Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Ki Renggo berdiri di ruangan gelap gulita sambil menatap ke arah punggung Damian, melipat kedua tangannya di depan dada yang terbungkus kain sorban putih lusuh.

Di sana, di balik jendela yang sudah lapuk berdiri, sesosok tubuh tinggi besar bergeming. Damian berdiri tegap, kemeja hitamnya berkibar pelan ditiup angin malam yang membawa aroma busuk air rawa. Sepasang mata birunya menyala redup di tengah kegelapan laksana sepasang bara es, menatap tajam ke arah jendela kamar Cindy yang masih memancarkan pendar lampu kuning.

“Saya sudah katakan bukan, bahwa jika Anda memilikinya dengan membuat jiwanya terkunci, lama-lama Anda akan menghilang untuk selama-lamanya,” ucap Ki Renggo lagi, suaranya berat, serak, dan penuh penekanan mistis Jawa yang kental. Angin malam seolah meredam suaranya agar tidak sampai terdengar oleh telinga manusia hidup di dalam rumah.

Damian tidak langsung menjawab. Keheningan malam itu mendadak terasa mencekik ketika hawa sedingin salju berembus kencang dari arah balkon tempatnya berdiri, membuat dedaunan di sekitar Ki Renggo bergetar hebat.

“Kamu terlalu banyak bicara, Dukun tua,” sahut Damian. Suaranya mengalun rendah dari kegelapan, bergema langsung di dalam kepala Ki Renggo dengan wibawa dan keangkuhan seorang bangsawan Eropa abad ke-19. “Eksistensi saya bukan urusanmu. Tugasmu hanya memastikan tidak ada mahluk rawa yang berani melewati batas tanah ini dan mengusik ketenangan mijn liefde.”

Ki Renggo menghela napas panjang, mengeluarkan suara helaan yang sarat akan rasa prihatin. Keris di pinggangnya mulai bergetar samar, bereaksi terhadap pekatnya amarah gaib yang menguar dari tubuh Damian.

“Anda egois, Tuan Belanda,” ujar Ki Renggo, melangkah satu tapak maju, mengabaikan hawa membekukan yang mulai menusuk tulang-tulang tuanya. “Jalinan mati yang Anda ikat semalam... Anda pikir itu sebuah kemenangan? Cairan gaib Anda telah menodai kesucian jiwanya. Sukmanya sekarang perlahan terserap oleh kutukan keabadian Anda. Nyai di pasar kota sudah melihatnya, dan sebentar lagi... seluruh jagat alam lelembut di daerah ini akan tahu bahwa anak itu sudah menjadi mayat hidup yang berjalan.”

Mata biru Damian menyipit menajam. Kegelapan di sekelilingnya mendadak membubung tinggi, membentuk siluet sayap-sayap hitam yang samar di balik punggungnya. “Dia bahagia bersama saya! Dia aman di dalam dekapan saya daripada harus membusuk bersama manusia-manusia fana yang penuh kepalsuan di luar sana!”

“Bahagia yang semu!” potong Ki Renggo dengan nada tegas, tatapannya tak gentar sedikit pun menantang kuasa sang Iblis Belanda. “Hukum alam tidak bisa dilawan oleh kuasa sekutu setan hitam manapun. Semakin kuat Anda mengunci jiwanya, semakin banyak energi manusianya yang Anda paksa hidup dalam dimensi dingin Anda. Dan saat jiwanya benar-benar mati menjadi bagian dari alam Anda... keseimbangan itu akan hancur. Anda tidak akan lagi memiliki jangkar di dunia ini. Anda akan melebur bersama angin malam, lenyap menjadi ketiadaan yang kekal. Anda akan melupakannya, dan dia akan melupakan Anda!”

Mendengar kalimat terakhir Ki Renggo, rahang tegas Damian mengencang keras. Pegangan tangannya pada pagar besi balkon berderit nyaring hingga besi kuno itu tampak sedikit melengkung di bawah tekanan jemari porselennya. Ketakutan terbesar yang selama ratusan tahun ia sembunyikan di balik keangkuhannya, baru saja dikuliti habis-habisan oleh seorang dukun manusia.

Melupakan Cindy adalah satu-satunya neraka yang paling ia takuti.

