Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Antara Puing dan Keputusan Dewan

Fajar perlahan menyingsing dari ufuk timur Kerajaan Grandoria. Sinar matahari keemasan yang hangat merayap pelan, membelah sisa-sisa kabut Miasma hitam yang kian menipis dan memudar di udara. Cahaya pagi itu menyinari kompleks Akademi Sihir Grandoria yang kini dipenuhi oleh puing-puing benteng pertempuran.

Tembok luar perbatasan yang memagari kawasan akademi tampak roboh di beberapa titik, pilar-pilar batu Menara Utama retak terhantam gelombang sihir, dan tanah alun-alun dipenuhi jelaga hitam bekas bentrokan energi.

Namun, di tengah kerusakan fisik tersebut, alun-alun utama akademi berdiri utuh dan megah. Pendaran aura keemasan dari sisa-sisa sihir Celestial Sanctum milik Monica masih memancar lembut dari balik retakan lantai batu, menyelimuti seluruh area akademi dengan atmosfer sejuk, tenang, dan menyegarkan.

Sihir pemulihan itu tidak hanya menetralkan sisa-sisa racun belerang yang menyesakkan dada, tetapi juga mempercepat proses penyembuhan luka-luka ringan warga dan prajurit yang bertahan.

Di seluruh penjuru akademi, suasana kesibukan pasca-perang terasa sangat kental. Para murid, pengajar, dan pasukan penjaga keamanan akademi bahu-membahu bersama tim medis khusus.

Mereka merawat prajurit yang terluka, membersihkan serpihan Zirah Hitam yang berserakan, serta mengamankan sisa-sisa artefak sihir Ordo Umbra. Di luar gerbang utama, tubuh raksasa Naga Hitam bersayap satu—yang telah kehilangan seluruh pasokan energi Miasma dan jatuh tertidur lelap—kini telah dikelilingi oleh belasan pilar es abadi raksasa.

Profesor Vane bersama para penyihir senior elemen es terus merapal mantra pengunci untuk memastikan makhluk purba tersebut tidak akan pernah terbangun kembali.

Sementara itu, jauh di dalam Bangsal Pemulihan Menara Utama, suasana terasa jauh lebih hangat dan tenang. Kelima anggota Tim Vanguard duduk melingkar di atas tempat tidur medis setelah mendapatkan perawatan sihir pertolongan pertama dari para healer akademi.

Reno, yang dada zirahnya sempat menghantam belati Miasma secara langsung saat melindungi Monica di laboratorium bawah tanah, kini sudah duduk tegak seraya menyandarkan perisai terbarunya di tepi ranjang. Meskipun perban putih tebal masih melilit erat bagian dada dan bahunya, wajah pemuda bertubuh tegap itu tampak segar dan ceria.

"Gila juga ya kalau diingat-ingat kembali," celetuk Reno memecah keheningan seraya menyesap teh herbal hangat dari cangkir keramik di tangannya.

"Kalau saja zirah Aegis of the Iron Titan milikku tidak ditempa ulang di Menara Bayangan, mungkin dadaku sudah bolong terkena tebasan belati hitam wanita itu kemarin malam!"

"Tapi aksimu kemarin malam sangat nekat dan berbahaya, Reno," tegur Elena seraya menyunggingkan tawa kecil. Tangannya yang telaten tampak sedang membersihkan dan mengencangkan kembali tali busur Celestial miliknya yang sempat mengendur akibat menahan tekanan gelombang sihir.

"Walau bagaimanapun... terima kasih banyak sudah berdiri di depan dan melindungi Monica."

Danis, yang bersandar tenang di dekat bingkai jendela batu, memandang ke luar menatap pemandangan para profesor yang sedang memperbaiki barikade sihir. Pemuda ahli bayangan itu memutar belati kembarnya di antara jari-jemarinya dengan gerakan halus.

"Wanita bertopeng perak itu memang sudah tiada," kata Danis dengan suara rendah namun dingin.

"Tetapi, dia hanyalah salah satu jenderal perintis dari Ordo Umbra. Petinggi lainnya dan sang pimpinan utama pasti sudah mengetahui kegagalan ritual gerhana di akademi kita. Mereka tidak akan tinggal diam menerima kekalahan ini."

Kazuma mengangguk setuju. Ia membetulkan posisi kacamatanya yang baru diganti, lalu membuka sebuah gulungan perkamen peta benua berskala besar di atas meja bundar di tengah ruangan.

"Danis benar," ujar Kazuma seraya menunjuk garis-garis merah redup yang terpatri di peta. "Berdasarkan pola jaringan mana subterranean yang berhasil aku salin dari Laboratorium Terlarang, empat simpul luar yang gagal diaktifkan kemarin tetap terhubung ke satu titik pusat aliran energi di luar batas wilayah Kerajaan Grandoria. Tepatnya di Gurun Tengkorak Merah—sebuah wilayah tak bertuan di perbatasan jauh sebelah selatan."

