Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - ANAK YANG MEMBAWA MATAHARI DI DALAM TUBUHNYA

Langit di atas Puncak Teratai Emas masih gelap.

Kalimat emas raksasa yang melayang di udara — TAI CHU KAI, WULIN MIE. Tai Chu Terbuka, Wulin Musnah — belum hilang. Cahayanya membuat wajah ratusan pendekar terlihat pucat seperti mayat.

Di tengah arena, Mu Chen memeluk kitab emas di dadanya. Kitab itu panas seperti bara, bergetar seperti jantung yang ingin keluar.

Di sekelilingnya, empat kekuatan terbesar dunia persilatan saling menatap.

Di atas ranting bambu yang melayang, Huang Yuchen, Pemilik Pulau Bunga Persik, suling giok putih di bibirnya, kelopak bunga persik berjatuhan dari langit kosong.

Di barat, Ouyang Lie, Racun Barat, tanah di sekelilingnya sudah menghitam sejauh tiga langkah, peti kayu hitam di belakangnya terus bergerak-gerak, desisan ribuan kelabang raja terdengar jelas.

Di selatan, Qiu Mingyu, Ketua Sekte Quanzhen generasi sekarang, lingkaran Taiji emas berputar di bawah kakinya, kitab Tao usang di tangan.

Di sampingnya, Duan Zhen, murid Kaisar Selatan, ujung jarinya memancarkan cahaya keemasan Satu Jari Matahari, biji padi emas di telapak tangannya.

Dan di depan Mu Chen, memegang bahunya erat-erat, Hong Wei Jun, Pengemis Utara, ketua Sekte Pengemis saat ini, 18 naga emas masih mengaum pelan di belakang punggungnya, tongkat bambu hijau bengkok siap memukul siapa saja.

Lima orang, lima penjuru, semua mengincar satu bocah goni.

"Kalimat itu..." Bhiksu Jueyuan dari Shaolin berbisik dengan suara gemetar, "Kalimat yang sama yang muncul 300 tahun lalu sebelum Sungai Kuning menjadi merah..."

Tidak ada yang bergerak. Semua orang tahu, siapa yang bergerak pertama, akan diserang oleh empat orang lainnya.

Keheningan itu dipecahkan oleh suara langkah kaki.

Bukan dari tangga batu. Bukan dari tebing. Tapi dari jalan setapak kecil di belakang arena, jalan yang biasanya hanya dipakai oleh murid-murid Huashan untuk mengambil air.

Seorang pemuda berjalan santai.

Usianya sama persis dengan Mu Chen. 17 tahun. Tapi penampilannya jauh berbeda.

Jubah putih sederhana, tapi sangat bersih. Tidak ada tambalan. Wajahnya tampan, tapi tampan yang hangat, seperti matahari pagi. Rambutnya diikat sederhana. Di punggungnya, tidak ada pedang. Tidak ada tongkat. Hanya sebuah labu air biasa.

Yang aneh adalah hawa di sekelilingnya.

Di Puncak Teratai Emas yang dinginnya menusuk tulang karena angin musim gugur dan karena aura racun Ouyang Lie, pemuda itu berjalan dan salju tipis di sekitar kakinya mencair. Rumput yang menghitam karena racun Ouyang Lie, saat ia lewat, perlahan-lahan kembali hijau. Kelopak bunga persik milik Huang Yuchen yang jatuh di dekatnya, bukannya layu, malah terbakar menjadi cahaya keemasan dan hilang.

Huang Yuchen yang pertama menyadarinya. Sulingnya berhenti. Matanya menyipit.

"Hawa... 9 Yang?"

Ouyang Lie juga menyadarinya. Ia memukul peti kayunya agar diam. "Tidak mungkin... Kitab 9 Yang sudah hilang 80 tahun lalu bersama Jueyuan... eh, bukan kau," ia menatap Bhiksu Jueyuan dari Shaolin, "Jueyuan yang lain!"

