Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Mempermalukan, Dipermalukan!

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan pesta, riuh. Beberapa tamu undangan mulai saling berbisik-bisik, menjadikan Zidan dan Melodi sebagai pusat perhatian utama.

Pemandangan Melodi yang terus menempel mesra di lengan Zidan, sementara Humaira berjalan tenang sedikit di belakang, memancing beragam spekulasi.

"Cocok banget ya mereka berdua."

"Iya, sudah kayak pinang dibelah dua. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Pria satu dokter sukses, wanita satu lagi desainer ternama yang sudah dikenal luas."

"Tapi ngomong-ngomong, bukannya baru-baru ini ada kabar kalau pernikahan mereka sempat ada masalah?"

"Iya sih, aku juga dengar rumor begitu. Tapi melihat mereka datang serasi begini, kayaknya cuma gosip burung saja. Buktinya mereka tetap lengket kok."

Bisikan-bisikan itu terdengar cukup jelas, bahkan sampai ke telinga Zidan, Melodi, hingga Humaira.

Melodi tersenyum bangga. Pujian yang dilontarkan para tamu seolah memvalidasi posisinya di samping Zidan.

Sementara Humaira tetap melangkah dengan raut wajah datar tanpa beban.

Iya, kalian semua benar. Mereka berdua memang sangat cocok. Aku bahkan tidak akan memungkiri hal itu, batin Humaira dalam hati, membenarkan setiap perkataan para tamu.

"Kalian berdua sudah datang?" tanya Ratih saat mereka melangkah makin mendekat.

Wajah wanita paruh baya itu memancarkan binar kepuasan melihat kedatangan mereka.

"Iya, Tante," jawab Zidan singkat. Pria itu tetap memanggil Ratih dengan sebutan Tante, menjaga jarak kesopanan yang formal meski status hukumnya seharusnya memanggil Oma.

Ratih tersenyum lebar pada Zidan dan Melodi yang tampak serasi di matanya, sebelum akhirnya pandangan Ratih beralih dingin pada Humaira yang berdiri sedikit di belakang.

"Tadi Oma telepon kamu, banyak drama lagi!!" Ucap Ratih dengan nada tidak senang, menatap tajam ke arah cucunya itu.

"Maaf, Oma. Tadi saya baru pulang dari rumah sakit, jadi sedikit lelah dan memang tidak ada niat untuk pergi," jawab Humaira membela diri, meskipun dia tahu kalau itu percuma.

"Alah! Kamu itu memang sama saja seperti ibumu, suka membantah!" Ujar Ratih sinis.

"Lihat ibumu, apa yang terjadi dengan hidupnya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Tidak, kan? Bagaimana mau baik-baik saja kalau jadi orang suka membantah orang tua? Alhasilnya tuh lihat, yang ada malah jadi miskin! Dulu padahal senang, mau dilamar sama pengusaha... tapi malah memilih jadi wanita murahan berkedok simpanan!"

Ratih mengoceh dengan suara yang sengaja dipelankan, namun kalimat demi kalimat pedas itu terdengar sangat jelas di telinga Zidan, Melodi, dan Humaira.

Dada Humaira bergemuruh. Ia sebenarnya ingin sekali membalas dan membela ibunya. Namun, melirik ke sekeliling ruangan yang dipadati para tamu dari kalangan atas, Humaira menahan diri.

Ia tahu, jika ia membantah saat ini juga, Omanya tak akan ragu untuk mempermalukannya lebih jauh dan semakin merendahkan harkat ibunya di depan publik.

Zidan yang mendengar ucapan Ratih, juga merasa tidak nyaman dan kasihan melihat bagaimana Humaira diperlakukan oleh keluarganya sendiri.

"Kamu kalau dibilangin dengar dong! Jangan mau jadi seperti ibumu. Yang di usia tuanya bukannya senang, malah makin susah, merepotkan! Nanti kalau kamu sudah bercerai dengan Zidan, cari suami yang mapan.

Jangan malahan nanti jadi wanita simpanan kayak ibumu! Ibumu itu pelajaran besar bagimu. Ibumu itu aib terbesar keluarga ini. Seandainya saja Oma tahu ibumu akan mengaibkan keluarga ini, Oma tidak akan pernah sudi melahirkan dia!"

Wajah Humaira berubah merah, pandangannya mengabur dipenuhi gemuruh emosi. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi. Ingin berteriak, membantah, dan membalas setiap kata-kata kejam yang keluar dari mulut omanya sendiri.

"lihat sana, belajar jadi wanita berkelas. Jangan murahan yang mau sama pria sembarangan. Apa lagi ditiduri dulu baru menikah, atau hamil dulu baru cari pria untuk menutup aib! jatuhnya kayak wanita jalang!"

