Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Keesokan paginya setelah sarapan bersama, Tiyas berpamitan dengan kedua orang tuanya. Koper dan barang-barangnya sudah kembali tersusun rapi di dalam bagasi mobil.
Tiyas meraih tangan Ayah dan Ibunya, mencium punggung tangan mereka berturut-turut dengan penuh rasa takzim.
"Ayah, aku sudah mentransfer uang bulanan ke rekening Ayah. Nanti malam Ayah ajak Ibu jalan-jalan pakai mobil baru, ya," ucap Tiyas tersenyum manis.
Ayah seketika menghentikan langkahnya dan menatap Tiyas dengan raut terkejut.
"Nduk, apa lagi ini? Kamu ini boros sekali. Ayah masih ada uang pensiunan yang lebih dari cukup."
"Ayah," potong Tiyas lembut namun penuh ketegasan, menggenggam erat jemari Ayahnya.
"Ini khusus dari Tiyas untuk Ayah sama Ibu. Pakai saja buat bersenang-senang. Uang Tiyas adalah uang Ayah dan Ibu juga."
Ibu di samping Ayah mengusap bahu Tiyas dengan mata yang kembali berkaca-kaca, haru melihat baktinya sang putri yang tak pernah luntur meski hatinya sedang terluka hebat.
"Tiyas pulang dulu ya, Ayah, Ibu. Assalamu'alaikum." pamit Tiyas seraya melangkah menuju pintu kemudi.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya, nduk. Jangan lupa selalu kabari Ayah dan Ibu," balas Ayah dan Ibu beriringan sambil melambaikan tangan.
Tiyas melajukan mobilnya membelah gerbang rumah, meninggalkan Magelang dengan dada yang tak lagi sesak.
Garis senyum di bibirnya kini menyiratkan keberanian baru.
Yogyakarta dan Narendra sudah menantinya, dan masa-masa di mana ia diam tertindas telah resmi berakhir.
Ponsel Tiyas bergetar lembut saat ia sedang mengemudi.
Di layar tertera sebuah pesan singkat dari Narendra, mengabarkan bahwa pria itu sudah berada di dalam pesawat dan bersiap untuk lepas landas dari Bali menuju Yogyakarta.
[Hati-hati di jalan, Narendra,]
Tiyas membalas pesan tersebut sebelum kembali fokus membelah jalanan.
Satu jam perjalanan dari Magelang akhirnya membawanya kembali ke rumah megahnya di Yogyakarta.
Begitu gerbang dibuka, Tiyas mendapati pemandangan yang sepenuhnya berbeda.
Rumah itu telah selesai dicat ulang dengan warna baru yang lebih segar, dan seluruh perabotan lama yang pernah disentuh atau menyimpan kenangan bersama Gio sudah diganti total dengan perabotan baru bernuansa minimalis elegan.
Herman dan Riko, dua staf kepercayaannya, langsung bergegas menyambut kedatangan Tiyas.
"Selamat datang, Nyonya. Saya, juga baru sampai juga ini, Nyonya," ucap Herman ramah.
Wajah pria itu tampak semringah setelah baru saja selesai mengantarkan dan mengatasnamakan mobil bekas Gio ke kampung halamannya sesuai perintah Tiyas.
"Terima kasih banyak ya," balas Tiyas mengangguk penuh apresiasi.
Tiyas melangkah masuk ke dalam rumah, lalu mengumpulkan seluruh pelayan dan asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
Mereka berbaris rapi di ruang tengah, menatap Tiyas dengan raut bertanya-tanya.
"Hari ini sampai tujuh hari ke depan, kalian semua saya liburkan," umum Tiyas tenang.
Seketika riuh bisik-bisik kaget terdengar di antara para pelayan.
Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya dengan wajah cemas, "Lho, Nyonya, kenapa? Apa saya dan yang lain dipecat?"
Tiyas tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, saya tidak memecat kalian. Saya hanya ingin menyendiri dulu untuk beberapa hari ke depan. Dan ini ada uang saku tambahan untuk kalian semua selama masa libur."
Tanpa menunda, Tiyas langsung mengoperasikan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang saku yang sangat cukup ke rekening masing-masing pelayan.
