Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SECANGKIR KOPI

Kesempatan itu datang tanpa sengaja. Ratih mendadak diajak tetangganya, Bu Marlina, pergi ke pengajian akbar di masjid kecamatan yang berlangsung dari pagi sampai sore. Juned sendiri sudah berangkat kerja sejak subuh, katanya ada rapat luar kota.

Rumah kosong. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Anyara punya waktu benar-benar sendiri.

Ia menatap ponselnya, membuka lagi percakapan dengan Hans yang sempat terhenti beberapa hari karena kesibukan rumah. Jarinya ragu-ragu mengetik pesan.

"Pak Hans, kebetulan hari ini saya longgar. Kalau Bapak ada waktu, boleh ngopi sebentar."

Balasan datang tidak sampai semenit kemudian, seolah Hans sudah menunggu pesan itu sejak lama.

"Wah, kebetulan banget! Saya lagi free juga. Mbak Anyara di mana? Saya jemput."

"Nggak usah repot-repot, Pak. Saya bisa jalan sendiri ke kafe deket sini."

"Nggak apa-apa, biar saya yang jemput. Anggap aja bagian dari terima kasih saya yang belum lunas."

Anyara tersenyum kecil membaca pesan itu, meski ada rasa canggung yang menyusup. Ia akhirnya menyebutkan titik jemput di dekat minimarket—bukan di depan rumah, tentu saja, ia tidak mau ada tetangga yang melihat dan menambah bahan gosip baru.

Kafe yang dipilih Hans sederhana tapi nyaman, tidak terlalu ramai, cocok untuk mengobrol tanpa harus berteriak. Anyara duduk berhadapan dengannya, masih dengan pakaian sehari-hari yang sama seperti biasa—baju yang sudah agak pudar warnanya, tapi rapi.

"Mbak Anyara mau pesan apa?" tanya Hans, menyodorkan menu.

"Es teh aja, Pak. Nggak usah macem-macem."

"Lho, sekali-kali coba yang lain dong. Di sini kopi susu gulanya enak, atau coklatnya juga oke."

Anyara ragu sejenak. "Nanti kemahalan, Pak."

Hans tertawa kecil, bukan mengejek, tapi seperti menyadari sesuatu yang membuatnya sedih. "Mbak, saya yang traktir. Nggak usah mikirin harga. Pesen aja yang Mbak suka."

Dengan agak malu-malu, Anyara akhirnya memesan cokelat hangat—minuman yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia beli sendiri, karena selalu merasa itu "pemborosan" untuk sekadar minuman.

Pesanan datang, dan untuk beberapa saat mereka mengobrol ringan—soal cuaca, soal kejadian di gang minimarket yang masih membuat Hans geli kalau diingat.

"Serius deh, Mbak, sampe sekarang saya masih suka mikirin momen itu. Teriak 'Pak RT' padahal Pak RT-nya nggak ada. Itu ide dari mana coba?"

Anyara tertawa kecil, jarang sekali ia tertawa selepas ini belakangan. "Ya spontan aja, Pak. Untung berhasil."

"Untung Mbak ada di sana. Kalau nggak, saya nggak kebayang jadinya gimana."

Obrolan berlanjut, dan tanpa sadar, topik mulai bergeser ke hal yang lebih personal.

"Mbak Anyara udah berapa lama nikah?" tanya Hans, hati-hati.

"Tiga tahun, Pak."

"Suaminya kerja di mana?"

"Di perusahaan swasta, lumayan besar," jawab Anyara singkat, tidak ingin membicarakan Juned lebih jauh.

Hans menangkap nada itu, tidak mendesak lebih lanjut. "Kalau boleh tau, Mbak Anyara sendiri dulu sebelum nikah kerja apa?"

"Dulu saya kerja di toko baju, jaga kasir. Tapi setelah nikah, disuruh berhenti sama suami, katanya biar fokus urus rumah tangga."

"Sayang juga ya. Padahal kelihatannya Mbak orangnya cekatan."

