Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sinar matahari pagi menyelinap lembut melewati kisi-kisi jendela kayu gaharu di lantai dua Paviliun Awan Mengambang.

Gu Ran duduk bersandar di kursi rotan yang dilapisi bantalan sutra empuk. Tubuhnya kini berbalut jubah tidur putih bersih yang longgar. Rasa nyeri di bahu kirinya sudah jauh berkurang, menyisakan bekas sayatan tipis yang mulai mengering berkat salep giok.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu geser sutra.

“Tuan Muda Gu, sarapan pagi dan teh hangat Anda sudah tiba.”

Pintu bergeser perlahan. Seorang pelayan muda berjubah abu-abu pelayan melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam. Tangannya memegang sebuah nampan perak berisi sepiring kue beras kukus dan secawan porselen putih berukir daun teratai.

Asap tipis mengepul dari bibir cawan, menebarkan aroma wangi bunga melati yang sangat pekat ke seluruh penjuru ruangan.

“Taruh di atas meja kayu,” ujar Gu Ran santai.

Pelayan itu meletakkan nampan perak dengan gerakan sangat hati-hati. Ujung jarinya tampak sedikit bergetar saat cawan porselen itu menyentuh permukaan meja pernis merah.

Gu Ran melirik gerak-gerik pelayan itu dari sudut matanya. Ia tidak melihat Song Ming di koridor luar; pemuda itu rupanya memilih bersembunyi di lantai bawah setelah semalaman suntuk menahan malu dan dingin.

Pelayan muda itu mundur dua langkah sambil membungkuk. “Jika Tuan Muda Gu berkenan, teh melati ini diseduh khusus dari daun teh pegunungan selatan untuk meredakan nyeri luka tubuh Anda…”

Gu Ran mengulurkan tangan kanannya, meraih cawan porselen yang masih hangat.

Saat bibir cawan mendekati hidungnya, aroma manis bunga melati seketika menyergap rongga pernapasan Gu Ran. Namun di balik keharuman bunga yang menyengat itu, indra penciuman Gu Ran menangkap sesuatu yang lain.

Bau asam belerang yang sangat tipis mengendap di dasar cawan.

Lima tahun mengaduk arang batu bara dan membakar logam meteorit di Lembah Tungku membuat hidung Gu Ran sangat akrab dengan bau belerang pembakar jalur energi. Ini adalah ciri khas getah Rumput Pengurai Meridian—racun perusak organ dalam yang tidak meninggalkan jejak rasa di lidah.

Gu Ran memutar cawan porselen di tangannya.

Tuan Muda Song rupanya masih punya nyali, batin Gu Ran datar.

Di sudut pandangannya, sebuah kilatan cahaya abu-abu transparan melintas di tepi retina matanya:

[Niat Jahat Pihak Luar Terdeteksi: Racun Hayati Tingkat Menengah.]

[Kausalitas Sistem: AKTIF. Rasio Kerusakan Transfer 1:10 Siap Dieksekusi.]

Melihat konfirmasi dari sistem, Gu Ran menatap pelayan muda yang masih berdiri membeku di dekat pintu dengan napas tertahan.

Gu Ran mengangkat cawan tersebut ke bibirnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia meneguk setengah cairan teh beraroma melati itu dalam tiga tegukan tenang.

Rasa tehnya manis dan lembut di lidah. Begitu cairan itu mengalir melewati kerongkongan dan sampai ke dinding lambung, Gu Ran hanya merasakan sensasi hangat yang menggelitik pelan di perutnya, serupa meneguk kuah jahe hangat di pagi hari.

Gu Ran meletakkan kembali cawan porselen yang kini tinggal separuh ke atas nampan perak.

“Tehnya lumayan enak,” kata Gu Ran sambil mengambil sepotong kue beras kukus. “Bawa nampannya keluar.”

Pelayan muda itu membelalak kaget. Mulutnya sedikit menganga melihat Gu Ran menghabiskan setengah cawan racun tanpa tersedak. Dengan tangan yang kian gemetar tak terkendali, pelayan itu buru-buru menyambar nampan perak dan berlari keluar koridor.

Pada saat yang bersamaan, di Puncak Pedang Utama.

Suasana Aula Musyawarah Tetua terasa hening dan khidmat. Belasan tetua inti sekte berjubah perak duduk berbaris di sepanjang meja panjang yang terbuat dari batu giok hijau utuh.

Di ujung ruangan, Patriark Song Tianhe berdiri membacakan gulungan laporan anggaran sekte dengan suara berwibawa.

“Alokasi batu roh untuk tambang perbatasan telah dinaikkan sepuluh persen…” Song Tianhe melirik ke arah kursi takhta di ujung aula.

Di atas kursi giok berukir sembilan kepala naga, Leluhur Song Pojun sedang duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Hawa dingin tipis menyelimuti tubuh tuanya saat ia memusatkan energi untuk menambal luka lama di dinding dantiannya.

Namun tepat ketika Song Tianhe hendak membuka gulungan laporan berikutnya, tubuh Song Pojun mendadak tersentak hebat.

DEG!

Mata sang Leluhur terbuka lebar. Pupil matanya membesar dengan garis-garis urat darah merah yang meledak di sekitar kornea.

“Ugh… Arghhh!”

Erangan parau keluar dari tenggorokan Song Pojun.

Leluhur berusia tujuh ratus tahun itu mencengkeram perutnya sendiri dengan kedua tangan. Di dalam rongga tubuhnya, ribuan jalur meridian mendadak terasa bagai disiram minyak mendidih bercampur asam pekat!

Dosis racun yang masuk ke perut Gu Ran hanyalah seteguk teh encer, namun hukum kausalitas sistem melipatgandakan racun tersebut sepuluh kali lipat secara instan ke dalam inti sari darah Song Pojun.

“A-apa ini… Urat nadiku terbakar…!” raung Song Pojun dengan suara melengking penuh horor.

Tubuh tua itu kejang liar di atas kursi takhta.

BRAAAK!

Telapak tangan kanan sang Leluhur yang tak terkendali menghantam meja giok hijau di depannya. Meja batu setebal satu depa itu seketika hancur berkeping-keping, melemparkan serpihan giok tajam ke seluruh penjuru aula.

“Leluhur!” teriak Song Tianhe panik, gulungan laporan di tangannya terlepas ke lantai.

Seluruh tetua inti melompat berdiri dari kursi masing-masing dengan wajah pias.

HUEEEKKK!

Sebelum ada yang sempat melangkah maju, Song Pojun membungkuk ke depan. Dari mulutnya menyembur busa merah kehitaman yang mengepulkan asap berbau belerang menyengat, tumpah ruah mengotori ubin pualam aula musyawarah.

Darah berbusa itu mendidih dan mendesis di lantai batu, mengikis permukaan pualam hingga berlubang hitam.

Song Pojun tersungkur dari kursinya, merayap di atas pecahan batu giok dengan napas tersengal-sengal dan mata merah penuh amarah gila.

“R-racun… ada anjing keparat yang meracuni darahku…!” raung sang Leluhur dengan urat leher yang hampir pecah.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!