Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran yang mencurigakan
Sepanjang hari itu, pikiran Gilang terus dipenuhi oleh tawaran kerja aneh yang baru saja dia terima, sebuah tawaran yang meski terdengar menggiurkan, entah kenapa terus menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Dia memutuskan untuk membicarakan hal tersebut dengan Yoga, sahabatnya yang selalu bisa diandalkan untuk memberikan pandangan yang lebih objektif.
"Yog, tadi ada orang asing yang nawarin saya kerja di perusahaan distribusi air minum luar kota. Gajinya gede banget, tapi entah kenapa saya ngerasa aneh," ujar Gilang ketika mereka berdua sedang beristirahat di depot setelah menyelesaikan rute masing-masing.
Yoga mendengarkan cerita tersebut dengan alis yang mengerut, merasakan kejanggalan yang sama seperti yang dirasakan sahabatnya tersebut. "Aneh emang, Lang. Biasanya kan perusahaan yang serius pasti ada proses wawancara atau seleksi dulu, bukan tiba-tiba nyamperin lo di depot kayak gitu."
"Iya, itu yang bikin saya curiga. Lagian, kenapa harus saya yang ditawarin? Kan masih banyak tukang galon lain yang lebih berpengalaman," jawab Gilang, semakin memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin menjadi alasan di balik tawaran tersebut.
"Menurut lo, ini ada hubungannya sama Nindi nggak?" tanya Yoga tiba-tiba, mengeluarkan dugaan yang sebenarnya sudah mulai terlintas dalam benak Gilang sendiri sejak awal, namun belum berani dia ucapkan secara terbuka.
Gilang terdiam sejenak, mempertimbangkan kemungkinan tersebut dengan lebih serius. "Bisa jadi, Yog. Apalagi belakangan ini saya denger-denger, ada yang ngomongin soal hubungan saya sama Nindi di kalangan orang-orang kaya itu."
"Kalau bener gitu, berarti ini serius, Lang. Bisa aja ada orang yang nggak seneng lo deket sama Nindi, terus sengaja nyoba nyingkirin lo pake cara halus kayak gini," ujar Yoga dengan nada khawatir, menyadari bahwa situasi yang dihadapi sahabatnya tersebut mungkin jauh lebih rumit dari sekadar perbedaan status sosial biasa.
Percakapan tersebut membuat Gilang semakin waspada, mulai mempertimbangkan untuk menceritakan kejadian tersebut kepada Nindi guna mendapatkan perspektif yang lebih jelas mengenai situasi yang sesungguhnya sedang terjadi di balik layar kehidupan keluarganya. Malam itu, dia mengirim pesan kepada Nindi, menceritakan secara singkat mengenai tawaran mencurigakan yang baru saja dia terima.
"Mbak Nindi, tadi ada orang yang nawarin saya kerja di luar kota, gajinya gede banget. Tapi saya ngerasa aneh, soalnya nggak ada proses seleksi yang jelas," tulis Gilang, berharap mendapatkan pandangan dari gadis tersebut mengenai kemungkinan hubungan tawaran tersebut dengan situasi keluarganya.
Nindi, yang membaca pesan tersebut dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan curiga, segera teringat pada percakapan dengan ayahnya beberapa hari sebelumnya mengenai gosip yang telah menyebar mengenai hubungan mereka berdua. "Astaga, Mas. Saya khawatir ini ada hubungannya sama Om saya. Kemarin Papa sempat tanya soal kita, katanya ada yang lapor soal kedekatan kita."
"Jadi keluarga Mbak Nindi udah tau soal kita?" tanya Gilang dengan nada yang menunjukkan sedikit kekhawatiran, menyadari bahwa situasi yang mereka hadapi ternyata jauh lebih kompleks dari yang dia bayangkan sebelumnya.
"Iya, Mas. Dan Om saya itu orangnya licik banget. Saya takut, kalau dia sampai tau soal perasaan kita yang sebenarnya, dia bisa aja lakuin hal-hal yang jauh lebih buruk dari sekadar nawarin kerjaan di luar kota," jawab Nindi dengan nada yang semakin cemas, membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin akan menimpa Gilang akibat kedekatan mereka tersebut.
Percakapan malam itu diakhiri dengan perasaan waspada yang mendalam dari kedua belah pihak, menyadari bahwa hubungan yang mereka jalin dengan begitu tulus dan sederhana tersebut, kini mulai menghadapi ancaman nyata dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan tersembunyi untuk memisahkan mereka berdua, sebuah kesadaran yang membuat mereka semakin bertekad untuk mempertahankan perasaan yang telah mereka bangun bersama, meski harus menghadapi berbagai rintangan besar yang mulai mengintai di depan mata.
"Apapun yang terjadi, Mbak, saya nggak akan langsung terima tawaran itu tanpa mikir matang-matang dulu," ujar Gilang meyakinkan, sebuah janji yang memberikan sedikit ketenangan bagi Nindi di tengah kekhawatiran yang mulai menghantui pikirannya mengenai masa depan hubungan mereka berdua.
Malam itu, setelah menutup percakapan dengan Nindi, Gilang duduk termenung di kamarnya, memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika dia benar-benar menolak tawaran tersebut. Dia menyadari, penolakan tersebut mungkin akan membuat pihak yang berada di balik rencana licik itu semakin agresif dalam mencari cara lain untuk memisahkannya dari Nindi, sebuah kemungkinan yang membuatnya merasa was-was namun juga semakin yakin bahwa perasaannya terhadap gadis tersebut layak untuk diperjuangkan.
Bu Suryani, yang melihat anaknya termenung lebih lama dari biasanya, menghampiri dengan penuh perhatian. "Nak, kamu kenapa? Dari tadi diem aja."
"Bu, ada yang nawarin saya kerjaan di luar kota, gajinya gede. Tapi saya curiga ada maksud lain di baliknya," jawab Gilang, akhirnya memutuskan untuk sedikit terbuka kepada ibunya mengenai kejadian yang membuatnya resah tersebut, meski belum sepenuhnya menceritakan mengenai hubungannya dengan Nindi.
Bu Suryani mendengarkan cerita tersebut dengan seksama, memberikan nasihat yang penuh kebijaksanaan seperti biasa. "Kalau memang ngerasa curiga, mendingan jangan diambil dulu, Nak. Rezeki itu nggak akan lari ke mana, tapi kepercayaan sama diri sendiri itu penting banget buat dijaga."
Kata-kata sederhana tersebut memberikan kekuatan tambahan bagi Gilang untuk tetap teguh pada keputusannya, menyadari bahwa dukungan tulus dari ibunya tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa dia harus tetap berhati-hati dalam menghadapi berbagai godaan yang mulai menghampiri kehidupannya belakangan ini.