Melihat pemberitahuan transferan masuk di ponsel mereka, mata para pelayan berbinar kaget sekaligus haru.
Tiyas kemudian memberikan isyarat memperbolehkan mereka untuk segera berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.
Sebelum melangkah keluar dari pintu utama, para pelayan berbalik menatap Tiyas.
Meski tidak tahu secara detail, mereka bisa merasakan badai berat yang sedang dihadapi oleh majikan baik hati mereka itu.
"Nyonya harus kuat, ya," ucap mereka tulus dan kompak memberikan dukungan.
Tiyas menganggukkan kepala seraya mengukir senyum hangat.
"Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan."
Setelah pintu besar terkunci rapat dan keheningan menyelimuti rumah megah yang kini bersih dari jejak pengkhianatan Gio, Tiyas berjalan perlahan menuju lantai atas.
Benteng pertahanannya di Yogyakarta sudah siap, dan sebentar lagi, pertemuannya dengan Narendra di rumah makan ayam asap akan memulai babak baru pertarungan mereka.
Tiyas melangkah masuk ke dalam kamar utamanya.
Nuansa kamar itu kini berubah total. Tempat tidur baru yang kokoh, sprei satin nan lembut, serta tirai baru yang anggun telah menggantikan seluruh interior lama yang pernah menyerap kebohongan Gio.
Ia merebahkan tubuhnya sejenak di atas peraduan yang segar itu, memejamkan mata dan menikmati keheningan yang tak lagi menyesakkan.
“Ini rumahku, dan aku akan menjaga serta membangun hidupku di sini,” batin Tiyas penuh tekad.
Setiap sudut bangunan ini berdiri atas keringat dan kerja kerasnya sendiri, tak ada alasan baginya untuk membiarkan benalu seperti Gio merusaknya lebih jauh.
Di tengah keheningan itu, ponsel Tiyas berdering nyaring di atas meja nakas. Nama Gio tertera di layarnya.
Tiyas menatap layar itu dengan senyum dingin, menetralkan suaranya sebelum menggeser ikon hijau.
"Iya, Gio, ada apa?" tanya Tiyas tenang, tanpa ada nada curiga sedikit pun.
Di seberang telepon, suara Gio terdengar agak tergesa dan dipaksakan manis.
"Tiyas, sepertinya aku masih belum bisa pulang dari Bandung hari ini. Klien di sini tiba-tiba minta perpanjangan meeting dan ada jamuan bisnis mendadak yang harus diurus. Apa kamu bisa mentransfer uang sepuluh juta lagi sekarang? Buat menutupi biaya operasional dan DP venue acaranya."
Tiyas menatap tirai kamar yang berayun pelan diterpa angin sore.
Ia tahu betul uang itu bukan untuk urusan bisnis, melainkan untuk memanjakan Mia di vila mewah Lembang.
Namun, alih-alih menolak atau marah, Tiyas justru menyunggingkan senyum tipis.
"Oh begitu. Iya, Gio. Sebentar lagi aku transfer, ya," jawab Tiyas lembut.
"Terima kasih banyak, Sayang! Kamu memang istri yang paling pengertian. Lima hari lagi aku pulang, ya. Love you," ucap Gio cepat.
Klik.
Gio langsung menutup panggilan tanpa menunggu balasan Tiyas.
Di tempat tidur barunya, Tiyas membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan mentransfer uang sepuluh juta rupiah ke rekening Gio.
Bagi Tiyas, sepuluh juta ini bukanlah kerugian, melainkan umpan.
Ia sengaja membiarkan Gio merasa di atas angin dan makin serakah, karena semakin banyak bukti transaksi tak wajar yang dibuat Gio, semakin mudah baginya untuk menjatuhkan pria itu ke jurang kehancuran tanpa bisa berkutik sedikit pun di pengadilan nanti.
"Nikmati uang itu selagi bisa, Gio," gumam Tiyas dingin seraya meletakkan ponselnya.
"Karena lima hari lagi, bukan kepulangan hangat yang menyambutmu, melainkan akhir dari segalanya."
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