Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT DARI ISTANA
Bau harum buah-buahan segar langsung menyeruak begitu mereka tiba di barisan tanaman stroberi dan apel yang tumbuh subur di sana.
"Wah, lihat Bu! Ukuran stroberinya besar-besar sekali, padahal kemarin baru dipetik sebagian," puji Julian takjub, berjongkok sambil menyentuh salah satu buah berwarna merah ranum.
Aleta ikut berjongkok di samping anak tirinya, lalu tersenyum tipis melihat hasil kerja tangan dinginnya bersama ruang dimensi miliknya.
"Tentu saja besar, kan dirawat dengan penuh cinta dan sayang oleh Jendral kecil kita," ucap Aleta bercanda, mencolek hidung Julian pelan.
Julian tertawa kecil, merasa bangga karena jerih payahnya ikut menyiram tanaman setiap hari membuahkan hasil yang luar biasa.
"Kalau begini caranya, uang kita akan makin banyak dong, Bu? Nanti kita bisa beli istana sendiri, biar tidak perlu tinggal bersama Ayah seram itu!" celetuk Julian tanpa dosa.
Mendengar ucapan polos anak nya, Aleta langsung terbahak pelan, menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Sssttt, ngomongnya jangan keras-keras, nanti kalau Ayah mu dengar, kamu mau disuruh lari keliling lapangan barak sepuluh putaran?" ucap Aleta memperingati.
Julian langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menggeleng cepat tanda ngeri membayangkan hukuman dari sang ayah.
"Hehe, tidak jadi deh, Bu. Ampun," cicit Julian pelan, membuat Aleta kembali tersenyum geli.
"Makanya, mulutnya dijaga kalau lagi ngomongin Jendral menyebalkan itu," ucap Aleta lagi sambil mulai memetik beberapa buah stroberi dengan hati-hati.
"Biarkan saja, kan ada Ibu yang akan belain aku kalau Ayah marah," jawab Julian percaya diri, mendongak menatap Aleta dengan mata berbinar penuh kagum.
Aleta menggelengkan kepalanya pelan, merasa terenyuh dengan kepercayaan besar yang diberikan bocah itu padanya.
Di dunia lamanya dia tidak pernah tahu apa arti sebuah keluarga yang hangat, tapi sekarang, sosok kecil di hadapannya inilah yang berhasil meruntuhkan dinding es di hatinya.
"Iya, tenang saja, Ibu pasti akan selalu pasang badan untuk Jendral kecil kesayangan Ibu ini," ucap Aleta lembut, mengusap puncak kepala Julian penuh kasih sayang.
"Asyik! Kalau begitu aku bantu petik yang sebelah sini ya, Bu!" seru Julian semakin bersemangat, meraih keranjang rotan kecil yang ada di dekat kakinya.
"Iya boleh," jawab Aleta tersenyum kecil.
Mereka berdua melanjutkan aktivitas memanen buah di tengah kebun belakang yang tampak sangat subur, tanpa tahu bahwa di balik jendela lantai dua, sepasang mata tajam sedang memperhatikan kebersamaan mereka.
Liam berdiri tegak dalam kegelapan ruangannya, menyilangkan tangan di dada sambil mengamati senyuman tulus yang sesekali terukir di wajah istrinya.
Sudut bibir pria itu perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Menarik sekali..." gumam Liam pelan, merasakan kehangatan asing yang perlahan merayap masuk ke dalam dadanya yang selama ini beku oleh kerasnya dunia militer.
Angin malam berhembus pelan, menerbangkan helai rambut Aleta yang sedang fokus memasukkan buah stroberi terakhir ke dalam keranjang rotan milik Julian.
"Sudah malam, Jendral kecil, keranjang kita juga sudah penuh, saatnya beres-beres dan kembali ke kamar," ujar Aleta sambil menegakkan tubuhnya yang sedikit pegal.
Julian mengangguk patuh, lalu ikut berdiri sambil mengangkat keranjang kecilnya dengan kedua tangan mungilnya.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Keesokan pagi nya seorang utusan khusus kerajaan datang membawa gulungan surat berstempel kerjaan langsung ke hadapan Aleta yang sedang menikmati teh di ruang keluarga bersama Julian.