"Bukan cuma itu, menikah dengan laki-laki yang tidak punya pekerjaan tetap atau tidak mapan, itu juga aib keluarga! Contoh ibumu itu! Walaupun suaminya mapan, tapi sama saja. dia cuma wanita yang datang bawa badan ke suami orang!"

Humaira akhirnya sudah tidak sanggup lagi.

"Om---" ucap Humaira terhenti.

"Kak Ratih..."

Suara Elisa, ibunya Zidan, tiba-tiba memotong melangkah menghampiri mereka.

"Di depan kayaknya Keluarga Dirgantara sudah datang," ucap Elisa memberitahu.

Ucapan Elisa seketika menghentikan ocehan pedas Ratih. Raut wajah Ratih yang tadinya dipenuhi amarah dan rasa benci langsung berubah drastis, berbinar penuh antisipasi menyambut kedatangan tamu terhormatnya malam itu.

"Benarkah? Ayo kita keluar menjemputnya!" ujar Ratih antusias.

Dengan segera, Ratih dan Lina juga Eliza melangkah cepat menuju area pintu utama untuk menyambut tamu kehormatan mereka.

Sepeninggalan mereka, Zidan melirik ke arah Humaira. Raut wajah istrinya tampak jelas sedang menahan gejolak emosi—bibirnya terkatup dengan pandangan yang kaku ditekan rasa sakit.

Namun anehnya, Zidan tetap tak berbuat apa-apa. Kehadiran Melodi yang terus menggelayut di sisinya membuat Zidan bungkam dan tak melontarkan satu kata pun untuk membela istrinya.

Di area lobi luar, sebuah mobil mewah baru saja berhenti. Pintu terbuka, menampilkan seorang wanita tua anggun yang kira-kira seumuran dengan Ratih, disusul oleh putrinya seorang wanita paruh paruh baya.

Mata Ratih berbinar senang saat melihat Maharani datang bersama Rara putrinya.

Maharani tampak tersenyum dari kejauhan melihat Ratih yang sudah bersiap menunggunya di depan pintu.

"Akhirnya kamu datang juga," ujar Ratih gembira, langsung memeluk hangat Maharani dan melakukan cipika-cipiki.

Elisa juga memeluk Maharani. "Aku pikir Kakak tidak akan datang," sahut Elisa menyunggingkan senyum lebar.

"Tentu saja aku datang. Ini kan acaranya Ratih. Mana pernah aku tidak datang kalau Ratih sedang buat acara," jawab Maharani terkekeh pelan.

Pandangan Ratih kemudian beralih ke sosok wanita paruh baya di samping Maharani. "Tapi ngomong-ngomong, kok tumben Rara mau ikut?" tanya Ratih sedikit heran melihat putri sahabatnya itu.

Rara hanya berdiri diam. Tak ada senyum ramah, tak ada sepatah kata sambutan hangat yang keluar dari bibirnya. Wajahnya benar-benar datar dan dingin menatap kerumunan di depannya.

Semua karena, Rara sama sekali tidak berminat hadir—kedatangannya malam ini semata-mata karena dipaksa oleh sang ibu, Maharani.

Maharani menyenggol pelan lengan putrinya, memberi sinyal agar wanita itu bersikap lebih sopan.

"Iya, Tante. Tadi Mama yang ajak," jawab Rara akhirnya. Namun, raut wajahnya tetap saja datar tanpa ekspresi.

Jujur saja, berada di tengah pesta membuat Rara merasa muak. Ia tahu orang-orang di sekelilingnya—termasuk Ratih dan keluarganya—hanya sedang berusaha mencari muka dan memanfaatkan koneksinya.

Rara bukan wanita sembarangan. Dia adalah CEO dikenal angkuh anti penjilat yang memegang kendali penuh atas perusahan tekstil yang sangat sukses milik suaminya. Semenjak suaminya memilih pensiun.

Di luar kejayaannya memimpin perusahaan, Rara memiliki kehidupan rumah tangga bahagia dan harmonis bersama suami, serta dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Putra sulungnya kini berusia 31 tahun dan memiliki karier yang sangat cemerlang sebagai seorang pengacara ternama.

Namanya di dunia hukum begitu disegani; ia dikenal sangat handal, hampir tak pernah kalah dalam setiap kasus yang ditanganinya, dan yang paling penting: ia terkenal memiliki integritas tinggi serta sama sekali tidak bisa disuap.

Bahkan tak jarang putra Rara memberikan bantuan hukum gratis (pro bono) bagi orang-orang kurang mampu yang haknya berusaha dirampas oleh pihak-pihak berkuasa.

Pria itu paling pantang melihat kesewenang-wenangan; ia rela turun tangan langsung demi mengembalikan hak-hak mereka. Di balik sikap dermawannya itu, hingga usianya yang menginjak 31 tahun, putranya sangat bersih dari skandal.

