Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : DIATAS KEPAK LANGIT YANG SAMA
Satu tahun berlalu sejak badai malam di Desa Teluk Mutiara mereda.
Musim kemarau di pesisir selatan selalu datang bersama sinar matahari yang membakar permukaan laut hingga berkilauan bagaikan hamparan kristal cair. Namun, di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke garis pantai, hembusan angin laut membawa kesejukan tersendiri. Di sana, rumah panggung kayu beratap rumbia yang dibangun kokoh kini telah menjadi simbol ketenangan baru.
Azahra Aletta melangkah keluar ke teras rumah bukitnya, membawa sekeranjang pakaian bersih yang baru selesai dijemur. Rambut panjangnya terikat rapi ke belakang, dan sebuah gaun katun longgar berwarna biru muda membungkus tubuhnya yang kini tampak lebih berisi dan sehat dibandingkan tiga tahun lalu.
Di halaman samping rumah, suara tawa nyaring beradu dengan ketukan kayu yang ritmis.
Ethan Austin sedang berlutut di atas rumput hijau, mengajari Budi dan beberapa anak desa cara merakit kerangka layang-layang raksasa dari bambu dan kertas minyak warna-warni. Pria yang dulunya hanya mengenal ruang rapat eksekutif ber-AC dan jas buatan penjahit ternama Eropa itu kini tampak begitu menikmati perannya. Kulitnya kini berwarna cokelat keemasan khas terpapar sinar matahari pesisir, dan kaos oblong hitam serta celana linen longgar yang dikenakannya membuat Ethan terlihat sangat menyatu dengan kehidupan sederhana ini.
"Pak Ethan, tali yang sebelah sini kurang kencang!" seru Budi sambil menahan kerangka bambu layang-layang.
"Sebentar, Budi," sahut Ethan seraya tersenyum hangat. Tangannya yang lekas dan kuat menarik tali benang katun dengan cekatan, mengikat simpul mati di bagian poros layang-layang. "Nah, coba ditarik sekarang. Pasti tidak akan goyah walau kena angin barat."
Azahra menyandarkan tubuhnya di tiang teras kayu, menyunggingkan senyum tipis sewaktu memperhatikan interaksi tersebut. Ada kepuasan mendalam yang membuncah di dalam dadanya. Pria di hadapannya bukan lagi Ethan Austin sang pemangsa korporasi yang dingin, melainkan seorang pria yang telah menemukan jiwa murninya di tengah kesederhanaan.
Saat mata kelabu Ethan mendongak dan bertaut dengan pandangan Azahra, senyum pria itu makin melebar. Ethan menepuk-nepuk debu di celananya, berdiri, lalu melangkah menuju teras.
"Anak-anak bilang layang-layang ini mau diterbangkan sore nanti di pantai," ujar Ethan sambil menerima selembar kain basah dari Azahra untuk menyapu keringat di keningnya.
"Kamu makin pintar mengurusi hal-hal seperti itu," goda Azahra pelan, jemarinya secara alami merapikan kerah kaos Ethan yang terlipat. "Dulu waktu pertama kali pegang bambu di sini, tanganmu sampai lecet semua."
Ethan terkekeh rendah, merangkulkan tangan kanannya ke sekeliling pinggang Azahra, menarik wanita itu mendekat tanpa ragu. "Belajar dari guru sekolah terbaik di desa ini punya efek yang sangat cepat, tahu."
"Gombal," bisik Azahra, meski ia membiarkan kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Ethan.
Dari jarak sedekat ini, Azahra bisa merasakan detak jantung Ethan yang tenang dan stabil. Tidak ada lagi beban rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan intrik yang mengintai di balik bayang-bayang. Hubungan mereka telah melewati ujian api yang paling membakar, dan yang tersisa kini hanyalah ikatan murni yang dilandasi oleh rasa saling menghormati dan ketulusan.
Siang harinya, sebuah kapal motor kayu berukuran sedang berlabuh di dermaga kecil Desa Teluk Mutiara.
Kapal tersebut tidak membawa pasukan pengawal bersenjata atau pejabat korporasi berjas mahal, melainkan membawa beberapa peti kayu besar berisi buku-buku pelajaran terbaru, alat laboratorium sekolah sederhana, dan seperangkat komputer bertenaga surya.
Rendy—mantan asisten pribadi Ethan yang kini memegang kendali atas urusan logistik yayasan lokal—turun dari dermaga membawa sebuah tas dokumen tebal.
"Selamat siang, Pak Ethan, Bu Azahra," sapa Rendy hangat sambil menundukkan kepalanya ramah saat menghampiri mereka di area dermaga.
