Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Penyesalan Sion

Sion tanpa sadar ikut tersenyum. Tetapi Calista, Leon, dan Lea hanya bisa terdiam menahan amarah mereka. Pagi itu, untuk pertama kalinya… Raina makan di meja keluarga itu tanpa harus menunggu siapa pun selesai menyuruhnya. Dan untuk pertama kalinya pula, semua orang di meja itu tahu satu hal bahwa Raina yang dulu sudah tidak ada lagi.

Selesai sarapan, Raina langsung membawa kedua anaknya kembali ke kamar untuk mengganti baju. Begitu juga dengan Calista, sementara Leon, Lea dan Arlan pergi untuk bekerja. Hanya tersisa Sion dan Kakek Edwin yang kini masih duduk di sana.

Pintu ruang makan baru saja tertutup ketika Sion berdiri dari kursinya. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Namun, sorot matanya telah berubah. Sejak tadi Sion memang terus diam, bahkan setelah mengetahui Raina diperlakukan bak pelayan selama menjadi istrinya ia masih memilih diam.

Namun, sikap diamnya itu bukan berarti ia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Raina seperti dulu. Justru sebaliknya, ia tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Siapapun yang terlibat dan menjadikan Raina sebagai pelayan dulu harus menerima akibatnya, meski sekarang terbilang sudah sangat terlambat untuk menegakkan keadilan bagi Raina.

"Kumpulkan semua pelayan dan pengawal di ruang utama." Perintah itu ditujukan kepada kepala pelayan yang kebetulan melewati lorong.

Kepala pelayan itu membungkuk. "Baik, Tuan."

Sion berjalan melewati lorong dengan langkah panjang. Ada sesuatu yang terus berputar di kepalanya. Tiga tahun pernikahannya dan ditambah delapan tahun, ia selalu mengira Raina baik-baik saja. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Terlalu percaya pada keluarganya. Terlalu yakin bahwa jika ada masalah, Raina akan mengatakannya.

Padahal sekarang ia baru menyadari satu hal yang sederhana. Raina tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya. Karena ketika ia pulang, semuanya sudah dibuat terlihat baik-baik saja. Dan satu hal yang menjadi penyesalan terbesar Sion sekarang, ia tidak pernah ada untuk Raina saat itu.

Beberapa menit kemudian, seluruh pelayan dan pengawal mansion telah berkumpul di ruang utama. Jumlah mereka tidak sedikit. Ada kepala pelayan, para pelayan rumah tangga, koki, sopir, penjaga gerbang, hingga pengawal pribadi keluarga. Mereka berdiri berjajar dengan wajah tegang.

Sion duduk di kursi utama, sementara Kakek Edwin berada di sampingnya. Tidak ada Calista, Leon, maupun Lea di ruangan itu. Sebab Sion sengaja tidak memanggil mereka. Ia ingin mendengar kebenaran dari orang-orang yang menyaksikan semuanya secara langsung.

"Tiga tahun pernikahanku dengan Raina." Suara Sion terdengar dingin. "Apa yang terjadi padanya di rumah ini?"

Tidak ada jawaban. Dimana para pelayan malah saling berpandangan seolah mereka sedang berkomunikasi melalui tatapan itu. Sion menunggu, membiarkan mereka agar bisa mengumpulkan sedikit keberanian untuk bicara. Lima detik, kemudian sepuluh detik telah berlalu rupanya masih saja tidak bisa membuat seorang pun berbicara.

Sion akhirnya berdiri. "Aku akan bertanya sekali lagi." Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Bagaimana Raina diperlakukan selama aku tidak berada di mansion?"

Namun, tetap sunyi karena mereka masih memilih untuk tutup mulut. Sion mengangguk perlahan.

"Baik."

Ia mengambil sebuah map dari meja. "Kalau tidak ada yang mau bicara, aku akan memeriksa semua catatan kerja, rekaman kamera, laporan rumah tangga, dan transaksi selama sebelas tahun terakhir."

Wajah beberapa pelayan langsung berubah. Namun, Sion tetap melanjutkan, "Dan siapa pun yang terbukti sengaja menyembunyikan informasi akan bertanggung jawab dengan nyawanya atas tindakannya."

Kepala pelayan menelan ludah. "Tuan..."

Sion menatapnya. "Bicara."

Pria itu menunduk dalam-dalam. " Nyonya Raina... memang diperlakukan berbeda."