Qiu Mingyu, Ketua Quanzhen, yang paling terkejut. "9 Yang... Jiu Yang Shen Gong! Itu adalah ilmu yang lahir dari Quanzhen dan Shaolin! Siapa kau, anak muda?"

Pemuda 17 tahun itu tidak menjawab. Ia terus berjalan santai, melewati barisan murid-murid Emei yang pingsan karena hawa panasnya yang tidak terkendali, melewati Jenderal Xiao Lie yang berkeringat, dan berhenti tepat di depan Mu Chen.

Ia menatap Mu Chen, lalu menatap kitab emas yang bergetar di pelukan Mu Chen, lalu tersenyum. Senyumnya sangat tulus, seperti melihat saudara yang sudah lama hilang.

"Kau pasti Mu Chen. Aku sudah menunggumu dua tahun."

Mu Chen bingung. "Kau... kau siapa?"

Pemuda itu menepuk dadanya sendiri, dan saat ia menepuk, dari dalam tubuhnya terdengar suara Bum! seperti lonceng besar dipukul, dan cahaya keemasan samar keluar dari pori-pori kulitnya.

"Aku Yang Lie. 17 tahun. Dari Lembah Api di Gunung Kunlun."

Semua orang yang mendengar nama Gunung Kunlun langsung menoleh pada Kunlun Laozu Baimei. Kakek itu menggelengkan kepala. "Bukan dari Kunlun kami! Lembah Api adalah tempat terlarang! Tempat di mana tidak ada salju yang bisa bertahan!"

Yang Lie tertawa. "Benar. Di sana sangat panas. Sampai-sampai aku harus berlatih Kitab 9 Yang sejak umur 5 tahun hanya untuk bisa bertahan hidup dan tidak matang seperti ayam panggang."

Kitab 9 Yang! Jiu Yang Zhen Jing!

Kitab yang dalam legenda diciptakan oleh seorang pertapa Tao yang mabuk setelah membaca Kitab 9 Yin, lalu menulis tandingannya yang penuh dengan hawa Yang murni, hawa matahari.

"Anak 17 tahun menguasai 9 Yang?" Tang Wuying dari Sichuan tertawa sinis, melemparkan tiga jarum beracunnya ke arah Yang Lie. "Jangan bercanda!"

Jarum beracun itu melesat cepat, tapi saat jaraknya satu kaki dari tubuh Yang Lie, jarum-jarum itu... meleleh. Menjadi air besi yang menetes ke tanah.

Hening.

Yang Lie bahkan tidak menoleh. Ia masih menatap Mu Chen.

"Kitabmu memanggil kitabku. Dua tahun lalu saat kau membuka halaman pertama Tai Chu di tepi Sungai Kuning, Lembah Api meledak. Guruku bilang, waktunya sudah tiba."

"Gurumu?" Hong Wei Jun, Pengemis Utara, mengerutkan kening. "Siapa gurumu? Di Lembah Api tidak ada orang yang bisa hidup!"

Yang Lie menoleh ke arah kabut di belakangnya, berteriak dengan suara yang tidak keras tapi bergema ke seluruh Huashan.

"Guru! Jangan bersembunyi lagi! Mereka sudah berkumpul semua! Malu kalau Guru masih pakai topeng!"

Dari kabut, berjalan seorang pria.

Usianya sekitar 30 tahun. Tidak tua, tapi juga tidak muda lagi. Jubah hitam sederhana tanpa motif apa pun. Tubuhnya tinggi, kurus, tapi punggungnya tegak seperti pedang. Dan di wajahnya, sebuah topeng.

Topeng perunggu setengah wajah, hanya menutupi mata dan hidung. Topeng itu sangat sederhana, tapi ada goresan pedang yang dalam di atasnya, seperti pernah dibelah oleh pedang tapi tidak tembus. Di balik topeng itu, hanya terlihat mulut yang tersenyum tipis dan dagu yang tegas.

Di pinggangnya, ada sebuah pedang kayu. Bukan pedang kayu patah seperti milik Mu Chen. Pedang kayu yang utuh, tapi warnanya hitam, seperti kayu yang terbakar tapi tidak hancur.