Pintu kayu ek tebal Bangsal Pemulihan mendadak terbuka dengan suara berderit halus. Kepala Sekolah Alaric melangkah masuk ke dalam ruangan, didampingi oleh dua sosok pria berjubah megah bersulam benang emas—dua perwakilan dari Dewan Tertinggi Kerajaan Grandoria. Wajah tua sang kepala sekolah tampak lelah setelah bertarung semalaman penuh melawan pasukan utama Ordo Umbra, namun matanya memancarkan rasa bangga dan lega yang tak terhingga saat menatap lima murid utamanya.

"Bagaimana kondisi tubuh kalian, anak-anak?" tanya Kepala Sekolah Alaric dengan suara hangat yang menggema lembut.

"Kami sudah mendapatkan perawatan sihir dan stamina kami telah pulih, Kepala Sekolah!" jawab Monica tegas.

Ia berdiri dari duduknya, membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya yang rapi, lalu meletakkan tangannya di dada sebagai bentuk penghormatan.

Salah satu anggota Dewan Tertinggi—seorang pria paruh baya yang menggenggam tongkat perak berukir lambang kerajaan—melangkah maju. Ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Tim Vanguard.

"Atas nama seluruh rakyat, Dewan Kerajaan, dan Yang Mulia Baginda Raja," ucap pria paruh baya itu dengan suara bergetar dipenuhi rasa haru yang mendalam, "kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kalian berlima.

Jika bukan karena keberanian, keteguhan mental, dan sihir Kontra-Segel luar biasa yang kalian lancarkan kemarin malam, Ibu Kota Grandoria hari ini pastilah telah berubah menjadi lautan darah dan abu."

Pria itu jeda sejenak, menatap satu per satu wajah muda di hadapannya sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kalian bukan lagi sekadar murid-murid berbakat di akademi ini. Malam tadi, kalian telah membuktikan diri sebagai benteng pelindung sejati bagi seluruh kerajaan."

Kepala Sekolah Alaric maju satu langkah, mengambil alih pembicaraan. Sorot matanya berubah menjadi kian serius.

"Namun, anak-anakku," potong Alaric lembut, "ancaman sesungguhnya bagi dunia sihir belum berakhir. Dari laporan intelijen khusus yang dikirimkan oleh para penjaga perbatasan pagi ini, pimpinan tertinggi Ordo Umbra—seorang penyihir terlarang kuno yang dijuluki Lord Inquisitor Malakor—telah mulai menghimpun sisa-sisa kekuatan pasukannya.

Mereka berkumpul di dalam benteng batu kuno yang tertimbun di tengah Gurun Tengkorak Merah."

"Eksplorasi dan serangan balik ke luar kerajaan?" tebak Monica cepat. Sepasang mata birunya berkilat tajam memancarkan kesiapan tempur.

Alaric mengangguk mantap. "Tepat sekali, Monica. Dewan Kerajaan dan pihak akademi telah sepakat untuk memberikan wewenang dan mandat penuh kepada Tim Vanguard. Kalian akan memimpin Pasukan Ekspedisi Khusus menyeberangi perbatasan selatan.

Tugas kalian tidak lagi hanya bertahan di dalam benteng tempat tinggal kalian, melainkan melancarkan Counter-Attack langsung ke jantung markas musuh sebelum mereka sempat menyusun kembali rencana jahatnya."

Ruangan itu mendadak hening selama beberapa detik. Kelima anggota Tim Vanguard saling melempar pandangan satu sama lain.

Tidak ada keraguan, ketakutan, atau keraguan sedikit pun yang terlihat di wajah mereka. Pengalaman pahit dan manis yang mereka lalui bersama—mulai dari pertarungan di Lembah Kelam, ujian di Menara Bayangan, hingga pertempuran sengit di bawah Gerhana Bulan Merah—telah menempa tekad mereka menjadi sekeras baja.

Reno mengepalkan tangan kanannya ke dada, Kazuma tersenyum penuh percaya diri, Elena menggenggam busurnya erat-erat, dan Danis mengangguk pelan dari balik bayangan.

"Kapan kita akan berangkat menuju perbatasan selatan, Kepala Sekolah?" tanya Monica tegas seraya menggenggam tongkat safirnya yang kini berpendar emas stabil.

"Dua hari dari sekarang," jawab Alaric. "Manfaatkan waktu dua hari ini untuk beristirahat total, memperbarui kelengkapan zirah dan senjata kalian, serta mempersiapkan mental. Medan pertempuran di Gurun Tengkorak Merah akan jauh lebih ganas dan penuh kejutan daripada tanah kelahiran kalian sendiri."

"Siap, Kepala Sekolah!" seru kelima anggota Tim Vanguard secara serempak dengan suara bulat yang menggelegar.

Babak pertahanan dan perjuangan di dalam wilayah Akademi Grandoria telah resmi ditutup dengan kemenangan yang gemilang. Kini, lembaran baru telah terbuka. Langkah kaki Monica dan keempat sahabatnya siap melangkah.

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!