Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:680
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Niat Masing-Masing

Roxanna menghabiskan tiga hari di rumah sakit, diselimuti aneka emosi bercampur aduk. Kecemasan dan ketakutan akan menjadi seorang ibu kini perlahan berubah menjadi penerimaan, terlebih dengan Chris di sisinya.

Chris selalu hadir, menawarkan dukungan dan nasihat soal kehamilan, mendengarkan segala kekhawatirannya, dan merayakan setiap kemenangan kecil. Ketika akhirnya tiba hari kepulangannya, rasa lega sekaligus cemas menyergapnya. Chris membawanya ke restoran bar yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya, sebuah tempat yang berdenyut penuh kehidupan dan tempat ia selalu merasa seperti di rumah sendiri.

Begitu memasuki tempat itu, Roxanna mencium aroma akrab kopi segar dan masakan rumahan. Chris, dengan senyum lebar di wajahnya, mulai memperkenalkan Roxanna kepada para karyawan.

Ia berdiri di depan rombongan, dengan sikap penuh percaya diri sekaligus penuh kasih.

"Hai, semuanya! Aku ingin memperkenalkan seseorang yang sangat istimewa pada kalian," ujarnya memulai, menatap Roxanna dengan lembut. "Ini Adie. Ia akan bergabung dengan tim kita, dan aku harap kalian semua memperlakukannya sebagai bagian dari keluarga Aurora kita. Adie luar biasa dan punya banyak hal untuk ditawarkan."

Ia memutuskan tetap memakai nama palsu yang Roxanna berikan demi menjaga jati dirinya. Chris juga tak menceritakan soal kehamilan, karena Roxanna-lah yang berhak mengumumkannya pada waktunya sendiri.

Gumaman penasaran menjalar di antara rombongan, tapi seorang karyawan tertentu, perempuan berambut gelap dengan tatapan sinis, tak bisa menahan diri untuk memutar bola matanya.

Ia berpikir, "Memangnya siapa Adie ini? Perempuan matre yang mau merayu bosku? Seolah Chris membutuhkan itu!"

Hasratnya pada Chris tak terbantahkan. Ia selalu mengaguminya dalam diam, terlebih setelah mantan sahabatnya mengundurkan diri begitu mengetahui bahwa ia menaruh hati pada Chris, yang menolak sahabatnya itu.

Chris melanjutkan,

"Aku tahu kalian semua akan menjaganya sebagaimana kalian menjaga satu sama lain di sini. Adie berhak mendapat rasa hormat dan dukungan selama ia menyesuaikan diri dengan cara kerja kita." Ia berhenti sejenak, melempar tatapan penuh harap ke seluruh ruangan.

Semua menyambut Roxanna dengan tepuk tangan hangat dan ucapan selamat datang yang tulus.

Si rambut gelap memutuskan untuk tak akan mempermudah keadaan bagi Roxanna. "Kita lihat saja bagaimana 'Adie' ini benar-benar bekerja," pikirnya, sudah membayangkan berbagai cara mempersulit penyesuaian perempuan itu dalam tim.

Selagi Chris menuntaskan perkenalannya, Roxanna merasakan perutnya bergolak saat menyadari dinamika yang mulai terurai di sekelilingnya.

Energi tempat itu menular, tapi ada ketegangan halus di udara—sesuatu yang tak bisa ia abaikan.

Chris membawa Roxanna ke sebuah kamar yang terletak dekat dapur restoran. Saat membuka pintu, ia memperlihatkan ruang yang nyaman dan tertata apik, yang seakan menyambutnya dengan lembut. Ranjang berukuran satu orang itu berbalut seprai putih yang lembut, dan selimut biru muda terlipat di ujungnya, seolah mengundangnya untuk berbaring dan bersantai.

Kamar itu juga punya kamar mandi pribadi yang mungil, tapi lengkap. Wastafelnya dilengkapi keran modern, dan cermin besar di atasnya memantulkan cahaya lembut yang masuk lewat jendela. Ada pancuran yang nyaman, dengan ubin putih dan sentuhan biru di tepinya. Pendingin ruangan menyala, memberikan embusan sejuk yang kontras dengan panasnya hari.

Sebuah kulkas kecil ditempatkan strategis di sudut, penuh dengan makanan yang Chris beli khusus untuknya: buah-buahan segar, yoghurt, dan beberapa pilihan camilan sehat.

Ia memikirkan setiap detail untuk memastikan Roxanna merasa betah.

Selain itu, ada setumpuk kecil pakaian berukuran S yang ia beli, tapi ia ragu menyebutkan alasan di balik pilihannya.

"Aku tidak tahu ukuranmu, tapi aku beli ukuran S karena kau..." Chris mulai berbicara, tapi tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Ia tiba-tiba sadar betapa hal itu bisa terdengar dan bagaimana Roxanna mungkin menafsirkan kata-katanya.

Roxanna memerah karena malu, menyadari tatapan pria itu yang sesaat singgah di tubuhnya.

"Jangan khawatir, ini lebih dari cukup untukku," jawabnya cepat-cepat, berusaha mengalihkan perhatian dari situasi canggung itu.

Chris berdeham pelan, memecah ketegangan di udara.

"Oke. Istirahatlah sebentar. Besok kau mulai kerja." Chris menatapnya dengan senyum menyemangati sebelum melanjutkan, "Aku sudah minta juru masak membawakanmu sup penuh sayuran, dan makananmu akan berbeda dari para karyawan lain."

"Kenapa?" Roxanna mengernyitkan dahi mendengarnya.

Chris membuka pintu untuk keluar dan melempar tatapan lewat bahunya,

"Karena mereka tidak sedang hamil."

