤣🤣🤣... bodoh oh bodohhhhhh
Thewie
mampuslah kau Larisa .. kan kau yg buat smuanya ribet 🤣🤣 tahankan kau ya bodoh
Thewie
jangan mau jadi wanita bodoh say.. mengorbankan diri dan perasaan demi org lain.
Zieya🖤
salah sendiri, lambat² pergi.... kalau saja gerakan mu sat set kan bagus.... sampai bila drama bodoh ni habis😑😑😑😑😑
lama² sebal juga bacanya.....
Thewie: benarkan Bun. seandainya dia balas dendam pun julukan wanita bodoh sudah melekat 🤭
total 1 replies
Zieya🖤
biar itu lakik gak tau dia mandul, mau nikah sampai 10 bini pun balal gak punya anak.....
etihajar
bodoh bodoh goblok goblok goblok Ben gwr msh duh Gusti mikir Larissa mikir jgn jd orang Donggo
etihajar
ngapain mewek toh Lo yg bodoh Larissa gegaya nutupin aib bkski dih realistis aj atuh hidup MH gsk usah sebucin dan sebulol biru please SM yg bikin cerita jgn bikin perempuan jd bodoh SM suami mertua DM pelapor bikin cerita yg nyata2 aj si
etihajar
ahh yg goblok tuh si Larissa nya aja katabku mah klo di dunia nyata MH mna ad yg mau nutupin ke mandilan laki nya
Yuen
Dia yg bodoh, pantesan kok biar sadarrr, terlalu baik sampai mengorbankan itu perbuatan oon
Yuen
Haduhhh kapan pintarnya orang ini 🤣🤣🤣🤣gak punya harga diri bgemis2 cinta🤣🤣
Yuen
Tepuk tangan buat si lemah bodoh🤣🤣🤣
Ignasio Milla
ceritax sadis bngt"masa gk ada berubah si bram'sbgai manusiakan sdh mnta maaf sekalipun ada kata2 kSar dri bram dan bu maya"
Yuen
Nangisss teroooossss
Yuen
Nangis yang keras dg kebodohanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!