“Itu tidak akan terjadi,” desis Damian, suaranya kini terdengar begitu pekat dan bergetar hebat oleh gairah obsesi yang berbahaya. “Saya yang memegang kendali atas takdir rumah ini. Jika dunia ini mencoba merebutnya atau melenyapkan saya... maka saya akan menarik seluruh tempat ini masuk ke dalam kegelapan abadi bersama saya. Dia... tidak akan pernah lepas dari tangan saya, Ki Renggo. Sampai kapan pun.”

Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman mutlak itu, sosok Damian perlahan-lahan mengabur, menyatu dengan kabut hitam pekat yang mendadak turun menyelimuti lantai dua rumah kolonial tersebut. Wangi bunga kenanga mati kembali menyeruak tajam, meninggalkan Ki Renggo yang hanya bisa berdiri termangu, menatap nanar ke arah jendela kamar Cindy dengan dada yang bergemuruh cemas akan akhir tragis yang kian mendekat.

Kabut hitam di balkon lantai dua itu meluruh sepenuhnya, menyisakan keheningan malam yang mencekam. Damian telah pergi. Ia melompati batas dimensi, meninggalkan dunia manusia demi mencari jawaban atas peringatan Ki Renggo. Bagi Damian, melupakan Cindy atau melihat gadis itu perlahan berubah menjadi raga kosong tanpa jiwa adalah neraka yang tidak akan pernah ia izinkan terjadi.

Ia harus menemukan cara. Cara agar Cindy tetap memiliki detak jantung manusianya, tetap bernapas di bawah terik matahari, namun sukmanya tetap terikat mati dan bisa ia rengkuhi setiap malam tanpa mengikis kewarasan sang gadis.

Damian melakukan perjalanan gaib yang menyiksa menembus celah-celah waktu. Ia mendatangi wilayah-wilayah tua yang tak terpetakan oleh manusia; menemui para tetua bangsa jin Barat di reruntuhan benteng kolonial yang terkubur, hingga bernegosiasi dengan entitas kuno penguasa ruang hampa di dimensi seberang. Baginya, waktu di sana berjalan begitu lambat dan menyiksa. Seminggu penuh ia menahan dahaga akan kehangatan Cindy, bertarung dengan rasa hampa, dan mengorbankan sebagian kekuatan gaibnya demi menukar sebuah rahasia kuno yaitu segel penahan dimensi.

Sementara itu, di dunia manusia, waktu baru bergulir satu hari penuh.

Seharian itu, rumah kolonial terasa begitu sunyi dan asing bagi Cindy. Tidak ada hawa es yang mendadak memeluknya dari belakang saat memasak, tidak ada wangi kenanga yang pekat, dan tidak ada sepasang mata biru yang mengawasinya di dalam kegelapan. Cindy didera rasa rindu sekaligus cemas yang amat sangat, mengira Damian marah atau pergi karena pertanyaan sensitifnya kemarin siang.

Malam kembali larut. Cindy duduk di tepi ranjang kamarnya dengan gelisah, memeluk lututnya sendiri sembari menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Jam dinding berdetik ritmis, menunjukkan pukul sebelas malam.

Kreeeeek...

Tiba-tiba, pintu kamar berayun terbuka perlahan tanpa ada yang menyentuh selotnya. Udara di dalam kamar seketika drop drastis hingga membuat uap putih tipis kembali keluar dari bibir Cindy. Wangi bunga kenanga yang teramat pekat, jauh lebih pekat dari biasanya menyerbu masuk laksana ombak.

Dari balik kegelapan koridor, Damian melangkah masuk.

Namun, penampilannya malam ini membuat Cindy refleks membekap mulutnya sendiri. Kemeja hitam Damian tampak koyak di bagian bahu, wajah pucatnya terlihat sedikit lebih kaku dari biasanya, dan binar mata birunya meredup kelelahan. Kendati demikian, begitu mata itu menemukan sosok Cindy, kilatan obsesi yang protektif langsung menyala kembali dengan begitu terang.

"Damian!" Cindy langsung menghambur bangkit dari ranjang, berlari tanpa alas kaki dan menabrakkan tubuh mungilnya ke dada bidang pria itu. "Kamu dari mana saja? Seharian ini aku cari kamu ke rumah sebelah, tapi rumah itu kosong dan gelap banget... Aku takut kamu pergi..."