"Selamat siang, Rendy," sahut Azahra dengan senyuman lebar. "Semua pengiriman buku dari Surabaya sampai dengan aman?"
"Lancar tanpa kendala, Bu," jawab Rendy. Ia kemudian berbalik menatap Ethan dan menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal bersegel resmi. "Pak Ethan... ini laporan perkembangan semester pertama untuk proyek jaringan sekolah pesisir dari Aletta Foundation."
Ethan menerima amplop tersebut, namun ia tidak langsung membukanya. Sejak James Daniel mengalihkan lima puluh persen saham kepemilikannya untuk mendanai Aletta Foundation, yayasan tersebut telah berkembang menjadi lembaga independen yang murni bergerak di bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat pesisir di seluruh Indonesia.
Ethan dan James tidak pernah lagi bertemu secara langsung sejak malam itu. Namun, secara tidak langsung, melalui yayasan ini, kedua pria yang dulu saling bertaruh demi gengsi kini terhubung dalam sebuah tujuan baru yang jauh lebih bermakna.
"Bagaimana keadaan di Jakarta, Rendy?" tanya Ethan pelan, matanya menatap lurus ke arah Rendy.
Rendy menghela napas pendek, menyunggingkan senyum penuh arti. "Gedung Daniel Corporation dan Austin Group baru saja menandatangani kesepakatan konsorsium baru untuk energi terbarukan minggu lalu. Tuan James memimpin rapatnya sendiri."
Azahra yang berdiri di samping Ethan tertegun sejenak mendengarkan nama itu. "Bagaimana... keadaan Pak James?"
"Tuan James berubah banyak, Bu Azahra," jawab Rendy jujur, suaranya dipenuhi rasa hormat. "Beliau tidak lagi bekerja bagaikan orang kesurupan seperti dulu. Beliau lebih banyak menghabiskan waktunya turun langsung menyapa anak-anak penerima beasiswa yayasan di berbagai daerah. Pekan lalu, beliau baru saja meresmikan perpustakaan terapung di Maluku."
Azahra mengepalkan jemarinya pelan di balik lipatan gaunnya. Ada rasa lega yang amat sangat merayap di dadanya. Pria yang dulu begitu terikat oleh bayang-bayang dosa dan obsesinya kini telah menemukan jalannya sendiri untuk menyembuhkan luka masa lalu.
"Dia pria yang kuat," gumam Azahra lirih. "Dia akan selalu menemukan cara untuk bangkit."
Ethan menatap Azahra lembut, lalu mengusap punggung tangan wanita itu dengan jemarinya. Tidak ada sedikit pun rasa cemburu atau dengki di mata Ethan. Ia tahu betul bahwa masa lalu telah menjadi bagian dari sejarah mereka semua—sebuah sejarah yang menggembleng mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa.
"Rendy," panggil Ethan. "Kirimkan pesan pada James melalui saluran komunikasi pengurus yayasan."
"Pesan apa, Pak?" tanya Rendy siap mencatat.
Ethan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kedamaian. "Katakan padanya... bahwa perpustakaan terapung di Teluk Mutiara sudah siap diresmikan. Jika dia punya waktu, pintu desa ini selalu terbuka untuk seorang pembina yayasan."
Rendy terkejut sejenak, namun senyum lebar seketika terukir di wajahnya. "Baik, Pak Ethan. Akan saya sampaikan secara pribadi."
Sore harinya, langit pesisir Teluk Mutiara berubah warna menjadi jingga keemasan yang memukau.
Pantai pasir putih desa dipenuhi oleh suara tawa anak-anak sekolah dan warga lokal yang berkumpul. Layang-layang raksasa berwarna-warni yang dirakit Ethan dan Budi tadi siang kini telah membumbung tinggi di angkasa, menari-nari ditiup angin laut yang kencang.
Azahra berjalan menyusuri garis pantai, membiarkan air laut yang hangat menyapu jemari kakinya yang telanjang. Di sampingnya, Ethan berjalan santai sambil menggenggam jemari Azahra rapat-rapat.
Langkah kaki mereka terhenti di sebuah bongkahan batu karang besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.
"Azahra," panggil Ethan pelan.
Azahra menoleh, menatap wajah pria yang kini menjadi pelindung dan belahan jiwanya itu. "Ya?"
Ethan merogoh saku celana linennya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Pria itu memutar tubuhnya, menghadapi Azahra sepenuhnya di bawah naungan sinar emas matahari sore.
Jantung Azahra berdesir hebat. Mata jernihnya membelalak pelan.
