( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 }:{secret journey }
Aksar mulai kembali sadar. Matanya menatap ke arah bayangan yang melompat ke dalam air. Dengan sisa tenaga, ia meraih sebatang ranting di sampingnya sebagai penopang.
Tubuhnya terasa kaku dan berat, namun ia tetap melangkah mendekat ke garis pantai. Napasnya terasa berat, dadanya sesak, wajah dan matanya memerah menahan rasa sakit.
"Tunjukkan siapa kamu!"
Aksar berteriak ke arah laut, namun tak ada jawaban. Tubuhnya terjatuh ke hamparan pasir yang lembut, lalu ia bangkit kembali dengan susah payah.
"Aku mohon, tunjukkan siapa dirimu. Aku akan memberi apa pun yang kamu inginkan."
Hening. Tak ada satu patah kata pun yang menyambutnya.
"Bila kamu pejuang, tunjukkan dirimu. Hanya seorang pengecut yang tak ingin memperlihatkan dirinya."
Seketika tanah di sekitarnya bergetar. Air laut membentuk pusaran yang luas, ikan-ikan melompat-lompat di sekelilingnya.
Dari balik pusaran itu, wujud sesosok monster raksasa perlahan terlihat di atas pundaknya berdiri seorang lelaki yang seluruh tubuhnya tertutup jubah.
"Wahai tuan, siapa sebenarnya kamu? Mengapa kamu dapat menaiki monster itu?"
Alih-alih menjawab, hembusan angin yang kuat langsung menghantam tubuh Aksar hingga terpental.
Dua sosok itu kini mendekat satu terbang dari atas, satu berlari dari arah darat membawa pedang.
"Ibu... di mana aku rindu perlindungan ibu."
Aksar menggumam pelan, namun ia tetap memaksa dirinya berdiri. Darah menetes di pasir, satu kakinya terluka parah, tapi ia tak jatuh begitu saja. Dua orang itu kini berdiri mengelilinginya.
"Akan lari kemana kamu? Takkan bisa pergi sebelum mengalahkan kita."
"Apa yang kalian inginkan? Biarkan aku pergi."
"Kita hanya ingin kamu menyerahkan diri."
Satu ayunan pedang merobek kain di bahunya. Aksar menunduk, tangannya perlahan meraih segenggam pasir.
"Aku menyerah."
Seketika ia melemparkan pasir ke udara, lalu secepat kilat berlari tertatih menjauh dari sana.
"Kurang ajar! Kejar dia sekarang!"
Aksar bersembunyi di balik tumpukan batu, napasnya terengah-engah. Suara langkah kaki terdengar di dekatnya.
"Keluar! Lawan aku! Tunjukkan lagi kekuatanmu!"
Angin berputar kencang menghantam bebatuan di sekitarnya. Aksar keluar dari persembunyiannya, lalu dengan cepat menerbangkan dedaunan untuk menutupi pandangan mereka.
Saat pandangan mereka terhalang, ia kembali berlari menembus semak-semak hingga tiba di sebuah tempat yang dipenuhi pohon kelapa.
"Huhh... akhirnya aku bisa lolos."
"Kata siapa kamu sudah lolos?"
Suara itu terdengar tepat dari belakang punggungnya. Jantungnya berdegup kencang.
"Jangan lagi... aku capek lari terus."
Pria itu mengayunkan pedang, dan satu batang pohon kelapa terbelah menjadi tiga.
Aksar bersembunyi lagi di balik rimbunnya dedaunan. Tangannya gemetar, tubuhnya menggigil, rahangnya mengeras menahan takut.
"Guru... Ayah... tolong aku."
Langkah kaki terdengar tepat di atas tempat ia bersembunyi, lalu perlahan menjauh. Aksar menarik napas panjang.
"Aku tidak bisa terus bersembunyi. Ini hanya akan membuatku terjebak lebih jauh."
Ia teringat nasihat ayahnya, ajaran gurunya, dan kebijaksanaan ibunya.
Aksar keluar dari persembunyiannya, berjalan tenang ke tengah hutan kelapa, lalu duduk dan menunggu dengan tenang sampai kelelahan membuatnya terlelap.
Saat terbangun, kedua orang itu sudah berdiri di depannya.
"Eh, kalian sudah sampai. Sini, tangkap aku."
Saat mereka melangkah mendekat, Aksar mengangkat kedua tangannya — dan seketika tubuh mereka terangkat tinggi ke udara.
"Gimana rasanya melayang?"
Saat ia hendak membuka penutup wajah mereka, salah satu dari mereka menangkap pergelangan tangannya.
"Aaaa.." " lepas kan aku."
"Jangan haram bisa lepas,bocah kau licik!"
Aksar berusaha melepaskan diri sambil berteriak.
"LEPASKAN AKU!"
Ia mengayunkan jarinya, dan buah buah kelapa jatuh tepat di atas kepala mereka.
"Aduh! Aduh...
" sepertinya aku kenal suara ini."
Aksar membuka penutup wajah itu perlahan. Matanya membelalak tak percaya.
"Ayah! Guru!"
"Cepat turunkan kami, Aksar."
"Iya, Ayah."
Setelah mereka mendarat dengan selamat, ayahnya menepuk bahunya dengan bangga.
"Ayah bangga padamu, Aksar."
"Guru juga bangga. Tapi kami capek sekali."
"Mari kita minum air kelapa dulu."
"Iya, Ayah." " Aksar lapar juga ayah."
"kita makan sesampai nya di rumah."
canda ea
canda ea... 🤣🤣