"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. DSKKR
Pada hari jumat sore. Lobi VANE Tower yang megah dan berlantai marmer mengilap sedang dipadati para staf serta tamu eksekutif yang hendak bersiap pulang akhir pekan. Suara denting lift dan obrolan halus menciptakan suasana kantor modern yang hangat.
Namun, ketenangan itu seketika pecah saat pintu kaca otomatis lobi terbuka lebar.
"Mana yang namanya Maya?! Panggil dia turun sekarang!"
"Iya, mana maya! Cepat hadapi kita!" Ucap Intan.
Suara melengking Ibu Ratna menggelegar di seluruh penjuru lobi. Daster batik lamanya diganti dengan setelan baju kurung warna mencolok yang dipadukan dengan tas kw super bermerek. Di sampingnya, Intan berdiri bersedekah tangan dengan wajah sengit, sementara Fandi mengekor di belakang mereka dengan raut serba salah.
Beberapa satpam berseragam hitam langsung pasang badan, menghalangi langkah ketiga orang itu di dekat meja resepsionis.
"Maaf, Ibu, Bapak, tolong jaga ketenangan," tegur salah satu satpam dengan suara bass yang tegas. "Kalau tidak ada janji temu, silakan menunggu di luar. Mohon jangan buat gaduh di sini"
"Kamu gak usah ikut campur ya!" bentak Intan sambil menunjuk muka satpam itu dengan telunjuknya. "Kita ini keluarga dari head creative director kalian! Si Maya itu mantan ipar saya! Dia itu ada di atas, kan?!"
Di saat yang bersamaan, pintu lift khusus eksekutif berdenting terbuka.
Maya melangkah keluar dari dalam lift. Penampilannya sore itu begitu memikat memakai setelan celana culottes tinggi warna putih dipadu dengan atasan busana berbahan linen yang sangat pas di tubuhnya. Kulit wajahnya yang mulai kembali cerah bercahaya memancarkan aura anggun dan mahal.
Di sebelah Maya, Arch berjalan berdampingan. Pria bule berjas abu-abu gelap itu memegang berkas di tangannya, mendengarkan penjelasan Maya dengan wajah fokus.
"Maya!" teriak Ibu Ratna begitu menangkap sosok mantan menantunya.
Langkah Maya terhenti. Dia menoleh ke sumber suara. Saat melihat mantan ibu mertua, mantan ipar, dan Fandi yang berdiri di tengah lobi dengan sorot mata penuh emosi, Maya tidak tampak terkejut. Dia hanya menghela napas pelan, tersenyum tipis pada Arch.
"Mas Arch, biar aku yang selesaikan ini," bisik Maya tenang.
Arch mengerutkan dahi, menatap Fandi dan keluarganya dengan pandangan dingin yang amat tajam. "Kamu butuh bantuan pengamanan?"
"Enggak usah, Mas. cuma kerikil kecil," jawab Maya santai sebelum melangkah mendekati kerumunan itu.
Para staf VANE yang melintas mulai memandangi mereka dari kejauhan, penasaran dengan drama yang terjadi di lobi utama.
Maya berhenti tiga langkah di depan Ibu Ratna dan Intan. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap ketiga orang di hadapannya dari atas ke bawah.
"Ada perlu apa ke sini, Bu, Intan?" tanya Maya datar, suaranya jernih dan tenang tanpa celah emosi.
Ibu Ratna maju satu langkah, menatap penampilan Maya yang jauh berubah dibanding saat masih menjadi menantunya. Ada rasa iri yang sempat berkelebat di mata wanita tua itu, tapi dia cepat-cepat menutupinya dengan sikap congkak.
"Maya! Kamu gak usah sok lupa diri ya!" semprot Ibu Ratna tanpa basa-basi. "Kamu pikir setelah dapet kerjaan enak dan uang banyak di sini, kamu bisa melenggang gitu aja?! Mana jatah bulanan buat Fandi dan anak-anak?!"
Maya terkekeh pelan, sebuah kekehan renyah yang terdengar sangat meremehkan. "Jatah bulanan? Bu Ratna lupa? Mas Fandi yang ngusir aku dari rumah tanpa bawa harta sepeser pun. Surat cerai dan hak asuh anak juga sudah ditandatangani Mas Fandi sendiri tanpa paksaan."
