ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keesokan paginya, kesadaran Luna perlahan mengumpul. Ia mengucek matanya yang masih terasa berat, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan asing yang bernuansa serba premium itu. Saat matanya melirik ke arah jam dinding digital di atas meja, pupil matanya seketika membelalak sempurna.
"Jam tujuh?!" pekik Luna refleks.
Masuk kuliah jam setengah sembilan pagi, dan yang paling parah... dia punya segudang tugas rumah dari bule sinting yang harus diselesaikan!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Luna melompat keluar dari kasur. Sambil mengikat rambutnya asal-asalan, ia memulai aksi grasak-grusuk di apartemen megah tersebut.
Luna meraih sapu dan mulai menyusuri setiap sudut area penthouse. Langkah kakinya dibuat secepat mungkin, sementara batinnya tak henti-hentinya mengumpat.
"Gila! Luas banget ini rumah! Nyapu seperempatnya aja udah bikin pinggang gue mau patah! Awas ya lo Moreno... gak kayak apartemen kumuh gue yang sepetak, ini mah namanya lapangan bola dijadiin tempat tinggal!" gerutu Luna dalam hati dengan napas agak terengah.
Usai menyapu hingga kinclong, Luna bergegas menuju area laundry. Ia mengumpulkan pakaian kotor Moreno yang sudah menumpuk penuh di dalam keranjang, lalu menghempaskannya ke dalam mesin cuci canggih berkapasitas besar. Setelah menekan tombol otomatis pada mesin, Luna melesat ke area dapur.
Perutnya sudah berbunyi, dan ia harus segera menyiapkan sarapan sebelum Moreno bangun.
Namun, begitu Luna membuka pintu kulkas dua pintu berukuran besar itu, ia mendadak mematung.
Kulkas itu penuh dengan berbagai bahan makanan segar berkelas—daging impor, sayuran organik, keju premium, hingga aneka saus.
Tapi, wajah Luna justru berubah seraya merutuki dirinya sendiri.
"Bagus... bahan komplit banget. Tapi masalahnya, gue cuma bisa masak telur dadar sama mie instan!" batunya menjerit panik. "Bule tengil kayak dia kira-kira mau makan telur dadar gosong buatan gue gak ya?!"
Dengan mengandalkan ponsel yang bersandar di dekat bumbu-bumbu dapur, Luna memata-matai video tutorial membuat nasi goreng di YouTube. Matanya fokus meneliti tiap takaran bumbu, sementara tangannya sibuk mencincang bawang merah dan bawang putih dengan kecepatan ekstra.
Beberapa saat kemudian, wajan berdesis menyebarkan aroma wangi gurih ke seluruh penjuru dapur. Luna mematikan kompor, menyajikan hasil masakannya ke atas dua piring putih dengan garnish seadanya.
Luna menatap dua piring nasi goreng itu dengan bangga.
"Anjay, mantap juga buatan gue! Dijamin bule sinting itu bakal terperanjat bolamatanya pas ngerasain ini," batinnya penuh percaya diri.
Merasa urusan memasak sudah beres, Luna melesat ke kamar mandi. Ia mandi kilat, memoles wajahnya dengan riasan tipis alami, lalu mengenakan pakaian kaus linen dan celana jeans kesayangannya.
Setelah rapi dan harum, Luna bergegas menuju ruang makan. Tepat di saat yang sama, pintu kamar utama terbuka. Moreno keluar dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, membuat penampilannya terlihat sangat menawan meski baru bangun tidur.
Moreno melangkah santai, lalu menarik kursi di meja makan. Langkahnya sempat terhenti sejenak, tatapannya mengunci sosok Luna yang sudah berdiri rapi dan terlihat segar pagi ini.
Menyadari tatapan itu, Luna berusaha profesional. Ia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan lalu menyapa, "Pagi..."
Moreno tidak membalas sapaan itu. Ia hanya bergumam pelan, "Hmm," seraya mendudukkan tubuhnya.
Mata abu-abu Moreno kemudian tertuju pada dua piring nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja. Mengerti arti tatapan itu, Luna buru-buru memberi penjelasan sebelum diintimidasi lagi.
"Gue... gue bangun agak kesiangan tadi," ujar Luna agak canggung seraya menggaruk tengkuknya. "Jadi cuma sempat bikin nasi goreng ini buat sarapan."