Saat pria bertopeng itu muncul, sesuatu yang aneh terjadi.

Bhiksu Jueyuan dari Shaolin tiba-tiba berlutut dengan dua kaki, bukan satu kaki. Tangannya gemetar memegang tongkat.

"Topeng... Topeng Perunggu... Pedang Kayu Hitam... Tidak... Tidak mungkin... Kau..."

Zhang Lingyun dari Wudang juga mundur dua langkah, pedang Taiji di punggungnya bergetar sendiri.

"Kau... kau seharusnya sudah mati 15 tahun lalu di Lembah Pedang!"

Pria bertopeng itu tidak menjawab mereka. Ia hanya berjalan pelan, setiap langkahnya tidak meninggalkan jejak di tanah. Ia berhenti di belakang Yang Lie, meletakkan tangan di bahu muridnya itu, lalu menatap Mu Chen.

Lalu menatap Hong Wei Jun, Huang Yuchen, Ouyang Lie, Qiu Mingyu, dan Duan Zhen.

Suara pria bertopeng itu serak, pelan, seperti orang yang sudah lama tidak bicara.

"Maaf. Muridku ini bodoh. Kitab 9 Yang membuatnya tahan api, tapi tidak membuatnya tahan malu. Jadi aku harus mengikutinya."

Hong Wei Jun, Pengemis Utara, yang bahkan berani memaki Huang Yuchen dan Ouyang Lie, tiba-tiba mengangkat tongkat pemukul anjingnya dengan dua tangan, dalam posisi bertahan. 18 naga emasnya yang tadinya mengaum, kini menunduk, seperti anjing yang melihat harimau.

"Kau... kau adalah..."

Pria bertopeng itu mengangkat tangannya pelan, memotong ucapan Hong Wei Jun.

"Aku hanya seorang guru yang mengantar muridnya mencari teman. Kudengar Kitab Tai Chu mencari wadah. Dan Kitab 9 Yang mencari matahari. Mu Chen," ia menatap Mu Chen, dan di balik topeng perunggu itu, Mu Chen merasa matanya ditembus sampai ke jiwa.

"Guruku dulu pernah bilang, Tai Chu adalah langit, 9 Yang adalah matahari. Langit tanpa matahari akan gelap selamanya. Maukah kau berteman dengan murid bodohku ini?"

Mu Chen tidak mengerti apa-apa. Tapi untuk pertama kalinya sejak kalimat WULIN MIE muncul, kitab emas di pelukannya menjadi tidak panas lagi. Malah menjadi hangat. Hangat seperti dijemur matahari pagi.

Yang Lie, pemuda 17 tahun yang menguasai 9 Yang, mengulurkan tangannya pada Mu Chen, tangannya memancarkan cahaya keemasan yang hangat.

"Aku Yang Lie. Mulai hari ini, kita saudara. Kalau mereka mau merebut kitabmu, mereka harus melelehkan aku dulu."

Di atas ranting bambu, Huang Yuchen memainkan satu nada tinggi pada sulingnya. Nada itu penuh dengan amarah.

Ouyang Lie tertawa, tapi tawanya kini terdengar waspada. Ia menutup peti kayunya rapat-rapat.

Qiu Mingyu, Ketua Quanzhen, menatap pria bertopeng itu dengan mata yang penuh tanda tanya dan ketakutan.

"Topeng Perunggu... Pedang Kayu Hitam... Kau... Kau adalah orang yang 15 tahun lalu sendirian masuk ke Quanzhen dan mengalahkan 7 Tetua Quanzhen hanya dengan satu jari..."

Pria bertopeng itu tidak menjawab. Ia hanya menatap langit yang gelap di atas Huashan, di mana kalimat TAI CHU KAI, WULIN MIE masih melayang.

Lalu ia berbisik, hanya cukup didengar oleh Mu Chen dan Yang Lie.

"Dia sudah datang."

Langit yang gelap itu, tiba-tiba, terbelah dua

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!