"Surat resmi dari istana untuk Marchiones Volis," ucap utusan itu dengan nada sok kuasa, menyerahkan surat tersebut di atas nampan.
Aleta menerima surat itu dengan malas, lalu membukanya dan membaca isinya sekilas.
Di dalam surat itu tertulis jelas bahwa Raja Salova memerintahkan Aleta untuk datang ke istana hari ini juga guna menyerahkan hak pengelolaan kebun buahnya kepada pihak kerajaan.
Aleta mendengus pelan, lalu meremas kertas surat itu dengan kesal di depan si utusan kerajaan.
"Bilang sama raja tua tamak itu, kalau mau kebun buah saya, ambil sendiri ke sini kalau dia punya nyali!" usir Aleta tajam tanpa ampun.
Utusan istana itu melotot kaget tidak percaya, wajahnya memerah karena merasa direndahkan di wilayah bawahan.
"Berani sekali Anda menolak perintah langsung dari Raja, hah! Ini pelecehan terhadap mahkota!" bentak utusan kerajaan itu dengan suara tinggi.
Aleta berdiri dari kursinya, menatap tajam pria itu dengan aura membunuh yang langsung mencengkeram seluruh ruangan.
"Pelecehan? Yang melecehkan itu raja tua kalian yang suka merampok hak rakyatnya sendiri! Sekarang pergi dari kediaman saya sebelum saya potong lidah sok berani mu itu!" ancam Aleta dingin.
Glek
Utusan itu menelan ludah ketakutan, buru-buru berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari rumah karena nyalinya sudah ciut.
Julian yang melihat kejadian itu langsung mendongak menatap Aleta dengan cemas.
"Ibu... apa tidak apa-apa kita menolak raja? Nanti kalau istana menyerang kita bagaimana?" tanya Julian khawatir, memegang ujung baju Aleta.
Aleta tersenyum tipis, lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang anak, mengusap pipi Julian pelan.
"Tenang saja, Jendral kecil, biar nanti ayahmu yang urus kalau dia berani macam-macam," jawab Aleta santai.
Namun, belum sempat Aleta berdiri, tiba-tiba pintu utama kediaman terbuka dengan kasar.
Ceklekk...
Sosok Jendral Liam Volis melangkah masuk dengan seragam militernya yang tampak berdebu, rahang pria itu mengeras sempurna dengan sorot mata yang menyala-nyala penuh kemarahan.
Seno yang mengekor di belakangnya tampak pucat pasi karena baru saja mendengar kabar bahwa istana berniat merampas harta keluarga mereka.
"Jadi, raja keparat itu berani mengirim surat ancaman ke istri ku?" suara berat Liam menggema di ruang tamu, terdengar sangat dingin dan menakutkan.
Aleta menoleh, sedikit terkejut melihat suaminya pulang lebih cepat dari barak militer.
"Wah, rupanya berita murahan dari istana cepat sekali sampai ke telinga sang jendral," sindir Aleta cepat, melipat tangan di dada.
Liam mengabaikan sindiran itu, pria jendral perang tersebut melangkah lebar mendekati Aleta, lalu menatap tajam ke arah istrinya.
"Kamu mau menantang istana sendirian, hah? Kenapa tidak lapor suami mu dulu sebelum mengusir utusan raja?" tanya Liam dingin, tersirat rasa khawatir di balik suara tegasnya.
Aleta mendengus pelan, mendongak menatap suaminya tanpa gentar sedikit pun.
"Jangan berlebihan Liam, aku bisa urus sendiri tanpa bantuanmu," jawab Aleta tidak mau kalah.
Liam mengepalkan kedua tangannya erat menahan emosi yang hampir meledak, bukan karena kesal pada Aleta, tapi karena kemarahannya pada raja yang berani mengganggu keluarganya.
"Dengar ya, Marchiones, wilayah Volis ini ada di bawah komando ku! Raja tua itu tidak punya hak sedikit pun untuk menyentuh apa yang ada di kediaman ini!" tegas Liam dengan suara menggelegar yang membuat seisi rumah terdiam.