Ethan membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya tidak ada cincin berlian mewah berharga miliaran rupiah dari toko perhiasan ternama Paris—perhiasan yang dulu biasa Ethan beli untuk memamerkan kekayaannya. Di dalam kotak itu terbaring sebuah cincin perak sederhana yang dihiasi oleh sebutir mutiara laut alami berwarna merah muda keemasan—mutiara yang diselam dan ditemukan sendiri oleh para nelayan Teluk Mutiara.
Ethan menatap lurus ke dalam mata Azahra dengan seluruh kejujuran dan kepasrahan jiwanya.
"Tiga tahun lalu, aku mencintaimu dengan cara yang salah... aku memburu kebebasanmu dan menganggap hatimu sebagai sebuah kemenangan yang harus kuraih," kata Ethan, suaranya bergetar halus oleh emosi yang membuncah. "Tapi di desa ini, kamu mengajariku bahwa cinta bukanlah tentang memiliki atau memenangkan persaingan. Cinta adalah tentang melayani, melindungi, dan berjalan berdampingan."
Ethan menarik napas panjang, berlutut di atas pasir pantai yang basah di hadapan Azahra.
"Azahra Aletta... maukah kamu menemaniku menghabiskan sisa usiaku di bawah langit yang sama... sebagai istriku?"
Air mata kebahagiaan menembus pelupuk mata Azahra, meluncur hangat di sepanjang pipinya yang merona. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketakutan akan masa lalu. Hatinya telah menemukan dermaga sejati di mana ia bisa berlabuh tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Azahra menganggukkan kepalanya dengan senyuman paling indah yang pernah terukir di wajahnya.
"Ya, Ethan..." bisik Azahra penuh kepastian, suaranya pecah oleh isak haru. "Aku mau."
Ethan tersenyum lebar, menyematkan cincin mutiara sederhana itu ke jari manis tangan kanan Azahra. Pria itu berdiri, merengkuh tubuh Azahra ke dalam pelakannya yang hangat dan kuat, lalu menyesap bibir wanita itu dalam sebuah kecupan manis yang sarat akan janji suci di bawah saksi bisu nyanyian ombak dan keindahan matahari terbenam.
Di tempat yang jauh, ribuan kilometer dari pesisir Teluk Mutiara.
Di atas gelombang lautan lepas Kabupaten Maluku Utara, sebuah kapal perpustakaan terapung berwarna putih bersih sedang melaju membelah ombak biru. Di geladak kapal tersebut, puluhan anak-anak pulau terpencil sedang berkumpul membaca buku-buku cerita dengan riang gembira.
James Daniel berdiri di lantai atas geladak kapal, memegang cangkir kopi hitamnya. Ia mengenakan kemeja katun putih bergulung lengan dan celana santai—penampilan yang jauh berbeda dari masa-masa kejayaannya sebagai raja korporasi Jakarta.
Bagas melangkah mendekati James, menyerahkan sebuah dokumen laporan singkat.
"Pak James," panggil Bagas. "Pesan dari Pak Ethan dan Miss Azahra di Teluk Mutiara baru saja diterima melalui jaringan pengurus."
James menerima dokumen tersebut, membaca kalimat singkat yang dituliskan Ethan di sana:
‘Perpustakaan terapung di Teluk Mutiara sudah siap diresmikan. Pintu desa ini selalu terbuka untukmu.’
James menatap tulisan tangan tersebut sejenak, lalu perlahan menyunggingkan sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman yang bersih dari rasa iri, kebencian, atau penyesalan yang membakar.
Ia mendongak, menatap awan putih yang membumbung tinggi di atas kepak langit nusantara yang luas. Langit yang sama yang kini menaungi kehidupan mereka bertiga di tempat yang berbeda-beda.
"Katakan pada mereka..." ujar James pelan namun mantap, menatap lurus ke arah garis cakrawala. "...aku akan datang saat musim panen bulan depan."
James meletakkan cangkir kopinya, lalu melangkah turun menyapa tawa anak-anak di geladak kapal. Bagi James, perjalanannya menyembuhkan diri mungkin masih panjang, tetapi ia tahu bahwa ia telah melangkah di jalur yang benar—jalur di mana ia tidak lagi mengejar bayang-bayang kebahagiaan yang dipaksakan, melainkan menciptakan kebahagiannya sendiri dengan memberi manfaat bagi orang lain.
Di bawah naungan langit yang sama, tiga jiwa yang dulu terkoyak oleh kemewahan, dendam, dan ego... kini telah menemukan kedamaian mereka masing-masing. Cinta telah menyelesaikan tugasnya—bukan dengan cara menghancurkan, melainkan dengan cara menyembuhkan dan membebaskan.