Moreno menatap sejenak piring nasi goreng di hadapannya. Dari segi penampilan dan aromanya yang menyeruak, harus diakui masakan itu terlihat cukup menggiurkan.
Luna yang sudah tidak sabar menunggu pujian segera duduk tepat di hadapan Moreno. Dengan cekatan, ia menyodorkan sendok dan garpu ke arah pria itu.
"Nih," ujar Luna mantap, berusaha menutupi rasa gugupnya.
Moreno menerima sendok itu tanpa bersuara. Ia mulai menyendok sesuap nasi goreng hangat lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Namun, baru dua detik Moreno mengunyah...
CUIH!
Moreno secara refleks memuntahkan kembali nasi goreng itu ke atas tisu di samping piringnya. Wajahnya menggeram hebat, menahan rasa aneh yang membakar lidahnya.
Luna terperanjat dari duduknya. Matanya melotot kaget. "Eh! Ada apa?! Kok dimuntahin?!"
Moreno mengangkat wajahnya, menatap Luna dengan tatapan yang luar biasa kesal.
"Lo bisa masak gak sih, sebenarnya?!" desis Moreno tajam seraya meraih gelas air putih dan meminumnya hingga tandas.
"Y-ya bisa lah! Memangnya kenapa sih?!" sahut Luna tak terima, membela diri.
"Keasinan!" semprot Moreno tanpa ampun. "Lo nuang garam seberapa banyak ke dalam sana, hah?! Lo sengaja mau meracuni gue?!"
"Hah?! Mana ada!" pekik Luna tidak percaya. Dengan memasang wajah sengit, Luna menyambar sendoknya sendiri dan menyendok nasi goreng buatannya untuk membuktikan bahwa Moreno hanya mencari-cari alasan.
Namun, begitu suapan itu masuk ke dalam mulutnya...
GULP!
Mata Luna membelalak sempurna. Tenggorokannya mendadak kaku sampai ia hampir tersedak sendiri. Rasa asin luar biasa membakar indra pengecapnya—ia jelas-jelas salah mengira takaran garam dan penyedap rasa saat menonton tutorial tadi!
Luna perlahan meletakkan sendoknya kembali ke atas piring dengan gerakan teramat pelan. Ia menatap Moreno yang masih menatapnya galak, lalu melempar senyum canggung yang manis.
"Hehehe... maaf," ringis Luna sambil menyatukan kedua telapak tangannya. "Sebenarnya... gue emang gak bisa masak."
Moreno memutar bola matanya malas, menatap piring nasi goreng mematikan di hadapannya dengan raut wajah kelelahan.
"Mulai besok lo gak usah sok-sokan masak lagi," tembak Moreno dingin, menunjuk Luna dengan ujung jari telunjuknya.
"Gue bisa mati keracunan kalau lo terus-terusan ngasih gue makan ginian."
Luna hanya bisa manggut-manggut pasrah, menundukkan kepala seraya meratapi nasibnya yang ketahuan tak bisa mengolah bahan dapur.
Moreno menghela napas panjang lalu mengibaskan tangannya santai.
"Nanti sebelum ke kampus kita makan di luar aja. Gue yang cari tempat."
"O-oke..." bisik Luna pelan.
Moreno akhirnya beranjak dari kursi makan, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Namun, baru saja melangkah, pria itu kembali menoleh dengan tatapan menusuk.
"Beresin semua kekacauan yang lo buat, Sampai bersih. Gue siap-siap dulu," pungkas Moreno sebelum membalikkan badan dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Luna menatap punggung Moreno yang menjauh dengan tatapan ingin menerkam. Bibirnya komat-kamit mengumpatnya di dalam hati.
"Dasar bule tengil! Pedas amat itu mulut kayak cabai rawit! Mulut lo itu tuh yang kudu dibersihin pake karbol!" gerutu Luna seraya membereskan piring-piring di atas meja dengan hentakan kesal.
Namun, di balik kejengkelannya, seulas senyum tipis mendadak terukir di bibir Luna. Ia menghela napas lega.
"Tapi... lumayan juga sih. Bebas tugas masak berarti penderitaan gue berkurang satu. Lagian salah lo sendiri nyuruh gue masak, rasain tuh nasi goreng beracun..hahaha" batinnya bersorak kegirangan.