Damian tidak langsung menjawab. Ia melingkarkan lengan besarnya yang sedingin es ke pinggang Cindy, memeluk gadis itu dengan dekapan yang begitu erat, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Cindy akan menguap sirna. Ia menghirup dalam-dalam aroma rambut Cindy, menstabilkan kembali energinya yang sempat terkuras habis di dimensi lain. Bagi Cindy ini hanya satu hari, namun bagi Damian, ini adalah penantian seminggu yang penuh siksaan.

"Saya tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, Cindy... mijn liefde," bisik Damian, suaranya terdengar lebih serak dan berat, bergetar di puncak kepala Cindy. "Saya hanya... pergi menyelesaikan beberapa urusan kecil untuk masa depan kita."

Cindy mendongak, menatap guratan lelah di wajah tampan Damian. Jarinya yang hangat mengusap pipi porselen sang kekasih dengan cemas. "Urusan apa? Sampai baju kamu robek begini? Kamu membuatku khawatir setengah mati, Damian."

Damian tersenyum tipis, sebuah kurva misterius yang sarat akan rasa kemenangan. Ia menuntun Cindy kembali ke tepi ranjang, lalu duduk berdampingan. Tangan pucat Damian meraba kantong celananya, mengeluarkan sebuah batu giok kuno berukuran kecil berwarna hitam legam yang memancarkan pendar merah redup di dalamnya.

"Apa ini?" tanya Cindy bingung, menatap batu yang tampak diselimuti aura dingin tersebut.

"Ini adalah jawaban agar kita bisa bersama selamanya tanpa ada yang perlu dikorbankan," ujar Damian rendah, matanya menatap lekat ke dalam manik mata rubah Cindy. "Kemarin kamu cemas dengan ucapan wanita tua di pasar itu, bukan? Kamu takut jiwamu akan terkunci dan hancur karena saya."

Cindy tertegun, tidak menyangka bahwa Damian pergi sejauh ini hanya karena kecemasannya. "Damian..."

"Batu ini dinamakan Segel Penambat Sukma," jelas Damian, suaranya mengalun magis di dalam kamar yang sunyi. "Saya telah mengikat perjanjian baru di dimensi seberang. Dengan batu ini, saya bisa memisahkan hawa kematian saya dari ragamu saat kita bersama. Kamu tetap bisa hidup sebagai manusia biasa di dunia ini, detak jantungmu akan tetap berdenyut, dan jiwamu tidak akan tergerus oleh dimensi dingin saya. Namun..."

Damian menjeda kalimatnya, memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan, mengunci tatapan Cindy dengan sejuta pesona gaibnya yang posesif. "...sukmamu akan tetap terikat mati dengan saya secara spiritual. Kamu tidak akan pernah bisa mencintai manusia lain, dan tidak akan ada mahluk halus dari rawa manapun yang bisa menyentuhmu. Kamu tetap menjadi manusia, tapi kamu adalah manusia milik saya seutuhnya. Apakah kamu bersedia, Cindy?"

Mendengar penjelasan Damian, logika Cindy lagi-lagi lumpuh total. Di matanya, pengorbanan Damian yang sampai menghilang seharian (yang ia tidak tahu bertaruh nyawa selama seminggu di dunia lain) adalah bukti cinta yang teramat agung. Ia tidak peduli jika harus terikat mati dengan mahluk beda alam ini, selama ia tidak lagi merasakan kesepian yang menyiksa.

"Aku bersedia, Damian," bisik Cindy tulus, matanya berkaca-kaca penuh damba. "Sejak awal, aku memang sudah menyerahkan segalanya untukmu."

Damian menggeram rendah penuh kepuasan. Ia meletakkan batu giok hitam itu di bawah bantal Cindy, dan seketika itu juga, hawa mencekik di dalam kamar perlahan mencair menjadi sejuk yang nyaman. Damian menarik tubuh Cindy ke dalam kungkungannya di atas kasur, kembali melumat bibir manis gadis itu dengan ciuman yang panas dan menuntut, merayakan kemenangan mutlak atas takdir mereka yang kini telah terkunci rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!