Senyum bermain di bibirnya sementara Roxanna pun tertawa menanggapi jawaban yang begitu sederhana itu.

"Hei!" panggil Roxanna saat Chris berbalik hendak pergi.

"Ya?" Ia berhenti di ambang pintu.

"Makasih. Terima kasih sudah melakukan ini untukku," ucapnya tulus, merasa bersyukur atas kepedulian pria itu.

Chris mengangguk merendah.

"Siapa pun akan melakukannya," jawabnya sebelum keluar dari kamar.

Roxanna memperhatikan pintu tertutup di belakang pria itu.

Kamar itu lebih dari sekadar ruang; ia adalah lambang dukungan dan kasih sayang di saat hidupnya begitu rapuh.

Ia menarik napas dalam-dalam, menyerap ketenangan ruangan itu selagi mulai membayangkan seperti apa awal barunya di keluarga Aurora.

Roxanna masuk ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya, merasakan privasi yang ditawarkan ruang itu. Ruangannya kecil, tapi nyaman, dengan ubin putih yang memantulkan cahaya lembut. Ia menatap pancuran dan, dengan sedikit rasa gugup sekaligus lega, membuka kran air. Begitu semburan air hangat mulai mengucur, gelombang kenyamanan menyelimuti tubuhnya yang lelah.

Air jatuh bagai tirai lembut, membungkusnya dalam sensasi yang menyegarkan. Roxanna memejamkan mata dan membiarkan tekanan air meredakan beban hari-harinya yang ia lalui di jalanan. Seolah setiap tetes membasuh bukan hanya kotoran fisik, tapi juga kekhawatiran dan ketakutan yang menyertainya. Ia membiarkan dirinya rileks, merasakan air meluncur di kulitnya, sembari memikirkan betapa hidupnya telah berubah dalam waktu sesingkat itu.

Kini setelah ia punya tempat tinggal, ia merasakan kehangatan di hati yang sudah lama tak ia rasakan. Gagasan akhirnya memiliki sebuah rumah bergema di dalam dirinya bagai melodi yang manis.

Selagi tangannya menyabuni rambut dan tubuhnya, ia menyadari betapa bersyukurnya ia bisa berada di sana, pada saat itu.

Setelah menyegarkan diri, Roxanna menatap pantulan dirinya di cermin yang berkabut oleh uap. Pandangannya turun ke perutnya, yang belum menunjukkan tanda-tanda membesar—baru satu bulan usia kehamilan. Dengan lembut, ia menyentuh perutnya, merasakan koneksi dengan bayi yang tumbuh di dalamnya.

"Halo, Bayi,"* bisiknya lembut. "Sekarang tinggal kita berdua, ya?"* Harapan dan cinta mulai bersemi di dalam dirinya selagi ia membayangkan masa depan yang akan datang.

* * *

Sementara itu, di belahan negeri yang lain, di Vila Selenko di Redshore, pertengkaran sengit menggema di antara dinding rumah Melissa dan Alessandro. Melissa menatap lekat mata anaknya.

"Kau harus jadi laki-laki sejati dan bertanggung jawab setelah tidur dengan Violet!" Suaranya sarat kemarahan.

Alessandro mengangkat wajahnya dengan hina dan mengembuskan asap dari cerutu yang terjepit di antara jari-jarinya.

"Menikah? Aku sudah menikah. Aku tidak akan menikahi perempuan lain," jawabnya dengan kesombongan khasnya.

Melissa tak goyah oleh jawaban itu.

"Kau akan memikul tanggung jawabmu dan tidak akan kabur, atau kau mau aku yang mengambil alih perusahaan?" Ketegasannya terasa nyata di udara yang menegang.

Alessandro menatap ibunya dengan raut dingin yang membuat jantung perempuan itu berpacu.

Tatapannya adalah peringatan tanpa suara.

"Berani-beraninya kau menyingkirkanku dari kekuasaan, kau akan menanggung akibatnya, Melissa."

Suasana di antara keduanya dipenuhi ketegangan; Melissa merasakan takut oleh tatapan anaknya, tahu betul sejauh mana Alessandro sanggup melangkah demi melindungi kepentingannya.

Melissa menatap langsung mata Alessandro, raut wajahnya sarat campuran tantangan dan kemarahan.

"Kita lihat sampai di mana kesombonganmu itu, Alessandro," ucapnya, suaranya tegas namun sedikit bergetar, menyingkap ketegangan situasi. "Ketika Violet hamil."

Sebutan soal kehamilan itu bagai pukulan tak terduga; ia tahu hal itu akan menghantam telak ego anaknya.

Alessandro, dengan senyum penuh cemooh, mengejek,

"Kau pikir aku akan membiarkan perempuan mana pun mengandung anakku? Bahkan seandainya aku menyukainya, dia tidak layak." Kata-katanya keluar bagai racun, setiap sukunya sarat penghinaan.

Ia bangkit, gerakannya yang tiba-tiba mempertegas betapa seriusnya percakapan itu.

"Jika suatu hari dia atau siapa pun berani mengandung anakku, lebih baik aku tidak pernah mengetahuinya."

Nadanya tajam dan berkuasa, seolah tengah menyegel sebuah takdir yang kelam.

Ia lalu melempar cerutunya ke tempat sampah dengan jijik dan keluar dari rumah, meninggalkan suasana yang berat.

Ibu Alessandro terpaku, terhantam oleh kekejaman kata-kata anaknya.

Saat itu, jelaslah baginya bahwa Alessandro sama seperti ayahnya: seorang pria kejam yang hanya mengejar kepentingannya sendiri.

Gema kata-kata anaknya masih menggantung di udara, dan rasa tak berdaya di hadapan kesombongan tak tertahankan itu melahapnya.

Rumah itu jatuh sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!