Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 15 - Matahari Mulai Terbenam
Ethan tidak memberikan jawaban atas pengakuan Nadine. Wajahnya tetap terlihat dingin, bahkan nyaris tanpa ekspresi.
Bagi Ethan perasaan Nadine bukan sesuatu yang bisa ia balas hanya karena kedua keluarga mereka telah mengatur sebuah perjodohan. Ethan tidak pernah memberikan harapan kepada wanita itu.
Dan Ethan tidak ingin memulainya sekarang.
"Sander," panggil Ethan.
Sander yang sejak tadi berdiri di di ruangan ini juga langsung menegakkan tubuh. "Ya, Jenderal."
"Antar Nadine pulang."
Hanya tiga kata saja, namun bagi Nadine kalimat itu terasa seperti sebuah keputusan yang benar-benar menghancurkan harga dirinya.
Senyum di wajah Nadine perlahan menghilang, ia tahu maksud Ethan. Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua, tidak ada kesempatan untuk membujuk.
Makan siang bersama yang Nadine bayangkan kini benar-benar hanya jadi angan-angan. Ethan benar-benar ingin dirinya pergi.
Nadine menundukkan wajah beberapa saat, berusaha menelan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan Ethan menolak perjodohan mereka, tetapi mendengar penolakan ini secara langsung tetap terasa menyakitkan.
Terlebih Ethan bahkan tidak terlihat sedikit pun merasa bersalah.
"Baik," jawab Nadine lirih.
Sander merasa tidak nyaman melihat keadaan tersebut. Ia akhirnya melangkah mendekati Nadine. "Nona, mari saya antar."
Namun sebelum mengikuti Sander, Nadine kembali menatap Ethan. Dilihatnya Ethan yang sudah kembali mengambil salah satu dokumen di atas meja. Seolah percakapan mereka tadi tidak pernah terjadi.
Nadine menggigit bibir bawahnya pelan. Selama bertahun-tahun ia berusaha mendekati pria ini, Nadine bahkan selalu berpikir bahwa selama Ethan belum menikah, dirinya masih memiliki kesempatan.
Tetapi hari ini Ethan menghancurkan semua harapan itu hanya dengan beberapa kalimat.
"Aku pergi," ucap Nadine.
Ethan tidak mengangkat wajahnya. "Hm."
Hanya itu jawaban yang diterima Nadine.
Nadine menahan napas panjang. Ia kemudian berjalan mendekati meja Ethan dan meletakkan kantong makanan yang sejak tadi digenggamnya dengan kuat.
"Makanlah," ucap Nadine.
Ethan akhirnya mengangkat pandangan. Saat tatapan mereka kembali bertemu Nadine berusaha tersenyum meskipun matanya mulai terasa panas.
"Setidaknya hargai makanan ini," ucap Nadine lagi.
Ethan menatap kantong makanan tersebut beberapa detik.
Nadine tidak menunggu jawabannya lagi, Ia langsung berbalik dan berjalan menuju pintu bersama Sander.
"Mari saya antar, Nona," ucap Sander.
Nadine mengangguk kecil.
Sander membukakan pintu dan membiarkan Nadine keluar lebih dulu. Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, Sander sempat melirik Ethan.
Jenderalnya itu sudah kembali membaca dokumen. Terlihat diingin dan tenang sekaligus. Tidak ada perubahan sedikit pun pada raut wajahnya.
Sander menghela napas dalam hati, memang begitulah sang Jenderal. Selama bertahun-tahun mengabdi, Sander sudah berkali-kali melihat wanita datang mendekati atasannya. Ada yang cantik, ada yang berasal dari keluarga terpandang, bahkan ada pula yang sengaja mencari alasan untuk bertemu dengan sang jenderal. Namun semuanya mendapatkan perlakuan yang sama, acuh.
Karena itulah Sander justru semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap jenderal Ethan terhadap Ashlyn.
Jenderalnya yang bahkan tidak membiarkan wanita lain mendekat kini justru membiarkan seorang gadis duduk di pangkuannya. Hal ini Sander mendapatkan laporan dari salah satu pelayan.
Bukan hanya itu, Ethan bahkan mengobati luka gadis itu. Menenangkannya ketika menangis. Dan yang paling aneh, jenderal Ethan bahkan berjanji akan membawakan es krim untuk gadis itu.
Sander hampir menggelengkan kepalanya kecil, tak habis pikir. Ia berani bertaruh, Jenderal Ethan pasti hanya mengucapkan itu agar Ashlyn mau ditinggal.
Mana mungkin pria sedingin Ethan benar-benar akan mengingat hal sekecil es krim?Apalagi pekerjaannya hari ini sangat padat.
'Jenderal tidak akan membelikannya es krim,' gumam Sander dalam hati, Ia yakin sekali.
Sementara itu, Nadine yang berjalan di sampingnya masih terdiam. Wajahnya terlihat tenang, tetapi kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
Sander meliriknya sekilas.
"Nona."
"Hm?"
"Jangan terlalu memikirkan perkataan Jenderal."
Nadine tersenyum tipis. "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Sander?"
Sander terdiam.
"Dia bahkan tidak pernah memberiku harapan." Nadine menundukkan wajahnya. "Jadi aku tidak bisa menyalahkannya."
Sander tidak tahu harus menjawab apa.Nadine terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di depan gedung.
Namun sebelum masuk ke mobil, Nadine kembali menoleh ke arah gedung tempat Ethan berada. Tatapannya menyimpan luka yang begitu dalam, tapi juga harapan yang belum sepenuhnya pupus.
"Ethan, Aku tidak akan menyerah semudah itu," ucap Nadine, ia yakin betul pada akhirnya Ethan akan luluh dengan semua cinta yang ia punya. Nadine hanya perlu bersabar sebentar lagi dan berusaha sedikit lebih keras.
Nadine bahkan sudah berencana untuk mendatangi mansion Ethan secara langsung.
Dan Sander yang mendengar kalimat tersebut hanya bisa menghela napas. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Bagaimana jika Nona Nadine mengetahui tentang Ashlyn? Entahlah, Sander tidak ingin berpikir terlalu jauh. Dilihat oleh Sander, mobil Nadine yang akhirnya pergi.
Di mansion Ashlyn benar-benar menghitung waktu seperti dugaan Ethan. Sampai waktu menunjukkan jam lima sore belum juga ada tanda-tanda bahwa Ethan akan pulang. Sementara Ashlyn sudah menunggu sejak tadi, duduk di teras rumah dan menatap gerbang.
"Nona, ayo kita menunggu di dalam. Kaki Anda pasti lelah berdiri," ucap sang kepala pelayan.
"Tidak mau, Bi. Ashlyn mau menunggu suami di sini."
"Tapi Nona Ashlyn juga belum mandi, lebih baik Nona membersihkan tubuh lebih dulu."
Ashlyn mulai menangis, "Tidak mau Bi, Ashlyn mau mandi bersama suamiiiii." rengeknya dan mulai menjatuhkan air mata.
"Bagaimana ini Bi? Ini sudah ketiga kalinya nona menangis," bisik salah satu pelayan pada sang kepala pelayan.
Tapi wanita paruh baya itu pun hanya mampu terdiam, selama ini mana ada yang berani menganggu sang jenderal. Apalagi saat ini Jenderal Ethan tengah memiliki pertemuan dengan sang presiden. Dan kepala pelayan tak ingin masalah rumah ini sampai mempengaruhi tuannya.
"Suamiku bohong, katanya pulang sebelum malam. Tapi sekarang matahari mulai terbenam," tangis Ashlyn lirih sakali, hatinya benar-benar sesak.
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn