Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Retak jiwa dan suara dari seberang kabut

Malam setelah kepergian Penyihir Agung Seraphina meninggalkan keheningan yang terlampau berat di puncak Bukit Jangkar. Udara malam yang biasanya membawa aroma segar pucuk pinus dan tanah basah, kini menyebarkan bau sengat besi yang samar, sisa-sisa dari benturan energi besar yang terjadi beberapa waktu lalu.

Di atas sebuah batu datar yang menghadap langsung ke arah lembah yang gelap, Arlen Ashford duduk bersila. Kedua matanya terpejam rapat, namun di balik kelopak mata itu, sebuah gejolak batin sedang berlangsung

tanpa suara.

"Arlen..."

Sebuah suara lembut, sarat akan kecemasan seorang ibu, memecah kesunyian malam.

Elena berdiri di ambang pintu pondok kayu mereka, kedua tangannya mendekap jubah wol erat-erat di dada. Sepasang matanya mencerminkan pantulan rembulan, sekaligus mencerminkan rasa khawatir yang mendalam melihat anak laki-lakinya yang masih muda harus memikul beban yang terlampau luas untuk ukuran bahu seorang anak yang masih sangat muda.

Arlen membuka matanya perlahan. Pendaran keemasan tipis yang sempat mengitari tubuhnya memudar, menyatu kembali ke dalam dadanya. Ia menoleh ke arah ibunya lalu mengulas senyum tipis, mencoba menyembunyikan pikiran yang mengganggu setelah menghadapi Penyihir Agung Kerajaan."Ibu belum tidur?" tanya Arlen, suaranya terdengar jauh lebih dewasa daripada fisiknya yang masih muda."Bagaimana Ibu bisa tidur setelah merasakan getaran hebat tadi?" Elena melangkah mendekat, mengusap bahu anaknya yang terasa tegap namun menyimpan ketegangan.

"Penyihir itu... dia membawa perintah takhta, bukan? Apakah kita harus pergi dari Bukit Jangkar ini, Arlen? Wilayah Ashford ini sudah cukup menderita tanpa harus menjadi musuh istana."Arlen menggenggam jemari ibunya yang dingin. "Tidak, Ibu.

Seraphina tidak akan menyerang kita, setidaknya untuk saat ini. Tapi Ibu benar, Ashford sudah terlalu lama menderita. Dan aku tidak akan membiarkan kita terus-menerus bersembunyi."Elena menatap mata anaknya, menemukan kilat tekad kuno yang asing namun kokoh di sana. Ia hanya bisa menghela napas pasrah, tahu bahwa takdir yang dipikul Arlen kini jauh melampaui kendalinya sebagai seorang ibu.

Matahari baru saja naik beberapa jengkal di ufuk timur saat Arlen dan Kai berjalan turun menyusuri jalan setapak dari bukit jangkar. Angin Utara berembus kering, membawa debu-debu tipis yang mengotori ujung pakaian mereka. Bagi keluarga Ashford, wilayah ini adalah warisan turun-temurun. Mereka bukan bangsawan besar yang menguasai kota, mematok pajak tinggi, atau memerintah ribuan prajurit. Mereka hanyalah pemilik tanah terpencil yang luasnya tak seberapa, hidup berdampingan dengan rakyat biasa tanpa sekat kasta yang angkuh.

Namun, tanah yang tandus adalah kutukan bagi siapa saja yang tinggal di atasnya.

Begitu melangkah masuk ke area permukiman di bawah bukit, atmosfer hangat yang mereka rasakan di puncak bukit runtuh seketika.

Digantikan oleh hawa dingin yang menyesakkan dada. Arlen berjalan dengan langkah pelan, matanya menatap lurus ke arah lorong-lorong desa yang becek dan berbau busuk.

Kehidupan di sini tidak sekadar miskin; kehidupan di sini sedang sekarat.

Di sisi kiri jalan, pasar desa tampak seperti kuburan massal bagi perdagangan.

Hanya ada dua atau tiga lapak yang buka, itu pun hanya memajang umbi-umbian kecil yang layu dan berjamur. Kerumunan orang berdiri mengelilingi lapak dengan mata cekung dan tulang pipi yang menonjol akibat kelaparan yang berkepanjangan.

Braakk!

Suara keributan memecah keheningan pasar. Seorang pria paruh baya tersungkur ke tanah setelah dadanya ditendang oleh seorang pedagang berbadan tegap.

Sebuah roti kering yang sudah keras dan berjamur terlempar dari genggamannya.

"Pencuri keparat! Berani-beraninya kau mengambil barangku tanpa uang!" bentak si pedagang, wajahnya merah padam oleh amarah dan frustrasi yang sama.

"Anakku... anakku belum makan tiga hari, demi dewa..." pria yang tersungkur itu merangkak, mengabaikan rasa sakit di dadanya demi meraih kembali roti yang kotor terkena debu jalanan.

"Kumohon... biarkan aku membayarnya dengan kerja kasar besok..."

Kai menggeram pelan, tangannya bergerak secara insting menuju gagang belatinya. Namun, Arlen menahan lengan Kai dengan sebelah tangan. Tatapan mata Arlen begitu dalam—ada amarah yang tertahan, namun juga kesedihan yang teramat sangat.

Kejadian seperti ini bukan lagi pengecualian, melainkan rutinitas harian di wilayah Ashford yang terlupakan oleh ibu kota.

Mereka melanjutkan langkah, masuk lebih dalam ke gang-gang sempit di antara rumah-rumah berdinding kayu yang sudah rapuh. Di setiap sudut bayang-bayang tiang dan atap yang bocor, pemandangan jauh lebih menyedihkan terpampang nyata.

Puluhan gelandangan duduk bersandar pasrah pada dinding, memeluk tubuh mereka sendiri yang terbungkus kain compang-camping. Beberapa dari mereka bahkan sudah tidak bergerak, menyisakan tanya apakah mereka masih bernapas atau sudah menyerah pada dinginnya malam Utara.

Tepat di sebuah lorong buntu, langkah Arlen terhenti total.

Seorang anak perempuan kecil, usianya mungkin belum genap tujuh tahun, terduduk di atas tanah yang dingin. Tubuhnya kurus kering hingga tulang rusuknya terlihat jelas di balik bajunya yang robek. Tangan kecilnya yang kotor dan gemetar terus-menerus mengguncang tubuh seorang wanita yang terbaring lemas di atas tumpukan jerami kering.

Wajah wanita itu sepucat mayat, keringat dingin bercucuran di dahinya, dan napasnya terdengar putus-putus—sekarat akibat demam tinggi dan perut yang kosong.

"Ibu... bangun..." bisik anak kecil itu, suaranya parau dan serak karena terlalu banyak menangis. "Ibu, aku tidak lapar lagi... Aku tidak akan minta roti lagi... tapi kumohon bangun lah..."

Wanita itu hanya mampu membuka matanya sedikit, memandang putrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah yang teramat sangat, sebelum matanya kembali terpejam perlahan. Tanpa daya. Tanpa harapan.

Kai memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat pemandangan itu. Sebagai mantan pembunuh di lingkaran kelam, ia terbiasa melihat darah, namun melihat keputusasaan murni seperti ini mencabik sesuatu di dalam dirinya. "Arlen... dunia ini sudah membusuk. Istana berpesta dengan makanan dan pakaian yang mewah, sementara orang-orang di sini mati seperti lalat."

Arlen tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan anak kecil itu. Sepasang mata kecil yang basah oleh air mata itu menatap Arlen dengan ketakutan, mengira pria asing ini akan mengusirnya.

Namun, Arlen justru mengulas senyum paling tulus yang bisa ia berikan.

Arlen mengulurkan tangannya, mengusap lembut rambut kusam anak perempuan itu.

"Siapa namamu?" tanya Arlen dengan suara yang begitu lembut, sangat kontras dengan hawa dingin di sekitar mereka.

"L-Lily..." jawab anak itu terbata-bata, tubuhnya gemetar.

"Lily, jangan takut," ucap Arlen pelan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang terbaring di jerami. Arlen meletakkan telapak tangannya di atas dahi wanita tersebut.

Di dunia saat ini, seorang penyihir membutuhkan tongkat mantra dan sirkulasi mana murni untuk merapalkan sihir penyembuhan. Namun Arlen tidak melakukan semua itu. Dia memejamkan matanya, memfokuskan tekad dari dalam jiwanya sendiri.

Wusss...

Sebuah kehangatan yang tak kasat mata tiba-tiba mengalir dari tangan Arlen. Tidak ada kilatan cahaya sihir yang menyilaukan, hanya pendaran uap keemasan yang tipis dan terasa sangat menenangkan. Udara dingin dan bau busuk di lorong itu mendadak tersapu oleh aroma tanah segar setelah hujan.

Itu adalah Aura Manifestasi Kehidupan—energi kuno dari jiwanya yang terhubung langsung dengan vitalitas murni manusia.

Perlahan namun pasti, napas wanita itu mulai teratur. Warna kemerahan yang sehat kembali mengalir di pipinya yang kempot. Demam tingginya turun dalam hitungan detik, dan perlahan, kelopak matanya terbuka dengan kesadaran penuh. Ia terduduk dengan bingung, merasakan tubuhnya yang semula lumpuh kini dipenuhi energi baru yang hangat.

"Ibu!" Lily langsung menghambur ke pelukan ibunya, menangis sejadi-jadinya, kali ini karena mukjizat yang baru saja terjadi.

Arlen berdiri kembali, merapikan jubah sederhananya. Wajahnya kini tampak sangat tegas. Kesedihan yang sempat menggelayuti matanya kini berganti menjadi sebuah tekad absolut yang membara.

"Kai," panggil Arlen tanpa menoleh.

"Ya, Tuan Muda?" Kai maju, kini menyebut Arlen dengan gelar kehormatannya karena rasa hormat yang mendalam.

"Selama ribuan tahun, Kerajaan menghapus sejarah para ksatria pengguna Aura agar rakyat tetap bergantung pada tongkat sihir dan aturan takhta mereka," ujar Arlen, menatap ke arah bukit tanah hitam miliknya yang menjulang di kejauhan.

"Mereka membiarkan tanah Utara ini mati kelaparan hanya karena kami tidak memiliki sumber mana."

Arlen mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lengannya menegang.

"Aku tidak akan membiarkan satu orang pun di tanah Ashford mati kelaparan lagi. Peninggalan kuno di dalam bukit tanah hitam itu... hari ini, kita akan membangkitkannya sepenuhnya. Kita akan mengembalikan keseimbangan, dimulai dari tempat ini."

Kai menundukkan kepalanya, merasakan getaran tekad yang begitu kuat dari tubuh Arlen. "Saya akan mengikuti Anda sampai akhir, Tuan Muda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!