"Tapi kamu itu bisa ada di posisi ini karena pernah jadi istri Fandi!" sahut Intan tak mau kalah, suaranya meninggi. "Kalau bukan karena Fandi yang dulu izinin kamu berteman sama orang-orang fashion, kamu gak bakal bisa kenal bos VANE! Kamu harusnya tahu diri, bagi rezekimu buat keluarga kita!"
"Betul!" timpal Ibu Ratna cepat. "Lagian kamu itu ibu dari cucu-cucuku! Masa kamu tega lihat Fandi kesusahan bayar sewa studio sedangkan kamu gaya-gayaan perawatan di salon mahal ratusan juta?!"
Fandi yang berdiri di belakang ibunya hanya diam dengan wajah merah padam. Dia merasa malu setengah mati dilihat oleh staf VANE, tapi egonya yang terluka membuat dia enggan menghentikan celotehan ibu dan adiknya.
Maya menatap Fandi lurus-lurus. Tatapan itu terasa begitu tajam hingga membuat Fandi mendadak salah tingkah dan menundukkan kepala.
"Mas Fandi," panggil Maya pelan tapi menusuk. "Kamu diam aja? Kamu biarin Ibu sama adikmu ngemis-ngemis uang di tempat kerjaku?"
"May... aku..." Fandi tergagap, berusaha mencari kata-kata.
"Dulu, waktu aku minta uang susu buat Arka, Arki, dan Kirana, kamu bilang aku cuma beban," lanjut Maya tanpa ampun, menjabarkan kenangan pahit itu di depan semua orang yang menonton. "Kamu beliin Siska tas puluhan juta pakai uang tabungan kita, tapi kamu biarin anak-anakmu makan seadanya. Sekarang, begitu kalian lihat aku bisa berdiri di atas kaki sendiri, kalian dateng kemari ngaku-ngaku berhak atas hasil kerja kerasku?"
Suasana lobi mendadak menjadi sangat hening. Beberapa karyawan wanita VANE yang menonton dari jauh mulai berbisik-bisik, melayangkan tatapan jijik dan sinis ke arah Fandi serta keluarganya.
Ibu Ratna yang merasa terpojok langsung menaikkan nada suaranya, mencoba main hakim sendiri. "Gak usah bawa-bawa masa lalu! Kamu itu cuma wanita sombong yang lupa daratan! Kamu"
"Cukup." Suara berat Arch memotong ucapan Ibu Ratna. Pria bule bertubuh tinggi tegap itu melangkah maju, berdiri tepat di sebelah Maya. Aura intimidatif nya yang sangat kuat memancar hebat, membuat Ibu Ratna dan Intan refleks menciut dan mundur satu langkah.
Arch menatap Fandi dengan mata cokelat terangnya yang dingin seperti es.
"Fandi," kata Arch pelan, tapi mengandung ancaman terselubung. "Gedung ini milik VANE Agency. Kalau dalam waktu sepuluh detik kamu tidak membawa keluarga pencari belas kasihanmu ini keluar dari properti saya, saya pastikan nama studio mu masuk ke dalam daftar hitam seluruh agensi fashion dan entertain di kota ini."
Mendengar kata "daftar hitam", Fandi membelalak panik. Itu artinya kariernya sebagai fotografer benar-benar tamat!
"Iya, Mr. Arch! Maaf! Kami keluar sekarang!" kata Fandi panik. Dia langsung menarik lengan ibunya dan adiknya dengan kasar. "Ayo Bu, Intan, kita pulang sekarang!"
"Fandi! Kenapa kita harus takut sama orang asing ini?!" protes Ibu Ratna seraya terseret langkah anaknya.
"Diem Bu! Ibu mau bikin Fandi makin bangkrut?!" bentak Fandi meledak di depan pintu keluar.
Maya menatap punggung ketiga orang itu yang diusir keluar oleh petugas keamanan. Saat pintu kaca VANE Tower kembali menutup, Maya menghela napas panjang mengembuskan seluruh sisa-sisa amarah dan kenangan pahit masa lalunya ke udara bebas.
Dia menoleh pada Arch yang sedang menatapnya seraya menyunggingkan senyuman tipis.
"Terima kasih, Mas Arch," bisik Maya tulus.
"Sama-sama, Maya," jawab Arch pelan, matanya menatap wajah Maya yang kini makin percaya diri. "Masa lalu mu baru saja resmi selesai. Sekarang, panggung masa depanmu sudah menanti."
"Iya mas.." Jawabku lalu kami pun lanjut untuk bekerja kembali.
Bersambung..