Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria tampan
Setelah puas meluapkan kehasratan berbelanjanya, Sena sadar betul bahwa tumpukan puluhan kantong bermerek ternama itu tidak akan muat di dalam mobil spornya. Dengan gaya angkuh namun elegan, ia cukup melambaikan tangan kepada penyelia toko dan memerintahkan mereka untuk mengirimkan seluruh barang belanjaannya langsung ke alamat kediaman keluarga Aurora. Para pelayan mal dengan sigap membungkuk hormat, menyanggupi tugas itu tanpa ragu demi memuaskan pelanggan VIP pemilik Black Card.
Merasa urusannya selesai, Sena melangkah santai menuju area parkir basement yang luas dan cenderung temaram. Suara tumit sepatu high heels-nya berdetuk teratur menghantam lantai semen yang mulus. Namun, ketika ia baru saja melewati deretan pilar beton berukuran raksasa, langkah kakinya mendadak terhenti.
Di sudut temaram tidak jauh dari mobilnya, tampak seorang pria sedang berdiri bersandar pada dinding. Pria itu mengenakan kemeja putih yang dipadu dengan celana kain hitam berpotongan sempurna. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan pahatan wajahnya begitu rupawan bahkan hampir terasa tidak nyata.
Sena yang berjiwa pejuang jomblo seketika terpana. Matanya berbinar-binar memandangi visual tingkat tinggi di depannya. Gila, ini visualnya bukan main! Kesempatan emas banget buat mata gue! batinnya menjerit kagum.
Namun, pengamatan Sena terhenti saat matanya turun ke arah dada pria tersebut. Kemeja putih yang semula tampak bersih itu kini berlumuran noda darah segar yang cukup tebal. Sena yang pada dasarnya berhati lembut langsung merasa kasihan. Sebelum ia sempat mencerna keadaan, telinganya menangkap suara langkah kaki tergesa-gesa dalam jumlah banyak yang menggema di sepanjang koridor basement.
"Ini novel thriller, adegan berbahaya pasti berkeliaran di mana-mana!" gumam Sena panik. Pasti cowok ganteng ini lagi dikejar penjahat!
Tanpa berpikir panjang, naluri menyelamatkannya mendadak bangkit. Sena berlari cepat menghampiri pria itu, merengkuh pergelangan tangannya yang terasa dingin, lalu menyorongkan tubuh pria tersebut ke balik pilar beton terbesar yang terdekat.
Dengan cepat, Sena menyandarkan tubuhnya sendiri untuk menutupi tubuh pria itu, lalu mendaratkan telapak tangannya yang halus tepat di atas mulut sang pria.
Pria itu tersentak pelan. Kehadiran Sena yang tiba-tiba, ditambah aroma harum lavender yang merebak dari tubuh gadis itu, membuatnya membeku sejenak. Manik matanya yang sehitam jelaga menatap lurus ke dalam iris abu-abu milik Sena. Tatapan pria itu tajam, dingin, dan sangat intens—seolah-olah sedang merekam, menganalisis, dan menandai setiap lekuk wajah Sena ke dalam ingatannya dengan sangat mendalam.
"Hutss! Jangan berisik, ada orang datang!" bisik Sena sangat pelan, tepat di depan wajah pria itu sambil menempelkan telunjuk bibirnya sendiri.
Beberapa detik kemudian, sekelompok pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam berlari melintasi pilar tempat mereka bersembunyi. Suara derap sepatu bot dan umpatan kasar terdengar jelas sebelum perlahan-lahan menghilang di belokan koridor lain.
Setelah memastikannya aman, Sena menghela napas lega dan memundurkan tubuhnya. Ia menyapu telapak tangannya yang tadi menutup mulut pria itu ke gaunnya sendiri.
"Hah... selamat!" desah Sena, lalu beralih menatap pria di hadapannya dengan ekspresi heboh. "Ganteng, kamu kenapa?! Kok kemeja putih mulus begini bisa berlumuran darah banyak banget?!"
Sena panik setengah mati. Ia memegangi bahu pria itu, memeriksa area dada dan perut sang pria dengan raut wajah berkerut kesakitan—seolah-olah dirinyalah yang baru saja ditikam. "Aduh, ini pasti sakit banget kan?! Kamu ketusuk di mana? Jangan mati dulu dong, mukamu terlalu eman kalau sampai lewat sekarang! Gimana nih, mau ke rumah sakit kagak?!"
Di sisi lain, pria tampan berkemeja putih itu justru berdiri sangat tenang. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit, dahi atau alisnya bahkan tidak berkerut sedikit pun. Ia hanya memperhatikan kehebohan Sena dengan tatapan dingin yang sulit diartikan, mengamati setiap gerak-gerik gadis di depannya yang malah tampak jauh lebih menderita daripada dirinya sendiri.
"Tidak apa," ucap pria itu singkat.
Anjirr, ganteng banget suaranya! Deep voice gitu, merinding gue! jerit Sena dalam hatinya, matanya makin berbinar menatap pria di hadapannya.
Sena langsung menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menguasai dirinya. "Gue obat eh, tapi jujur gue nggak bisa ngobatin luka begini. Aku bantu ke rumah sakit aja, ya? Ya?" bujuk Sena dengan raut wajah cemas.
Pria itu menatap Sena datar lalu menjawab dingin, "Tidak perlu."
"Perlu!" potong Sena cepat, tidak mau menerima penolakan. "Sebentar, tunggu di sini sebentar!"
Sena langsung berlari kecil menuju mobil Porsche mewahnya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia membuka pintu dan dengan sigap menyambar kain syal halus yang tersimpan di dalam dashboard. Tanpa membuang waktu, ia kembali berlari menghampiri pria tersebut.
Dengan jarak yang sangat dekat, Sena memajukan tubuhnya dan melingkarkan kain syal itu di pinggang sang pria untuk menekan pendarahannya. Posisi mereka yang begitu rapat membuat aroma tubuh pria itu perpaduan antara wangi musk yang mahal dan aroma besi tipis dari darah terhirup jelas oleh Sena. Tangan Sena yang tak sengaja menyentuh pinggang keras dan tegap pria itu membuat pikirannya melayang seketika.
Anjirr, badannya bagus banget! Roti sobeknya berasa keras gini, gila! ceracau Sena liar di dalam hatinya.
Setelah mengikat kain itu cukup kencang, Sena menepuk pelan pinggang pria tersebut lalu memundurkan langkahnya sambil tersenyum puas. "Udah! Setidaknya darahnya nggak keluar banyak lagi."
Pria itu melirik kain yang terikat rapi di pinggangnya, lalu menatap Sena dengan kilatan mata yang sulit diartikan.
"Hmm," gumam pria itu singkat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area basement dengan tenang, seolah luka di tubuhnya hanyalah goresan kecil yang tak berarti.
Sena melambaikan tangannya tinggi-tinggi memandangi punggung tegap yang perlahan menjauh itu. "Hati-hati ya, Ganteng! Jangan sampai pingsan di jalan!"