Jari Sion mengepal. "Berbeda bagaimana?"

Kepala pelayan itu menarik napas panjang. "Nyonya Calista sering menyuruh Nona Raina mengerjakan pekerjaan rumah."

"Seperti?"

"Membersihkan ruang makan. Menyiapkan sarapan. Mengantar makanan ke kamar. Menyetrika pakaian. Membersihkan kamar Leon dan Lea."

Kakek Edwin mengerutkan kening. "Itu pekerjaan pelayan."

"Ya, Tuan besar."

"Lalu apalagi selain itu? Katakan saja semua yang kau ketahui,” ujar Sion semakin mendesaknya untuk bicara.

Kepala pelayan terdiam, Sion menatapnya tajam. "Apa kau yakin hanya itu saja?"

"...Tidak."

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin, dimana Sion perlahan mengangkat wajah dinginnya tanpa ekspresi lain. "Lalu apa lagi?"

"Setiap kali anda memberikan uang bulanan untuk Nyonya Raina… Nyonya Calista akan mengambil semuanya."

Kakek Edwin memukul meja. "Selama tiga tahun?"

Kepala pelayan mengangguk. “Saat itu, kami tidak pernah melihat Nyonya Raina memiliki uang sepeser pun."

Sion berdiri. "Bagaimana bisa…"

Kepala pelayan tampak ketakutan. "Nyonya Calista mengatakan bahwa Raina adalah bagian dari keluarga. Jadi semua pekerjaan itu dianggap sebagai kewajibannya. Dan Nyonya Calista juga mengatakan bahwa Nyonya Raina tidak berhak atas uang yang anda berikan sebelum memberi keluarga Maximillian keturunan."

Sion tertawa pendek, tapi bukan karena lucu melainkan karena ia tidak percaya betapa bodohnya dirinya selama ini. Ia membiarkan Raina pergi begitu saja setelah menandatangi surat perceraian itu tanpa membawa apapun. Sebab Sion mengira semua uang yang ia berikan selama ini sudah cukup untuk membeli rumah mewah dan membuka usaha, bahkan bisa membangun mansion yang semegah miliknya ini.

Rupanya lagi-lagi ia salah, ia benar-benar tidak tahun apapun tentang Raina sejak awal hingga akhir. Seketika itu juga berbagai pertanyaan muncul dibenaknya. Tentang bagaimana Raina bertahan setelah bercerai? Bagaimana wanita itu melalui kehamilan kembarnya sendirian? Dan bagaimana ia membesarkan Sean dan Shia hingga sekarang? Semua pertanyaan itu terus muncul di kepalanya.

"Bagian keluarga? Melahirkan keturunan..." Ia mengulang kata-kata itu dengan suara rendah.

"Kalau memang bagian dari keluarga, kenapa dia yang harus bekerja? Dan bagaimana mungkin Raina bisa melahirkan keturunan kalau sikapku padanya saat itu…"

Sungguh, Sion bahkan tak sanggup mengatakan apapun lagi. Baginya apapun yang ia katakan sekarang terdengar hanya sebagai alasan klise saja yang membuat dirinya merasa sedikit lebih baik dari Calista dan anaknya. Padahal sumber penderitaan Raina yang sebenarnya adalah dirinya sendiri.

Salah seorang pelayan wanita tiba-tiba mengangkat tangan. "Tuan."

Sion menoleh. "Apa lagi?"

"Raina juga sering dimarahi kalau pekerjaannya dianggap tidak sempurna."

"Contohnya?"

"Kadang makanan terlalu asin. Kadang terlalu dingin. Pernah juga Nyonya Lea sengaja menumpahkan minuman ke lantai lalu menyuruh Nyonya Raina membersihkannya. Nyonya Raina bahkan sering disuruh tidur diluar Mansion karena hal-hal seperti itu saat anda tidak ada."

Kakek Edwin menatap tajam. "Dan kalian diam?"

Pelayan itu menunduk. "Kami takut."

"Takut pada siapa?"

"Nyonya Calista."

Pelayan lain akhirnya ikut bersuara. "Kalau kami membantu Nyonya Raina, kami akan dimarahi dan bahkan langsung dipecat."

"Beberapa kali kami ingin mengambil alih pekerjaan Nyonya Raina," ujar pelayan itu dengan suara gemetar. "Tapi Nyonya Calista melarang."

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!