Anyara tersenyum tipis, tidak tahu harus menjawab apa. Sudah lama tidak ada yang bertanya soal dirinya sendiri, soal apa yang pernah ia inginkan sebelum semuanya berubah jadi rutinitas mengurus rumah dan mertua.

"Kalau boleh saya tanya, Pak Hans sendiri kerja apa?" Anyara balik bertanya, mencoba mengalihkan topik dari dirinya.

"Saya punya beberapa usaha, properti sama distribusi barang. Bukan maksud sombong, tapi ya alhamdulillah lancar rezekinya."

"Pantesan mobilnya bagus," celetuk Anyara tanpa sadar, lalu buru-buru menutup mulut. "Eh, maaf, Pak, saya nggak maksud—"

Hans tertawa lepas. "Nggak apa-apa, Mbak. Jujur aja kok."

Suasana semakin cair, obrolan mengalir tanpa terasa waktu berjalan hampir satu jam. Anyara sesekali melirik jam di dinding kafe, mengingat ia harus pulang sebelum Ratih kembali dari pengajian.

"Pak, saya harus pulang sebentar lagi. Takut kepergok mertua."

Wajah Hans sedikit meredup, tapi ia mengangguk mengerti. "Oh, iya, silakan, Mbak. Nanti saya anter balik."

Dalam perjalanan pulang di mobil, hening sejenak sebelum Hans membuka suara lagi.

"Mbak Anyara, maaf kalau ini lancang. Tapi... boleh saya simpan nomor Mbak, buat sekadar nanya kabar aja?"

"Udah kesimpen kok, Pak," jawab Anyara, sedikit bingung.

"Maksud saya... boleh saya hubungi lagi kapan-kapan? Bukan buat macem-macem, cuma... saya nyaman aja ngobrol sama Mbak."

Anyara terdiam sesaat, menatap jalanan di luar jendela mobil. "Boleh, Pak. Tapi saya istri orang, Pak Hans. Tolong dimengerti posisi saya."

"Saya ngerti, Mbak. Saya nggak akan macem-macem, janji," jawab Hans, nada suaranya terdengar jujur.

Mobil berhenti tidak jauh dari minimarket, tempat yang sama seperti tadi. Anyara turun, mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berjalan pulang dengan langkah cepat, jantungnya masih berdebar—entah karena takut ketahuan, atau karena sesuatu yang lain yang tidak ingin ia akui.

Sesampainya di rumah, ternyata Ratih sudah pulang lebih awal dari perkiraan.

"Dari mana aja kamu? Rumah kosong dari tadi!" tanya Ratih, curiga.

"Tadi belanja bulanan, Bu. Sekalian jalan-jalan sebentar, jarang-jarang rumah kosong," jawab Anyara, berusaha setenang mungkin sambil menunjukkan kantong belanjaan kecil yang sengaja ia beli di minimarket sebelum pulang, sebagai bukti.

Ratih memandanginya curiga sebentar, tapi akhirnya hanya mendengus. "Ya udah, cepetan masak. Ibu laper."

Anyara menghela napas lega, bergegas ke dapur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang aneh—rasa bersalah yang seharusnya muncul karena berbohong soal ke mana perginya, tapi anehnya, yang lebih dominan justru rasa senang yang masih tersisa dari obrolan tadi. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.

Malam harinya, saat Juned pulang dengan alasan rapat luar kota yang molor, Anyara memandanginya makan malam dalam diam, membandingkan—tanpa sadar—cara suaminya bicara yang selalu terburu-buru dan seadanya, dengan cara Hans bicara tadi siang yang penuh perhatian pada hal-hal kecil.

Ia buru-buru menepis pikiran itu, merasa bersalah karena membandingkan. Tapi jauh di lubuk hatinya, perbandingan itu sudah terlanjur tertanam, dan ia tahu, semakin hari akan semakin sulit untuk tidak memikirkannya lagi.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!