Belum pernah ada satu wanita pun yang pernah terlibat dengannya, membuat sang pengacara sukses ini masih menyandang status lajang.

Putri bungsu Rara pula, tumbuh menjadi sosok yang anggun, modis, dan sedikit cerewet. Gadis 25 tahun itu memilih membangun usahanya sendiri dengan mendirikan brand dan jaringan toko kosmetik premium yang sukses besar.

"Ya sudah kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam," ajak Ratih pada tamu terhormatnya itu.

"Ayo." Ucap Maharani.

Ratih menggiring Maharani dan Rara memimpin jalan menuju ballroom utama.

Melihat rombongan elite Keluarga Dirgantara masuk, mata Melodi berbinar penuh ambisi.

"Sayang, ayo kita ke sana! Sapa Tante Maharani sama Mbak Rara," bisik Melodi penuh antusias. "Mbak Rara itu jarang banget mau hadir di pesta seperti ini."

Zidan sempat tertahan sejenak. Matanya refleks melirik ke belakang, pada Humaira yang seperti terisolasi di pesta itu.

"Mas Zidan, ayo!" desak Melodi lagi.

"Iya." Akhirnya Zidan setuju.

Namun sebelum pergi, Melodi kembali bersuara. "Humaira! Kamu juga ikut!"

Mau tidak mau, Humaira terpaksa melangkah lagi mengekor di belakang mereka.

Tubuhnya rasa begitu lelah dan jiwanya mendesak ingin segera beristirahat, namun takdir justru menyeretnya ke pesta penuh drama yang memuakkan itu.

Sebelum Melodi dan Zidan sempat menghampiri rombongan tersebut, langkah Rara tiba-tiba terhenti.

Pandangan mata wanita itu tertuju pada sesosok wanita yang tengah sibuk membawa baki minuman dengan seragam pelayan.

Rara memperhatikan dengan saksama, lalu menoleh ke arah Ratih.

"Bukannya itu putri Tante yang dulu seorang pramugari ya? Sebelum kecelakaan?" tanya Rara untuk memastikan.

Ratih kaget. Pandangannya mengikuti arah mata Rara, yang melihat Yanti berdiri tak jauh dari sana.

Wajah Ratih langsung diliputi gugup dan canggung. Ia tidak menyangka ingatan Rara sangat kuat, padahal Yanti sudah bertahun-tahun menghilang dari lingkaran sosialita kelas atas.

"I-iya... itu memang dia," jawab Ratih terbata, berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Sudut bibir Rara terangkat, membentuk senyuman tipis seperti sindiran.

"Oh... saya tidak menyangka, keluarga besar Tante memperlakukan putri kandung sendiri seperti orang asing. Apa mungkin karena kariernya yang sudah tidak seperti yang lain? Makanya diperlakukan seperti sampah?"

Skakmat!

Wajah Ratih merah padam. Menahan malu saat mendapat sindiran telak nan pedas dari putri sahabatnya sendiri.

Rara melipat tangan di dada, tanpa memudar senyum sinisnya.

"Nasibnya kurang beruntung... hanya karena lahir di keluarga yang lebih mementingkan status sosial," lanjut Rara santai, terdengar bagai ledekan yang menghantam Ratih.

"Rara! Kamu apa-apaan sih, Ra!" bisik Maharani seraya mencubit pelan lengan putrinya, menegur sikap Rara yang tanpa ragu menelanjangi tabiat Ratih di depan umum.

Ratih yang tadi sudah antusias. Kini senyuman diwajahnya memudar akibat kata-kata pedas Rara.

"Pekarangan rumah luas. Rumah megah. Punya butik utama dengan cabang di mana-mana. Tapi putri kandung sendiri malah dibiarkan berwajah lelah, terabaikan, dan hanya mengenakan pakaian pelayan dihari penting. Miris." Lanjut Rara tanpa beban, tak peduli teguran ibunya.

Setiap kata yang keluar dari mulut Rara bagaikan pedang yang menguliti harga diri keluarga Ratih.

Ratih hanya bisa menundukkan kepala, menahan malu yang teramat sangat. Ia takut membalas dan membantah, sadar bahwa Rara bukan tandingannya sama sekali.

Rara adalah sosok wanita elite yang terkenal ceplas-ceplos, berhati dingin. Tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang berani berurusan atau mencari masalah dengan wanita sepertinya.

Yanti yang ternyata bisa mendengar ucapan Rara hanya diam menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada orang luar dari kalangan atas yang mengakui kemirisan hidupnya.

"Sudah, Ra. Jaga bicaramu, tidak enak didenger tamu lain," bisik Maharani lagi, berusaha menghentikan putrinya meski raut wajahnya sendiri menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya menyalahkan kejujuran putrinya.

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!